Mau tak mau ASEAN harus bersatu untuk menghadapi ancaman tarif perdagangan Trump demi melindungi kepentingan setiap negara anggota maupun kawasan.
09 Jul 2025 18:25 WIB · Internasional
KUALA LUMPUR, RABU — Dunia saat ini sedang menghadapi era di mana kekuasaan menggoyahkan prinsip. Kekuasaan dulu digunakan untuk menghasilkan pertumbuhan, tetapi kini digunakan untuk menekan, mengisolasi, dan membatasi. Perdagangan global juga kini dijadikan sebagai senjata.
Ancaman tarif perdagangan dari Amerika Serikat telah mengguncang Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Untuk melindungi perekonomian, baik masing-masing negara maupun kawasan, ASEAN didesak bekerja sama merespons ancaman perdagangan dari pihak mana pun.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan hal itu kepada para menteri luar negeri dari negara-negara anggota ASEAN yang hadir dalam ASEAN Ministrial Meeting atau pertemuan tahunan Menteri Luar Negeri ASEAN, Rabu (9/7/2025), di Kuala Lumpur, Malaysia. Peringatan itu dikeluarkan di saat negara-negara anggota ASEAN sedang terancam dengan tarif impor Presiden AS Donald Trump.
Tanpa menyebut nama AS, Anwar kembali mendesak ASEAN untuk bekerja sama dalam merespons ancaman perang dagang. Terkait hal itu, Anwar mendorong agar perdagangan intra-ASEAN ditingkatkan, begitu pula dengan investasi dalam integrasi regional, serta mengurangi ketergantungan pada kekuatan eksternal.
”Tarif, pembatasan ekspor dan hambatan investasi kini menjadi instrumen tajam persaingan geopolitik,” kata Anwar, tanpa secara spesifik menyebut Amerika Serikat. ”Kohesi kita tidak bisa hanya berakhir pada deklarasi. Ini bukan badai yang akan berlaku, tetapi sudah jadi cuaca baru di zaman kita,” ujarnya.
Terkait tarif impor yang dikenakan Trump, enam negara anggota ASEAN termasuk di antara 14 negara yang berpotensi mengalami lonjakan bea masuk produk mereka ke pasar AS pada 1 Agustus 2025. Trump pertama kali mengumumkan tarif pada 2 April lalu, tetapi kemudian menundanya selama 90 hari untuk memberi ruang negosiasi.
Pada Selasa, Trump mengumumkan tarif baru dengan tarif antara 25 dan 40 persen untuk 14 negara, yang akan berlaku mulai 1 Agustus kecuali jika ada kesepakatan baru yang dicapai. Trump juga mengancam akan menaikkan tarif jika ada negara yang melakukan pembalasan. Banyak negara anggota ASEAN yang sudah memulai perundingan bilateral dengan AS. Untuk mencapai posisi bersama, ASEAN, menurut rencana, akan mengadakan KTT ASEAN-AS pada akhir tahun ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/07/80492fd0-4bb5-4c81-9990-2d9ac528e124_png.png)
Sampai sejauh ini, baru Vietnam yang sudah mencapai kesepakatan dengan AS. Tarif yang dikenakan atas Vietnam turun dari 46 persen menjadi 20 persen. Dalam daftar tarif Trump, Thailand dan Kamboja diancam dengan tarif 36 persen, Indonesia 32 persen, Malaysia 25 persen, Laos dan Myanmar 40 persen.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono dalam pernyataan yang unggah pada laman resmi Kementerian Luar Negeri RI menekankan pentingnya upaya kolektif dan strategis dari ASEAN. Menurut Sugiono, langkah itu penting jika ASEAN ingin tetap relevan dalam menghadapi tekanan geopolitik dan geokonomi global yang semakin kompleks.
Dalam sesi pleno, Sugiono juga menyoroti laporan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) 2024 yang menunjukkan penurunan investasi global di berbagai sektor strategis. Meski demikian, peningkatan arus investasi riil di ASEAN meningkat sebesar 10 persen. ”Ini menunjukkan kepercayaan investor yang terus tumbuh. ASEAN harus tetap menjadi jangkar kestabilan dan magnet bagi investasi berkelanjutan,” tegas Menlu Sugiono.
”Saat ini, kita berada di titik yang sangat krusial. Rivalitas geopolitik dan tren proteksionisme global terus meningkat dan berisiko mengikis kesatuan dan relevansi kawasan. Urusan geopolitik dan geoekonomi tidak lagi bisa dipisahkan. Jika ingin tetap relevan, ASEAN harus mampu menghadapi ini semua,” kata Sugiono.
Pertemuan di Malaysia akan segera diikuti oleh serangkaian pertemuan penting dengan mitra dagang utama ASEAN, termasuk AS, China, Jepang, Rusia, India, dan Uni Eropa. Pertemuan dijadwalkan digelar pada Kamis dan Jumat. Menlu AS Marco Rubio juga akan datang. Ini merupakan lawatan pertama Rubio sebagai menlu ke Asia Tenggara. Rubio, yang pekan lalu membatalkan kunjungannya ke Jepang dan Korea Selatan, akan tiba di Malaysia, Kamis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/17/55aceb7d2221a7f9810511024d41ea5d-US_INDONESIA_DIPLOMACY_RUBIO_SUGIONO_129054152.jpg)
Perjalanan Rubio ke Malaysia itu dimaksudkan untuk fokus pada kebijakan AS di Asia setelah selama berbulan-bulan AS konsentrasi pada konflik di Ukraina dan Timur Tengah. Juru bicara Deplu AS Tammy Bruce mengatakan, perjalanan Rubio merupakan penegasan kembali komitmen AS untuk memajukan kawasan Indo-Pasifik yang bebas, terbuka, dan aman.
Para analis menilai pertemuan ini akan menguji kemampuan ASEAN untuk menegaskan suaranya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. ASEAN diharapkan dapat memperkuat komitmennya terhadap tatanan perdagangan berbasis aturan sekaligus menolak tekanan untuk bersekutu secara eksklusif dengan satu kekuatan global mana pun.
”ASEAN harus berada di antara mereka yang memilih untuk menjunjung aturan, bahkan ketika yang lain memilih mundur,” kata Anwar.
Para analis juga menilai kehadiran Rubio menandakan keterlibatan baru AS di Asia Tenggara. Pengamat isu luar negeri, strategi, dan keamanan di Universiti Malay Collins Chong Yew Keat mengatakan, kedatangan Rubio ke Asia Tenggara ini akan menjadi pengingat bagi kawasan ini bahwa AS tetap menjadi mitra ekonomi dan keamanan terpentingnya. AS juga sekaligus ingin memastikan negara-negara di Asia Tenggara tidak jadi terlalu dekat dengan China.
Direktur Program Asia Tenggara di Pusat Strategis dan Internasional AS Greg Poling mengatakan AS seperti ingin meyakinkan Asia Tenggara bahwa AS benar-benar memandang Indo-Pasifik sebagai wilayah utama kepentingan AS dan kunci bagi keamanan nasional AS. Ini akan sulit dilakukan mengingat Trump kemarin malah mengancam akan memberikan tarif tambahan 10 persen bagi siapa saja di kelompok BRICS yang menyelaraskan diri dengan kebijakan anti-Amerika. Di dalam BRICS ada Indonesia, China, dan India.
ASEAN, April lalu, menyatakan tidak akan melakukan tindakan balasan. ASEAN menegaskan, setiap kesepakatan bilateral yang dibuat dengan AS tidak akan merugikan sesama negara anggota ASEAN.
Ekonom senior ASEAN di OCBC Lavanya Ventakeswaran mengatakan, banyak negara termasuk Vietnam menghadapi ketidakpastian tambahan terkait tarif yang menargetkan transshipment, kebijakan yang sebagian besar ditujukan untuk produk-produk dari China. Sampai sekarang yang masih jadi pertanyaan adalah tentang penegakan dan implementasinya. ”Yang jelas, pasti akan rumit,” ujarnya.
Selain menghadapi dampak perdagangan, ASEAN menghadapi tantangan internal yang semakin besar. Perang saudara yang sedang berlangsung di Myanmar dan sengketa perbatasan antara Thailand dan Kamboja juga menjadi agenda. Pada pertemuan di Malaysia, Thailand dan Kamboja akan dipertemukan untuk meredakan perselisihan yang menyebabkan mobilisasi pasukan di perbatasan dan krisis pemerintahan Thailand.
Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra sudah diskors terkait perkara itu. Rekaman pembicaraannya dengan mantan pemimpin Kamboja, Hun Sen, bocor ke publik. pernyataan Paetongtarn dalam pembicaraan itu dinilai merusak integritas Thailand. Saat ini, Paetongtarn tengah menunggu penyelidikan pengadilan atas kasus tersebut.
Perselisihan tersebut memberi tekanan lebih besar pada ASEAN untuk mempertahankan kesatuan di tengah impitan persoalan lain, seperti perang saudara di Myanmar dan penyusunan kode etik di Laut China Selatan. Selain isu tersebut, ASEAN juga menegaskan kembali perjanjian zona bebas senjata nuklir di Asia Tenggara. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase