Tarif Trump dan Bengkaknya Biaya Impor Pangan Dunia (1)

Tagihan impor pangan dunia bakal kian melonjak gegara tarif Trump. Tarif Trump sudah mulai berdampak pada beras, ikan, bahkan makanan kaleng.

13 Jun 2025 16:55 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Hendriyo Widi

Dalam dua tahun terakhir, import bill atau tagihan impor pangan global kian membengkak. Ke depan, tagihan yang mencerminkan biaya impor itu bakal semakin bengkak gegara tarif tambahan dasar dan resiprokal yang digulirkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pada 12 Juni 2025, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) merilis ”Food Outlook” edisi Juni 2025 di Roma, Italia, waktu setempat. Laporan dua tahunan itu memuat perkembangan, tinjauan, dan prospek berbagai komoditas pangan dunia berikut sejumlah isu khusus penyertanya.

Salah satu isu khusus yang dikupas adalah tagihan pembayaran impor pangan dunia. FAO menyebut tagihan impor pangan global melonjak ke rekor tertinggi baru dalam sejarah perdagangan pangan dunia.

FAO mencatat tagihan impor pangan global mencapai 2,1 triliun dollar AS pada 2024. Nilai tagihan itu melonjak 71,4 miliar dollar AS atau 3,6 persen dari tahun 2023. Ini menandakan pembalikan harga komoditas pasca-terkoreksi pada 2023.

Lonjakan itu terutama didorong kenaikan biaya impor sebesar 29,3 persen untuk kopi, teh, kakao, dan rempah-rempah; 8,1 persen untuk buah-buahan dan sayuran; dan 5,6 persen untuk daging. Sebaliknya, tagihan impor kelompok komoditas pangan lainnya turun, termasuk penurunan sebesar 4,6 persen untuk serealia (gandum, padi, dan jagung).

Quote

Produksi pangan global tetap rentan terhadap kondisi cuaca buruk serta ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung, ketidakpastian kebijakan perdagangan, dan kondisi ekonomi global.

Perubahan efek harga terhadap tagihan impor berdasarkan kelompok makanan.

Menurut FAO, ada sejumlah faktor yang memengaruhi kenaikan harga berbagai komoditas pangan yang memicu lonjakan tagihan impor. Pada 2023-2024, panas ekstrem, hujan ekstrem, dan banjir merupakan penyebab utamanya.

Penyebab lainnya adalah gangguan rantai pasokan akibat konflik geopolitik, seperti di Terusan Suez dan Laut Hitam, serta penurunan sumber air Terusan Panama. Selain itu, kenaikan harga komoditas juga dipicu oleh kenaikan tarif impor, serta pembatasan ekspor dan impor.

Kepala Ekonom FAO Maximo Torero mengatakan, tren produksi sejumlah komoditas pangan, seperti beras, jagung, sorgum, dan minyak nabati, memang tumbuh solid. Namun, faktor pendorong yang dapat berdampak negatif pada ketahanan pangan global semakin meningkat.

”Produksi pangan global tetap rentan terhadap kondisi cuaca buruk serta ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung, ketidakpastian kebijakan perdagangan, dan kondisi ekonomi global,” ujarnya melalui siaran pers.

FAO mencatat, pada 2023/2024 hingga 2024/2025, produksi beras dunia meningkat dari 534,7 juta ton menjadi 538,9 juta ton. Produksi minyak nabati dunia juga naik dari 261 juta ton menjadi 263,8 juta ton.

Adapun gandum, produksinya bertambah dari 789,5 juta ton menjadi 792,2 juta ton. Hingga kini, produksi gandum yang terimbas perang Rusia-Ukraina masih dalam fase pemulihan. Kendati mulai naik, volume produksinya masih di bawah produksi 2022/2023 yang mencapai 806,9 juta ton.

Dalam laporan itu, FAO juga menunjukkan, lonjakan tagihan impor pangan membebani negara-negara berkembang pengimpor pangan bersih (NFIDCs) dan negara-negara di Afrika Sub-Sahara (SSA). Pada 2023-2024, tagihan impor pangan NFIDCs naik 2 persen (2,8 miliar dollar AS), sedangkan SSA meningkat 3,7 persen (2,2 miliar dollar AS).

Pekerja menunjukkan gandum yang didatangkan dari Australia menggunakan Kapal Lodestar Pasific di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (20/12/2022). Selama periode Januari 2022 - November 2022, Badan Pusat Statistik mencatat Indonesia telah mengimpor gandum sebanyak 8,43 juta ton. Kompas/Totok Wijayanto (TOK) 20-12-2022

Dampak tarif Trump

FAO juga memperkirakan pada 2025, ketegangan dan ketidakpastian kebijakan perdagangan berpotensi menurunkan volume impor pangan dan mendongkrak harga pangan dunia. Hal itu bakal membuat tagihan impor pangan dunia kian melambung.

”Dampaknya akan bervariasi menurut negara dan komoditas, tergantung dari faktor-faktor seperti ketergantungan impor dan ketersediaan pangan alternatif. Cuaca buruk dan gangguan rantai pasokan juga dapat semakin meningkatkan biaya impor,” kata Torero.

Pada 2 April 2025, Trump mengumumkan tambahan tarif atau bea masuk dasar sebesar 10 persen untuk semua barang dari sejumlah negara yang masuk ke pasar AS. Trump juga mengenakan tarif resiprokral atau timbal balik kepada sejumlah negara yang menjadi penyebab defisit neraca dagang AS.

Dalam Pemutakhiran Harga Beras yang dirilis pada 6 Juni 2025, Indeks Harga Beras Dunia pada Mei 2025 sebesar 106,3. Meskipun masih lebih rendah 22,6 persen secara tahunan, indeks tersebut naik 1,4 persen secara bulanan.

Indeks harga beras dunia yang dirilis Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada 6 Juni 2025.

Lonjakan harga beras dunia tersebut didominasi kenaikan harga beras aromatik sebesar 4,6 persen secara bulanan. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya permintaan AS terhadap beras hom mali Thailand.

Permintaan beras hom mali Thailand dari AS itu meningkat lantaran importir AS memanfaatkan jeda 90 hari penerapan tarif resiprokal. AS mengenakan tarif resiprokal kepada Thailand sebesar 36 persen. Di masa penundaan tarif itu, bea masuk beras tersebut terkena tambahan tarif dasar 10 persen.

Tak hanya beras, harga ikan impor di AS juga merangkak naik setelah Trump memberlakukan tambahan tarif dasar 10 persen. Sejumlah negara pengekspor ikan terbesar ke pasar AS, seperti Brasil, Kanada, dan China, mulai mencari pasar ekspor baru.

Konferensi Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) menyebutkan, selain eksportir ikan, AS juga merupakan negara pengimpor bersih ikan. Rerata per tahun, AS mengekspor ikan senilai 4,5 miliar dollar AS dan mengimpor ikan senilai 16 miliar dollar AS.

Oleh karena itu, ketegangan perdagangan global dapat mengganggu perdagangan hasil perikanan dan menaikkan harga makanan laut di AS. Apalagi, ruang peningkatan produksi perikanan AS terbatas karena penangkapan ikan yang berlebihan.

”Kalaupun mengejar produksi perikanan berbasis akuakultur, waktu yang dibutuhkan cukup lama. Budidaya ikan salmon, misalnya, siklus produksinya sekitar tiga tahun,” sebut UNCTAD.

Quote

Di AS, tarif Trump akan mendongkrak harga makanan dalam kemasan kaleng sebesar 15 persen.

Pengunjung memilih sejumlah makanan kaleng yang dijual di salah satu supermarket di Jakarta, Kamis (24/3/2022). Rencana pemerintah untuk menerapkan tarif baru Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen pada April 2022 diperkirakan akan berimbas pada kenaikan harga barang dan jasa konsumsi. Hal tersebut akan mempengaruhi upaya pemulihan ekonomi di tengah kenaikan harga bahan pangan dan bahan bakar yang saat ini telah menggerus daya beli masyarakat. KOMPAS/RADITYA HELABUMI 24-03-2022

Tambahan tarif dasar yang berlaku saat ini dan tarif resiprokal yang bakal berlaku ke depan akan menimbulkan risiko bagi negara-negara yang sangat bergantung pada pasar AS. Meksiko dan Kanada merupakan beberapa negara yang paling rentan terhadap tarif AS.

Dahulu, perjanjian asal barang AS-Meksiko-Kanada memungkinkan ketiga negara tersebut mendapatkan tarif impor nol persen. Namun, saat ini, keistimewaan tarif impor tersebut tidak lagi didapatkan lantaran adanya tambahan tarif dasar impor 10 persen AS.

Bahkan, Brasil yang 55 persen ekspor ikan mentahnya ditujukan ke AS dan China, kemungkinan besar akan memindahkan pasarnya dari AS ke negara-negara lain. Ini mengingat Brasil bakal terkena total tarif impor 30 persen dari AS setelah tarif resiprokal efektif berlaku.

Beberapa layanan transportasi barang laut juga berpotensi menghadapi permintaan yang lebih lemah. Hal itu terjadi akibat perubahan rute perdagangan yang dipicu oleh negara-negara yang mencari pasar ekspor lain pengganti AS.

Di AS, tarif Trump tak hanya memicu kenaikan harga bahan pangan, tetapi juga harga kemasan kaleng makanan dan minuman. Hal ini mengingat Trump telah menggandakan pula tarif impor baja dan aluminium yang masuk ke pasar AS dari 25 persen menjadi 50 persen.

Food Dive, media penyedia informasi dan analisis seputar makanan dan minuman yang berbasis di AS, mengungkap, tarif Trump akan mendongkrak harga makanan olahan dalam kemasan kaleng sebesar 15 persen. Hal itu lantaran 80 persen bahan baku industri pembuat kaleng dan produsen makanan kaleng AS masih bergantung pada impor.

”Kami tidak punya pilihan selain mengimpor sebagian besar kemasan makanan kaleng pada April 2025 di kala kenaikan tarif mulai berlaku,” kata Sean Connolly, CEO Conagra Brands (Food Dive, 11/6/2025).

Ilustrasi

Ekspor pangan RI

Indonesia juga merupakan negara pengekspor pangan ke AS. Komoditas pangan yang diekspor ke AS antara lain minyak sawit, kakao, kopi, ikan, dan udang. Pengenaan tarif resiprokal AS berpotensi mengurangi permintaan dan daya saing komoditas-komoditas itu di pasar AS.

Minyak sawit, misalnya. Pengenaan tarif resiprokal AS dapat menghambat tren kenaikan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya ke AS. Badan Pusat Statistik mencatat, pada 2015, RI mengekspor CPO dan produk turunannya ke AS sebanyak 736.500 ton.

Pada 2024, volume ekspor tersebut melonjak menjadi 1,39 juta ton. Volume ekspor tertinggi terjadi pada 2023, yakni mencapai 1,98 juta ton.

Pada 2024, AS menempati peringkat ke-4 sebagai negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia. AS berada di bawah India, Pakistan, dan China yang secara berurutan menempati peringkat ke-1 hingga ke-3.

Pekerja menunjukkan kedelai impor di kios tempat ia bekerja di kawasan Cipinang, Jakarta, Senin (19/12/2016).

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono berpendapat, ekspor CPO Indonesia beserta produk turunannya dapat anjlok gegara tarif resiprokral AS. Daya saing minyak sawit Indonesia juga akan kalah dengan Malaysia.

Besaran tarif resiprokal AS yang dikenakan terhadap Indonesia lebih besar ketimbang Malaysia. RI dikenai tarif 32 persen, sedangkan Malaysia Rp 24 persen.

”Hal itu akan membuat harga minyak sawit Malaysia di pasar AS lebih kompetitif ketimbang minyak sawit Indonesia. Dengan tarif resiprokal itu, sawit RI bisa kena bea masuk impor dari AS sekitar 221 dollar AS per ton, sedangkan Malaysia hanya 140 dollar AS per ton,” katanya.

Saat ini, RI tengah memanfaatkan penundaan tarif resiprokal AS selama 90 hari untuk bernegosiasi dengan Pemerintah AS. Di sektor pangan, Indonesia berencana menambah impor gandum, kedelai, dan susu kedelai dari AS.

”Tambahan impor itu tidak akan mengganggu program Swasembada Pangan. Selama ini, RI mengimpor ketiga komoditas itu dari AS,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada 18 April 2025.

Keterangan redaksi: ini merupakan bagian pertama dari tiga seri tulisan mengenai proyeksi kondisi pasar pangan global di tengah ketidakpastian ekonomi. Tulisan merujuk pada laporan Food Outlook Edisi Juni 2025 yang dirilis Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan