Persaingan di Roland Garros pada 2025 akan lebih terbuka. Trofi juara Grand Slam Perancis Terbuka bisa menjadi milik siapa saja.
25 Mei 2025 09:00 WIB · Olahraga
Untuk pertama kali dalam empat tahun terakhir, Iga Swiatek tak menjadi unggulan pertama persaingan tenis tunggal putri Grand Slam Perancis Terbuka. Meski unggulan teratas tak menjamin si pemegang status akan juara, Swiatek memang bukanlah favorit juara meski telah empat kali menjadi tunggal putri terbaik di lapangan tanah liat Roland Garros, Paris, Perancis.
Setelah membuat kejutan dengan menjuarai Perancis Terbuka 2020 tanpa status unggulan, Swiatek lahir menjadi petenis tunggal putri terbaik di lapangan tanah liat. Walau gagal mempertahankan gelar karena tersingkir pada perempat final 2021, dia datang ke Roland Garros sebagai petenis nomor satu dunia sekaligus unggulan teratas pada tiga tahun berikutnya. Reputasi tersebut dipertegas dengan membawa trofi Suzanne Lenglen, lambang supremasi juara tunggal putri Perancis Terbuka, pada 2022, 2023, dan 2024.
Dari total 21 babak pada tiga tahun tersebut, Swiatek hanya kehilangan tiga set. Dia enam kali membuat skor ”bagel” (6-0 pada salah satu set) dan dua kali mencetak ”double bagel” (6-0, 6-0).
Di antara petenis top dunia lainnya, tak ada yang bisa menandingi 95 persen kemenangan Swiatek di Roland Garros dan 87 persen di lapangan tanah liat. Petenis nomor satu dunia yang menjadi unggulan teratas Perancis Terbuka 2025, Aryna Sabalenka, hanya memiliki 70 persen kemenangan di Roland Garros dengan hasil terbaik semifinal pada 2023.
Jasmine Paolini, yang dikalahkan Swiatek pada final 2024 dan menjadi unggulan keempat hanya memiliki persentase kemenangan 60 persen. Unggulan ketiga, Jessica Pegula, sedikit lebih baik dari Paolini, yaitu dengan 62 persen kemenangan.
Petenis yang paling mendekati Swiatek dalam memenangi pertandingan di Roland Garros adalah Cori ”Coco” Gauff yang menjadi unggulan kedua. Coco mencapai final Perancis Terbuka 2022 dan semifinal pada 2024, serta perempat final 2021 dan 2023.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/25/a6cf4a6be8217c7f43ac965e1e44ec57-French_Open_Tennis_.jpeg)
Angka-angka itu memperlihatkan dominasi Swiatek dalam turnamen puncak pada persaingan di lapangan tanah liat. Dia bisa bergerak dengan sangat nyaman di atas licinnya lapangan yang terbuat dari tumbukan batu bata pada lapisan teratas.
Dengan bola yang memantul lambat dan tinggi, sehingga lapangan tanah liat disebut berkarakter lambat, Swiatek bisa bersabar dalam menjalani reli. Permainannya begitu taktis untuk mendapat poin demi poin, kemampuan yang memang dituntut dari petenis saat bermain di lapangan tanah liat yang jarang ”memberi” poin cepat atau gratis melalui servis.
Namun, cara bermain seperti itu tak terlihat pada musim kompetisi 2025. Sejak awal musim hingga menjelang Perancis Terbuka, 25 Mei-8 Juni, Swiatek empat kali gagal mempertahankan gelar juara, termasuk dari dua turnamen WTA 1000 tanah liat di Madrid dan Roma. Di WTA Roma, turnamen terakhir sebelum Perancis Terbuka, dia tersingkir pada babak ketiga yang merupakan hasil terburuk pada tahun ini.
Rangkaian hasil itu membuat Swiatek keluar dari ranking dua besar dunia untuk pertama kalinya sejak Maret 2022. Dia pun datang ke Roland Garros hanya sebagai petenis ranking kelima dunia dan unggulan kelima.
Sejak tersingkir di Roma dan dalam acara ”media day” di Roland Garros, Jumat (23/5/2025), Swiatek menyatakan tak memiliki ekspektasi tinggi untuk Perancis Terbuka tahun ini. Meski demikian, dia tetap memanfaatkan jeda sepekan sebelum bersaing di Roland Garros untuk mengubah hal-hal negatif menjadi positif.
”Setelah Roma, saya punya waktu berpikir tentang cara bermain dan sikap saya di lapangan. Saya mencoba mengubah beberapa hal. Setelah membuat kesalahan misalnya, saya terlalu fokus berpikir tentang hal itu, padahal tidak masalah ketika saya tidak sempurna,” tutur Swiatek dalam laman resmi Roland Garros.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/25/c238a9f81fcfed0f2dd817188235ce52-France_Tennis_French_Open_Draw.jpeg)
Tak hanya degradasi performa dan pola pikir, perjalanan Swiatek pada Perancis Terbuka 2025 akan sangat terjal jika melihat potensi lawan. Dia berada di paruh atas undian, sama seperti Sabalenka, sehingga membuka peluang pertemuan keduanya di semifinal. Pertemuan ini dimungkinkan terjadi jika Swiatek bisa mengalahkan kembali Paolini yang kali ini dimungkinkan menjadi lawan pada perempat final.
Namun, sebelum peluang-peluang itu terjadi, Swiatek akan menghadapi tantangan berat sejak awal. Jika berpeluang bertemu Emma Raducanu pada babak kedua, lalu Elena Rybakina atau Jelena Ostapenko pada babak ketiga.
Ostapenko, meski hanya menjadi unggulan ke-21, adalah petenis yang selalu menghambat Swiatek. Swiatek selalu kalah dalam enam pertemuan, baik di lapangan keras, rumput, maupun di lapangan tanah liat. Terakhir, dia disingkirkan Ostapenko pada salah satu turnamen pemanasan Perancis Terbuka, perempat final WTA Stuttgart.
Maka, rekam jejak tanpa gelar juara sebelum Perancis Terbuka dan statistik pertemuan dengan calon lawan memang pantas menjadi alasan bahwa akan berlebihan jika Swiatek memiliki ekspektasi tinggi di Roland Garros 2025. Bisa tampil pada pekan kedua, yang artinya harus memenangi tiga babak awal, tampaknya menjadi target yang cukup realistis bagi pemilik lima gelar Grand Slam tersebut.
Kondisi Swiatek, tak pelak, membuka pintu lebih lebar bagi petenis lain untuk juara, termasuk Ostapenko yang merasakan menjadi juara Perancis Terbuka pada 2017. Dia akan bersaing dengan bekal gelar juara WTA 500 Stuttgart setelah menyingkirkan Swiatek pada perempat final dan menang atas Sabalenka di final.
Sabalenka juga membawa gelar juara dari turnamen tanah liat sebelum tiba di Roland Garros, yaitu dari WTA 1000 Madrid. Itu menjadi gelar ketiga di Madrid setelah 2021 dan 2023.
”Datang ke sini, saya tahu bisa bermain dengan baik di lapangan tanah liat. Saya merasa bugar dan sangat antusias. Semoga tahun ini saya bisa mendapat hasil yang membuat saya bangga di tanah liat,” kata Sabalenka.
Tiga kali juara Grand Slam itu akan membuka pertandingan di Lapangan Philippe Chatrier pada hari pertama melawan Kamila Rakhimova. Dia berpeluang bertemu Danielle Collins atau Leylah Fernandez pada babak ketiga, lalu Zheng Qin Wen di perempat final.
Selain Sabalenka, Coco layak ditempatkan sebagai favorit juara, apalagi dia memiliki statistik 11 kali menang dan tiga kali di tiga turnamen tanah liat sebelum Perancis Terbuka. Statistik itu mengantarkannya ke final dalam dua turnamen WTA 1000 secara beruntun, yaitu di Madrid dan Roma. Dia, bahkan, menang telak atas Swiatek pada semifinal WTA Madrid dengan skor 6-1, 6-1.
”Persaingan cukup terbuka. Saya berharap menjadi salah satu petenis yang bisa memanfaatkan peluang ini, tetapi ada Jasmine, Aryna, Iga, Qin Wen, Mirra Andreeva, dan petenis lain yang juga memiliki peluang itu,” ujar Coco.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/25/47229aef7cac10a653b24d02c815739e-France_Tennis_French_Open.jpeg)
Ketika menurunnya performa Swiatek membuka peluang bagi banyak petenis tunggal putri, persaingan tunggal putra hanya mengarah pada dua petenis, yaitu juara bertahan Carlos Alcaraz dan petenis nomor satu dunia Jannik Sinner. Petenis lain bagai memiliki misi untuk menghentikan kedua petenis itu.
Meski mengawali musim kompetisi 2025 dengan tertatih di lapangan keras, Alcaraz menjadi petenis yang paling konsisten begitu persaingan berlangsung di lapangan tanah liat. Dia datang ke Roland Garros dengan dua gelar ATP Masters 1000, yaitu di Monte Carlo dan Roma. Dalam final Roma Masters, Alcaraz unggul atas Sinner, sebagai pahlawan tuan rumah, dalam adu permainan level tinggi.
Alcaraz mendapat hasil terbaik menjelang Perancis Terbuka dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, dia menilai, persaingan menjadi juara begitu terbuka bagi siapa pun.
”Secara umum, petenis ranking 30 besar dunia memiliki kemampuan pada level sangat tinggi. Jadi, setiap petenis bisa mendapat hasil baik, bahkan menjadi juara,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/25/4683ee2699324729ebd3b2f2a4aa4743-France_Tennis_French_Open_2_.jpeg)
Dua gelar dari Masters 1000 sebelum Perancis Terbuka semakin membuat penggemar tenis membandingkan Alcaraz dengan seniornya, Rafael Nadal, yang untuk pertama kalinya tak tampil di Roland Garros setelah pensiun pada November 2024.
Meski demikian, Nadal akan hadir pada acara penghormatan yang dibuat panitia turnamen setelah tiga pertandingan sesi pertama pada hari pembuka di lapangan Philippe Chatrier. Acara tersebut dibuat setahun setelah Nadal tampil untuk terakhir kalinya di Perancis Terbuka ketika kalah dari Alexander Zverev pada babak pertama. Saat itu, panitia, yang dipimpin direktur turnamen Amelie Mauresmo, sebenarnya telah menyiapkan acara untuk Nadal, tetapi pemilik 14 gelar juara Perancis Terbuka itu menolaknya.
Tanpa Nadal, Spanyol memiliki Alcaraz. Dalam usia 22 tahun, Alcaraz tak asing pada situasi untuk mempertahankan gelar juara Grand Slam. Dia melakukannya ketika menjuarai Wimbledon 2024, mengulang prestasi yang sama setahun sebelumnya. Pada dua final itu, Alcaraz menaklukkan Novak Djokovic sebagai pemilik tujuh gelar Wimbledon.
Sinner tak punya banyak waktu mengikuti turnamen pemanasan karena menjalani skors tiga bulan sejak Februari karena doping. Meski demikian, dia bisa beradaptasi cukup baik ketika kembali ke kompetisi pada Roma Masters hingga mencapai final.
Posisinya di puncak peringkat dunia bahkan tak tergeser meski dia absen dari turnamen. Zverev, sebagai petenis yang memiliki kesempatan terbesar menggantikan Sinner pada posisi teratas, tak dapat melakukannya. Sebelum menjuarai ATP 500 Muenchen, perjalanan terjauhnya dalam enam turnamen saat Sinner absen adalah perempat final.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/25/5f9e3c664117b47dfd4df68fc1abf31e-Switzerland_Tennis_Geneva_Open_1_.jpeg)
Djokovic, yang baru berusia 38 tahun pada 22 Mei, akan berpartisipasi di Perancis Terbuka untuk ke-21 kali sejak debut pada 2005. Dia akan berada di balik bayang-bayang Alcaraz dan Sinner, seperti yang selalu terjadi sejak 2024.
Setelah semifinal Australia Terbuka, Djokovic kesulitan mencapai performa terbaik. Dia tiga kali kalah beruntun, yaitu pada semifinal Australia Terbuka, babak pertama ATP Doha, dan babak kedua Indian Wells Masters. Momen yang sama terulang ketika kalah pada final Miami Masters yang diikuti kekalahan babak kedua Monte Carlo dan Madrid Masters.
Dengan rangkaian hasil itu, Djokovic pun melewatkan Roma Masters dan memilih tampil pada turnamen level rendah, ATP 250 Geneva, 18-24 Mei. Seperti ungkapan ”berada di tempat yang benar dalam waktu yang tepat”, Djokovic mendapat momen untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya yang runtuh. Dia menjuarai ATP Geneva yang merupakan gelar ke-100 selama bersaing di arena profesional sejak 2003.
Hasil itu memunculkan asa pada tiga kali juara Perancis Terbuka tersebut. Djokovic pun bisa menjadi salah satu petenis yang bisa mewujudkan misi menghentikan Sinner atau Alcaraz meski sulit.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .