Jepang berambisi melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026. Bermodalkan barisan bintang di Eropa dan performa melesat, mereka kini berani bermimpi untuk jadi juara.
11 Jun 2026 08:00 WIB · Olahraga
AP Photo/George Walker IV
Jepang mempertaruhkan semua demi Piala Dunia 2026. Ya, demi mimpi meraih trofi, bukan sekadar penggembira.
Tim ”Samurai Biru” menolak status kuda hitam. Tekad mereka baru, yaitu keyakinan merobohkan stigma loyo karena selalu terhenti di penyisihan grup atau paling jauh perdelapan final atau babak 16 besar.
Jepang menantang kutukan lunglai. Di Perancis 1998, mereka gagal melewati penyisihan grup. Di Korea Selatan-Jepang 2002, mereka sampai perdelapan final. Di Jerman 2006, prestasi mereka turun dan kandas di fase grup.
Lalu, di Afrika Selatan 2010, mereka sampai perdelapan final. Di Brasil 2014, Jepang kandas di fase grup. Adapun di Rusia 2018 dan Qatar 2022, mereka mulai konsisten lolos ke perdelapan final.
Tekad baru meraih prestasi itu dilandasi etik yang masih sama, yakni bushido (tujuh jalan ksatria). Saptasila yang terdiri dari gi (keadilan), yu (keberanian), jin (kebajikan), rei (kesopanan), makoto (ketulusan), meiyo (kehormatan), dan chugi (kesetiaan) itu mengarah ke satu tujuan, yaitu tahap terjauh bahkan tertinggi yang semoga podium juara.
Bukan tanpa alasan Samurai Biru sesumbar sebelum bertarung di palagan Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni-19 Juli 2026. Optimisme mereka mengacu pada grafik performa Jepang yang relatif konsisten, bahkan meningkat, setidaknya sejak warsa lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/1e7aabe060b034d624525d7312bc0517-1000241568.jpg)
Sepanjang 2025, tim asuhan Hajime Moriyasu ini menjalani 11 laga internasional. Di kualifikasi Piala Dunia, Samurai Biru kalah tandang 0-1 dari Australia dan menang kandang 6-0 atas Indonesia.
Selanjutnya, pada Kejuaraan Federasi Sepak Bola Asia Timur E-1 (EAFF E-1 Championship) di Korea Selatan, Jepang menjadi kampiun dengan kemenangan 6-1 atas Hong Kong, 2-0 atas China, dan 1-0 atas tuan rumah. Berikutnya, dalam laga uji coba di AS, mereka ditahan 0-0 oleh Meksiko dan kalah 0-2 dari tuan rumah.
Samurai Biru menutup duel tahun lalu dengan Kirin Challenge Cup (Piala Tantangan Kirin) sebagai tuan rumah. Di turnamen persahabatan ini, Jepang mulai menunjukkan keperkasaannya dan tak terkalahkan. Mereka imbang 2-2 melawan Paraguay, menang 3-2 atas Brasil, menang 2-0 atas Ghana, dan menang telak 3-0 atas Bolivia.
Meskipun terlalu dini menyebut Jepang sebagai salah satu favorit juara, hal yang pasti, mereka datang ke Amerika sebagai ’Kaisar Asia’.
Menjelang keberangkatan ke Piala Dunia 2026, Samurai Biru melakoni tiga laga uji coba. Mereka mempermalukan tuan rumah Skotlandia dan Inggris dengan skor identik, 1-0. Akhir bulan Mei, Jepang menjamu Eslandia di Tokyo dan menang dengan skor 1-0.
Setelah itu, Samurai Biru memasuki medan tempur Grup F. Jepang akan berduel dengan Belanda di Arlington (AS), Tunisia di Guadalupe (Meksiko), lalu Swedia di Arlinton (AS). Jepang harus membuktikan nyali dan tekad sebagai Samurai Biru yang sejatinya bukan lagi penantang alias kuda hitam yang loyo.
Jepang punya perjalanan laga internasional yang bagus. Mereka juga menjaga tekad dan etika dengan teguh. Namun, mereka menuju palagan tanpa dua pendekar hebat. Penyerang sayap Takumi Minamino (31)—dengan 73 laga dan 26 gol—serta Kaoru Mitoma (29)—dengan 31 laga dan 9 gol—terpaksa ditinggal karena cedera.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/06/0a3677f5439eaf16f60217f63fc74621-20260606_GKT_Wakil_Asia_di_Piala_Dunia_2_mumed.jpg)
Moriyasu telah menetapkan pasukannya yang mayoritas berpengalaman di Eropa. Cuma tiga pemain dari liga domestik, yakni duo kiper Tomoki Hayakawa (Kashima Antlers) dan Keisuke Osako (Sanfrecce Hiroshima) serta bek Yuto Nagatomo (FC Tokyo).
Dipanggilnya Nagatomo menjadi kejutan. Ia akan menjadi pemain pertama Jepang yang tampil di lima edisi Piala Dunia. Namun, dengan usia 39 tahun, Moriyasu tampaknya menginginkan peran Nagatomo sebagai mentor lini pertahanan.
Selain tiga pemain liga lokal, kekuatan Jepang diwarnai pemain cita rasa Eropa. Mereka terdiri dari masing-masing 1 pemain yang berkarier di Denmark, Italia, Skotlandia, dan Spanyol. Selanjutnya, dua dari Perancis, 3 dari Belgia, 3 dari Inggris, 5 dari Belanda, dan 6 dari Jerman.
Nuansa Eropa itulah yang mungkin membuat Jepang tampil mengejutkan sebelum babak utama Piala Dunia 2026. Tim yang baru-baru ini mereka kalahkan ialah kampiun sejagat, yakni Brasil (5 trofi Piala Dunia) dan Inggris (1 trofi), meskipun dilakukan dalam uji coba.
Meskipun terlalu dini menyebut Jepang sebagai salah satu favorit juara, hal yang pasti, mereka datang ke Amerika sebagai ”Kaisar Asia”. Samurai Biru saat ini berada di peringkat ke-18 dunia atau tertinggi di Asia. Selain itu, mereka tim terbanyak juara Piala Asia, yaitu edisi 1992, 2000, 2004, dan 2011.
Seusai menumbangkan Skotlandia, Inggris, dan Eslandia, Moriyasu berkata, Jepang punya cukup kemampuan memenangi Piala Dunia. ”Kami amat mungkin bisa menang di babak grup dan babak gugur,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/0711ef68b1b5a68d8f4337c213d01442-1000241567.jpg)
Pernyataan itu juga dilandasi rekam jejak mereka di dua edisi terakhir Piala Dunia. Saat itu, mereka selalu menembus 16 besar. Di Rusia 2018, Jepang menang 2-1 atas Kolombia, seri 2-2 dengan Senegal, kalah 0-1 dari Polandia, dan terhenti 2-3 dari Belgia. Di Qatar 2022, Jepang menang 2-1 atas Jerman, kalah 0-1 dari Kosta Rika, menang 2-1 atas Spanyol, dan terhenti lewat adu penalti 1-3 (1-1) oleh Kroasia.
”Banyak orang berpikir kemenangan Jepang tidak mungkin, tetapi kami akan kembali membuktikannya,” ujar Moriyasu.
Sang juru taktik adalah Grand Master Samurai Biru sejak 2018. Ia punya catatan impresif, yakni 72 kemenangan, 14 imbang, dan 17 kekalahan. Persentase kemenangannya adalah 69,9 persen, yaitu yang tertinggi di antara barisan pelatih Jepang sebelum-sebelumnya.
Melihat dari laman Transfermarkt, pendekatan Moriyasu ialah formasi 3-4-2-1. Dengan formula ini, Jepang mendulang 18 kemenangan, 3 imbang, dan hanya 2 kali kalah sejak 2024. Di Piala Dunia 2026, dengan ketiadaan Minamino dan Mitoma, kreativitas serangan Samurai Biru tampaknya akan bertumpu pada Takefusa Kubo.
Tekad baru Jepang, yaitu bukan sekadar kuda hitam, telah dilantangkan. Namun, di Piala Dunia, tiada juara bermodal pernyataan. Apalagi, turnamen ini kini lebih akbar dengan keterlibatan 48 tim. Di sini, Jepang ditantang untuk memenuhi kenyataan. Ganbatte!
Skuad Jepang
Kiper: Zion Suzuki (Parma), Keisuke Osako (Sanfrecce Hiroshima), Tomoki Hayakawa (Kashima Antlers)
Bek: Yūto Nagatomo (FC Tokyo), Shogo Taniguchi (Sint-Truiden), Ko Itakura (Ajax Amsterdam), Tsuyoshi Watanabe (Feyenoord), Takehiro Tomiyasu (Ajax Amsterdam), Hiroki Ito (Bayern Muenchen), Ayumu Seko (Le Havre), Yukinari Sugawara (Werder Bremen)
Gelandang: Junnosuke Suzuki (Kopenhagen), Wataru Endo (Liverpool), Junya Ito (Genk), Daichi Kamada (Crystal Palace), Ritsu Doan (Eintracht Frankfurt), Ao Tanaka (Leeds United), Keito Nakamura (Reims), Kaishu Sano (Mainz), Takefusa Kubo (Real Sociedad), Yuito Suzuki (Freiburg)
Penyerang: Koki Ogawa (NEC Nijmegen), Daizen Maeda (Celtic), Ayase Ueda (Feyenoord), Kento Shiogai (VfL Wolfsburg), Keisuke Goto (Sint-Truiden)
Pelatih: Hajime Moriyasu
Penulis:
Ambrosius HartoEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan