Pembagian Bantuan Gaza Ricuh, 1 Orang Tewas dan 48 Terluka akibat Tembakan

GHF bentukan AS-Israel diragukan punya pengalaman atau kapasitas untuk menyalurkan bantuan ke warga Gaza. PBB menolak berpartisipasi.

28 Mei 2025 18:01 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

Ribuan warga Palestina memanjat pagar dan menerobos masuk ke lokasi distribusi bantuan makanan yang dibawa Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) ke Rafah, Jalur Gaza, Selasa (27/5/2025) siang waktu setempat. Mereka saling dorong dan berebut bantuan makanan yang digalang kelompok baru bentukan Israel dan Amerika Serikat itu.

Suara tembakan lalu terdengar dari arah tank dan pasukan Israel ke kerumunan orang. Helikopter militer Israel terlihat melepaskan suar. Kepala Kantor Koordinasi untuk Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNOCHA) wilayah Palestina Ajith Sunghay memastikan setidaknya satu orang tewas dan 48 orang terluka. Mereka mayoritas terkena tembakan. Sementara situs Al Jazeera menyebut ada tiga orang yang tewas.

Palestinians carry boxes containing food and humanitarian aid packages delivered by the Gaza Humanitarian Foundation, a U.S.-backed organization approved by Israel, in Rafah, southern Gaza Strip, on Tuesday, May 27, 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

“Kami sudah sekarat karena kelaparan. Kami harus memberi makan anak-anak kami. Apa lagi yang bisa kami lakukan? Saya akan melakukan apa saja untuk memberi mereka makan,” kata seorang warga kepada Al Jazeera.

Ia mengikuti saja orang lain yang berlarian dan berebut makanan meski risikonya besar. Namun, ia memilih nekat ikut kerumunan daripada kelaparan.

Hind Khoudary, wartawan Al Jazeera, melaporkan, paket bantuan makanan yang dibagikan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Khoudary menggambarkan kotak bantuan makanan yang berisi 4 kilogram tepung, beberapa kantong pasta, dua kaleng kacang fava, sebungkus teh, dan beberapa biskuit.

Paket makanan lainnya berisi kacang lentil dan sup dalam jumlah kecil. GHF yang berkantor pusat di Swiss menyatakan sudah mendistribusikan sekitar 8.000 kotak bantuan berisi 462.000 makanan, Selasa. Akan tetapi, itu tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga dalam jangka waktu lama.

Kantor Media Pemerintah Gaza menyebutkan, pasukan Israel yang berjaga di dalam dan sekitar lokasi pembagian bantuan melepaskan tembakan langsung ke arah kerumunan orang yang dipancing ke lokasi-lokasi itu dengan dalih menerima bantuan. Mereka menuding Israel sengaja membantai rakyat Palestina yang sudah dilemahkan dan dibuat lapar.

Militer Israel membantah tuduhan pasukannya mengarahkan tembakan ke arah warga sipil. Mereka menyatakan hanya melepaskan tembakan peringatan di area luar lokasi pemberian bantuan. Mereka bahkan mengklaim penyaluran bantuan bisa dikendalikan dan akan dilanjutkan sesuai rencana.

“Melihat ribuan warga Palestina menyerbu lokasi bantuan itu menyedihkan,” kata juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric.

Seorang warga menuturkan, situasi saat pembagian bantuan sangat sulit. GHF hanya mengizinkan 50 orang untuk masuk ke pusat distribusi pada satu waktu. “Akhirnya jadi kacau karena orang tak sabar. Mereka memanjat pagar, menyerang orang lain, dan mengambil semua bantuan,” ujarnya kepada BBC.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui ada momen hilang kendali di titik distribusi bantuan tetapi hanya sebentar. “Untungnya, kami berhasil mengendalikannya,” ujarnya. Ia kembali mengulangi rencana Israel untuk memindahkan seluruh warga Gaza ke “zona steril” di wilayah selatan Jalur Gaza.

Sepanjang perang Hamas-Israel, PBB dan kelompok bantuan lainnya telah mendistribusikan bantuan makanan, obat-obatan, dan perlengkapan lain ke mana pun warga Palestina berada. Israel mengatakan, GHF akan menggantikan jaringan PBB tersebut. PBB dan organisasi kemanusiaan lainnya sudah menolak sistem baru itu dengan alasan tidak akan dapat memenuhi kebutuhan 2,3 juta penduduk Gaza.

Palestinians open a box containing food and humanitarian aid packages delivered by the Gaza Humanitarian Foundation, a U.S.-backed organization approved by Israel, in Rafah, southern Gaza Strip, on Tuesday, May 27, 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

GHF diragukan punya pengalaman atau kapasitas untuk menyalurkan bantuan ke warga Gaza. PBB menolak berpartisipasi dalam sistem GHF karena melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan. Harian The New York Times menyebutkan, ide GHF muncul dari pertemuan-pertemuan pribadi para pejabat, perwira militer, dan pebisnis yang berhubungan dekat dengan Pemerintah Israel.

Israel dikhawatirkan akan memanfaatkan makanan sebagai senjata untuk mengendalikan rakyat Palestina atau memindahkan penduduk secara paksa ke dekat pusat distribusi bantuan. Israel mengatakan, mereka membantu membangun mekanisme bantuan baru untuk mencegah Hamas mengambil pasokan bantuan tersebut.

Namun, sampai sejauh ini tidak ada bukti ada upaya Hamas itu. PBB juga sudah menegaskan, mereka mempunyai mekanisme tersendiri untuk mencegah Hamas menyabotase bantuan.

Kewalahan

Harian The Guardian mengungkapkan, staf GHF kewalahan menghadapi banyaknya orang yang membutuhkan bantuan makanan. Lantaran tidak siap, mereka lalu meninggalkan pos. Akibatnya, ada sekelompok orang yang kemudian mengambil alih bantuan-bantuan yang ada. GHF mengatakan, keputusan meninggalkan lokasi pusat distribusi sudah sesuai dengan protokol GHF untuk menghindari jatuhnya korban.

Lagipula, kata GHF, mereka sudah membagikan 8.000 kotak makanan yang cukup untuk memberi makan 44.000 orang selama setengah minggu. Itu menurut penghitungan mereka. Akan tetapi, jumlah itu hanya 2 persen dari populasi Gaza. GHF menyatakan akan mengirimkan bantuan lagi dalam satu pekan ke depan.

TOPSHOT - Men look around on alert in the wake of gunfire shots as displaced Palestinians receive food packages from a US-backed foundation pledging to distribute humanitarian aid in western Rafah in the southern Gaza Strip on May 27, 2025. (Photo by AFP)

GHF hanya mendirikan empat pusat distribusi bantuan, dua di antaranya sudah mulai beroperasi. Padahal jaringan distribusi PBB sebelumnya mengoperasikan sekitar 400 lokasi di seluruh Jalur Gaza. Itu saja masih kurang.

Pusat distribusi bantuan GHF dijaga oleh kontraktor keamanan swasta dan dipasangi pagar rantai. Dengan begitu warga Palestina diarahkan ke tempat menyerupai pangkalan militer yang dikelilingi tanggul pasir besar.

GHF mengatakan, kontraktor militernya tidak menembaki kerumunan warga, tetapi sudah “mundur” sebelum pembagian bantuan. Pasukan Israel ditempatkan di dekat lokasi yang disebut Israel sebagai koridor Morag atau zona militer yang memisahkan Rafah -yang kini mayoritas tidak berpenghuni- dari wilayah lainnya.

Israel mengklaim, pasukannya tidak terlibat dalam distribusi bantuan secara fisik. Mereka disebut mendukung penggunaan sistem pemeriksaan biometrik, termasuk pengenalan wajah, untuk memeriksa para penerima bantuan. Palestina khawatir itu akan menjadi alat pengawasan dan penindasan Israel lainnya.

Para kritikus juga memperingatkan struktur GHF dapat digunakan untuk mengurangi jumlah penduduk di Gaza bagian utara seperti yang direncanakan militer Israel. Kekacauan distribusi bantuan itu menegaskan tingkat kelaparan yang mencengkeram Gaza. Menurut laporan Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu, sebanyak 1,95 juta orang -93 persen dari populasi Jalur Gaza- menghadapi kekurangan pangan akut.

“Bukan begitu cara memberikan bantuan. Rencana distribusi bantuan itu sembrono dan tidak manusiawi. Kami sudah memperingatkan risiko situasi seperti itu selama sebulan ini. Jadinya kacau dan membingungkan,” kata juru bicara Dewan Pengungsi Norwegia, Ahmed Bayram.

Jumlah Korban Perang Israel-Hamas dan Jumlah Truk Bantuan Kemanusiaan ke Jalur Gaza

Pimpinan Kebijakan Oxfam di Palestina Bushra Khalidi kepada harian The Guardian mengatakan, dalam kondisi yang paling optimal pun, tidak ada perusahaan logistik yang dapat memberi makan jutaan orang dalam semalam. Kemanusiaan bukan hanya tentang membagikan paket makanan untuk orang yang kelaparan, melainkan memastikan orang punya sarana untuk bertahan hidup.

“Terlepas dari apakah GHF beroperasi atau tidak, kami tahu dari pengalaman puluhan tahun dan hampir 600 hari kami menanggapi bencana di Gaza ini bahwa tindakan memalukan dalam militerisasi bantuan ini tidak akan berhasil,” kata Khalidi.

Satu-satunya cara terbaik mengatasi masalah distribusi bantuan adalah membiarkan gerbang Jalur Gaza terbuka serta membiarkan semua bantuan kemanusiaan masuk karena berton-ton bantuan kemanusiaan sudah menunggu di seberang perbatasan. Biarkan para pekerja kemanusiaan profesional di PBB dan lembaga-lembaga bantuan lainnya yang mengoperasikannya. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari