”Brace” Yasin Ayari ke gawang Tunisia bukanlah sekadar gol biasa. Ia adalah simbol cinta dan kesetiaan yang terpisah jarak.
17 Jun 2026 15:56 WIB · Olahraga
AFP
Ada kegembiraan, tetapi sedikit tebersit kesedihan. Perasaan kontras itu terangkum dalam dua gol Yasin Ayari ke gawang Tunisia. Ikatan darah Ayari dengan Tunisia menjadi penyebabnya.
Di panggung sebesar Piala Dunia, gelandang Swedia tersebut seharusnya bisa meluapkan kegembiraannya. Apalagi, Ayari adalah debutan yang sanggup mencetak gol di ajang ini.
Namun, dengan penuh kesadaran, Ayari memilih tidak merayakan golnya berlebihan. Ia memasang ekspresi datar, tidak tersenyum ataupun murung.
Kedua tangannya terangkat setara bahu. Tidak ada teriakan. Setelah dipeluk rekan-rekannya, Ayari bahkan langsung bersujud syukur. Ia berhak bergembira. Sebab, gol perdananya di Piala Dunia dicetak dengan cara yang tidak biasa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/9edc6ea1a79b9373eab7cb0063ae3e44-Tunisia_Sweden_WCup_Soccer_139047617.jpg)
Berkat kepiawaiannya menempatkan posisi, Ayari segera merebut bola kedua hasil sapuan bek Tunisia, Montassar Talbi. Hanya dengan satu sentuhan, Ayari mengontrol bola liar di luar kotak penalti lalu melepaskan tendangan keras ke gawang Tunisia.
Kiper Abdelmouhib Chamakh sudah bisa membaca arah datangnya bola. Namun, kencangnya tembakan Ayari membuat Chamakh gagal membendungnya.
Sebuah pernyataan dari pihak Adidas kemudian mengonfirmasi bahwa gol Ayari tercatat sebagai yang terkencang di turnamen sejauh ini. Adidas merupakan produsen bola resmi Piala Dunia, Trionda, yang dilengkapi teknologi connected ball.
Teknologi ini memungkinkan perangkat pertandingan memonitor pergerakan bola. Dari hasil pengukuran, bola hasil tendangan Ayari melaju dengan kecepatan 120 kilometer per jam.
Tidak hanya sekali, Ayari memperlihatkan kepiawaiannya dalam menjinakkan Trionda. Dia menjadi pemain yang memulai sekaligus mengakhiri pesta gol Swedia yang memenangi laga dengan skor 5-1. Jika gol pertamanya dicetak pada menit ke-7, gol kedua Ayari tercipta pada waktu tambahan yang juga menutup laga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/91d583104b834d40b85aa745143944ec-20260617_H02_ADI_Golazo_mumed.jpg)
Sekali lagi, gol kedua Ayari juga lahir dari kecerdasannya menempatkan posisi. Ketika muncul bola liar hasil dari perebutan antara pemain Swedia dan Tunisia, Ayari dengan cepat turun menjemput bola. Dengan sekali sentuhan, ia mengarahkan bola ke ruang kosong lalu menendangnya dengan kaki kanan dari luar kotak penalti.
Mencetak gol di Piala Dunia saja sudah merupakan prestasi tidak terhingga bagi debutan seperti Ayari. Namun, kali ini dia mencetak dua gol pada laga debutnya. Lebih hebatnya lagi dua gol itu tergolong sangat spektakuler alias dicetak dengan tingkat kesulitan tinggi.
”Ini luar biasa, jujur saja, ini perasaan yang tak bisa digambarkan. Bayangkan Anda telah memimpikan banyak hal, tetapi ini adalah sesuatu yang tak pernah Anda bayangkan,” kata Ayari dikutip dari laman Federasi Sepak Bola Swedia.
Di balik pencapaian fenomenal itu, Ayari sedikit menyimpan haru karena harus mencetak gol ke gawang Tunisia, negara asal ayahnya, Azzouz Ayari. Ayahnya adalah imigran yang datang ke Swedia untuk merantau sebagai pesepak bola.
Cita-cita menjadi pesepak bola profesional sukses memang tidak pernah Azzouz wujudkan. Mimpi itulah yang lantas diteruskan Ayari. Sejak kecil, Ayari berlatih sepak bola secara intensif di bawah bimbingan ayahnya.
Empat tahun silam, ketika usianya menginjak 18 tahun, Ayari punya tiga pilihan membela tim nasional, yaitu Swedia, Tunisia, dan Maroko. Ayari mewarisi darah Maroko dari ibunya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/cc2b99fa07640f292d77d73fcff75bb5-wires_photo_14.jpg)
Ayari mulanya tertarik membela Tunisia. Apalagi pada 2022 ada perwakilan dari Tunisia yang menawarkan posisi kepadanya di timnas menjelang Piala Dunia Qatar.
Akan tetapi, Azzouz menyarankan Ayari bersabar demi membela Swedia. Bukan karena tidak mencintai negara asalnya, tetapi pilihan itu ditempuh semata-mata untuk membalas budi.
Azzouz mengatakan, Swedia adalah negara yang dengan tangan terbuka menyambut keluarga imigran seperti dirinya. Di Swedia, keluarganya mendapatkan pekerjaan dan hidup yang layak. Ketika dewasa, bagi Azzouz, itulah saatnya Ayari membalas perlakuan baik Swedia.
”Saya ingin dia bermain untuk Swedia. Dia harus merasa seperti sedang membalas budi kepada negara yang telah merawatnya,” kata Azzouz kepada koran Swedia, Aftonbladet.
Pilihan untuk membela Swedia pada akhirnya menjadi bagian dari guratan takdir yang mempertemukan Ayari dengan Tunisia. Ke mana pun seseorang melangkah, semesta senantiasa mempertemukannya dengan jalan pulang.
Ayari dengan segenap hati menghormati negara leluhurnya meski keduanya kini terpisah jarak. Dua golnya harus diakui membuat peluang Tunisia lolos ke fase gugur menipis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/a25e1c3e227a653fd0c990d18f6551d7-Tunisia_Sweden_WCup_Soccer.jpg)
Bahkan, kekalahan memalukan itu membuat Pelatih Sabri Lamouchi harus menerima pemecatan setelah hanya sempat memimpin tim sebanyak satu laga di Piala Dunia.
Mendapati golnya sudah pasti membuat Tunisia berduka, hati Ayari terbelah. Untuk itulah ia dengan segenap kesadaran memilih bersujud syukur, alih-alih berselebrasi dengan penuh semangat setelah membobol gawang Tunisia.
Tunisia akan selalu mendapat tempat istimewa di benak Ayari. Meski ia sendiri tidak pernah benar-benar menghabiskan banyak waktu sepanjang hidupnya di sana. (AP)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Nur Adji