Sebulan setelah fakta pahit dari Gibbs-White dan Maddison, serta sepekan usai dipermainkan Eze, Tottenham mendapatkan sosok pemain idaman dalam diri Xavi Simons.
30 Agt 2025 06:24 WIB · Olahraga
LONDON, JUMAT — Pencarian panjang nan berliku Tottenham Hotspur terhadap sosok gelandang serang berakhir manis di pengujung jendela transfer. Mereka sukses mendatangkan bintang tim nasional Belanda, Xavi Simons, yang sudah matang dan banyak pengalaman di usia 22 tahun.
Tottenham selalu menemui masalah saat berupaya mendatangkan pemain ”nomor 10”, mulai dari kesepakatan dengan Morgan Gibbs-White yang dibatalkan Nottingham Forest, Eberechi Eze yang direbut tim rival Arsenal, hingga Nico Paz yang memutuskan tetap bertahan di Como.
Usaha persisten tim asuhan Pelatih Thomas Frank berbuah manis jelang tenggat jendela transfer. Mereka resmi mendatangkan Simons dari RB Leipzig dengan biaya 60 juta euro (Rp 1,15 triliun) pada Jumat (29/8/2025) malam WIB. Adapun sang pemain lebih sering dihubungkan dengan Chelsea.
Dia masih muda, tetapi punya banyak pengalaman bagus selama beberapa tahun terakhir. Dia banyak bermain di level tertinggi.
Simons akan memakai nomor punggung tujuh yang terkenal dengan sosok pemain legendaris Son Heung-min. ”Ini adalah klub yang hebat. Ketika bertemu dengan pelatih, saya langsung tahu ini adalah tempat yang tepat untuk saya. Saya sangat senang dan tidak sabar untuk memulai,” katanya.
Posisi gelandang serang merupakan target utama Frank sejak tiba di Tottenham, Juni lalu. Sang pelatih membutuhkan sosok kreatif di lini serang, terutama setelah gelandang James Maddison dipastikan akan absen sangat lama akibat cedera lutut. ”Si Lili Putih” kekurangan kreator serangan.
”Saya sangat senang kami mendatangkan Xavi. Dia adalah tambahan yang hebat. Dia masih muda, tetapi punya banyak pengalaman bagus selama beberapa tahun terakhir. Dia banyak bermain di level tertinggi,” ujar Frank yang sudah terbiasa mengembangkan pemain muda selama di Brentford.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/22/3bd698db-fad3-4869-93f5-49e49a79a8ad_jpg.jpg)
Simons sudah malang melintang di tiga negara selama lima tahun terakhir, mulai dari Liga Perancis (Paris Saint-Germain), Liga Belanda (PSV Eindhoven), hingga terakhir Liga Jerman (Leipzig). Performanya terus menanjak di setiap musim, terutama sejak pindah ke Leipzig pada 2023.
Lulusan akademi Barcelona atau La Masia itu memainkan 76 laga bersama Leipzig dalam dua musim terakhir. Menariknya, dia memperlihatkan kontribusi signifikan dalam produk akhir dengan catatan 22 gol dan 24 asis di seluruh kompetisi. Itu yang membuat Chelsea begitu tertarik kepadanya.
Adapun Tottenham sangat membutuhkan pemain yang bisa berkontribusi besar dalam produk akhir. Mereka kehilangan Son yang pindah ke Los Angeles FC dan Maddison yang berpotensi absen sepanjang musim. Kedua pemain itu menyumbang total 23 gol dan 23 asis di musim lalu.
Di Leipzig, Simons bermain sebagai gelandang serang sisi kiri dalam formasi 4-2-2-2. Dia biasanya melakukan kreasi serangan di area sentral, tetapi pergerakan itu dimulai dari sisi sayap. Dengan kemampuan dribel yang mumpuni, Simons juga bisa tampil sebagai pemain sayap.
Presensi Simons di sisi tengah dan kiri akan sangat krusial bagi Si Lili Putih. Sejauh ini, menurut The Analyst, Tottenham terlalu mengandalkan serangan dari sisi kanan yang diisi pemain sayap Mohammed Kudus. Sebanyak 58 persen serangan mereka di dua pekan awal berasal dari sisi itu.
Serangan dari sisi kiri dan area tengah hanya menyumbang masing-masing 21 persen terhadap kreasi peluang Tottenham. Khusus di area tengah, persentasi itu adalah yang terendah di Liga Inggris. Itu menandakan ketergantungan terhadap Kudus dan kebutuhan mendiversifikasi serangan.
Seorang pemain bisa bersinar dalam sistem yang tepat. Begitu pun sebaliknya. Simons merupakan profil yang sangat cocok untuk sistem ala Frank. Bukan tanpa alasan, sang pelatih mengincar Eze dan Gibbs-White. Dia menginginkan sosok orkestrator dalam transisi serangan balik.
Leipzig merupakan tim yang sangat mengandalkan transisi. Kunci dari serangan mereka adalah Simons yang piawai dalam dribel, umpan, dan pengambilan keputusan dalam momen krusial. Terbukti, enam dari tujuh asis Simons di Liga Jerman musim lalu dihasilkan lewat situasi serangan balik.
Frank menilai, Simons merupakan sosok sempurna untuk menjawab kebutuhannya. ”Xavi telah membuktikan kualitasnya dengan jumlah gol dan asis, baik dari posisi ’nomor 10’ maupun sayap kiri. Dia punya mata hebat untuk mencari rekan-rekannya dalam membongkar pertahanan,” tuturnya.
Persoalan paling kompleks bagi banyak pemain muda yang datang ke Inggris adalah adaptasi. Simons yang sudah berpengalaman pindah-pindah negara tentu tidak akan terlalu sulit menyesuaikan diri. Satu-satunya keraguan hanyalah tubuh sang pemain yang tampak kurus dan kurang berisi, jauh dari standar pemain Liga Inggris. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan