Tim bulu tangkis Indonesia menjadi juara dalam Kejuaraan Asia Beregu Campuran. Di final, skuad ”Merah Putih” mengalahkan China.
16 Feb 2025 21:20 WIB · Olahraga
QINGDAO, MINGGU — Untuk pertama kalinya, Indonesia menjadi tim terbaik dalam Kejuaraan Asia Bulu Tangkis Beregu Campuran. Namun, begitu skuad “Merah Putih” turun dari podium, setiap komponen di pelatnas bulu tangkis harus mengerjakan pekerjaan rumah, terutama untuk mendekati ketertinggalan regenerasi dari China.
Indonesia menjadi juara setelah mengalahkan tuan rumah China, 3-1, pada final di Qingdao, Minggu (16/2/2025). Tiga kemenangan didapat dari partai pertama, kedua, dan keempat melalui Rinov Rivaldy/Siti Fadia Silva Ramadhanti, Alwi Farhan, dan Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin. Adapun Putri Kusuma Wardani kalah untuk pertama kalinya dari empat pertandingan.
Gelar ini melengkapi tiket untuk tampil pada Kejuaraan Piala Sudirman di Xiamen, China, 27 April – 4 Mei, yang didapat saat Indonesia lolos ke semifinal. Kejuaraan Asia, sebagai salah satu kejuaraan kontinental untuk kualifikasi Piala Sudirman, meloloskan empat tim terbaik ke Xiamen. Total, sebanyak 16 tim dari berbagai benua, termasuk China sebagai tuan rumah sekaligus juara bertahan, akan bersaing di Piala Sudirman.
Dalam perjalanan menuju final di Kejuaraan Asia, Indonesia menang atas Hong Kong dan Malaysia pada penyisihan grup, lalu mengalahkan Taiwan dan Thailand di perempat final dan semifinal. Pada hari terakhir turnamen, Rinov dan kawan-kawan memupus peluang China untuk juara tiga kali beruntun setelah 2019 dan 2023. Adapun kejuaraan 2021 tak digelar karena pandemi Covid-19.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/16/30f2e193a415a94019c3e49a360d8d93-WhatsApp_Image_2025_02_16_at_13.50.58.jpeg)
Oleh karena diselenggarakan pada tahun pertama setelah Olimpiade Paris 2024, sebanyak 12 tim yang bersaing di Qingdao diperkuat atlet yang sebagian besar merupakan atlet pelapis atau atlet muda. Pada nomor ganda, banyak pasangan baru, baik antara sesama pemain muda maupun duet pemain senior dan pemain muda.
Indonesia memercayakan raihan poin nomor tunggal putra dan tunggal putri yang dimotori Alwi Farhan (19 tahun) dan Putri Kusuma Wardani (22). Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin, yang selalu diturunkan saat Indonesia bertanding, menjadi salah satu harapan ganda putra untuk segera mendekati Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.
Ganda putri menurunkan Rachel Alessya Rose/Meilysa Trias Puspitasari pada salah satu laga penyisihan grup, meski tetap membawa Siti Fadia Silva Ramadhanti yang sudah tergolong senior pada sektor ini.
Fadia juga menjadi andalan ganda campuran, nomor yang terpaksa membawa para senior karena tak ada materi lebih baik. Seperti ganda putri, sektor ini dalam masa pencarian ganda terbaik, salah satunya dengan membentuk duet Dejan Ferdinansyah/Fadia dan Rinov/Lisa Ayu Kusumawati sejak awal 2025.
Namun, saat melawan China, Indonesia menurunkan Rinov/Fadia untuk menggantikan Dejan/Fadia yang bermain dalam tiga pertandingan sebelumnya. Pelatih ganda campuran Rionny Mainaky menjelaskan, Dejan tak bisa bermain karena merasakan sakit pada lutut kanan yang mengganggu pergerakan. Dalam dua penampilan terakhir, Dejan memang mengenakan bebat di lutut kanannya saat berlaga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/16/8b8b38ef0bd6c1051b4f2d999a726ffd-WhatsApp_Image_2025_02_16_at_14.49.46.jpeg)
Bagi Rinov dan Fadia, pengalaman berpasangan dalam ajang beregu, meski pada masa yunior, cukup membantu saat melawan China. “Kami sudah sering latihan bersama. Saat kejurnas bermain untuk klub, kami juga berpasangan. Jadi, saya sudah percaya sekali dengan Kak Rinov,” kata Fadia setelah menang atas Gao Jia Xuan/Wu Meng Ying dengan skor 21-11, 21-13.
Indonesia unggul 2-0 melalui kemenangan Alwi atas Hu Zhe An, 21-15, 21-13. Setelah itu, China bertahan dengan memenangi partai ketiga melalui Xu Wen Jing.
Atlet berusia 17 tahun tersebut mengalahkan Putri pada pertemuan pertama mereka dengan skor 21-12, 21-13. Padahal, Putri bermain baik sepanjang kejuaraan dan mengalahkan pemain berpengalaman asal Thailand, Busanan Ongbamrungphan, pada semifinal.
Final akhirnya berlangsung hanya sampai partai keempat karena Indonesia memenangi tiga partai lebih dulu setelah Fikri/Daniel mengalahkan Chen Xu Jun/Huang Di 21-15, 21-9. Begitu Fikri/Daniel mendapat poin terakhir, tim Indonesia berlarian memasuki lapangan untuk merayakan kemenangan.
Selain menjadi juara secara tim, skuad Merah Putih membawa catatan positif lain dari Qingdao, seperti penampilan baik pemain tunggal. Alwi tak terkalahkan dalam empat pertandingan, sementara, Putri menang tiga kali sebelum kalah dari Xu. Komang juga membayar kepercayaan dengan kemenangan ketika Indonesia melawan Malaysia.
Dari sektor ganda, Fadia selalu memberikan usaha terbaik, termasuk ketika harus bermain dalam nomor ganda campuran dan ganda putri. Duet Dejan/Fadia pun memiliki potensi besar untuk bisa memasuki persaingan level atas dengan segera.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/16/d4410e589a2b7914a243fefe2c052bf9-WhatsApp_Image_2025_02_16_at_15.31.27.jpeg)
Catatan lain, selain peningkatan faktor teknis setiap atlet, ada pekerjaan rumah terkait regenerasi. Pertandingan melawan China menjadi gambaran bahwa negara tersebut memiliki lebih banyak pemain pelapis dengan kualitas lebih baik dibandingkan Indonesia.
Ganda campuran, Gao/Wu, adalah pemain dengan usia 19 dan 21 tahun. Di pelatnas Indonesia, Gao seangkatan dengan Felisha Albertha Nathaniel Pasaribu dan mereka pernah berhadapan dalam Kejuaraan Dunia Yunior 2023. Felisha, yang berpasangan dengan Adrian Pratama, menang atas Gao yang bermain bersama Chen Fan Shu Tian pada babak ketiga.
Gao/Wu, yang berpasangan sejak awal 2025, adalah ganda campuran nomor 11 China berdasarkan posisi dalam ranking dunia. Sebelum tampil di Qingdao, mereka bermain di Indonesia Masters dengan mencapai babak kedua dan menjadi semifinalis Thailand Masters.
Apresiasi pada Gao/Wu pun disampaikan Rinov. “Lawan adalah pasangan muda yang cukup bagus. Mereka masa depan ganda campuran China, tetapi, dalam pertandingan tadi, kami berhasil menekan mereka,” ujar Rinov.
Gao/Wu menjadi salah satu pemain muda yang memperkuat tim China, meskipun mereka membawa peraih emas Olimpiade, yaitu Chen Yu Fei pada tunggal putri dan Chen Qing Chen (ganda putri). Tetapi, Chen, yang bermain saat China melawan Jepang pada semifinal, berpasangan dengan atlet berusia 20 tahun, Wang Ting Ge.
Gao, Wu, dan Wang menjadi bagian dari atlet muda China dalam Kejuaraan Asia. Mereka diperkuat sembilan pemain berusia 21 tahun ke bawah dari total 16 pemain, sementara Indonesia mempunya lima pemain pada rentang usia yang sama.
China memang tak memiliki misi berebut tiket Piala Sudirman seperti tim lain karena akan berstatus tuan rumah. Akan tetapi, mencapai final Kejuaraan Asia dengan materi pemain-pemain muda menjadi hasil yang baik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/16/b2f1c09b16da2e9a7f16758408d2eb38-WhatsApp_Image_2025_02_16_at_18.32.52.jpeg)
Hu dan Wu menjadi pemain potensial pada nomor tunggal, meskipun Alwi tetap unggul dalam statistik pertemuan dengan Hu, menjadi 4-1. Pertemuan mereka di Qingdao menjadi yang pertama dalam kejuaraan level senior setelah empat kali bersaing di kategori yunior pada 2023.
Salah satu kemenangan yang mengesankan bagi Alwi adalah ketika mengalahkan Hu pada final tunggal putra Kejuaraan Dunia Yunior 2023. Setahun kemudian, ketika Alwi tak bisa lagi bertanding di turnamen yunior, Hu menjadi juara dunia yunior bersama Xu pada tunggal putri.
Dalam usia 18 tahun, Hu adalah tunggal putra nomor sepuluh China, sementara, Xu berada di urutan ke-20 tunggal putri. Di Indonesia, Alwi, yang berusia setahun lebih tua dari Hu, berstatus tunggal putra keempat di bawah Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, dan Chico Aura Dwi Wardoyo.
Artinya, China memiliki lebih banyak pemain di antara pemain terbaik mereka dengan pemain-pemain muda yang diturunkan dalam Kejuaraan Asia di Qingdao. Sebaliknya, rentang prestasi antara Jonatan dan Anthony dengan pemain di bawah mereka terlampau jauh.
Pada ganda putra, China hanya membawa pasangan nomor enam dan delapan. Sementara, Fikri/Daniel dan Rahmat Hidayat/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan hanya berada satu level di bawah Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko Prihananto