Menang 3-0 atas Taiwan, Indonesia kembali ke semifinal Kejuaraan Asia Bulu Tangkis Beregu Campuran setelah 2019. Tantangan berikutnya datang dari Thailand.
14 Feb 2025 22:22 WIB · Olahraga
QINGDAO, JUMAT — Dalam persaingan di antara sesama pemain pelapis yang dibawa hampir semua peserta Kejuaraan Asia Bulu Tangkis Beregu Campuran, Indonesia lolos ke semifinal. Setelah lolos ke ajang Piala Sudirman melalui tiket semifinal tersebut, skuad ”Merah Putih” akan berusaha lolos ke final untuk pertama kali.
Kejuaraan Asia di Qingdao, China, 11-16 Februari, menjadi salah satu kejuaraan beregu kontinental sebagai kualifikasi untuk Piala Sudirman yang akan berlangsung di Xiamen, China, 27 April-4 Mei. Ajang serupa di zona Eropa, Afrika, Oseania, dan Pan Amerika berlangsung pada pekan yang sama dengan jumlah berbeda untuk tim yang berhak tampil di Xiamen.
Bersama China, yang otomatis menjadi peserta karena berstatus tuan rumah sekaligus juara bertahan, peserta Piala Sudirman terdiri atas 16 tim. Meski telah dipastikan akan bersaing di Piala Sudirman, China tetap mengikuti Kejuaraan Asia dan mereka lolos ke semifinal setelah mengalahkan Hong Kong, 3-2.
Tuan rumah diperkuat peraih emas Olimpiade, yaitu Chen Yu Fei, pada tunggal putri dan Chen Qing Chen (ganda putri), tetapi mereka membawa lebih banyak pemain muda. Ada sembilan pemain dengan usia 21 tahun ke bawah, antara lain tunggal putra Hu Zhe An (18 tahun) dan Xu Wen Jing (tunggal putri/17 tahun). Keduanya adalah juara dunia yunior 2024.
Selain Indonesia, yang menang 3-0 atas Taiwan, pada perempat final, Jumat (14/2/2025), tim lain yang melaju ke semifinal, sekaligus mendapat tempat pada Piala Sudirman, yaitu Jepang dan Thailand. Keduanya memenangi perempat final dengan cara berbeda. Jepang menang dalam tiga laga beruntun, sementara Thailand mengalahkan Korea Selatan, 3-2, dalam persaingan ketat pada setiap pertandingannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/14/cc6a8e54bb27ec3695bf30bfa3245139-WhatsApp_Image_2025_02_14_at_17.33.26.jpeg)
Kecuali ganda campuran, yang dimenangi Korea Selatan dalam dua gim, empat laga lain berlangsung tiga gim, masing-masing dengan durasi lebih dari 1 jam. Ganda putri, sebagai penentu hasil akhir setelah skor Thailand dan Korea Selatan 2-2, bahkan berlangsung 1 jam 24 menit dengan skor 18-21, 21-13, 23-21 bagi kemenangan Benyapa Aimsaard/Nuntakarn Aimsaard atas Jeong Na-eun/Lee Yeon-woo.
Eropa, yang juga memiliki empat jatah, hingga Jumat malam meloloskan Denmark dan Perancis. Zona Oseania diwakili Australia, sementara Aljazair lolos dari persaingan di Afrika. Selain tim yang lolos karena memenuhi syarat dalam kejuaraan kontinental, akan ada empat tim lain yang bisa tampil di Piala Sudirman karena memiliki ranking dunia terbaik.
Pada Piala Sudirman 2023, Indonesia lolos berdasarkan posisi dalam ranking tim karena gagal ke semifinal Kejuaraan Asia. Sejak ajang ini diselenggarakan pada 2017 setiap tahun ganjil, kecuali pada 2021 karena pandemi Covid-19, ”Merah Putih” hanya sekali lolos ke semifinal, yaitu pada 2019.
Pada tiga gelaran lain, Indonesia kalah pada perempat final, termasuk pada 2023 ketika diperkuat pemain-pemain senior, seperti Anthony Sinisuka Ginting dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Saat itu, Indonesia kalah 1-3 dari Korea Selatan.
Tiket semifinal di Qingdao didapat dari kemenangan pada tiga partai secara langsung melalui Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti, Alwi Farhan, dan Putri Kusuma Wardani. Oleh karena persaingan telah memasuki fase gugur, pertandingan lain tak dimainkan ketika salah satu tim telah memenangi tiga partai.
Setelah mengulang langkah pada 2019, kini tantangan Fadia dan kawan-kawan yaitu tampil di final untuk pertama kali. Meskipun memenangi perempat final dalam tiga partai beruntun, Indonesia harus waspada melawan Thailand karena tim ini diperkuat pemain-pemain senior.
Tim sudah unggul, jadi saya bisa bermain lepas. Dukungan teman-teman di belakang pun sangat membantu.
Nomor yang seharusnya bisa menjadi milik Indonesia ialah ganda putra melalui Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin yang akan melawan Peeratchai Sukphun/Pakkapon Teeraratsakul. Namun, nomor ini baru dimainkan pada partai keempat setelah wakil Indonesia lainnya akan menghadapi tantangan berat.
Pada partai pembuka, Dejan/Fadia kembali dipercaya bermain untuk melawan Supak Jomkoh/Sapsiree Taerattanachai, diikuti Alwi yang akan berhadapan dengan Panitchaphon Teeraratsakul. Kedua tunggal putra ini pernah berhadapan pada masa yunior.
Pada tunggal putri, Putri akan berhadapan dengan Busanan Ongbamrungphan. Atlet Thailand ranking ke-12 dunia ini selalu menang atas Putri dalam tiga pertemuan.
Adapun jika pertandingan berlangsung hingga partai kelima, Fadia akan kembali bermain, kali ini bersama Lanny Tria Mayasari untuk melawan Aimsaard bersaudara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/14/17fd62b3bb10fe84a10f84322acd742f-WhatsApp_Image_2025_02_14_at_18.49.02.jpeg)
Saat Indonesia melawan Taiwan, Alwi menyumbangkan poin setelah mengalahkan Lee Chia Hao dengan skor 21-16, 21-23, 21-11. Alwi mengatakan bahwa kepercayaan dirinya saat memasuki lapangan bertambah berkat kemenangan yang didapat Dejan/Fadia pada partai pertama.
Selain itu, Alwi berusaha fokus untuk memberikan kemampuan terbaik meskipun tertinggal 1-3 pada pertemuan sebelumnya dari Lee dalam rentang 2022-2024. Tiga dari empat pertemuan itu berlangsung dalam tiga gim.
”Skor pertemuan sebelumnya selalu mepet. Jadi, saya merasa, peluang kami pada setiap pertemuan adalah sama. Akan tetapi, saya tidak terlalu memikirkan head to head itu, saya belajar fokus untuk menyumbangkan poin bagi Indonesia,” kata Alwi.
Berusia 19 tahun dan menjadi tunggal putra nomor empat Indonesia berdasarkan ranking dunia, Alwi berperan sebagai tunggal putra pertama dalam tim di Qingdao. Wakil lain dalam nomor ini ialah Yohanes Saut Marcellyno yang dua tahun lebih tua daripada Alwi.
Rasa percaya diri tim Indonesia saat melawan Taiwan, salah satunya dipengaruhi kemenangan pada partai pertama yang didapat Dejan/Fadia. Dua pemain yang baru diduetkan pada 2025 ini, setelah Dejan dipanggil PP PBSI untuk menjadi anggota pelatnas, menang atas ganda campuran ranking ketujuh dunia, Yang Po Hsuan/Hu Ling Fang, dengan skor 16-21, 21-16, 21-19.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/14/27f0f81e7ffa5480a706d73c5e786cf9-WhatsApp_Image_2025_02_14_at_20.00.34.jpeg)
Pertandingan tersebut bagaikan perang urat syaraf, terutama pada gim ketiga ketika selisih skor di antara kedua pasangan seringkali berbeda satu hingga dua angka, termasuk ketika menjelang akhir pertandingan. Selain itu, beberapa momen menjadi drama dalam laga itu, seperti ketika Fadia mendapat kartu kuning dari wasit karena dinilai memperlambat permainan saat memperbaiki ikatan tali sepatu di lapangan.
Yang dan Dejan, juga, mendapat peringatan saat keduanya berteriak bersahutan ketika Yang akan servis. Selain itu, Indonesia membuang kesempatan match point pertama pada skor 20-18 karena kesalahan servis dari Dejan. Maka, saat pertandingan berakhir pada menkit ke-58, lepaslah ketegangan yang dirasakan Dejan dan Fadia.
”Tegang dan beban pasti ada karena saat main beregu, hasil dari laga pertama bisa menentukan untuk tim. Namun, saat di lapangan, kami mencoba melupakan hal itu,” komentar Dejan.
Setelah Alwi memenangi partai kedua, Indonesia mendapat kemenangan ketiga seusai Putri mengalahkan Sung Shuo Yun dengan skor 21-8, 21-15. Putri pun bercerita bahwa dia lebih tenang dan percaya diri saat bertanding karena Indonesia dalam posisi unggul.
”Tim sudah unggul, jadi saya bisa bermain lepas. Dukungan teman-teman di belakang pun sangat membantu,” ujar andalan tunggal putri itu saat Indonesia tak diperkuat Gregoria Mariska Tunjung.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar Alexey