Menang atas Thailand membuat Indonesia ke final Kejuaraan Asia Beregu Campuran untuk pertama kalinya. Indonesia akan berebut gelar juara dengan China.
15 Feb 2025 13:45 WIB · Olahraga
QINGDAO, SABTU—Putri Kusuma Wardani selalu antusias ketika membela Indonesia dalam kejuaraan bulu tangkis beregu. Dia memperlihatkan rasa antuasiasme itu dengan performa semakin gemilang pada setiap laga dan turut mengantarkan Indonesia ke final Kejuaraan Asia beregu campuran di Qingdao, China.
Kemenangan Putri atas Busanan Ongbamrungphan dengan skor 21-10, 21-8, bahkan, bisa dinilai sebagai kunci kemenangan Indonesia atas Thailand pada semifinal, Sabtu (15/2/2025). Indonesia mengalahkan Thailand, 3-1, dan di partai final akan berhadapan dengan China yang pada semifinal lainnya mengalahkan Jepang dengan skor 3-2.
Tantangan yang dihadapi Putri menjadi yang paling berat bagi skuad Indonesia dalam melawan Thailand. Meskipun Indonesia menempati unggulan keempat, sementara Thailand berada pada posisi ketujuh dari 12 tim, Thailand membawa beberapa pemain senior yang lebih berpengalaman dalam bersaing di level atas. Sebelum bertemu Indonesia, Thailand menyingkirkan unggulan kedua, Korea Selatan, pada perempat final dengan skor 3-2.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/15/789c299ba3d1547a71f85ef07c1489bf-IMG_20250215_WA0006.jpg)
Ongbamrungphan, tunggal putri peringkat ke-12 dunia, memiliki tiga gelar juara dari turnamen BWF World Tour Super 500 dan pernah menjadi finalis pada level Super 750. Atlet berusia 28 tahun ini sering dipercaya memperkuat negaranya dalam kejuaraan beregu level dunia. Dia menjadi bagian dari tim Thailand saat mencapai final Piala Uber 2018 dan semifinal pada 2020 dan 2022.
Pada ajang Piala Sudirman, yang tim pesertanya ditentukan melalui kejuaraan beregu kontinental termasuk Kejuaraan Asia, Ongbamrungphan berada di timnya saat menempati peringkat empat besar di 2017 dan 2019.
Selain Ongbamrungphan, tunggal putri Thailand diperkuat pemain ranking keenam dunia, Pornpawee Chochuwong. Dia menjuarai Thailand Masters dan menjadi finalis India Terbuka, pada Januari, sebelum tiba di Qingdao. Dalam perjalanan menjuarai Thailand Masters, Chochuwong mengalahkan dua atlet Indonesia yang juga bermain di Qingdao, yaitu Putri dan Komang Ayu Cahya Dewi.
Rekam jejak Putri yang selalu kalah dalam pertemuan dengan Ongbamrungphan, juga dari Chochuwong, membuat Thailand lebih unggul pada sektor tunggal putri. Apalagi, Indonesia tak diperkuat Gregoria Mariska Tunjung.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/15/1d2dadff70bd756483dfd6e0b0344c58-WhatsApp_Image_2025_02_15_at_11.23.53.jpeg)
Saya belajar dari pertemuan terakhir melawan Busanan. Saat itu sudah unggul jauh, tetapi bisa tersusul. Saya berusaha agar itu tidak terjadi lagi.
Akan tetapi, Putri bisa membayar kepercayaan yang diberikan padanya. Atlet berusia 22 tahun itu selalu menang dua gim dalam tiga pertandingan. Penampilannya saat melawan Ongbamrungphan, bahkan, lebih baik dari laga saat Indonesia mengalahkan Hong Kong pada penyisihan grup dan Taiwan (perempat final).
Permainan Putri cukup variatif, bisa menyerang dengan cepat atau melancarkan forehand lob yang ”dalam” hingga kok jatuh di sekitar garis belakang lapangan lawan. Permainan di net, juga, menyulitkan Ongbamrungphan yang selalu mengalahkan Putri dalam tiga pertemuan lain. Putri menang dengan skor 21-10, 21-8 dalam waktu 33 menit yang menjadi pertandingan tercepatnya melawan Ongbamrungphan.
”Sangat senang bisa bermain lepas dan menyumbangkan poin untuk Indonesia. Saya belajar dari pertemuan terakhir melawan Busanan. Saat itu sudah unggul jauh, tetapi bisa tersusul. Saya berusaha agar itu tidak terjadi lagi,” tutur Putri, bercerita tentang kekalahan dalam tiga gim pada perempat final Malaysia Masters 2024.
Kemenangan Putri itu membawa Indonesia unggul 2-1 setelah kehilangan partai pertama dari ganda campuran dan Alwi Farhan memenangi tunggal putra pada partai kedua. Alwi mengalahkan Panitchapon Teeraratsakul, 21-13, 21-18.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/15/b59276681fcb51ce2cec30499d1a2ea5-WhatsApp_Image_2025_02_15_at_10.48.39.jpeg)
Keduanya pernah berhadapan dan Alwi menang, tetapi itu terjadi pada masa yunior, tiga tahun lalu. Namun, pemain Indonesia berusia 19 tahun tersebut tak ingin mengingat pertemuan itu, begitu pula dengan kondisi Indonesia yang tertinggal 0-1 setelah Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti kalah dari Supak Jomkoh/Sapsiree Taerattanachai 13-21, 20-22.
”Saya tahu, Aa Dejan dan Kak Fadia sudah berusaha semaksimal mungkin, jadi saya juga mau melakukan yang terbaik untuk tim Indonesia,” kata Alwi yang memiliki pengalaman membela Indonesia dalam ajang beregu, meski masih banyak di level yunior.
Setelah menang pada dua pertandingan sebelumnya, kali ini, Dejan/Fadia mendapat pelajaran dari pemain yang lebih berpengalaman, meski Jomkoh dan Taerattanachai juga tergolong pasangan baru.
Taerattanachai mengakhiri kerja samanya dengan Dechapol Puavaranukroh seusai Olimpiade Paris 2024 dan bermain bersama Jomkoh sejak Oktober 2024. Selain 17 kali menjuarai turnamen BWF World Tour, duet Puavarnukroh/Taerattanachai meraih pencapaian tertinggi saat menjadi juara dunia 2021.
Dari pengalaman tersebut, Taerattanachai bermain lebih baik dalam mengatur pola permainan. Sebaliknya, Dejan dan Fadia bermain di bawah performa yang ditampilkan saat melawan Taiwan pada perempat final.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/15/dca7d03d797588b05a5a05f243a78969-WhatsApp_Image_2025_02_15_at_09.43.11.jpeg)
Mereka membuat banyak kesalahan, terutama melalui pukulan yang arahnya tak akurat. Smes dari Dejan yang mengincar garis pinggir lapangan misalnya, justru membuat kok jatuh di luar lapangan, begitu pula blok dari Fadia untuk menahan pukulan lawan di depan net.
”Kami sudah tampil maksimal mengeluarkan semua kemampuan, tapi memang masih ada evaluasi yang harus dilakukan, terutama bagaimana mengatur permainan untuk tidak terburu-buru. Hari ini belajar dari Sapsiree yang sangat berpengalaman, dia tahu benar cara mengendalikan di lapangan,” ujar Fadia.
Kemenangan ketiga bagi Indonesia akhirnya didapat dari ganda putra, Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin, yang mengalahkan Peeratchai Sukphun/Pakkapon Teeraratsakul 21-13, 21-16.
Setelah ini, satu tantangan lagi akan dijalani, yaitu melawan China. Indonesia akan tampil pada final untuk pertama kalinya sejak Kejuaraan Asia kategori beregu campuran ini digelar dua tahunan sejak 2017. Jepang menjadi juara edisi pertama, setelah itu China juara pada 2019 dan 2023. Edisi 2021 tidak diselenggarakan karena pandemi Covid-19.
SEMIFINAL INDONESIA – THAILAND 3-1
Ganda campuran
Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti vs Supak Jomkoh/Sapsiree Taerattanachai 13-21, 20-22
Tunggal putra
Alwi Farhan vs Panitchapon Teeraratsakul 21-13, 21-18
Tunggal putri
Putri Kusuma Wardani vs Busanan Ongbamrungphan 21-10, 21-8
Ganda putra
Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin vs Peeratchai Sukphun/Pakkapon Teeraratsakul 21-13, 21-16
Ganda putri
Lanny Tria Mayasari/Siti Fadia Silva Ramadhanti vs Benyapa Aimsaard/Nuntakarn Aimsaard (tidak dimainkan)
Catatan redaksi:
Update hasil semifinal China lawan Jepang.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase