Tiga bulan lalu, Kasat Reskrim Polres Solok Selatan Ajun Komisaris Ryanto Ulil Anshar bertanya ke sang ibu, apakah diizinkan jika dirinya berhenti jadi polisi.
23 Nov 2024 09:13 WIB · Kriminalitas
Tewasnya Ajun Komisaris Ryanto Ulil Anshar, Kepala Satuan Reskrim Polres Solok Selatan, Sumatera Barat, menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat. Para anggota keluarga masih belum percaya Ulil berpulang begitu cepat. Apalagi, pria berusia 34 tahun itu meninggal akibat dibunuh oleh sesama polisi.
Suasana duka tampak jelas di rumah orangtua Ulil di kompleks Antang Jaya, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/11/2024) malam. Dari gerbang kompleks hingga ke rumah duka, karangan bunga memenuhi sisi kiri dan kanan jalan. Sebagian karangan bunga bahkan berjejer hingga ke lorong-lorong sekitar.
Ratusan pelayat berkumpul di halaman dan bagian di dalam rumah serta di jalan sekitar. Puluhan anggota polisi dari Polda Sulsel dan Brimob terlihat sibuk memasang tenda di halaman.
Pada Jumat malam tersebut, ibadah malam penghiburan digelar. Seusai ibadah, sebagian pelayat tak pulang. Mereka tetap duduk menunggu kedatangan jenazah Ulil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/23/63511b37-1f88-47d7-a8db-610143e94843_jpeg.jpg)
Saat jenazah tiba pada Sabtu (23/11/2024) sekitar pukul 01.10 Wita, suasana berubah histeris. Isak tangis menyambut peti jenazah yang diletakkan di ruang tamu. Jenazah Ulil akan disemayamkan di rumah itu hingga pemakaman yang menurut rencana dilakukan pada Minggu (24/11/2024).
”Kami keluarga tentu sangat kaget dan tidak menyangka almarhum pergi dengan tragis saat melaksanakan tugas. Yang kami dengar, oknum yang terlibat tambang galian C itu tidak puas dengan penanganan kasus ini,” kata paman Ulil, Joni Mangin, yang merupakan purnawirawan polisi dengan pangkat terakhir ajun komisaris besar.
Keluarga pun berharap kasus kematian Ulil diusut tuntas. ”Harapan keluarga semoga pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal, apalagi pelaku oknum polisi yang seharusnya mendukung kalau ada teman-teman, apalagi yuniornya, melaksanakan tugas,” tutur Joni.
Seperti diberitakan, Ulil tewas ditembak oleh Kepala Bagian Operasional Polres Solok Selatan Ajun Komisaris Dadang Iskandar (57) pada Jumat (22/11/2024) sekitar pukul 00.15 WIB. Penembakan dilakukan di tempat parkir Polres Solok Selatan.
Kepala Kepolisian Daerah Sumbar Inspektur Jenderal Suharyono mengaku belum bisa menjelaskan secara rinci motif penembakan itu. Namun, pelaku diduga tidak senang atas penindakan salah satu tambang pasir dan batu atau galian C ilegal di Solok Selatan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/22/1860f74b-10c4-4b6d-bb88-f6ab8d88aac1_jpg.jpg)
Christina Yun Abubakar, ibunda Ulil, berusaha tampak tegar saat bertemu dengan para pelayat. Namun, dia tak dapat menyembunyikan kesedihan di balik senyumnya.
Beberapa kali Christina tampak bolak-balik dari dalam dan luar rumah, menyambut dan menyapa tetamu yang datang. Namun, saat keluarga dan kerabat datang menyampaikan dukacita, dia terisak.
Dalam kesempatan wawancara dengan wartawan, Christina bercerita kenangan terakhir bersama Ulil. Salah satu kenangan yang tak terlupakan adalah percakapan telepon dengan sang anak sekitar tiga bulan lalu.
”Dia pernah bilang sama saya, kalau tidak salah tiga bulan yang lalu saat dia menelepon. Katanya, Mama, saya mau tanya. Seandainya saya keluar dari polisi, apa Mama mengizinkan?” kata Christina menirukan ucapan Ulil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/23/ff176419-039d-4ff4-a35b-e5d3d1942561_jpeg.jpg)
Christina lalu menanggapi pertanyaan putranya itu. ”Saya bilang jangan keluar dari polisi. Itu masa depanmu. Itu kebaikan Tuhan buat kamu. Kami bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa, tapi (Ulil) bisa lulus. Jadi, syukuri apa yang Tuhan berikan,” katanya.
Jawaban Christina tersebut ditanggapi Ulil dengan ucapan terima kasih. ”Dia juga bilang nanti akan cerita,” kata Christina.
Saat itu, Christina berpikir mungkin saja anaknya merasa tertekan. Apalagi, satu bulan setelah percakapan telepon itu, Ulil berkunjung ke Makassar dan terlihat galau. Namun, saat itu, dia tak bercerita banyak. Ulil lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-temannya.
Dia pernah bilang sama saya, kalau tidak salah tiga bulan yang lalu saat dia menelepon. Katanya, Mama, saya mau tanya. Seandainya saya keluar dari polisi, apa Mama mengizinkan?
Saat itu, Christina juga sempat dirawat di rumah sakit hingga Ulil menunda kepulangannya ke Solok Selatan. Ketika sang ibu keluar dari rumah sakit, Ulil mengajaknya ke toko perlengkapan rumah tangga.
”Dia bilang, mama butuh apa di rumah, beli saja. Saya sempat menolak. Tapi dia beli kulkas karena memang kulkas di rumah lagi rusak. Dia juga membeli dispenser,” tutur Christina.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/22/222cb092-10c7-470e-87b6-ec6a9e1181cf_jpg.jpg)
Saat berada di Solok Selatan, Ulil kerap bercakap-cakap dengan ibunya melalui panggilan video. Walau sang anak tak pernah bercerita, Christina merasa bahwa Ulil seperti tertekan. Namun, perempuan itu tak bertanya lebih jauh. Dia hanya berpesan agar Ulil kian mendekatkan diri kepada Tuhan.
”Saya bilang, apa pun masalahnya, datang sama Tuhan. Berdoa, minta kekuatan, karena hanya Tuhan yang mampu tolong kita. Saya juga bilang bahwa saya akan selalu ada,” kata Christina.
Beberapa waktu sebelum penembakan yang merenggut nyawanya, Ulil menelepon ibunya dan bertanya apa yang dibutuhkan gereja. Saat itu, Christina memberi daftar kebutuhan gereja dan Ulil menyanggupi membeli kamera pengawas. Uang lalu dikirimkan kepada ibunya untuk diserahkan ke gereja.
Christina mengaku sangat tak siap dengan kepergian Ulil. ”Kalau sakit, mungkin (lebih siap). Tapi, ini karena perbuatan orang lain yang menghilangkan nyawanya. Mungkin sudah takdir umurnya begitu. Tapi, caranya itu yang saya tak bisa terima,” ungkapnya.
Kini, keluarga dan berbagai pihak lain berharap Polri serius menyelidiki kasus penembakan terhadap Ulil dan mengusutnya hingga tuntas.
Penulis:
Reny Sri AyuEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra