Tiga Gol Crystal Palace Wujudkan Final Piala FA Ketiga

Palace sukses mengambil keuntungan dari rekor buruk Emery dan absennya penyerang Marcus Rashford. Glasner memaksa Emery untuk menelan racun sendiri.

27 Apr 2025 05:15 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

LONDON, SABTU — Strategi blok rendah dan transisi Crystal Palace tidak mampu dijawab Aston Villa selama 90 menit. Strategi itu berbuah kemenangan tiga gol tanpa balas yang mengantar Palace ke final Piala FA untuk ketiga kali. Mereka melengkapi penderitaan Villa pada bulan ini.

Palace menjadi tim pertama yang lolos ke partai puncak setelah menang 3-0 atas Villa di Stadion Wembley, London, pada Sabtu (26/4/2025) malam WIB. Gol pembuka Eberechi Eze dan sepasang gol dari Ismaila Sarr menginspirasi kesuksesan tim asal London tersebut.

Proses gol Eze dan Sarr bisa merangkum rumus kemenangan Palace. Ketiga gol itu bermula dari momen transisi serangan balik, memanfaatkan kesalahan para pemain Villa di separuh lapangan sendiri. “Mereka sangat bagus dalam transisi dan pantas menang,” kata Pelatih Kepala Villa Unai Emery.

Terlepas dari jumlah gol, Eze merupakan pemain paling bersinar di Wembley. Gelandang tim nasional Inggris itu membuka keunggulan lewat tembakan spektakuler dari luar kotak penalti. Villa terpaksa bermain lebih agresif setelah tertinggal, membuat strategi transisi Palace semakin bekerja.

Eze juga berhasil memancing hadiah penalti pada awal paruh kedua setelah dilanggar gelandang Boubacar Kamara. Hanya saja, eksekusi dari penyerang Jean-Philippe Mateta melebar. Eze melanjutkan tren positif dengan terlibat dalam tujuh gol Palace di delapan pertandingan terakhir.

Crystal Palace's English midfielder #10 Eberechi Eze celebrates a after scoring the opening goal of the English FA Cup semi-final football between Crystal Palace and Aton Villa at Wembley Stadium in north London on April 26, 2025. (Photo by Glyn KIRK / AFP) / NOT FOR MARKETING OR ADVERTISING USE / RESTRICTED TO EDITORIAL USE

Kata Eze, performa tim keseluruhan sangat menjanjikan dan membawa keyakinan juara. Seperti diketahui, Palace selalu kalah di partai puncak pada 1990 dan 2016. “100 pesen (percaya diri). Kami tidak khawatir dan takut bertemu siapa pun, seperti tadi. Kami akan habis-habisan (di final),” ujarnya.

Laga tersebut sekali lagi menunjukkan superioritas Pelatih Kepala Palace Oliver Glasner atas Emery. Sejak Glasner ditunjuk pada Februari 2024, Palace dan Villa sudah lima kali bertemu. Palace tidak pernah kalah dan memenangi empat laga di antara itu, termasuk semifinal tadi.

Menurut Glasner, strategi di pertemuan kali ini sedikit berbeda. Dia mengubah pendekatan setelah melihat Villa turun dengan empat pemain bertipe ofensif, antara lain Ollie Watkins dan Marco Asensio. Lini depan Villa dalam formasi 4-2-3-1 itu bermain di posisi lebih sentral.

“Empat pemain depan mereka sangat rapat. Mereka selalu mencoba (menyerang) lewat dua gelandang jangkar. Kami menginstruksikan para penyerang untuk menekan gelandang mereka. Hasilnya kami bisa mengontrol laga,” kata Glasner yang menggunakan formasi defensif 3-4-2-1.

Palace memang hanya menguasai bola sebanyak 29,8 persen. Namun, mereka mampu mengontrol laga karena Villa tidak mampu berbicara banyak. Penguasaan Villa tidak banyak berarti, apalagi ancaman lini depan mereka berkurang karena ketidakhadiran penyerang Marcus Rashford yang cedera.

Aston Villa's goalkeeper Emiliano Martinez, right, celebrates after Crystal Palace's Jean-Philippe Mateta missed a penalty kick during the English FA Cup semifinal soccer match between Crystal Palace and Aston Villa at the Wembley stadium in London, Saturday, April 26, 2025. (AP Photo/Dave Shopland)

Tim asuhan Glasner tampak sangat nyaman bermain defensif. Mereka sudah melatih strategi itu saat menahan tim raksasa Arsenal 2-2 pada Kamis lalu. Laga tadi pun seperti pengulangan bagi Palace. Tidak seperti Villa yang tampil lebih agresif seusai bermain bertahan saat kalah dari Manchester City.

Momentum kebangkitan Villa tercipta lima menit setelah turun minum. Watkins dan rekan-rekan mengepung pertahanan Palace dan membuat dua peluang emas sekaligus. Hanya saja, kiper Dean Henderson tampil heroik dengan menggagalkan seluruh percobaan tersebut.

Villa sempat mendapatkan angin segar lagi setelah kegagalan penalti Mateta. Para penggemar Villa kembali bersemangat. Namun, hanya lima menit berselang dari insiden itu, Palace justru menggandakan keunggulan lewat tembakan jarak jauh Sarr. Villa semakin sulit untuk bangkit.

Emery melakukan segala cara pada 30 menit terakhir. Sang pelatih memasukkan lima pemain yang lebih bertipe menyerang, antara lain Leon Bailey dan Ross Barkley. “Kami baru bereaksi seusai tertinggal 0-2, tetapi kami gagal menciptakan peluang berarti untuk mencetak gol,” katanya.

Bukan tanpa alasan, Villa selalu kesulitan melawan Palace. Semua itu karena Emery dipaksa untuk menelan “racun” sendiri. Villa sering mengandalkan pertahanan blok rendah dan transisi, terutama saat bertemu tim lebih kuat. Itu tidak bisa digunakan versus Palace yang bermain lebih pasif.

Crystal Palace's head coach Oliver Glasner watches the play during the English FA Cup semifinal soccer match between Crystal Palace and Aston Villa at the Wembley stadium in London, Saturday, April 26, 2025. (AP Photo/Dave Shopland)

Hasil itu sekaligus melengkapi penderitaan Villa selama bulan April. Mereka tersingkir dari Liga Champions dan Piala FA, serta semakin terdesak dalam persaingan lima besar Liga Inggris, dalam hanya sebulan terakhir. Situasi diperburuk dengan cederanya Rashford yang diandalkan belakangan ini.

“Pastinya itu adalah kekecewaan yang sangat besar. Kedua tim sama-sama mempertaruhkan hal yang besar di laga ini. Bagi kami itu (Piala FA) sangat berarti karena kami mendambakan kesuksean dan trofi. Kami harus menggunakan rasa sakit ini untuk bangkit lebih kuat musim depan,” ujar gelandang Villa John McGinn.

Di final, Palace akan berhadapan dengan pemenang laga City versus Nottingham Forest. Jika City yang lolos, Palace akan bertemu tim dari Manchester lagi di partai puncak. Adapun Palace dua kali menjadi runner-up setelah kalah dari Manchester United pada 1990 dan 2016. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .