Dari veteran Jordan Henderson sampai remaja Myles Lewis-Skelly menjadi sorotan dalam pengumuman skuad timnas Inggris pertama versi pelatih Thomas Tuchel.
15 Mar 2025 05:03 WIB · Olahraga
Agak sulit menerjemahkan isi kepala Thomas Tuchel dari skuad tim nasional Inggris terbaru. Sang pelatih kepala “Tiga Singa” seperti mementingkan masa depan dengan pemanggilan beberapa pemain muda, tetapi terbantahkan dengan kehadiran kembali para pemain yang sudah “usang”.
Dua pemain 34 tahun, bek sayap Jordan Henderson dan Kyle Walker, masuk dalam skuad pertama Tuchel untuk menghadapi jeda internasional pada pertengahan hingga akhir Maret 2025. Kehadiran sepasang sosok veteran itu kurang mendapatkan respons positif dari publik Inggris.
Wajar saja, mereka sudah melewati masa keemasan. Henderson hengkang dari Liga Inggris sejak medio 2023 dan mencoba peruntungan di liga-liga “kelas dua”, seperti Arab Saudi dan Belanda. Walker menurun drastis musim ini di Manchester City, hingga akhirnya dipinjamkan ke AC Milan.
Pemanggilan Walker masih bisa dimengerti. Bek sayap Liverpool Trent Alexander-Arnold sedang cedera. Bek sayap Arsenal Ben White, sempat menolak panggilan pada era Gareth Southgate, berkomitmen kembali. Akan tetapi, White baru pulih dari operasi cedera lutut.
Berbeda dengan kasus Henderson yang terakhir dipanggil pada November 2023, termasuk tidak masuk skuad Piala Eropa 2024. Beberapa gelandang yang sedang naik daun harus kehilangan tempat, antara lain Conor Gallagher (25), Adam Wharton (21), dan Morgan Gibbs-White (25).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/21/31f0ec50-9759-470f-943d-b3712b77ced2.jpg)
Gallagher sedang menjadi andalan pelatih kepala Diego Simeone di Atletico Madrid. Tidak banyak pemain Inggris yang bersinar di negara lain, Gallagher salah satunya. Gibbs-White sukses menginspirasi tim medioker Nottingham Forest berada di peringkat ketiga klasemen sementara Liga Inggris.
Tuchel justru berkata, tidak sulit memilih mantan kapten timnas Inggris itu. “Dia adalah seorang pemenang, kapten Ajax (Amsterdam) saat ini yang bermain di banyak laga. Dia selalu membawa energi dan karakter kuat. Jordan mencerminkan semua yang kami inginkan dari tim ini,” ujarnya.
Adapun Henderson selalu menjadi tulang punggung “Tiga Singa” sejak Piala Dunia 2018 hingga Piala Dunia 2022. Prestasi terbaik pemain dengan 81 penampilan bersama timnas itu adalah membawa Inggris ke final Piala Eropa 2020. “Jordan adalah kepingan besar untuk puzzle kami,” tambah Tuchel.
Henderson melambangkan masa lalu Inggris. Di sisi lain, terdapat juga sosok yang mencerminkan masa depan dalam skuad pilihan Tuchel, yaitu bek sayap 18 tahun Myles Lewis-Skelly. Pemain asal Arsenal itu untuk pertama kali dipanggil ke timnas senior sepanjang kariernya.
Sekitar 15 bulan lalu, Lewis-Skelly masih tergabung dalam skuad kelompok usia di Piala Dunia U-17 Indonesia 2023. Dia berkembang sangat pesat dalam beberapa bulan terakhir, setelah diberikan kesempatan debut di tim senior Arsenal pada September tahun lalu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/22/12c010a1-e4de-49a0-bbce-38c933bfb23e_jpg.jpg)
Menurut Manajer Arsenal Mikel Arteta, pemanggilan anak asuhnya sangat tepat. “Itu adalah kisah yang memberikan banyak harapan untuk pemain muda. Dalam enam bulan, Anda bisa mengubah karier begitu dramatis. Thomas adalah pelatih hebat, saya percaya dia akan memperlakukan (Lewis-Skelly) dengan tepat,” katanya.
Pemain lain di posisi bek sayap kiri tidak kalah menarik, yaitu Dan Burn. Pemain Newcastle United itu juga dipanggil untuk pertama kali. Bedanya, Burn sudah berusia 32 tahun atau nyaris dua kali lipat umur Lewis-Skelly. “Jalur mereka sangat berbeda untuk pemanggilan pertama,” ucap Tuchel.
Burn tidak muda lagi, tetapi sangat konsisten bersama Newcastle musim ini. Dia sudah bermain 35 kali di seluruh kompetisi. Selain di sayap, Burn juga bisa bermain sebagai bek tengah. Pemain jangkung setinggi 1,98 meter itu akan menambah keunggulan Inggris dari sisi fisik dan keleluasan strategi.
Dari kasus Burn dan Lewis-Skelly, bisa disimpulkan, Tuchel tidak memandang usia dalam pemanggilan pemain. Tren performa sang pemain adalah segalanya. Mereka sama-sama mendapatkan kesempatan pertama walaupun dalam kategori usia yang belum ideal.
Tren performa itu pula yang menjadi faktor terbesar dalam kembalinya penyerang veteran Marcus Rashford setelah absen di Piala Eropa. Meskipun baru bersinar lagi setelah dipinjamkan ke Aston Villa dari Manchester United pada Januari 2025, Rashford sudah cukup meyakinkan Tuchel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/05/30/1f8c164d-bbaf-4dc3-a3b9-0948183f9616_jpg.jpg)
“Tidak ada keraguan tentang bakat dan kualitas (Rashford),” kata Tuchel. “Namun, begitu melihatnya tampil meyakinkan dan terlibat secara fisik, saya sadar ini waktu yang tepat untuk memanggilnya. Semoga ini bisa menjadi dorongan ekstra agar dia tetap berada di level saat ini,” lanjutnya.
Tuchel, selama melatih klub-klub besar, dikenal sebagai sosok yang kaya taktik. Dia juga selalu fleksibel dalam penempatan pemain. Itu mungkin berpengaruh terhadap pemanggilan Rashford. “Rashford bisa bermain di kiri, kanan, maupun penyerang kedua,” ujar Pelatih Kepala Villa, Unai Emery.
Pemain-pemain bintang yang menjadi wajah “Tiga Singa” saat ini kembali dipanggil, seperti Jude Bellingham, Declan Rice, dan Phil Foden. Nyaris hanya gelandang Jack Grealish, pemain langganan timnas yang dilewatkan walaupun sedang tidak cedera.
Jika dilihat lebih dalam, Tuchel sebenarnya tidak punya standar mutlak dalam memilih pemain. Semua dipilih sesuai dengan kebutuhan untuk mengisi kepingan sampai utuh. Itu yang membuat tim seperti berorientasi ke tiga masa sekaligus, yaitu masa lalu, saat ini, dan masa depan.
Ada pemain yang diambil karena bermodal pengalaman. Ada juga yang berkat bakat dan tren performa. Hal tersebut mengisyaratkan, Tuchel masih meraba-raba dalam jeda internasional pertamanya. Pria asal Jerman itu butuh waktu untuk mengenal skuad Inggris lebih dalam. (AP/REUTERS)
Skuad timnas Inggris pertama versi Thomas Tuchel
Kiper: Jordan Pickford (Everton), Dean Henderson (Crystal Palace), Aaron Ramsdale (Southampton), James Trafford (Burnley)
Bek: Marc Guehi (Crystal Palace), Reece James (Chelsea), Levi Colwill (Chelsea), Ezri Konsa (Aston Villa), Tino Livramento (Newcastle United), Jarell Quansah (Liverpool), Dan Burn (Newcastle United), Kyle Walker (Milan), Myles Lewis-Skelly (Arsenal)
Gelandang: Jude Bellingham (Real Madrid), Eberechi Eze (Crystal Palace), Jordan Henderson (Ajax), Curtis Jones (Liverpool), Cole Palmer (Chelsea), Declan Rice (Arsenal), Morgan Rogers (Aston Villa)
Penyerang: Anthony Gordon (Newcastle United), Jarrod Bowen (West Ham United), Phil Foden (Manchester City), Marcus Rashford (Aston Villa), Dominic Solanke (Tottenham Hotspur), Harry Kane (Bayern Munich)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari