Tiga Skenario Respons BI Versi Permata Institute

Setelah Fed Rate naik, apa kira-kira respons kebijakan Bank Indonesia? Permata Institute for Economic Research membuat tiga skenario.

18 Sep 2026 14:21 WIB · Ekonomi & Bisnis

Kompas/Hendra A Setyawan

Oleh FX Laksana Agung Saputra

Setiap kenaikan Fed Rate sama dengan membuat harga dolar AS makin mahal. Dolar AS adalah acuan utama dalam sistem keuangan internasional dengan porsi transaksi valas global melampaui 88 persen.

Jadi, ketika Fed Rate naik 25 basis poin ke 3,75-4 persen, Kamis (17/9/2026) dini hari WIB, dolar AS menguat terhadap banyak mata uang lainnya, termasuk rupiah. Bagaimana Bank Indonesia (BI) yang akan menggelar pertemuan pada 22-23 September 2026 akan meresponsnya?

Menyusul pengumuman kenaikan Fed Rate, nilai tukar rupiah melemah. Mengutip data Bloomberg, Kamis (17/9/2026), kurs rupiah bergerak ke Rp 17.763 per dolar AS, melemah 0,38 persen dibandingkan dengan penutupan hari lalu. Secara tahun kalender berjalan, kurs rupiah melemah 6,49 persen.

Namun, kenaikan Fed Rate tidak semata soal penguatan dolar AS. Implikasinya mendorong imbal hasil obligasi AS dan global, menyedot arus modal ke AS, meningkatkan risiko negara berkembang, serta membengkakkan biaya utang pemerintah dan korporasi, terutama bagi yang memiliki utang dolar AS.

(FILES) Chair of the Federal Reserve Kevin Warsh arrives during a swearing in ceremony in the East Room of the White House in Washington, DC on May 22, 2026. The US Federal Reserve goes into a key rate-setting meeting this week, with the Federal Open Market Committee (FOMC) meeting scheduled for September 15�16, 2026. Markets are expecting policymakers to pull the trigger on a rate hike to tackle persistently high inflation -- and analysts say central bank chief Kevin Warsh's credibility is on the line. The world's largest economy has been dealing with years of higher-than-target inflation, and prices have surged in the wake of US President Donald Trump's war on Iran, his signature tariff policies and the ongoing AI boom. (Photo by Aaron Schwartz / AFP)

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, di Jakarta, Kamis (17/9/2026), menyatakan, The Fed sudah menaikkan suku bunga, tetapi belum tentu BI perlu mengikuti. Pemicu BI seharusnya bukan keputusan The Fed, melainkan dampak keputusan tersebut terhadap rupiah, arus modal, dan inflasi Indonesia.

”Dengan harga minyak yang mulai turun dan pemulihan jalur Saudi semakin jelas, saya melihat ruang BI untuk mempertahankan 5,75 persen masih cukup besar. Kenaikan ke 6,00 persen sebaiknya tetap menjadi langkah berjaga-jaga jika tekanan rupiah dan arus modal benar-benar memburuk, bukan respons otomatis terhadap satu kenaikan tambahan The Fed,” katanya.

Kenaikan 25 basis poin Fed Rate ke 3,75–4,00 persen, menurut Josua, sesuai ekspektasi pasar. Hal yang lebih penting adalah bahwa proyeksi terbaru The Fed menunjukkan median suku bunga akhir 2026 adalah 4,1 persen.

Selain itu, 16 dari 18 anggota Komite Kebijakan Moneter The Fed memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan lagi pada 2026. Namun, Josua menekankan, ini bukan janji kenaikan. Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memasukkan proyeksi pribadinya dan menekankan keputusan berikutnya akan bergantung pada perkembangan inflasi, pertumbuhan, dan kondisi ekonomi.

”Justru perkembangan harga minyak membuat fungsi reaksi BI sekarang menjadi lebih menarik. Informasi mutakhir menyebutkan jalur distribusi minyak Saudi mulai dipulihkan. Dengan demikian, hubungan mekanis antara kenaikan kedua The Fed dan kenaikan BI Rate menjadi lebih lemah,” kata Josua.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, Jumat (7/3/2025).

Dengan perkembangan mutakhir, Josua berpendapat, pilihan paling rasional BI pada pertemuan 22–23 September 2026 adalah mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen, bukan langsung mengikuti The Fed menaikkan suku bunga.

”Sepanjang pelemahan rupiah masih teratur, arus dana asing tidak keluar secara besar-besaran, dan inflasi domestik tetap dalam sasaran, intervensi valas dan pengelolaan imbal hasil instrumen rupiah lebih tepat digunakan terlebih dahulu,” katanya.

Namun, jika dinamikanya lain, perlu pendekatan lain pula. Oleh karena itu, Permata Institute menyusun tiga skenario respons BI, yakni dua skenario utama dan satu skenario risiko ekstrem.

Skenario pertama atau dasar, The Fed masih dapat menaikkan 25 basis poin lagi sebelum akhir 2026 sehingga suku bunga berkisar 4,00–4,25 persen. Namun, apabila harga minyak terus turun, imbal hasil obligasi Pemerintah AS tidak kembali melonjak, rupiah relatif stabil dan arus modal asing tetap terkendali.

Dengan kondisi ini, BI masih dapat mempertahankan 5,75 persen hingga akhir 2026. ”Jadi, saya tidak akan otomatis mengubah perkiraan BI Rate menjadi 6,00 persen hanya karena median proyeksi The Fed sekarang menunjukkan satu kenaikan tambahan,” kata Josua.

Tabel Skenario Respons BI, diolah dari Permata Institute for Economic Research

Skenario kedua adalah BI menaikkan 25 basis poin menjadi 6,00 persen pada November atau Desember 2026. Skenario ini menjadi relevan jika kenaikan The Fed berikutnya disertai tekanan pasar yang nyata: imbal hasil obligasi AS tenor dua dan 10 tahun kembali melonjak, dolar menguat secara luas, rupiah melemah secara persisten, arus dana asing berbalik keluar, dan harga minyak ternyata tidak turun berkelanjutan.

Reaksi pasar setelah keputusan The Fed perlu dicermati karena imbal hasil obligasi AS dua tahun langsung bergerak ke 4,73-4,74 persen. Sementara obligasi 10 tahun kembali berada di sekitar atau di atas 5 persen. Dalam keadaan seperti itu, kenaikan BI Rate diperlukan bukan karena mengikuti The Fed, melainkan untuk mencegah pelemahan rupiah berkembang menjadi tekanan inflasi dan stabilitas keuangan.

Quote

Skenario kedua adalah BI menaikkan 25 basis poin menjadi 6,00 persen pada November atau Desember 2026.

Skenario ketiga atau risiko ekstrem adalah jika The Fed ternyata meneruskan kenaikan ke 2027 dan gangguan energi kembali memburuk. Proyeksi median The Fed justru menunjukkan suku bunga 4,1 persen pada akhir 2026 dan tetap 4,1 persen pada 2027. Dengan informasi ini, tidak ada sinyal median untuk rangkaian kenaikan panjang pada 2027.

”Poin pentingnya, penurunan minyak dapat menjadi penyeimbang terhadap kenaikan The Fed. Kalau harga minyak turun karena pasokan Saudi kembali lebih cepat, Indonesia mendapatkan tiga keuntungan sekaligus: kebutuhan devisa untuk impor energi berkurang, risiko inflasi menurun dan tekanan subsidi energi mengecil,” katanya.

A trader works on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York on May 19, 2026. Wall Street stocks retreated early Tuesday as analysts pointed to angst over inflation pressures as the prolonged Middle East war kept oil prices high. (Photo by TIMOTHY A. CLARY / AFP)

Sementara itu, pasar saham global menguat dan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) turun pada Jumat (18/9/2026) WIB. Ini terjadi setelah investor mencerna kenaikan Fed Rate dan sinyal kebijakan moneter yang cenderung agresif atau ketat dari perkiraan.

Reuters melaporkan, saham AS sempat tertekan pada Kamis menyusul pengumuman kenaikan Fed Rate. Namun, sebagian besar penurunan tersebut berbalik pada perdagangan Jumat.

Imbal hasil obligasi Pemerintah AS juga terdongkrak. Namun, pada Jumat, imbal hasil obligasi AS kembali turun. Obligasi AS bertenor 10 tahun turun 6,55 basis poin menjadi 4,939 persen. Sementara imbal hasil surat utang dua tahun turun 5,65 basis poin menjadi 4,671 persen.

Quote

Sekarang kami mulai melihat situasinya lebih tenang dan investor mulai mengatakan, ’ya, mungkin itu lebih banyak sekadar pernyataan daripada perubahan kebijakan yang nyata.’

Chief Investment Officer Ocean Park Asset Management James St Aubin mengatakan, pemulihan pasar saham mencerminkan proses investor mencerna kembali nada agresif The Fed.

”Sekarang kami mulai melihat situasinya lebih tenang dan investor mulai mengatakan, ’ya, mungkin itu lebih banyak sekadar pernyataan daripada perubahan kebijakan yang nyata’,” ujar Aubin, seperti dikutip Reuters.

Menurut Aubin, fundamental ekonomi AS masih kuat turut. Variabel ini yang menopang sentimen positif pasar menyusul kenaikan Fed Rate.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati