Kompas.id Brief
TIMUR TENGAH

Bagaimana Perkembangan Konflik Arab Saudi dan Houthi?

Belum selesai Perang Iran, konflik Houthi-Arab Saudi memperumit situasi di Timur Tengah. Arab Saudi dan dunia ketar-ketir karena distribusi minyak bisa kian mampat.

18 Sep 2026 12:00 WIB · Internasional

AP/Osamah Abdulrahman

Oleh Luki Aulia

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

copy title
  1. Mengapa kelompok Houthi dan Arab Saudi berkonflik?
  2. Bagaimana perkembangan serangan Houthi?
  3. Upaya apa saja yang sudah dilakukan untuk menyelesaikan konflik ini?
  4. Dapatkah China turut mendorong penyelesaian konflik antara Arab Saudi dan Houthi?
  5. Apa dampak eskalasi konflik ini?

Mengapa kelompok Houthi dan Arab Saudi berkonflik?

copy title

Konflik Houthi-Arab Saudi berawal dari perebutan kekuasaan di Yaman. Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014, lalu memperluas wilayah kekuasaannya. Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk mendukung Pemerintah Yaman pada 2015.

Perang berlangsung selama bertahun-tahun dan memicu krisis kemanusiaan. Gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2022 menghentikan mayoritas pertempuran besar.

Internally displaced (IDP) Yemenis who fled their homes due to renewed clashes between Yemen's Saudi-backed government forces and the country's Houthi rebels, unload their belogings and set-up makeshift homes in the al-Kadah area of the Taiz Governorate, southwestern Yemen on September 6, 2026. Fighting between Yemeni government forces and Iran-backed Houthi rebels in southwest Yemen killed more than 140 combatants between midday September 5 and September 6, military sources said. Days-long clashes have erupted in Yemen over control of a gateway to the Red Sea in the deadliest fighting in the Arabian Peninsula country since a 2022 ceasefire between the two sides collapsed in July. (Photo by Ahmad AL-BASHA / AFP)

Namun, gencatan senjata itu tak menghasilkan kesepakatan politik mengenai pembagian kekuasaan dan masa depan Yaman. Houthi tetap menguasai mayoritas wilayah Yaman utara, termasuk Sanaa. Adapun pemerintah yang didukung Arab Saudi mempertahankan wilayah lain.

Persoalan semakin rumit karena Houthi punya hubungan dekat dengan Iran. Arab Saudi melihat pengaruh Iran di Yaman sebagai persoalan keamanan, sementara Houthi memandang Arab Saudi sebagai pendukung utama pemerintahan yang mereka lawan. Konflik juga melibatkan sejumlah kelompok bersenjata dan politik di Yaman sehingga bukan hanya pertarungan dua pihak.

Situasi kembali memburuk sejak Juli 2026 setelah empat tahun relatif tenang. Houthi menyerang dan merebut sejumlah posisi strategis di sepanjang pantai Laut Merah, termasuk kawasan dekat Selat Bab el-Mandeb. Arab Saudi meningkatkan serangan kepada Houthi dan diserang balik dengan rudal dan pesawat nirawak.

Perkembangan terbaru ini membuat penyelesaian semakin sulit karena konflik Yaman kini juga berkaitan dengan keamanan Laut Merah dan jalur ekspor minyak.

Meluasnya serangan Houthi di kawasan Bab el-Mandeb memberi mereka posisi strategis terhadap jalur pelayaran. Arab Saudi khawatir serangan terhadap wilayah dan infrastukturnya bakal terus meluas.

Jadi, persoalan ini bukan sekadar Arab Saudi melawan Houthi, tetapi juga berkaitan dengan perang saudara di Yaman, persaingan Arab Saudi-Iran, perebutan wilayah dan kekuasaan di Yaman, serta kepentingan strategis di Laut Merah.

Bagaimana perkembangan serangan Houthi ?

copy title

Houthi semakin memperluas cengkeramannya pada pulau-pulau strategis di sekitar Laut Merah. Jalur distribusi dan pelayaran minyak di Timur Tengah pun semakin terbatas. Akibatnya, dunia kembali dibayangi krisis energi global. 

Houthi sudah merebut Pulau Hanish Besar dan Hanis Kecil, di bagian selatan Laut Merah. Kepulauan ini terletak sekitar 160 kilometer dari utara Selat Bab el-Mandeb, titik sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia serta pasar-pasar minyak Arab Saudi di Asia.

Pulau Perim alias Mayyun di Selat Bab el-Mandeb.  Selat itu akses dari dan ke Laut Merah

Dengan demikian, Houthi kini berada hanya sekitar 32 kilometer dari pangkalan militer AS di Djibouti, sebuah negara kecil di Tanduk Afrika. Posisi Djibouti berada di seberang Selat Bab el-Mandeb.

Houthi juga sudah merebut kota pelabuhan Mokha dan Pulau Mayun di Selat Bab el-Mandeb, titik strategis lainnya. Dikuasainya pulau-pulau tersebut memberikan tekanan lebih besar pada pengiriman minyak Arab Saudi. Pada akhirnya, pasokan dan harga minyak global ikut terganggu.

Arab Saudi merupakan produsen minyak terbesar di Timur Tengah. Pipa Timur-Barat sepanjang 1.200 kilometer, Laut Merah, dan Selat Bab el-Mandeb menjadi opsi jalur distribusi minyak Riyadh. Keberadaan jalur ini semakin penting setelah Iran menutup Selat Hormuz akibat perang AS-Israel dan Iran sejak Februari 2026.

Arab Saudi memproduksi hampir 10 juta barel minyak per hari pada September 2025, tetapi turun menjadi 6 juta barel per hari pada Agustus 2026. Setelah Houthi menguasai Selat Bab el-Mandeb, semakin sedikit minyak yang melewati selat tersebut.

Padahal, negara-negara di Asia dan Afrika sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah. Salah satu konsekuensi langsung dari kekurangan pasokan adalah melonjaknya biaya bahan bakar dan tagihan energi rumah tangga.

Upaya apa saja yang sudah dilakukan untuk menyelesaikan konflik ini?

copy title

Konflik Arab Saudi-Houthi terus memanas, sementara perang Amerika Serikat-Israel dan Iran belum juga tuntas. Para pejabat Amerika Serikat dilaporkan bertemu dengan para pemimpin Houthi pada akhir pekan lalu di Kedutaan Besar AS di Muscat, Oman.

Dari pertemuan itu, Houthi berjanji tidak akan menyerang kapal-kapal AS dan Israel. Houthi yang didukung Iran meyakinkan AS bahwa perjanjian gencatan senjata di antara kedua pihak yang disepakati pada tahun 2025 masih berlaku.

Sebuah pesawat lepas landas dari USS Harry S. Truman di Laut Merah sebelum serangan udara di Sanaa, Yaman, Sabtu, 15 Maret 2025.

Houthi juga menyatakan tidak berniat menyerang pelayaran AS ataupun pelayaran internasional di Laut Merah. Hanya kapal-kapal yang terkait dengan Saudi yang dianggap sebagai target karena Saudi memblokade Yaman.

Penguasa de facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, meminta dukungan militer AS kepada Presiden AS Donald Trump, pekan lalu. Namun, AS mengatakan kepada Arab Saudi bahwa mereka tidak akan terlibat secara langsung.

Trump juga diberitakan membuat pernyataan bahwa Houthi menghubungi pemerintahannya. Houthi meminta AS untuk tidak ikut campur dalam perang di Yaman.

Pertemuan di Muscat itu membantu menjelaskan langkah Trump untuk mengecam aksi Houthi di pantai barat Yaman yang mengancam kebebasan navigasi melalui Selat Bab al-Mandeb. 

Pertemuan itu juga menjadi sinyal yang mempertegas sikap Trump menolak respons militer apa pun untuk mendukung Riyadh. Saat ini, AS sudah terlibat dalam konflik yang mahal dan menghabiskan banyak sumber daya dengan Iran.

Dapatkah China turut mendorong penyelesaian konflik Arab Saudi dengan Houthi?

copy title

Ekspor minyak Arab Saudi kian tertekan setelah Houthi mengendalikan Laut Merah. Di tengah situasi itu, Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) mengunjungi Mesir untuk mencari dukungan.

Mesir kemungkinan besar tidak akan memberikan bantuan militer kepada Arab Saudi. Namun, Mesir punya pengaruh besar di dunia Arab dan dapat membantu menggalang dukungan.

Setelah Mesir, Arab Saudi meminta bantuan kepada China untuk meminta Iran menggunakan pengaruhnya terhadap Houthi agar mau menghentikan perluasan serangan di Yaman.

Foto yang dirilis oleh kantor berita China Xinhua memperlihatkan Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian (kiri) berjabat tangan dengan Menlu Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud (kanan) dan dijembatani Menlu China Qin Gang di Beijing, Kamis (6/4/2023). Iran dan Arab Saudi menekankan keinginan mereka untuk melihat kawasan Timur Tengah yang stabil. In this photo released by Xinhua News Agency, Iran's Foreign Minister Hossein Amirabdollahian, left, hold hands with his Saudi Arabian counterpart Prince Faisal bin Farhan Al Saud, right, and Chineses counterpart Qin Gang in Beijing Thursday, April 6, 2023. Long-time Mideast rivals Iran and Saudi Arabia took another significant step toward reconciliation Thursday, formally restoring diplomatic ties after a seven-year rift, affirming the need for regional stability and agreeing to pursue economic cooperation. (Ding Lin/Xinhua via AP)

China secara terbuka sudah menyerukan agar pihak-pihak yang bertikai di Timur Tengah saat ini mengendalikan diri, mengupayakan dialog serta pemulihan keamanan navigasi. Tidak ada lontaran ancaman eksplisit ataupun isyarat bahwa China akan menekan Iran secara ekonomi jika mereka gagal menggunakan pengaruhnya atas Houthi.

Kementerian Luar Negeri China menyatakan, China tidak ingin melihat ketegangan regional meluas hingga ke Yaman dan Laut Merah. Meningkatnya ketidakstabilan kawasan ini tidak menguntungkan bagi pihak mana pun.

”Kedaulatan dan keamanan semua negara harus dihormati dan fasilitas yang vital bagi penghidupan masyarakat tidak boleh menjadi sasaran. China menyerukan penghentian tindakan yang semakin memperumit situasi serta mendesak penyelesaian masalah melalui dialog dan negosiasi,” sebut pernyataan Kemenlu China.

China sudah menjadi mitra dagang terbesar Iran selama lebih dari 10 tahun terakhir dan menjadi pembeli utama minyak Iran.

Apakah dampak eskalasi konflik ini?

copy title

Penguasaan Houthi atas garis pantai Laut Merah di Yaman mengubah peta kekuatan di kawasan Teluk. Posisi Iran menguat, sementara Arab Saudi dan negara-negara tetangganya menghadapi pilihan sulit. Negara-negara di kawasan ini mesti menanggung dampak eskalasi konflik atau mengupayakan kesepakatan dengan Iran.

Dengan menguasai posisi yang menghadap Selat Bab el-Mandeb, Houthi yang didukung Iran telah menciptakan titik tekanan kedua pada energi global. Apalagi kini Oman menunda perundingan soal Selat Hormuz dengan Iran dan negara-negara Teluk.

Infografik Navigasi Selat Hormuz Terbagi Menjadi
Dua Rute yang Saling Bersaing

Menurut sejumlah pejabat dan analis kawasan, perhitungannya sederhana. Dengan mengancam pelayaran di Laut Merah dan memutus akses di Selat Hormuz, Iran dan Houthi dapat mendongkrak harga minyak dan memicu inflasi di beberapa negara. Ini sekaligus mempersempit peluang kawasan untuk mengandalkan Amerika Serikat untuk menyelesaikan krisis di Timur Tengah.

Strategi ini, menurut mereka, dirancang untuk memaksa negara-negara Teluk menghadapi pilihan berat. Mereka harus menanggung dampak ekonomi yang kian berat akibat tekanan terhadap ekspor minyak dan serangan Iran, atau menjalin hubungan dengan Iran demi melindungi perdagangan, arus energi, dan stabilitas ekonomi.

Tekanan Iran dan Houthi itu juga memaksa negara-negara Teluk untuk menimbang dan menerima kondisi nyata bahwa Iran dan sekutu memiliki kendali atas perekonomian regional, ekspor energi, dan stabilitas ekonomi. Padahal, selama ini semua hal itu menjadi andalan negara-negara kaya di Teluk.


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji