Tiket mudik beberapa moda transportasi umum untuk mudik masih banyak tersedia. Berbagai faktor memengaruhi, termasuk belanja masyarakat berkurang.
22 Mar 2025 20:22 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Per Sabtu (22/3/2025) atau H-9 Lebaran, tiket mudik menggunakan sejumlah transportasi umum masih banyak tersedia. Hal ini terutama bisa dilihat dari kereta api dan bus.
Dari sisi kereta api, Vice President Public Relations PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Anne Purba, Sabtu pagi, mengatakan, KAI menyediakan 4.591.510 tempat duduk selama periode angkutan Lebaran 21 Maret-11 April 2025. Jumlah ini terdiri dari 3.443.832 kursi untuk kereta api jarak jauh dan 1.147.678 kursi untuk kereta api lokal.
Dari total 4.591.510 kursi yang disediakan, per 22 Maret 2025 pukul 07.00 WIB sudah terjual 2.517.296. Dengan demikian, ada sisa kursi 2.074.214.
Dari 2.517.296 tiket yang terjual, Anne mengatakan, sebanyak 2.388.488 tiket untuk kereta api jarak jauh dan 128.808 tiket untuk kereta api lokal.
”Pola pembelian masyarakat lebih spontan untuk perjalanan kereta api jarak dekat. Kami memprediksi jumlah penjualan tiket kereta api lokal terus meningkat mendekati puncak arus mudik dan balik,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/21/887f9e692820d0a224880d001f2fe762-FAK_4890.jpg)
Selama periode angkutan Lebaran 2025, KAI menyediakan 9.656 perjalanan kereta api. Ini mencakup 8.624 perjalanan kereta api reguler dan 1.032 perjalanan kereta api tambahan yang beroperasi di berbagai rute favorit, baik di Jawa maupun Sumatera.
Ada 10 relasi terpadat berdasarkan data penjualan tiket yang dirilis KAI per 22 Maret 2025 pukul 07.00, yakni Gambir-Yogyakarta, Gambir-Semarang, Yogyakarta-Gambir, Semarang Tawang Bank Jateng-Gambir, Surabaya Pasar Turi-Pasar Senen. Lalu, Pasar Senen-Surabaya Pasar Turi, Gambir-Cirebon, Pasar Senen-Kutoarjo, Pasar Senen-Lempuyangan, dan Gambir-Purwokerto.
Terkait bus untuk dipakai mudik, Sekretaris Jenderal Organisasi Angkutan Darat (Organda) Ateng Aryono mengatakan, per 22 Maret 2025 atau H-9 Lebaran, tingkat keterisian baru sekitar 60 persen. Ini serupa pada masa normal.
”Jika dibandingkan dengan periode mudik yang sama tahun-tahun sebelumnya, tingkat keterisian bus biasanya dapat mencapai 80-90 persen,” ucapnya.
Saat ini, para perusahaan otobus (PO) belum menurunkan armada tambahan karena dirasa belum perlu. Namun, armada tambahan bisa diterjunkan sewaktu-waktu seiring bertambahnya permintaan.
Ateng mengungkapkan, pada tahun sebelumnya, permintaan masyarakat menggunakan bus untuk mudik bertambah pesat. Namun, saat ini tidak ada pergerakan signifikan, kecuali pada destinasi tertentu. Hal ini terjadi pada seluruh segmen, baik mudik gratis maupun komersial.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/22/b60e08263eb03b3a7c2b5a8f4a1dbde3-cropped_image.jpg)
”Tidak semeriah dibanding (Lebaran) tahun sebelumnya. Mungkin kalau dikira-kira 25-30 persen penurunan dari tahun lalu,” kata Ateng.
Ia belum dapat memastikan penyebab menurunnya animo warga menggunakan bus. Sejauh ini, dia menduga ada beberapa faktor.
Pertama, pemangkasan anggaran pemerintah yang berdampak ke seluruh belanja masyarakat. Kedua, sektor swasta melakukan penghematan operasional.
Adapun faktor ketiga yang ia duga jadi penyebab ialah durasi mudik yang panjang selama 16 hari, naik dari biasanya hanya sekitar 8 hari. Panjangnya waktu mudik mendorong masyarakat untuk bepergian menggunakan kendaraan pribadi ketimbang kendaraan umum.
Dari sisi transportasi laut, Sekretaris Perusahaan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Evan Eryanto mengatakan, pihaknya memprediksi jumlah pemudik menggunakan kapal Pelni pada arus mudik 2025 sebanyak 644.102 orang. Saat ini, 75 persen tiket sudah terjual.
Pada 16-22 Maret 2025, Pelni telah memberangkatkan 226.844 pemudik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/04/16/48b6f0940111d08865d3750f28d4ea91-IMG-20240416-WA0006.jpg)
Pelni mengoperasikan 25 kapal yang menyinggahi 74 pelabuhan. Rute yang paling padat adalah Batam (Kepulauan Riau) menuju Medan (Sumatera Utara). Rute lain yang juga diminati para pemudik adalah Balikpapan (Kalimantan Timur) menuju Surabaya (Jawa Timur).
Adapun dari sisi transportasi udara, Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Bayu Sutanto mengatakan, beberapa maskapai penerbangan akan mulai mengalami kenaikan okupansi untuk tujuan mudik pada H-5 hingga H-3 Lebaran. Pada periode itu, dia memperkirakan tingkat okupansi mencapai 80 persen.
Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Deddy Herlambang menilai, turunnya animo warga menggunakan bus salah satunya disebabkan kebijakan lalu lintas yang memanjakan kendaraan pribadi. Salah satu yang dikritik adalah skenario satu arah atau one way.
”One way itu bukan hanya karpet merah untuk kendaraan pribadi, melainkan juga menjadi petaka untuk pengusaha bus,” katanya.
Jika pemerintah banyak menerapkan skenario satu arah, bus akan kesulitan menjemput penumpang. Padahal, bisnis otobus bergantung pada kelancaran arus dua arah, datang dan jemput.
Selain itu, Deddy juga mengkritik banyaknya mudik gratis yang menyewa bus pariwisata. Seharusnya penyelenggara mudik gratis menggunakan otobus reguler agar meringankan derita pengusaha bus di tengah rendahnya animo warga mudik menggunakan angkutan umum.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/20/3e6b0de2639101d3ba6d66e060baa73d-20250321WEN8.jpg)
Salah seorang calon pemudik, Kendi (35), warga asal Jakarta, mengaku tidak menggunakan transportasi umum untuk mudik, melainkan motor pribadi. Padahal, selama 17 tahun berturut-turut, dia selalu menggunakan bus untuk mudik dari Jakarta menuju Pekalongan.
”Saya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Oleh karena itu, saya memutuskan mudik menggunakan motor. Kalau naik bus, saya harus merogoh kocek Rp 330.000 sekali jalan, tetapi kalau pakai motor cuma perlu Rp 100.000 dan itu dibagi dua dengan adik,” ujarnya.
Pemudik lainnya, Ahmad Nizar (55), warga asal Kalimantan Selatan, memutuskan tidak terburu-buru untuk mudik ke Kebumen, Jawa Tengah. Dia mengaku akan membeli tiket kereta api begitu tiba di Jakarta, Minggu (23/3/2025).
”Tidak khawatir karena tiket perjalanan kereta api, terutama jarak yang relatif pendek, masih banyak tersedia. Besok Minggu, saya terbang dari Banjarmasin ke Jakarta. Setelah itu saya segera memesan tiket kereta api untuk mudik ke Kebumen,” ucap Ahmad.
Penulis:
Yosepha Debrina Ratih Pusparisa, Pandu Wiyoga, Emanuel Edi SaputraEditor:
Iqbal Basyari, Caecilia Mediana