Potret sukarelawan di lokasi bencana gempa Venezuela.
02 Jul 2026 09:40 WIB · Internasional
German Bello, seorang sukarelawan brigade pencarian dan penyelamatan Meksiko, Los Topos, terkejut saat seorang pria tiba-tiba memeluknya dan mengucapkan terima kasih, sesaat sebelum ia memasuki pesawat yang akan membawanya ke Venezuela di bandara Mexico City, Kamis (25/6/2026). Belakangan ia sadar bahwa pria yang memeluknya adalah warga Venezuela yang telah lama tinggal di Meksiko. Pria itu mengucapkan terima kasih untuk semua anggota penyelamat Los Topos.
Jumlah korban tewas akibat gempa kembar dahsyat di Venezuela telah meningkat menjadi 2.295 orang, seminggu setelah tragedi tersebut. Ini belum termasuk korban luka lebih dari 11.000 orang dan puluhan ribu yang masih dinyatakan hilang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/6fb293ff-c982-4a80-8081-fb82308024a3.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/369f1ad7-58e2-411a-8b24-d91518f6a5a4.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/630fa5f5-37af-4aee-8d0b-8df939a3980d.jpg)
Ribuan sukarelawan, tim penyelamat internasional, serta warga terus menggali reruntuhan untuk menemukan korban. Mereka bekerja siang dan malam, berpacu dengan waktu dan tak kenal lelah. German Bello, seorang sukarelawan berusia 39 tahun dari Brigada Internacional de Rescate Topos Azteca, segera mempersiapkan perlengkapannya setiba di Venezuela. Los Topos atau yang dikenal ”tikus tanah” adalah organisasi pencarian dan penyelamatan sipil paling terkenal di Meksiko.
Kelompok yang didirikan setelah gempa bumi dahsyat melanda Meksiko tahun 1985 ini menjadi organisasi nirlaba dan beroperasi secara independen. Kelompok ini juga dikenal dengan reputasi internasional karena sering dikerahkan ke bencana besar di dalam dan di luar negeri.
Bello memimpin ”tikus tanah” mencari korban di gedung-gedung apartemen dan rumah-rumah yang runtuh di Negara Bagian La Guaira yang paling parah terkena dampak gempa. Kelompok ini membekali diri dengan peralatan penyelamatan dan kantong jenazah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/61371305-92d5-42b7-9fa7-48c8644da371.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/54df0374-fe3a-40f9-9a11-9f076456bd66.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/54128f53-fc1d-4638-a6b1-6acb9bcf7f07.jpg)
Tim penyelamat Meksiko bekerja untuk menemukan korban selamat di reruntuhan bangunan yang runtuh di Caraballeda, Negara Bagian La Guaira, Venezuela, Selasa (30/6/2026).
AP/Miguel Medina/POOL
Angkatan Darat Meksiko membawa korban selamat, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun di daerah yang dilanda gempa bumi kembar di negara bagian La Guaira, Venezuela, pada Minggu (28/6/2026).
AFP/Mexican Army
Petugas penyelamat Angkatan Darat Meksiko mencari orang-orang yang terjebak di dalam bangunan yang runtuh setelah gempa bumi melanda La Guaira, Venezuela, Minggu (28/6/2026)>
AP/Matias Delacroix
”Kami adalah petugas penyelamat dari Meksiko. Jika ada yang masih hidup, buatlah suara atau teriaklah sekarang!” teriak seorang petugas penyelamat Angkatan Darat Meksiko, Sabtu (27/6/2026), saat ia mencari korban di reruntuhan bangunan yang runtuh di La Guaira. Beberapa saat kemudian, dia mengangkat tinjunya yang terkepal ke udara.
Isyarat tersebut menandakan perintah untuk diam sepenuhnya. Ini adalah sebuah teknik pencarian yang muncul selama gempa bumi Mexico City tahun 1985 dan kemudian diformalkan oleh Topos. Versi protokol ini sekarang digunakan oleh tim penyelamat di seluruh dunia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/83fc6cef-d6d0-405d-8e68-218025cb36d1.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/81daff89-5783-4714-a757-4aeb7298733e.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/2415ab1b-d061-4996-b30a-91d4c05e7cd5.jpg)
Sinyal untuk diam itu menyebar seketika ke seluruh zona bencana. Petugas penyelamat, tentara, sukarelawan, dan jurnalis harus berhenti berbicara. Selama beberapa detik, satu-satunya suara yang terdengar adalah keheningan.
Para penyelamat kemudian menunggu dengan penuh perhatian untuk setiap tanda kehidupan, menggunakan mikrofon sensitif, kamera teleskopik, atau sekadar menempelkan telinga ke reruntuhan, berharap dapat mendeteksi suara, ketukan, atau gerakan sekecil apa pun.
Namun, mereka tidak mendapati tanda-tanda yang mereka harapkan. Mereka lantas mengulangi protokol ini di beberapa tempat di sekitarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/0bd853bd-4e07-4fed-8a2d-6a0a6111ed85.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/7875e209-5340-4d16-84bf-565c819e8bec.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/a9059326-f037-4fce-ab37-73d67d422e86.jpg)
Petugas penyelamat melakukan upaya pencarian dan penyelamatan penyintas, Selasa (30/6/2026), setelah gempa bumi melanda La Guaira, Venezuela.
AP/Matias Delacroix
Petugas penyelamat dan sukarelawan mencari orang yang hilang di tengah reruntuhan di pantai Los Cocos, di Caraballeda, negara bagian La Guaira, Venezuela, pada Rabu (1/7/2026).
AFP/Juan BARRETO
Petugas penyelamat berdiri di atas puing-puing bangunan yang runtuh selama gempa bumi yang melanda La Guaira, Venezuela, Selasa (30/6/2026).
AP/Matias Delacroix
Jeritan dan teriakan minta tolong terdengar dari sela-sela reruntuhan pabrik tekstil yang ambruk karena gempa berkekuatan 8,1 skala Richter di Meksiko, 19 September 1985. Tak berapa lama, jeritan serupa terdengar dari warga yang berada di luar reruntuhan. Mereka berteriak memberitahukan bahwa ada yang terjebak di dalam reruntuhan.
Hari itu pukul 07.19, warga merasakan tanah berguncang kencang. Enrique Linares, yang saat itu masih seorang mahasiswa akuntansi, mengenang orang-orang berlarian di jalan yang dipenuhi debu tebal. Ia sadar bahwa ada peristiwa luar biasa. Saat mendongak, ia tidak melihat bangunan rumah sakit 12 lantai yang seharusnya ada di depannya. Rumah sakit itu ambruk, rata dengan tanah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/22/8814beba-d1b4-43e7-9e8b-7da9eff687a7_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/22/74f50eda-5bfe-467a-a0ad-5e902e6f3568_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/22/c39736db-86bb-411e-b8b7-f77a437e0e4e_jpg.jpg)
Mereka yang selamat segera bertindak. Ratusan laki-laki segera mengais reruntuhan dengan peralatan yang ada di depannya. Sebagian menggunakan piring kaleng tempat makan, beberapa yang lain menggunakan cangkul. Para perempuan mengorganisasi sekelompok sukarelawan untuk membersihkan ember-ember berisi puing.
Anak-anak membawakan air untuk mengurangi debu. Para sukarelawan membuat lubang dan merangkak masuk seperti yang biasa dilakukan tikus tanah. Dari situ lahirlah kelompok penyelamat sukarelawan yang dikenal sebagai Los Topos atau tikus tanah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/8d14aeb2-a34c-4930-bf3b-89266795b699.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/b7076e34-7d2c-4395-aaa2-bc1e30e8861e.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/02/7984daff-821d-4911-81bb-2479088c1d79.jpg)
Relawan dan penyelamat Meksiko membantu menemukan korban selamat di gedung yang runtuh di Caraballeda, negara bagian La Guaira, Venezuela, pada Selasa (30/6/2026).
AP/Miguel Medina/POOL
Seorang pekerja penyelamat Meksiko dan seekor anjing sniffer mencari melalui puing-puing bangunan yang runtuh di La Guaira, Venezuela, Sabtu (27/6/2026).
AP/Matias Delacroix
Sebagai simbol solidaritas Meksiko yang kuat, mereka telah menjelajah ke 32 negara untuk membantu dalam berbagai bencana. Mereka terus berlatih setiap Minggu untuk mengantisipasi apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Tikus tanah ini sekarang menjadi harapan bagi keluarga-keluarga yang masih belum menemukan kerabatnya di Venezuela. (AP/AFP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar