Potret hari kelima upaya regu penyelamat dan warga dalam menemukan korban di reruntuhan gedung di Venezuela.
30 Jun 2026 10:10 WIB · Internasional
AP/Matias Delacroix
Franklin Rodriguez mencari kerabat yang hilang di reruntuhan gedung apartemennya seusai gempa bumi doblet melanda La Guaira, Venezuela, Senin (29/6/2026). Ia merangkat di bawah reruntuhan tembok, dan dengan peralatan yang dipunyainya, ia berusaha membuat lubang lebih dalam untuk menjangkau reruntuhan.
Pendar cahaya dari telepon genggamnya menjadi penuntun untuk terus mengayunkan kampak, dan pelan-pelan menyingkirkan puing-puing bangunan hingga membentuk terowongan. Ratusan, mungkin ribuan, penduduk dibantu petugas penolong melakukan hal yang sama yang dilakukan Rodriguez.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/06/30/ee06ee87-32b3-4e89-a79a-ed6ca0565fde_jpg.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/85a39a50-59d0-4763-baec-70ca0c1ca6f4.jpg)
Di sebuah posko darurat terlihat seorang wanita mencari nama kerabatnya dalam daftar orang hilang. Ia meneliti satu per satu nama-nama yang tertulis di kertas bertuliskan korban yang berhasil diidentifikasi, yang ditempel di tembok.
Sementara itu, mereka yang belum menemukan kerabat ataupun keluarga meninggalkan kartu identitas dan menempel foto orang hilang di tempat yang dilalui banyak orang. Beberapa bahkan menuliskan dengan cat semprot nama-nama keluarga dan kerabat yang hiang di dinding-dinding bangunan.
Lima hari sejak terjadi gempa bumi dahsyat di Venezuela, sedikitnya 1.719 orang ditemukan tewas, 5.034 orang terluka, dan puluhan ribu lainnya dinyatakan masih hilang. Dengan semakin sempitnya waktu untuk menemukan korban selamat, warga Venezuela yang selamat pada hari Senin berusaha menyisir reruntuhan bangunan yang roboh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/971cf347-1fd7-4fa3-be51-87e3c7daf9cf.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/4955afde-cf2f-4951-a7e3-e1bcb750c902.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/035b0379-ba1c-4d4c-be97-b95a803bdb65.jpg)
Petugas penyelamat mencari korban di antara bangunan yang runtuh ketika gempa bumi melanda La Guaira, Venezuela, Minggu (28/6/2026). (AP/MATIAS DELACROIX)
Seorang anggota Resimen Pelatihan dan Intervensi Keamanan Sipil ke-7 Prancis berada di Catia La Mar, negara bagian La Guaira, Venezuela, pada Senin (29/6/2026).
AFP/Miguel MEDINA/POOL
Orang-orang yang mencari korban selamat berdiri di atas gunung puing-puing, tiga hari setelah gempa bumi kembar melanda, di La Guaira, Venezuela, Sabtu (27/6/2026).
AP/Matias Delacroix
Dalam kejadian bencana, 72 jam pertama setelah bencana alam adalah periode paling penting untuk penyelamatan. Bagi mereka yang terjebak di bawah reruntuhan setelah gempa bumi, kelangsungan hidup bergantung pada banyak faktor, termasuk cuaca dan akses ke air dan udara.
Jika luka yang dialami tidak terlalu parah, para korban dapat bertahan hidup selama seminggu atau lebih, dengan asumsi cuaca tidak terlalu panas atau dingin. Di Venezuela, tim penyelamat berpacu dengan waktu untuk segera menyelamatkan korban dari reruntuhan.
Lebih dari 770 bangunan runtuh seluruhnya atau sebagian akibat gempa bumi tersebut, dan gempa susulan terus mengguncang wilayah itu. Peluang untuk bertahan hidup menurun setiap harinya setelah itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/e069e05d-5d34-4910-8387-561b99c2b82e.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/2dbd7b3a-fd1d-4f28-b8db-e116e0d85f4e.jpg)
Lebih dari 2.600 petugas penyelamat dari seluruh dunia tiba di Venezuela dengan anjing pelacak terlatih dan peralatan. Di La Guaira, daerah yang paling parah terkena dampak, operasi penyelamatan tampak jauh lebih terorganisasi dibandingkan daerah lainnya.
Kefrustrasian meningkat di seluruh Venezuela atas kurangnya bantuan pemerintah di daerah-daerah yang dilanda gempa kembar mematikan lima hari lalu. Penyelamatan ajaib semakin jarang terjadi dan jumlah korban tewas terus bertambah.
Di antara korban diperkirakan terdapat sebanyak 140 orang yang dideportasi dari Amerika Serikat, termasuk anak-anak, yang menginap di sebuah hotel yang roboh. Pada hari kelima upaya penyelamatan, penghitungan pemerintah menunjukkan hampir 200 bangunan rata dengan tanah dan beberapa ratus bangunan rusak parah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/3df07e13-2518-4e50-a4c8-c0780a659782.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/b8f6503e-0a36-4239-8ee5-f591be696120.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/bc50a58c-70e7-490a-a3ee-55e5a1d0a214.jpg)
Seorang wanita mencari nama kerabatnya dalam daftar orang hilang setelah gempa bumi mematikan di La Guaira, Venezuela, Minggu (28/6/2026). (AP/MATIAS DELACROIX)
Petugas penyelamat Angkatan Darat Meksiko mencari orang-orang yang terjebak di dalam bangunan yang runtuh setelah gempa bumi melanda La Guaira, Venezuela, Minggu (28/6/2/2026).
AP/Matias Delacroix
Sebuah helikopter militer AS lepas landas setelah mendarat di La Guaira, Venezuela, tiga hari setelah gempa bumi melanda, Sabtu (27/6/2026).
AP/Matias Delacroix
Meningkatnya jumlah korban jiwa, termasuk 5.000 orang yang terluka, kemungkinan diperparah oleh kelalaian pemerintah selama beberapa dekade. Penegakan kode bangunan yang buruk, dan praktik perizinan yang ceroboh, menjadikan gempa ini kuburan massal warga Venezuela.
Di El Junquito, sebuah wilayah pegunungan kecil sekitar 33 km sebelah barat Caracas tempat warga Venezuela sering berlibur pada akhir pekan, penduduk mengatakan jarang melihat pejabat publik. Warga yang sebagian petani dan penduduk lainnya bahu-membahu menyediakan kebutuhan pokok bagi masyarakat yang terdampak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/0b142e1d-d1c9-4f78-8ae5-f154b4e5adc9.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/ddaf3ae5-8f21-4a27-81fa-2508c937a4fc.jpg)
Pusat komersial El Junquito sebagian besar hancur. Banyak bangunan yang runtuh, rata dengan tanah. Beberapa warga yang tidak punya tempat tinggal telah mendirikan tenda di lapangan terbuka meskipun ada risiko yang ditimbulkan oleh bangunan-bangunan yang rusak dan runtuh di dekatnya. ”Kami tidak tahu akan bertahan berapa lama di sini,” kata Tony Abreu yang rumahnya hancur.
Eduardo Cardozo, seorang sukarelawan di Tucacas, mengatakan sangat kecewa mengetahui bahwa beberapa korban bisa diselamatkan jika mereka dicari tepat waktu. Pada Minggu, sekelompok warga memerintahkan sekelompok tentara untuk mengambil cangkul dan sekop dan bergabung dalam upaya penyelamatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/2236427e-43f6-4620-9316-079107a96373.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/8b5770bb-a294-4599-b2d5-59ae58ee5528.jpg)
”Negara membutuhkan kalian. Letakkan senjata kalian,” perintah salah seorang pria kepada mereka.
Aksi penjarahan telah melanda kota La Guaira, yang sebagian besar kini tinggal puing-puing. Apotek, supermarket, dan tempat usaha lainnya dijarah warga yang kelaparan dan terluka.
Di kamar mayat darurat yang didirikan di sebuah gudang pelabuhan di La Guaira, ratusan jenazah disimpan dalam kantong jenazah dan peti mati berwarna putih dan hitam menunggu untuk diidentifikasi. Ratusan kantong jenazah yang lain dijajarkan di trotoar menunggu tim forensik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/5bcf30b3-6967-40a8-9542-fd976b761e9f.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/a48107cf-1cc8-4d75-ac58-f6fb2fbb8f06.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/4c3779d1-7c10-42b8-91a2-21e7ce655186.jpg)
Sepasang suami istri berpelukan di depan sebuah bangunan yang hancur oleh gempa bumi kembar tiga hari setelah mereka menghantam La Guaira, Venezuela, Sabtu (27/6/2027).
AP/Matias Delacroix
Potret tiga hari setelah gempa bumi melanda La Guiara, Venezuela, Sabtu (27/6/2026).
AP/Matias Delacroix
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/e3274bed-43dd-4e2c-abe5-f4936a9c2c9f.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/9a5f7850-8806-4db5-90ae-3c4744d4ac07.jpg)
Peluang menemukan siapa pun yang masih hidup di bawah reruntuhan sedalam beberapa meter telah menyusut sejak waktu kritis 72 jam berlalu. Namun, sebuah pesan Whatsapp membangkitkan harapan akan penemuan ajaib di bawah reruntuhan, lebih dari 120 jam setelah bencana.
Seorang wanita mengirimkan pesan tertulis melalui telepon genggamnya, kepada penjaga gedung apartemen yang runtuh di Caraballeda. Daerah ini menjadi salah satu daerah yang paling parah terkena dampak, sekitar 40 kilometer dari Caracas. Wanita itu mengatakan bahwa dirinya masih hidup, kata sukarelawan penyelamat Daniel Pino.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/30/d8179b34-5487-4bc8-a308-252671b5babf.jpg)
Pada Senin, seorang pria berusia 21 tahun yang diidentifikasi sebagai Aaron Levi diselamatkan di kota terdekat Tanaguarena. Tim penyelamat dan warga berpacu dengan waktu untuk satu nyawa korban di reruntuhan (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi Agung