Tim Sepak Bola Putri U-16, Seleksi Sistematis, dan Skuad Berwarna

Pembentukan tim sepak bola putri Indonesia U-16 dapat menjadi percontohan bagi pembentukan tim kelompok umur lain atau bahkan timnas senior.

26 Jul 2025 12:25 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Pembentukan tim sepak bola putri Indonesia U-16 dapat menjadi percontohan bagi pembentukan tim kelompok umur lain atau bahkan timnas senior. Skuadnya berwarna, baik dari segi usia maupun asal daerah. Seleksinya sistematis karena didukung kehadiran turnamen yang berjenjang. 

Sebanyak 24 pesepak bola putri belia lolos seleksi tahap kedua untuk masuk tim sepak bola putri Indonesia U-16. Mulai Selasa (22/7/2025), mereka menjalani latihan intensif di Kudus, Jawa Tengah, sebagai persiapan menuju ASEAN U-16 Girls Championship atau Kejuaraan ASEAN Putri U-16 2025 di Surakarta, Jawa Tengah, 18-29 Agustus mendatang. 

Sebelum mengerucut menjadi 24 pemain, PSSI memanggil 45 atlet untuk seleksi tahap pertama. Semua pemain yang dipanggil pada tahap ini adalah pesepak bola yang berlaga di turnamen Hydroplus Piala Pertiwi U-14 dan U-16 2025 sepanjang April hingga Juli. 

”Para pemain ini di atas ekspektasi saya, lebih bagus dari yang saya kira,” kata pelatih tim putri U-16 yang juga mantan pelatih timnas putri senior, Timo Scheunemann. 

”Di daerah mungkin masih banyak kekurangan penyelenggaraan (Piala Pertiwi U-14 dan U-16), tapi yang utama, yang positifnya, dari tidak ada jadi ada, jalur ke timnasnya jelas. Pemilihan bukan lewat pelatih, dipilih terus telepon kiri-kanan, ini sudah lebih sistematis,” ucapnya lagi. 

Pelatih sepak bola Timo Scheunemann KOMPAS/RADITYA HELABUMI 15-11-2023

Sebelum Piala Pertiwi U-14 dan U-16, para pemain ”diseleksi” untuk masuk tim atau klub masing-masing yang berlaga di level regional. Turnamen ini terbagi dalam dua kelompok umur dan diawali di Banten. Setelah itu, di Jakarta, Jawa Barat (Bandung dan Cirebon), Jawa Tengah (Semarang, Solo, dan Kudus), serta Jawa Timur (Surabaya dan Malang). 

Dari tingkat regional tersebut, terpilih pemain-pemain terbaik pantauan tim pencari bakat dari PSSI. Mereka dipilih untuk memperkuat kota masing-masing di turnamen lanjutan pada level nasional yang sudah menggabungkan dua kelompok umur, yakni Piala Pertiwi U-14 dan U-16 All Stars. 

Adapun Kalimantan, Nusa Tenggara dan Bali, Sulawesi, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, serta Papua tidak menggelar turnamen level regional. Namun, mereka menyeleksi para pemain untuk nantinya memperkuat regional masing-masing. 

Di Sumatera Utara, misalnya, Asosiasi Provinsi PSSI menggelar seleksi terbuka selama dua hari di Medan pada pertengahan Juni. Pemain dari sejumlah kabupaten di Sumut ikut serta untuk menunjukkan bakat mereka, termasuk Fadilla yang datang dari Kabupaten Batu Bara.

Pemain Sumatera Utara menguasai bola saat menghadapi tim Malang berlari mengejar bola pada perempat final Piala Pertiwi U-14 dan U-16 2025 All Stars, Jumat (11/7/2025) di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah. 

Fadilla, yang terbiasa bermain sepak bola bersama tim putra, tak hanya lolos seleksi untuk memperkuat tim Sumut. Pencetak gol terbanyak pada Piala Pertiwi All Stars 2025 ini juga lolos seleksi tahap kedua untuk tim putri Indonesia U-16 bersama empat pemain Sumut yang lain. 

Begitu juga dengan Papua. Asisten pelatih Papua, Touskha Oktafia Stevelien Iba, mengatakan, pihaknya menyebarkan informasi soal seleksi seluas-luasnya. Alhasil, tidak hanya pesepak bola putri dari Jayapura sebagai tuan rumah seleksi yang hadir, tetapi juga dari daerah lain di Papua, mulai dari Biak di Papua, Merauke di Papua Selatan, hingga Wamena di Papua Pegunungan. 

Empat pemain dari Papua pun sukses menembus seleksi tahap kedua. Kendati masih didominasi pemain dari Pulau Jawa, kehadiran para pemain dari Sumatera dan Papua menambah warna dalam skuad tim U-16.

Ada pula perwakilan dari regional Bali-Nusa Tenggara, yakni Jimbaran J Jauhari. Selain itu, Maluku Utara juga terwakili dengan kelolosan Dian A Pary yang, meski memperkuat Bandung, berasal dari Ternate. 

Dari 24 nama yang lolos tahap kedua, hanya Nafeeza A Nori yang tidak ikut serta di Piala Pertiwi. Meski begitu, Nafeeza yang berasal dari SSB Uni dan Akademi Persib Bandung ini berpengalaman mengikuti kompetisi, bahkan di luar negeri. Nafeeza berkarier di Liga Filipina bersama Makati FC. 

Selain heterogen dari segi asal daerah, para pemain juga beragam dari segi usia. Pemain dari Jakarta, Albianca Raula, misalnya, baru berusia 12 tahun. Fadila berusia 13 tahun, sedangkan Nafeeza 14 tahun. 

Duel pemain SDN Kebagusan 03. Albianca Raula (biru) dan SDN Kebayoran Lama Selatan 19, Helga Cahya Yudi Sadira (pink), pada semifinal kelompok umur 12 tahun turnamen antarsekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah, MilkLife Soccer Challenge seri kedua Jakarta, di Lapangan Kingkong Soccer Arena, Cijantung, Jakarta, Minggu (10/11/2024).

Ini bukan pertama kalinya PSSI membentuk tim putri U-16. Namun, ini momen perdana pembentukan tim putri dilakukan secara sistematis dan berjenjang.

Kehadiran turnamen dari level regional hingga nasional membuat pembentukan tim bisa berjalan demikian. Proses ini dapat menjadi percontohan bagi pembentukan tim kelompok umur lain atau bahkan timnas senior. 

Ketika Satoru Mochizuki ditunjuk menjadi pelatih timnas putri pada Februari 2024, pertanyaan soal cara perekrutan atau seleksi pemain mengemuka. Sebab, tidak ada kompetisi yang berjalan selama lima tahun terakhir. Turnamen pun tidak rutin digelar. 

Saat harus mencari pemain untuk Piala Asia Putri U-17 pun, Mochizuki akhirnya harus blusukan ke kantong-kantong pelatihan sepak bola putri. PSSI saat itu menyebut, Mochizuki mendasarkan perjalanannya dari data yang dihimpun direktur teknik timnas Indonesia, Indra Sjafri. 

Dalam perjalanannya, Mochizuki lantas mengandalkan rekomendasi dari asisten pelatihnya soal pemanggilan pemain. Baru pada PON Aceh-Sumut 2024, ajang empat tahunan, Mochizuki berkesempatan memantau dan menyeleksi langsung para pemain.

Pelatih timnas sepak bola putri Indonesia, Satoru Mochizuki (kiri), menutup seleksi timnas U-17 di Lapangan A Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (28/3/2024) malam

Apabila ada turnamen berjenjang yang rutin digelar, bukan tidak mungkin proses seleksi seperti tim U-16 juga bisa diterapkan untuk kelompok umur lain atau timnas senior. Dengan turnamen atau bahkan kompetisi, kesempatan terbuka luas bagi pesepak bola putri untuk unjuk gigi dan mengejar mimpi menembus timnas.

Mantan pemain timnas putri, Tia Darti Septiawati, pernah mengatakan, kehadiran turnamen atau kompetisi reguler akan memudahkan pelatih untuk menjaring pemain terbaik bagi timnas. Hasilnya pun, kata Tia, pasti akan berbeda dengan seleksi yang dilakukan sewaktu-waktu. 

”Kalau lewat kompetisi, pelatih bisa melihat kemampuan pemain dalam rentang waktu yang panjang. Beda dengan seleksi yang hanya satu waktu. Bisa jadi pemain yang biasanya bermain bagus saat seleksi sedang tidak fit sehingga tidak bisa menunjukkan penampilan maksimal,” ujarnya. 

Malaysia dan Timor Leste

Vivin Cahyani, anggota Komite Eksekutif PSSI yang memegang tanggung jawab untuk timnas putri, mengatakan, dari nama-nama yang dipanggil pada seleksi tahap pertama untuk tim U-16, jumlahnya akan mengerucut lagi menjadi 21 nama. Mereka akan menjadi bagian dari skuad final untuk  Kejuaraan ASEAN Putri U-16. 

Kejuaraan ASEAN Putri U-16, dulu bernama Kejuaraan AFF Putri U-16, pertama kali digelar pada 2009. Indonesia ikut serta dalam tiga dari empat edisi yang pernah dilaksanakan, termasuk saat berlangsung di Palembang, Sumatera Selatan, pada 2018. 

Pada edisi 2025, Indonesia tergabung di Grup A bersama Malaysia dan Timor Leste. Vietnam, Myanmar, dan Kamboja berada di Grup B, sedangkan Thailand, Singapura, dan Australia menghuni Grup C. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti