Timnas Iran akhirnya berangkat ke Meksiko untuk tampil di Piala Dunia 2026. Iran memindahkan markas mereka dari AS ke Meksiko setelah serangan AS-Israel.
07 Jun 2026 16:02 WIB · Olahraga
AFP
Setelah terombang-ambing akibat serangan Amerika Serikat dan Israel, skuad Iran akhirnya berangkat menuju Piala Dunia 2026. Salah satu wakil Asia ini tiba di Meksiko, Minggu (7/6/2026), di tengah bayang-bayang berkecamuknya perselisihan diplomatik antara Teheran dan Washington, setelah AS menolak mengeluarkan visa pada sejumlah staf pendukung tim.
Perselisihan itu mengemuka hanya beberapa hari sebelum sepak mula Piala Dunia 2026 pada Kamis (11/6/2026), yang diselenggarakan bersama oleh AS, Meksiko, dan Kanada. Skuad Iran berangkat dari Turki, tempat mereka menjalani pemusatan latihan, pada Sabtu menuju Meksiko.
Timnas Iran menuju Tijuana, kota perbatasan di barat laut Meksiko yang akan menjadi markas mereka selama menjalani Piala Dunia. Iran dijadwalkan memainkan tiga pertandingan grup mereka di wilayah AS, menjadikan ini Piala Dunia pertama yang mempertemukan negara tuan rumah dengan tim dari negara yang mereka serang.
Iran awalnya memilih markas di Tucson, Arizona, AS. Akan tetapi, setelah serangan AS-Israel ke Iran, mereka memindahkan markas ke Tijuana pada akhir Mei lalu. Iran berada di Grup G dan akan menghadapi Selandia Baru dan Belgia di Los Angeles pada 15 dan 21 Juni, diikuti pertandingan melawan Mesir di Seattle pada 26 Juni.
Tim yang diasuh Pelatih Amir Ghalenoei itu menghabiskan hampir tiga pekan di kamp latihan di Antalya, memanfaatkan waktu mereka di Turki untuk mengajukan visa perjalanan ke Meksiko, Kanada, dan AS. Para pemain dinyatakan mendapatkan visa AS menjelang keberangkatan mereka, menurut Dubes AS untuk Turki Tom Barrack, pada unggahan di media sosial.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/cb12e0272dde8f79edc8ea2115a9e900-wires_photo_4_.jpg)
Akan tetapi, Kedutaan Besar Iran untuk Turki kemudian mengeluarkan tanggapan keras. Mereka mengungkapkan bahwa staf pendukung ditolak visanya. Yang terdampak berjumlah 15 orang, terdiri dari staf administrasi dan manajemen, kata seorang diplomat Iran.
”Anda sengaja meningkatkan perlakuan diskriminatif terhadap tim nasional Iran ke tingkat tertinggi,” tulis Kedutaan Iran, Sabtu, di X, seraya meminta FIFA untuk meminta pertanggungjawaban AS atas pelanggaran terhadap aturan.
Ketegangan bertambah setelah Duta Besar Iran untuk Meksiko mengatakan bahwa timnas Iran diberi tahu bahwa berdasarkan ketentuan visa mereka, tim harus masuk dan keluar wilayah AS pada hari yang sama dengan pertandingan mereka.
”Kami bisa masuk pada pagi hari dan harus keluar pada hari yang sama,” kata Dubes Iran untuk Meksiko Abolfazl Pasandideh kepada wartawan.
Hal itu bertentangan dengan apa yang sebelumnya disampaikan juru bicara tim Iran, Amir Mahdi Alavi.
”Visa yang dikeluarkan untuk tim nasional adalah visa multiple-entry, dan tim nasional akan tiba di lokasi pertandingan satu hari sebelum laga pertama dan, untuk pertandingan-pertandingan berikutnya, dua hari sebelum laga masing-masing,” kata Alavi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/26d7fdb226baecd3682311a7b501b6be-wires_photo_2_.jpg)
Aturan FIFA untuk Piala Dunia menetapkan bahwa pelatih tim harus memberikan konferensi pers pada malam sebelum pertandingan di tempat laga akan dimainkan.
Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) menyebut keputusan AS soal visa timnas Iran sebagai campur tangan politik di olahraga dalam bentuk terburuk. Ketua FFIRI Mehdi Taj dilaporkan termasuk di antara mereka yang ditolak visanya.
Seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa visa yang diperlukan agar Iran dapat berlaga di Piala Dunia, termasuk bagi para atlet dan staf pendukung yang diperlukan, telah diterbitkan. Tanpa secara langsung menanggapi persoalan mereka yang visanya ditolak, pejabat itu menyebut mereka tak ingin tim Iran menyelundupkan orang yang tidak dikehendaki ke AS.
Pada April lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tidak mempermasalahkan para pemain Iran. Namun, Rubio menyebut mereka tidak akan mengizinkan pihak yang terkait dengan Garda Revolusi Iran, kelompok yang masuk daftar teroris AS.
Bukan hanya timnas Iran, kisruh visa juga berdampak pada timnas Irak. Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) mengatakan bahwa skuad Irak telah mendarat di Chicago, tetapi dua anggotanya menjalani pemeriksaan tambahan.
”Setelah pemeriksaan, satu orang diizinkan masuk ke AS. Orang kedua, seorang fotografer dan bukan pemain, dinyatakan tidak memenuhi syarat dan ditolak masuk,” kata CBP dalam sebuah pernyataan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/38dd5d97bf07d33c3151bcbada544e5e-APTOPIX_Iran_War.jpeg)
Timur Tengah bergejolak ketika AS dan Israel mulai membombardir Iran pada 28 Februari 2026. Gencatan senjata pada 8 April lalu, yang menghentikan sebagian besar serangan, terus mendapat ujian karena sejumlah serangan beberapa waktu terakhir.
Bagi warga Iran, Piala Dunia kali ini jauh berbeda dibandingkan edisi sebelumnya. Dampak perang membuat warga tak lagi antusias menyambut gelaran akbar itu meski tim nasional mereka tampil.
”Piala Dunia kali ini berbeda. Saya tidak melihat antusiasme yang sama dengan edisi sebelumnya,” kata Houman, warga Teheran.
Shervin, seorang fotografer asal Teheran, juga merasa kesulitan untuk bersemangat dengan sepak bola. ”Di Iran, tidak seorang pun peduli terhadap sepak bola sekarang, seperti juga tidak satu pun yang kelihatannya peduli terhadap kesulitan dan kondisi hidup warga Iran. Itu membuat saya marah,” katanya. (AFP)
Penulis:
Prasetyo Eko PrihanantoEditor:
Antonius Tomy TrinugrohoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji