Pelaku usaha dari Jawa Barat menunda ekspor kopi arabika imbas perang Iran kontra Israel-AS. Sementara harga kedelai di Bandung terus naik.
04 Mar 2026 15:45 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/FABIO MARIA LOPES COSTA
BANDUNG, KOMPAS — Perang Iran menghadapi Israel-Amerika Serikat berimbas pada sektor ekonomi karena meningkatnya harga minyak global. Di Jawa Barat, ekspor produk kopi arabika untuk sementara tertunda.
Konflik di kawasan Timur Tengah dipicu serangan AS-Israel ke Teheran, ibu kota Iran, sejak Sabtu (28/2/2026). Hal itu diduga ikut berdampak pada pasokan dan harga minyak global. Imbasnya, harga logistik untuk ekspor menggunakan kapal diperkirakan melonjak hingga mengganggu bisnis yang berjalan di banyak negara.
Harga minyak di pasar Asia pada pembukaan perdagangan Brent, London, naik menjadi 80 dolar AS per barel dari harga penutupan 72,87 dolar AS per barel dalam perdagangan Jumat (27/2/2026). Terjadi kenaikan harga 13 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/18/bff2252b6f2ba36d8c4b22d8775b9f92-IMG_20241205_123153.jpg)
Wanoja Coffe, salah satu pelaku usaha produksi green bean atau biji kopi mentah arabika di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memutuskan untuk sementara menghentikan ekspor ke kawasan Timur Tengah.
”Kami memutuskan menunda ekspor ke kawasan Timur Tengah sambil memantau kondisi keamanan akibat konflik Iran kontra AS-Israel,” kata Direktur Wanoja Coffee Satrea Amambi saat diwawancarai Kompas, Rabu (4/3/2026).
Satrea menuturkan, kenaikan harga minyak dunia akan berpengaruh pada melonjaknya biaya logistik untuk ekspor yang signifikan. Hal ini juga akan memengaruhi jumlah permintaan dari konsumen.
Sebelum terjadi konflik, lanjut Satrea, Wanoja Coffee biasanya mengeluarkan biaya logistik 3.000-3.500 dolar AS atau Rp 50 juta hingga Rp 59 juta untuk satu kontainer ukuran 20 feet. Diduga, akibat konflik, biaya logistik bakal lebih mahal dari sebelumnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/18/1a99da5b0c621bc79e8167c729d2f3e1-IMG_20241205_132411.jpg)
Adapun Wanoja Coffee mengekspor 60 ton kopi sepanjang tahun 2025. Sejumlah negara tujuan ekspor kopi arabika Kamojang antara lain Jepang, Belanda, Jerman, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.
Total sebanyak 108 petani dan lebih dari 97 pekerja UMKM Wanoja Coffee yang terlibat dalam produksi kopi arabika tersebut. Luas tanam kopi arabika Wanoja Coffee mencapai 108 hektar.
”Kenaikan biaya ekspor karena jarak pengiriman lebih jauh akibat perang ini. Misalnya, ekspor ke Arab Saudi belum bisa melalui Pelabuhan Dammam sehingga dialihkan melalui Jeddah,” ungkap Satrea.
Sementara itu, harga kedelai di Jabar juga terus merangkak naik dalam tiga hari terakhir. Komoditas kedelai di Jabar biasanya berasal dari Amerika Serikat dan Kanada.
Sebelumnya, pada awal tahun 2026, harga kedelai masih Rp 9.000-Rp 9.500 per kg. Harga kedelai pada Rabu ini sudah naik menjadi Rp 10.300 per kg.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/23/df216f3e-4277-4889-83d6-b7a033a98d66_jpg.jpg)
Ketua Paguyuban Perajin Tempe dan Tahu Jawa Barat Muhammad Zamaludin menyebutkan harga kedelai terus naik dalam sepekan terakhir. Ia khawatir harganya bisa melonjak hingga Rp 14.000 per kg atau seperti pada tahun 2024.
Zamaludin meminta pemerintah pusat memonitor perkembangan harga kedelai yang dipasok para importir. Tujuannya agar importir tidak memanfaatkan kondisi ini untuk menaikkan nilai jual kedelai dengan harga yang tidak wajar.
”Diperlukan upaya intervensi pemerintah pusat untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan kedelai di pasar,” harapnya.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar