Tingginya Potensi Bencana Hidrometeorologi pada Masa Pergantian Tahun

Diperkirakan intensitas curah hujan pada akhir Desember hingga awal tahun depan tergolong tinggi sehingga berisiko menimbulkan bencana alam di sejumlah tempat.

12 Des 2024 11:45 WIB · Lingkungan

Oleh Budiawan Sidik A, Zikrina Ratri

Tingginya curah hujan sejak akhir November lalu kemungkinan akan terus berlanjut hingga mencapai puncaknya pada masa pergantian tahun 2024-2025. Diperkirakan intensitas curah hujan pada akhir Desember ini hingga awal tahun depan tergolong sangat tinggi sehingga berisiko menimbulkan bencana alam di sejumlah tempat.

Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sudah mulai mengguyur beberapa wilayah di Indonesia sejak akhir November lalu. Meskipun belum memasuki fase puncak musim hujan, beberapa daerah sudah merasakan dampak bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor. Sejumlah daerah, seperti di Sumatera Utara dan Jawa Barat, telah dilanda bencana alam itu.

Akhir November lalu, terdapat empat kabupaten di Sumut yang terdampak, yaitu Deli Serdang, Karo, Padang Lawas, dan Tapanuli Selatan (Kompas, 29/11/2024). Dilaporkan terdapat 20 korban ditemukan tewas dan sejumlah korban dinyatakan hilang serta masih dalam pencarian. Khususnya di kawasan Sibolangit, Deli Serdang, Sumut, terdapat sedikitnya 22 lokasi perbukitan yang mengalami longsor dan diperkirakan berpotensi terjadi longsor susulan kembali.

Selain itu, pada 3 Desember 2024, di wilayah Cianjur dan Sukabumi, Jawa Barat, juga terjadi kerawanan bencana berupa pergerakan tanah di tiga kecamatan akibat intensitas lebat selama dua hari. Selang seminggu kemudian, pergerakan tanah sudah meluas mencapai 72 desa di 39 kecamatan (Kompas, 9/11/2024). Akibatnya, terdapat 10.112 warga yang terdampak bencana hidrometeorologi di Sukabumi dengan total 10 korban tewas dan dua korban lain masih dalam pencarian.

infografik Tren Jumlah Bencana Tahun 2017-2023

Dalam konferensi pers Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 5 Desember 2024, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan, wilayah Sumatera dan Jawa saat ini masih pada fase menuju puncak hujan yang diperkirakan akan tiba pada akhir Desember 2024. Namun, dengan melihat kejadian bencana hidrometeorologi yang sudah terjadi di awal musim hujan ini, semua pihak diimbau siaga menghadapi berbagai potensi bencana, terutama di daerah-daerah rawan.

Dwikorita juga menyampaikan, musim hujan kali ini berbeda dengan musim hujan tahun lalu, di mana musim hujan jatuh pada Januari hingga Februari 2024 karena masih dipengaruhi oleh El Nino. Kondisi saat ini berbeda karena faktor kondisi regional Indonesia yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di mana salah satunya adalah La Nina kecil yang menyebabkan semakin tinggi dan panjangnya intensitas hujan di Indonesia. 

Kondisi regional

Pada siaran pers 5 Desember 2024, Kepala BMKG mengimbau agar seluruh masyarakat waspada dan siaga menghadapi cuaca hujan tahun ini. Pasalnya, terdapat sejumlah faktor yang berpotensi meningkatkan intensitas curah hujan dan risiko bencana hidrometeorologi. Seperti halnya kejadian bencana tanah longsor di Sukabumi yang dipicu dari pembentukan siklon yang mengakibatkan turunnya hujan selama dua hari berturut-turut di wilayah tersebut pada 3-4 Desember lalu.

Terdapat empat faktor kondisi regional yang berpengaruh besar pada curah hujan di musim kali ini. Hal ini berbeda dengan kondisi musim hujan periode lalu yang cukup mendapatkan pengaruh besar dari kondisi El Nino global. Kondisi tersebut menyebabkan curah hujan yang sedikit di kawasan Australia, Indonesia, dan kepulauan Pasifik. Sementara fenomena La Nina (lemah) pada musim kali ini hanya memberikan kontribusi pada intensitas curah hujan lebih kurang 20 persen, selebihnya dipengaruhi oleh kondisi regional Indonesia.

Pantauan BMKG pada 8 Desember 2024 terdapat beberapa fenomena yang turut berpengaruh pada pertumbuhan awan hujan di Indonesia. Pantauan BMKG mendeteksi terdapat fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) fase 5 (Maritime Continent) di beberapa titik mengepung wilayah Indonesia dari Samudra Hindia barat Aceh hingga Papua Selatan. Selain MJO, keadaan gelombang ekuator lainnya juga turut berperan, seperti gelombang Rossby Ekuator dan gelombang Kelvin yang terpantau bergerak dengan frekuensi yang rendah dan turut meningkatkan aktivitas konvektif serta pembentukan siklon.

Sirkulasi siklon terpantau di Laut Natuna Utara yang membentuk daerah konvergensi di kawasan Laut Natuna, perairan kepulauan Riau sampai Kalimantan Barat. Bibit siklon tropis 91S bergerak ke arah tenggara juga turut terpantau di sekitar Samudra Hindia dan juga bibit siklon tropis 94S di Laut Timor bergerak ke arah barat daya. Tumbuhnya siklon tropis tersebut turut membawa pengaruh pada pertumbuhan awan hujan dan angin kencang.

infografik Dampak Akibat Bencana Tahun 2023

Potensi memburuknya intensitas curah hujan itu juga tidak terlepas dari anomali naiknya suhu muka laut (sea surface temperature/SST). Kenaikan suhu +0,5 derajat celsius sampai dengan +4,0 derajat celsius yang terjadi di perairan barat Aceh dan Sumatera Utara, Selat Malaka, perairan utara Jawa Barat dan Jawa Tengah, Laut Maluku, Teluk Cendrawasih, dan Samudra Pasifik utara Papua  berpotensi meningkatkan penguapan lebih cepat.

Fenomena dan anomali yang terjadi di regional Indonesia tersebut diprediksi berlangsung mulai dari Desember 2024 hingga Februari 2025 dengan puncak curah hujan yang berbeda-beda di setiap wilayah. Di wilayah Sumatera dan Jawa sendiri di beberapa kawasan, seperti Aceh, Sumatera Utara dan sepanjang pesisir barat hingga Bengkulu, serta Jawa (terutama Jawa bagian selatan), mencapai puncaknya pada akhir Desember 2024. Ketika memasuki Januari 2024, puncak hujan mulai bergeser ke Jawa pesisir utara dan bagian tengah.

Langkah mitigasi

Kombinasi fenomena dan juga anomali yang terjadi bersamaan pada periode musim hujan kali ini  diprediksi oleh BMKG berpotensi membawa dampak yang cukup buruk bagi Indonesia. Terutama potensi ancaman bencana alam terbesar, yaitu bencana hidrometeorologi. Laporan BMKG tahun 2023 menunjukkan, dari total 5.400 kejadian bencana, sebanyak 99,35 persen didominasi oleh bencana hidrometeorologi.

Meskipun kebakaran hutan dan lahan mengambil porsi kejadian bencana terbanyak sepanjang tahun 2023, bencana hidrometeorologi, seperti tanah longsor dan banjir, menduduki peringkat teratas yang membawa dampak korban jiwa hingga pengungsian. Kedua bencana itu juga turut dipengaruhi oleh kondisi geografi dan topografi. Seperti halnya di daerah Cianjur dan Sukabumi, di mana topografi pegunungannya tidak didukung oleh struktur tanah yang kuat sehingga kawasan tersebut terus mengalami pergerakan tanah hingga saat ini.

infografik Daerah dengan Prediksi Curah Hujan Tinggi Sampai Sangat Tinggi Desember 2024-Februari 2025

Berbeda halnya dengan kondisi geografis Jakarta yang berpotensi besar terendam bencana banjir. Hujan dengan intensitas tinggi dan lama selalu menimbulkan ancaman besar genangan banjir di beberapa wilayah Jakarta, terutama di wilayah yang sering kali menjadi titik banjir, seperti di Cengkareng dan Kalideres, Jakarta Barat.

Ada sejumlah langkah untuk mengurangi dampak buruk banjir di wilayah perkotaan tersebut. Salah satunya dilakukan oleh BMKG bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jakarta dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) beserta PT Songo Aviasi Indonesia dengan melakukan modifikasi cuaca di kawasan Jakarta.

Modifikasi cuaca tersebut dilakukan pada 7-8 Desember 2024 diklaim berhasil mengurangi intensitas hujan hingga 67 persen di wilayah Jakarta dan sekitarnya (Kompas, 9/12/2024). Deputi Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan, dengan teknik modifikasi cuaca tersebut berhasil mendistribusikan hujan ke lokasi lebih aman dan mengurangi konsentrasi curah hujan di satu wilayah saja.

Rencana modifikasi cuaca itu juga turut disampaikan oleh Kepala BMKG dalam konferensi pers 5 Desember 2024 sebagai solusi meminimalisasi risiko bencana hidrometeorologi di Sukabumi dan sekitarnya. BMKG akan melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah dan juga BNPB dalam upaya preventif tersebut. Salah satu yang tengah dilakukan dalam upaya mitigasi lanjutan itu adalah pemantauan cuaca di daerah rawan bencana.

Kondisi cuaca dengan intensitas curah hujan tinggi yang diprediksi akan berlangsung dari Desember 2024 hingga Februari 2025 patut menjadi perhatian serius. Apalagi, diperkirakan akan memicu hadirnya cuaca ekstrem mulai dari daratan, perairan, hingga udara. Seluruh lapisan masyarakat, terutama pemerintah daerah, perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan bagi kawasan-kawasan rawan bencana hidrometeorologi. Langkah mitigasi ini untuk meredam tingginya dampak risiko yang diakibatkan oleh terjangan bencana alam yang kemungkinan akan datang akibat cuaca ekstrem kali ini. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Budiawan Sidik A, Zikrina Ratri
 | 

Editor:

Budiawan Sidik A
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan