Tak hanya Indonesia, tim raksasa Asia Tenggara mulai menjadikan Kejuaraan ASEAN 2024 sebagai ajang regenerasi skuad. Peluang tim semenjana juara membesar.
01 Des 2024 15:22 WIB · Olahraga
Upaya Federasi Sepak Bola Asia Tenggara (AFF) untuk mengubah wajah turnamen antarnegara sekaligus hajatan terbesar mereka menjadi Kejuaraan ASEAN—sebelumnya Piala AFF—bertepuk sebelah tangan. Empat tim terbaik dalam sejarah kejuaraan tak menurunkan tim terbaik pada edisi ke-15.
Tim nasional Indonesia tentu menjadi sorotan karena menjadi satu-satunya tim yang menurunkan para pemain mayoritas berusia di bawah 22 tahun. Skuad yang ditetapkan Pelatih Shin Tae-yong lebih menyerupai tim untuk bersaing di SEA Games alias pesta olahraga multicabang di ASEAN.
Para pemain yang diajak tampil di Kejuaraan ASEAN 2024 adalah perpaduan tim U-19 Indonesia yang diasuh Shin pada Piala AFF U-19 2022 serta tim U-20 Indonesia yang tengah disiapkan tampil di Piala Asia U-20 2025 asuhan Indra Sjafri.
Di luar ambisi untuk meregenerasi skuad timnas, Shin sejatinya tidak ingin menanggung malu di Kejuaraan ASEAN ketiganya. Sebab, tiga pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri dan telah rutin membela skuad ”Garuda” tetap menjadi tulang punggung tim.
Mereka adalah bek sayap kanan Asnawi Mangkualam, bek sayap kiri Pratama Arhan, dan gelandang Marselino Ferdinan. Sejumlah pemain yang sudah sering masuk skuad timnas utama, misalnya Muhammad Ferrari dan Hokky Caraka, akan diberikan peran mayor, alih-alih tugas pelapis seperti selama ini.
Dari 33 nama dari skuad sementara yang dipanggil juru taktik asal Korea Selatan itu, Asnawi adalah satu-satunya pemain yang berusia di atas 22 tahun. Pemain Thai Port FC itu sudah berusia 25 tahun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/30/bf10a74c-8b93-421d-bee6-dce9a7a65070_jpg.jpg)
Tiga pemain Indonesia yang lahir dan besar di Eropa, seperti Justin Hubner, Ivar Jenner, dan Rafael Struick, pun mustahil tampil di Kejuaraan ASEAN. Alhasil, harapan AFF dan pencinta sepak bola ASEAN untuk menyaksikan Indonesia tampil seperti di Piala Asia 2023 serta kualifikasi Piala Dunia 2026 urung tercapai.
Shin menuturkan, Indonesia tidak memandang sebelah mata Kejuaraan ASEAN. Dalam dua partisipasi sebelumnya menangani Indonesia, Shin belum mampu membawa Indonesia meraih gelar juara Kejuaraan ASEAN. Indonesia menjadi finalis pada edisi 2020 yang bermain pada 2021, lalu gugur di semifinal pada 2022.
”Kejuaraan AFF lumayan besar, tetapi fokus kami adalah mempersiapkan tim untuk SEA Games (2025). Para pemain yang bergabung memiliki potensi dan bisa dikembangkan untuk menjadi kekuatan masa depan timnas Indonesia,” kata Shin di sela pemusatan latihan di Bali, Jumat (29/11/2024).
Kejuaraan AFF lumayan besar, tetapi fokus kami adalah mempersiapkan tim untuk SEA Games.
Dengan kehadiran para pemain yang masih ”hijau” di level turnamen internasional senior, Indonesia akan sulit bersaing dengan empat tim yang telah memiliki trofi Piala AFF, yaitu Thailand (tujuh kali juara), Singapura (empat), Vietnam (dua), dan Malaysia (satu).
Indonesia pun datang dengan skuad termuda dalam sejarah keikutsertaan di kejuaraan regional. Asnawi dan kawan-kawan memiliki rata-rata usia 20,9 tahun. Usia itu jauh di bawah tim-tim eks juara yang dihuni para pemain berusia rerata di atas 26 tahun.
Dengan kondisi itu, Shin berharap publik sepak bola Indonesia tidak terlalu memiliki ekspetasi besar kepada skuadnya di Kejuaraan ASEAN 2024. Meski begitu, ia menjamin tim Garuda akan tampil dengan kemampuan maksimal di empat laga Grup B.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/12/01ff85b9-6fc1-4d68-8a76-ee8c0438f83d_jpg.jpg)
”Kami akan menghadapi tim-tim senior, tetapi saya yakin pemain akan menorehkan capaian yang baik,” ucapnya.
Indonesia akan menjalani dua laga tandang di fase grup yang berat di Myanmar dan Vietnam. Anak asuhan Shin akan berkandang di Stadion Manahan, Surakarta, pada babak penyisihan untuk menjamu Laos dan Filipina.
Merujuk sejarah turnamen, Indonesia wajib mengemas kemenangan di dua laga kandang, lalu setidaknya meraih satu kemenangan dari dua laga tandang. Perjalanan terburuk Indonesia di Kejuaraan ASEAN tercipta pada 2007, 2012, 2014, dan 2018 ketika gugur di fase grup.
Kemudian, Indonesia sudah enam kali mengukuhkan diri sebagai runner-up atau peraih medali perak. Capaian itu tertulis pada 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020.
Empat tim juara ASEAN lainnya, meski tampil dengan skuad senior, juga meninggalkan sejumlah pemain penting. Thailand tidak memanggil tulang punggung mereka ketika menjuarai dua edisi terakhir Kejuaraan ASEAN, seperti Theerathon Bunmathan, Teerasil Dangda, dan Sarach Yooyen.
Pelatih Thailand Masatada Ishii juga meninggalkan kapten tim Chanatihip Songkrasin. Secara total, Ishii hanya membawa tujuh pemain yang meraih gelar juara dua tahun silam. Pelatih asal Jepang itu memastikan target skuad ”Gajah Perang” adalah mempertahankan trofi juara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/12/29/a133ab46-79bd-4366-8e72-d5bb6250d638_jpg.jpg)
”Kami ingin memenangi trofi turnamen Kejuaraan ASEAN. Untuk itu, kami harus membenahi keseimbangan tim serta memaksimalkan waktu persiapan untuk memadukan para pendatang baru dengan pemain-pemain yang sudah berpengalaman di timnas,” tutur Ishii dilansir Bangkok Post.
Sementara itu, Malaysia tidak mendaftarkan pemain-pemain terbaik yang berstatus pemain utama Johor Darul Ta’zim (JDT), seperti Syihan Hazmi, Romel Morales, Matthew Davis, La’Vere Carbin-Ong, dan Arif Aiman.
Alasan JDT untuk fokus membawa nama baik Malaysia di Liga Champions Asia Elite menjadi penyebab Martin mengalah demi kepentingan tim. Juara Liga Malaysia itu berpeluang besar lolos ke fase gugur kompetisi antarklub paling bergengsi di Asia itu.
Adapun Singapura tidak menyertakan tiga anak kandung legenda sepak bola mereka, Fandi Ahmad. Bek tengah, Irfan Fandi, lalu dua adiknya, Ikhsan Fandi dan ilhan Fandi, tidak dipanggil oleh Pelatih Singapura asal Jepang, Tsutomu Ogura.
Dengan kondisi empat tim itu, Vietnam bisa disebut tim raksasa ASEAN yang paling serius. Selain memanggil mayoritas pemain terbaik dan sudah tampil rutin dalam dua edisi terakhir Kejuaraan ASEAN, Pelatih Vietnam Kim Sang-sik juga memboyong anak asuhannya menjalani pemusatan latihan di Korea Selatan.
Pemain andalan Vietnam, misalnya Dang Van Kam, Do Duy Manh, Nguyen Quang Hai, Nguyen Tien Linh, dan Phan Van Duc, menjadi fondasi utama Kim membentuk tim di kompetisi antarnegara ASEAN.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/21/07e7d754-851e-468b-ad04-2606d2aa3fcd_jpeg.jpg)
”Kami memiliki target bertahap dengan mengincari posisi dua teratas di Grup B. Kemudian, kami baru akan berbicara tentang semifinal dan membahas final demi meraih gelar juara,” ujar Kim seperti dikutip Bongda24h.
Dengan keputusan tim-tim raksasa, gengsi Kejuaraan ASEAN perlahan mulai melandai. Indonesia, yang menancapkan pengaruh dalam persaingan di Asia mulai mengesampingkan Kejuaraan ASEAN yang sejatinya masih menjadi kesempatan terbaik Garuda meraih gelar juara di level timnas senior, dan kans Shin memberikan legasi trofi bagi Indonesia.
Bukan tidak mungkin, Kejuaraan ASEAN 2024 bakal menghadirkan kampiun anyar dari timnas yang selama ini dipandang sebelah mata, di antaranya Myanmar, Kamboja, atau Filipina. Tiga tim itu tampil dengan kekuatan utama timnas mereka.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko Prihananto