BerandaMetropolitanTOD Dukuh Atas, Janji Jak...

TOD Dukuh Atas, Janji Jakarta agar Warga Tidak Kehujanan dan Terpanggang Matahari

Pengembangan TOD Dukuh Atas diharapkan tidak hanya menghadirkan sistem transportasi yang lebih terintegrasi, tetapi juga menata kawasan agar lebih inklusif.

30 Sep 2025 17:05 WIB · Metropolitan

Oleh Atiek Ishlahiyah Al-Hamasy

Foto aerial Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Dukuh Atas, Jakarta Pusat, yang terus dikerjakan, Minggu (23/7/2023). JPM Dukuh Atas tersebut akan menghubungkan lima moda transportasi yaitu LRT Jabodebek, bus Transjakarta, kereta komuter, MRT, serta Kereta Bandara.

Rencana pengembangan transit oriented development di Dukuh Atas, Jakarta Pusat, memunculkan harapan besar warga Jakarta. Proyek ini diharapkan tidak hanya menghadirkan sistem transportasi yang lebih terintegrasi. Keberadaannya juga ikut menata kawasan tersebut lebih nyaman dan inklusif.

Dukuh Atas sejak lama dikenal sebagai urat nadi mobilitas Jakarta. Setiap hari, ribuan orang berpindah dari KRL, MRT Jakarta, LRT Jabodebek, hingga Transjakarta di kawasan ini.

Meski berperan vital, perjalanan warga di kawasan tersebut masih menyisakan celah. Akses antarmoda belum sepenuhnya mulus. Pejalan kaki masih harus keluar ke trotoar terbuka sehingga rentan kehujanan atau dipanggang matahari Jakarta.

Untuk menjawab tantangan itu, pemerintah menyiapkan skenario besar, yakni membentuk transit oriented development (TOD) Dukuh Atas. Infrastruktur ini ditargetkan sepenuhnya terintegrasi pada 2027.

Terkait TOD, Gubernur Jakarta Pramono Anung bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menggelar rapat tertutup di Wisma Mandiri, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (29/9/2025).

Pertemuan itu menghasilkan sejumlah kesepakatan, mulai dari percepatan TOD Dukuh Atas hingga penyatuan Stasiun Karet-BNI City. Integrasi penuh ini akan memungkinkan warga berpindah moda tanpa harus keluar gedung stasiun.

Penumpang menunggu KRL Commuter Line tiba di Stasiun Sudirman, Jakarta, Sabtu (13/9/2025). Jakarta menempati peringkat ke-17 dari 50 kota di dunia dalam kategori transportasi publik terbaik berdasarkan hasil survei internasional Time Out. Pada level ASEAN, Jakarta lebih unggul dibandingkan Kuala Lumpur (Malaysia), Manila (Filipina), dan Bangkok (Thailand).

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
13-09-2025

Bagi Aulia Wardhani (31), karyawan swasta asal Jakarta Timur, rencana ini bak jawaban atas keluhannya. Hampir setiap hari, ia melintasi Dukuh Atas. Di sana, dia berpindah dari KRL ke MRT.

Akan tetapi, butuh tenaga ekstra untuk menjalani semuanya. Ia mengaku semuanya melelahkan karena mesti naik turun tangga.

”Kalau sudah satu gedung dapat mengurangi waktu dan tenaga. Enggak perlu lagi ribet keluar masuk jalanan,” ujar Aulia, Selasa (30/9/2025).

Di sisi lain, Aulia juga berharap kawasan TOD Dukuh Atas tak hanya fungsional. Dia ingin kawasan itu nyaman sebagai ruang publik. Aulia, misalnya, membayangkan ada instalasi seni hingga pertunjukan musik jalanan di Dukuh Atas.

Elemen budaya seperti ini, menurut Aulia, bisa memperlihatkan wajah Jakarta sebagai kota modern sekaligus kota yang merawat cerita dan kreativitas warganya.

Selain itu, zona usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga perlu ditata dengan rapi. Tujuannya agar keberadaan mereka tidak menempati trotoar atau jalur menuju pintu masuk Stasiun Sudirman.

”Lebih baik disediakan area khusus, jadi pengunjung bisa tetap belanja tanpa mengganggu arus penumpang,” katanya.

Ia juga mengusulkan agar bangku-bangku publik ditempatkan di titik strategis serta taman hijau diperbanyak agar kawasan lebih teduh.

Meski mendukung penuh rencana pengembangan TOD Dukuh Atas, Aulia berharap proses pengerjaannya tidak mengorbankan kenyamanan penumpang yang setiap hari mengandalkan kawasan ini.

”Harus ada jalur sementara yang jelas. Jangan sampai orang malah bingung atau berdesakan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti persoalan kapasitas KRL yang kerap penuh pada jam sibuk. Menurut Aulia, integrasi fisik antarstasiun harus diiringi dengan peningkatan frekuensi perjalanan dan penambahan panjang rangkaian kereta agar benar-benar mampu menjawab kebutuhan mobilitas warga.

Moda transportasi lintas rel terpadu (LRT) meninggalkan Stasiun LRT Dukuh Atas, Jakarta, Rabu (20/8/2025). Setelah melepas status ibu kota ke Nusantara di Kalimantan Timur sesuai dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara, Jakarta kini berakselerasi menjadi pusat perekonomian nasional dan kota global. Dalam mencapai impian sebagai kota global, Jakarta harus mampu memenuhi parameter ekonomi yang mapan dan terkoneksi secara global, seperti riset dan inovasi berkapasitas, konektivitas, pariwisata dan budaya yang menarik kunjungan wisatawan terutama mancanegara, serta  lingkungan bersih dan nyaman.

Simpul integrasi

Pramono menjelaskan, TOD Dukuh Atas nantinya akan menjadi simpul besar integrasi transportasi Jakarta. Keberadaannya dirancang menghubungkan empat moda transportasi, LRT, MRT, KRL, dan kereta bandara.

Ke depan, masyarakat bisa berpindah moda tanpa harus keluar gedung. Alasannya, seluruh jaringan akan terhubung dalam satu kawasan terpadu.

Selain itu, terdapat rencana penggabungan Stasiun Karet dan Stasiun BNI City agar konektivitas semakin mulus. Pengembangan kawasan ini akan dilaksanakan PT MRT Jakarta tahun ini, dengan target penyelesaian pada 2027.

”Kalau semua sudah terhubung dengan baik, maka warga yang melalui Dukuh Atas tidak akan lagi kehujanan,” kata Pramono.

Selain proyek TOD, pembangunan MRT fase Bundaran HI–Kota dan LRT Kelapa Gading-Manggarai juga disebut akan selesai lebih cepat dari jadwal.

”Hambatan sudah kami bahas bersama, termasuk jalur MRT timur–barat di kawasan Senen. Mudah-mudahan semua bisa terselesaikan dengan baik,” ujar Pramono.

Sementara itu, LRT Jakarta Fase 1B (Velodrome-Manggarai) hingga September 2025 sudah mencapai 68,45 persen, sedangkan Fase 1C (Manggarai-Dukuh Atas) masih dalam tahap kajian prastudi kelayakan.

Adapun rencana MRT ke Tangerang Selatan masih dalam pembahasan dengan pihak swasta dan Pemda Tangsel. Saat ini, skema kerja sama tengah disusun sebelum diumumkan secara resmi.

Lalu-lalang warga di Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Dukuh Atas, Jakarta, Selasa (29/8/2023). Setelah LRT Jabodebek resmi beroperasi pada Senin (28/8/2023), warga mulai memanfaatkan JPM Dukuh Atas untuk berpindah moda transportasi. Tidak hanya berfungsi sebagai titik transit atau perpindahan, JPM Dukuh Atas juga menghubungkan sejumlah moda transportasi, yakni KRL Commuterline, MRT Jakarta, LRT Jabodebek, KA Bandara, dan Transjakarta. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 29-08-2023

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menilai integrasi kawasan transportasi di Dukuh Atas akan membawa dampak luas, mulai dari meningkatnya frekuensi, keandalan, keselamatan, hingga kenyamanan layanan transportasi massal.

”Harapan kami, kawasan TOD Dukuh Atas, kemudian juga penyatuan stasiun Karet dengan BNI City, dalam waktu cepat bisa kami realisasikan,” kata Dudy.

Dudy menyebut, integrasi tersebut juga akan memberi efek domino terhadap pertumbuhan ekonomi Jakarta. Dengan meningkatnya aksesibilitas, nilai properti di kawasan strategis diperkirakan naik, investasi swasta terdorong, serta tercipta lapangan kerja baru.

”Kami akan tindak lanjuti terus perkembangannya sehingga apa yang menjadi harapan masyarakat berkaitan dengan transportasi publik yang semakin nyaman dapat segera terealisasi,” ujarnya.

TOD Dukuh Atas bukan hal baru. Kawasan ini mulai diproyeksikan sejak 2017 seiring pembangunan MRT fase 1 (Lebak Bulus–Bundaran HI). Pada 2019, ketika MRT resmi beroperasi, penataan ruang publik, seperti trotoar lebar, jalur sepeda, dan ruang terbuka hijau, mulai terlihat.

Momentum berikutnya datang pada 2023, saat LRT Jabodebek diresmikan dan menempatkan Dukuh Atas sebagai stasiun sentral. Sejak itu, arus penumpang semakin padat dan kebutuhan integrasi lintas moda kian mendesak.

Setiap hari, ribuan pekerja melintas di kawasan ini dengan memanfaatkan Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Dukuh Atas sebagai jalur utama dari Stasiun KRL Sudirman menuju LRT Dukuh Atas.

Penumpang keluar dari Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta, Sabtu (13/9/2025). Jakarta menempati peringkat ke-17 dari 50 kota di dunia dalam kategori transportasi publik terbaik berdasarkan hasil survei internasional Time Out. Pada level ASEAN, Jakarta lebih unggul dibandingkan Kuala Lumpur (Malaysia), Manila (Filipina), dan Bangkok (Thailand).

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
13-09-2025

Akses menuju JPM berada di sisi utara Stasiun Sudirman, tepat di kawasan Jalan Kendal. Dari titik ini, tersedia tangga, eskalator, ataupun lift yang langsung terhubung ke jalur pejalan kaki di lantai atas. Waktu tempuh dari KRL ke LRT relatif singkat, hanya 5-7 menit.

Jembatan yang membentang dari Stasiun LRT Dukuh Atas, melewati sisi Waduk Setiabudi, menyeberangi Kanal Banjir Barat, hingga berakhir di Stasiun Sudirman ini, membuat perpindahan antarmoda lebih mudah dan aman, tanpa menyeberang jalan raya.

Meski demikian, akses dari Stasiun Sudirman ke MRT Dukuh Atas masih belum sepenuhnya terintegrasi. Penumpang tetap harus keluar lebih dulu melalui trotoar dan terowongan Kendal sebelum masuk ke area MRT.

Sementara itu, dari MRT Dukuh Atas, penumpang juga masih perlu berjalan kaki melalui jalur pedestrian untuk mencapai Stasiun KRL BNI City, termasuk akses menuju Kereta Bandara, yang berada di seberang stasiun MRT.

Masalah akses yang terpisah ini yang ingin diselesaikan melalui proyek TOD Dukuh Atas 2027. Nantinya, seluruh moda transportasi akan terintegrasi dalam satu kawasan tertutup sehingga perpindahan antarmoda bisa dilakukan tanpa harus keluar ke jalan terbuka.

Lalu-lalang warga saat jam pulang kerja di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, Jumat (16/5/2025). Kawasan Sudirman di Jakarta Pusat sedang dipersiapkan menjadi pusat integrasi transportasi publik yang efisien melalui penataan ulang stasiun dan penguatan konektivitas antarmoda. Proyek bertajuk Sudirman Gateway tersebut mengusung konsep transit oriented development (TOD) yang mengintegrasikan pengembangan kawasan dengan sistem transportasi publik.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
16-05-2025

Kemudahan akses

Wakil Ketua DPRD Jakarta Wibi Andrino menilai rencana integrasi moda transportasi, termasuk penyatuan Stasiun Karet dengan BNI City, merupakan langkah tepat memperkuat konektivitas publik di Jakarta. Namun, ia menekankan aspek kemudahan akses bagi penumpang harus menjadi prioritas utama.

”Syaratnya akses harus mudah dan inklusif,” ujar Wibi, Selasa (30/9/2025).

Wibi juga mengingatkan agar selama proses pembangunan tidak ada pengorbanan terhadap kenyamanan dan keamanan penumpang. Menurut dia, jalur sementara yang jelas perlu disiapkan agar arus pengguna tetap lancar.

”Proyek ini boleh jalan, tapi jangan sampai kenyamanan, keamanan, dan aksesibilitas warga dikorbankan. Harus ada jalur sementara yang jelas, fasilitas ramah difabel, serta kapasitas peron, eskalator, dan lift yang memadai,” katanya.

Kerumunan warga yang keluar dari Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta, Jumat (16/5/2025). Kawasan Sudirman di Jakarta Pusat sedang dipersiapkan menjadi pusat integrasi transportasi publik yang efisien melalui penataan ulang stasiun dan penguatan konektivitas antarmoda. Proyek bertajuk Sudirman Gateway tersebut mengusung konsep transit oriented development (TOD) yang mengintegrasikan pengembangan kawasan dengan sistem transportasi publik.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
16-05-2025

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Aditya Dwi Laksana, menilai integrasi di Dukuh Atas perlu ditata lebih komprehensif. Ia menekankan pentingnya konektivitas tidak hanya untuk moda berbasis rel, tetapi juga moda berbasis jalan, seperti Transjakarta BRT maupun non-BRT, angkutan umum reguler, dan taksi.

Menurut Aditya, peluang integrasi dengan LRT Jakarta juga perlu dipertimbangkan jika kelak layanan diperpanjang hingga Dukuh Atas. Selain itu, hal paling esensial yang tidak boleh diabaikan adalah peningkatan kapasitas angkut KRL commuter line.

”Semodern apa pun fasilitas pendukung, yang paling dibutuhkan pengguna adalah frekuensi perjalanan lebih tinggi, rangkaian lebih panjang, dan kapasitas angkut lebih besar. Itu yang harus disiapkan terlebih dahulu,” ujarnya.

Aditya juga menegaskan bahwa akses inklusif bagi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, harus benar-benar diwujudkan.

”Keterhubungan antarmoda bukan hanya soal efisiensi, melainkan juga soal keadilan akses. Semua warga berhak mendapatkan fasilitas transportasi yang ramah dan memudahkan,” tuturnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Atiek Ishlahiyah Al-Hamasy
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari