Kompas.id Brief

Tragedi Berulang di Selat Bali, Faktor Alam atau Lemahnya Mitigasi?

Hingga hari ketiga, 30 penumpang dan awak KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali masih hilang. Enam lainnya tewas. Mengapa kecelakaan laut ini berulang?

05 Jul 2025 08:00 WIB · Nasional

Oleh Redaksi

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Apa yang terjadi dengan KMP Tunu Pratama Jaya?
  2. Seberapa sering kecelakaan laut terjadi di Selat Bali?
  3. Faktor apa yang memicu kecelakaan terjadi di Selat Bali?
  4. Apa yang harus dilakukan untuk mencegah kecelakaan berulang di Selat Bali?

Apa yang terjadi dengan KMP Tunu Pratama Jaya?

copy title

Kapal Motor Penumpang Tunu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali, Rabu (2/7/2025) malam. Kapal itu tenggelam saat dalam perjalanan dari Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur, menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali.

Kapal itu bertolak dari Pelabuhan Ketapang pada Rabu pukul 23.05 WIB. Sekitar pukul 00.15 Wita, tim Local Port Service Pelabuhan Gilimanuk menerima komunikasi darurat dari nakhoda kapal di kanal radio 16 dan 17 yang menyampaikan kode merah akibat kebocoran mesin.

Pada pukul 00.19 Wita, kapal mengalami blackout, dan tiga menit kemudian, tepat pukul 00.22 Wita, kapal terbalik dan hanyut ke arah selatan. Lokasi kejadian berada di koordinat -8°09.371’ LS dan 114°25.1569’ BT.

Kapal jenis roll-on roll-off (roro) buatan tahun 2010 itu memiliki panjang 63 meter dan lebar 12 meter. Saat kejadian, kapal mengangkut 53 penumpang, 12 awak kapal, dan 22 unit kendaraan.

Berdasarkan data sementara dari Posko Tim SAR Gabungan di Dermaga Penyeberangan Ketapang, hingga Kamis (3/7) malam, tercatat 29 penumpang ditemukan selamat dan enam orang tewas.

Enam korban tewas adalah Anang Suryono (59), Eko Sastriyo (51), Elok Ramantini (34), Cahyani (45), Fitri April L (33), dan Afnan A Mustofa (3). Sekitar pukul 20.00 WIB, jenazah mereka telah tiba dari Gilimanuk dan diserahkan kepada pihak keluarga.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, yang meninjau langsung posko pencarian di Ketapang, menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah penyelamatan korban. Adapun investigasi penyebab kecelakaan akan ditangani Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit mengatakan, pencarian melibatkan unsur-unsur SAR yang ada di sekitar Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk, yakni Basarnas, TNI, Polri, dan instansi lainnya. Pencarian oleh tim dari Basarnas dilakukan dengan menggunakan kapal karet berlambung kaku (rigid inflatable boat/RIB) dari Pos SAR Banyuwangi, Pos SAR Jembrana, dan Kapal Negara (KN) SAR 2249 Permadi.

Seberapa sering kecelakaan laut terjadi di Selat Bali?

copy title

Kecelakaan kapal laut di Selat Bali bukan kali pertama terjadi. Dalam lima tahun terakhir, telah terjadi lima kali kecelakaan laut di Selat Bali. Semua kecelakaan tersebut berakhir dengan tenggelamnya kapal, kecuali pada 2022 berupa kandasnya kapal akibat surutnya air pelabuhan di Gilimanuk.

KMP Tunu Pratama Jaya merupakan kapal yang mengalami kasus kecelakaan setidaknya dua kali dalam kurun lima tahun ini. Dahulu karena terjebak pasang-surut dermaga, kini mengalami kebocoran, mati mesin, terseret arus, dan akhirnya tenggelam pada Rabu lalu menjelang dini hari.

Data Statistik Investigasi Kecelakaan Transportasi 2024 dari KNKT menunjukkan, kasus tenggelamnya kapal di Selat Bali memiliki proporsi yang relatif besar secara nasional. Dari tahun 2020 hingga 2024, setidaknya terdapat 15 kasus tenggelamnya kapal dalam aktivitas pelayanan nasional. Empat di antaranya berasal dari insiden di Selat Bali dalam kurun waktu tersebut.

Kompas mencatat rentetan kasus kapal tenggelam di Selat Bali mulai tahun 1980-an. Pada 10 Oktober 1985, Kapal PLM Labalikan memuat 153 ton bahan pokok dan muatan umum bergerak dari Dermaga Kalimas Tanjung Perak, Surabaya, menuju Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Saat itu, kapal buatan tahun 1982 tersebut diterjang angin dan ombak besar. Dalam kejadian itu, 13 awak kapal diselamatkan kapal lain yang melintas, sedangkan 12 awak lainnya hilang.

Kasus kecelakaan di Selat Bali berikutnya adalah tenggelamnya feri LCT Kaltim Mas II pada 1994. Puluhan awak dan penumpangnya tewas. Kecelakaan ini terjadi karena arus kuat, lalu kapal dihantam ombak tinggi 3-4 meter. Hal itu menyebabkan kapal terbalik.

Selanjutnya, pada 2016, KMP Rafelia 2 tenggelam di Selat Bali. Kecelakaan ini diduga karena kapal kelebihan muatan. Kejadian berikutnya, pada 2021, KMP Yunicee tenggelam setelah terseret arus laut dan dihantam ombak setinggi 3-5 meter. Menjelang sandar di Pelabuhan Gilimanuk, KMP Yunicee terseret arus laut dan gelombang tinggi ke arah selatan.

Faktor apa yang memicu kecelakaan di Selat Bali?

copy title

Dari sejumlah kecelakaan di Selat Bali, beberapa faktor menjadi pemicu. Dalam kasus kecelakaan KMP Yunicee, misalnya, tercatat adanya faktor alam yang turut berperan.

Kuatnya arus di Selat Bali diakui oleh Arnoldus Yansen (65), pensiunan pegawai PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (PT ASDP). Ia mengatakan, ada sembilan palung besar dan dalam di Selat Bali. Keberadaan palung itu turut membuat arus berubah dengan sangat cepat dan kuat.

Menurut jurnal Karakteristik Arus Laut Permukaan dari High Frequency Radar pada Musim Timur di Selat Bali Indonesia karya Shafira Tsanyfadhila, dkk, yang diterbitkan pada Jurnal Kelautan Tropis, November 2022, menyebutkan, karakteristik arus permukaan di Selat Bali sangat dipengaruhi oleh pasang surut.

Pada musim timur, rata-rata kecepatan arus di lokasi penelitian di Selat Bali berkisar 0,1–1,08 meter/detik. Arah arus permukaan dominan menuju ke arah selatan. Kecepatan arus lebih besar ketika pasang purnama dan ketika menuju surut. Anomali muka air laut (SLA) dan morfologi pantai juga memengaruhi karakteristik arus permukaan di Selat Bali. Wilayah tengah perairan Selat Bali memiliki kecepatan arus yang lebih besar.

Namun, faktor alam bukan satu-satunya pemicu kecelakaan. Dekan Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Setyo Nugroho, Kamis (3/7/2025), mengatakan, dalam 200 kasus kecelakaan kapal terbalik atau tenggelam, 80 persen di antaranya melibatkan persoalan pemuatan tidak baik.

”Pemuatan tidak baik artinya penataan kendaraan dan barang tidak didata dengan baik, misalnya beratnya berapa, visibility seperti apa, stabilitas kapal seperti apa. Ini kontributor besar bagi kecelakaan kapal,” katanya.

Menurut Setyo, kecelakaan kapal sering disebabkan oleh beberapa faktor secara bersama-sama. ”Faktor itu adalah pemuatan (pendataan dan penataan), faktor teknis (kapal, lambung, dan mesin tidak dalam kondisi baik, pengoperasiannya tidak baik), dan faktor alam,” katanya.

Apa yang harus dilakukan untuk mencegah kecelakaan berulang di Selat Bali?

copy title

Kecelakaan berulang di Selat Bali bisa diputus jika mitigasi dilakukan dengan baik. Jika tidak dilakukan mitigasi, berbagai faktor pemicu itu akan terus menjadi ancaman keselamatan di Selat Bali.

”Penyebab ini terus terjadi 30 tahun terakhir dan ini tidak berubah. Ke depan, kemungkinan kondisi ini akan bisa berlanjut jika kita tidak berubah,” kata Setyo.

Hal penting yang pertama kali bisa diupayakan di Tanah Air, kata Setyo, adalah integrasi data, baik data muatan, teknis kapal, cuaca, dan lainnya. ”Integrasi ini bisa dilakukan dengan digitalisasi data. Berikutnya adalah taat dan patuh pada data dan aturan yang sudah dimiliki. Itu kuncinya,” ujarnya.

Indonesia sudah punya perangkat aturan lengkap dalam keselamatan kelautan, seperti konvensi safety of life at sea dan maritime pollution (marpol). Namun, ketentuan itu kerap dilanggar.

Dari laporan investigasi KNKT 2024, korban yang ditimbulkan akibat kecelakaan pelayaran pada kurun 2020-2024 relatif besar, yakni mencapai 678 orang. Rinciannya, sebanyak 584 orang meninggal dan 103 orang lainnya luka-luka.

Dari sejumlah kasus yang diinvestigasi pada kurun 2020-2024, ada sejumlah faktor yang menyebabkan kecelakaan pelayaran di Indonesia. Terbanyak, hingga 56 persen kasus diakibatkan oleh masalah teknis; selanjutnya disusul 40 persen lainnya akibat human factor. Untuk faktor eksternal, yakni cuaca relatif sangat minim, yakni sekitar 4 persen saja.

Dari surat rekomendasi yang dikeluarkan KNKT, kecelakaan yang terjadi sebagian besar terkait erat dengan pihak operator; pemerintah sebagai regulator dan juga administrator pelabuhan.

Namun, belum semua rekomendasi yang diberikan KNKT itu sudah ditanggapi pihak yang dituju. Dari kurun 2020-2024, baru sekitar 25 persen rekomendasi berstatus close yang artinya rekomendasi telah dilaksanakan dan memberikan konfirmasi atau tanggapan kepada KNKT. Sekitar 75 persen pemangku kepentingan masih bersatus open yang berarti belum direspons pihak terkait.

Tanpa ketegasan pemerintah dan kesadaran tinggi dari pelaku usaha pelayaran, keselamatan penumpang akan menjadi taruhannya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase