Tragedi di Way Kanan dan Jejak Kelam Sabung Ayam

Sudah saatnya judi sabung ayam diberantas dengan serius. Sebab, aktivitas itu menimbulkan beragam dampak buruk, termasuk hilangnya nyawa dalam beberapa kasus.

20 Mar 2025 08:48 WIB · Nusantara

Oleh Redaksi

Kasus tewasnya tiga orang polisi saat menggerebek lokasi judi sabung ayam di Kabupaten Way Kanan, Lampung, mengagetkan banyak pihak. Di balik kejadian itu, ada sejarah panjang judi sabung ayam yang penuh jejak kelam.

Peristiwa itu terjadi pada Senin (17/3/2025) sekitar pukul 16.50 WIB. Saat itu, 17 polisi menggerebek sebuah lokasi judi sabung ayam di Kampung Karang Manik, Kecamatan Negara Batin, Way Kanan. Operasi ini dipimpin oleh Kepala Polsek Negara Batin, Inspektur Satu Lusiyanto.

Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Lampung Inspektur Jenderal (Pol) Helmy Santika menjelaskan, peristiwa tersebut berawal dari undangan yang beredar di media sosial Facebook dan WhatsApp terkait aktivitas sabung ayam di kawasan hutan Register 44 Way Kanan. Undangan itu diduga telah tersebar luas sejak beberapa hari sebelumnya.

Mobil jenazah yang mengangkut jenazah anggota polisi yang tertembak meninggalkan RS Bhayangkara Polda Lampung, pada Selasa (18/3/2025) siang.

Dari informasi tersebut, Kapolres Way Kanan kemudian menginstruksikan pembubaran aktivitas judi sabung ayam. Tim dari kepolisian yang dipimpin Lusiyanto pun menuju ke lokasi sabung ayam di kawasan hutan yang jauh dari permukiman penduduk. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam dari ibu kota kabupaten.

Setibanya di lokasi, polisi mengeluarkan tembakan peringatan untuk membubarkan aktivitas judi sabung ayam. Namun, mereka justru disambut dengan tembakan balasan. Tiga personel Polri, yaitu Inspektur Satu Lusiyanto, Brigadir Kepala Petrus Apriyanto, dan Brigadir Dua Ghalib Surya Ganta, mengalami luka tembak yang fatal. Mereka pun akhirnya meninggal dunia.

Usai insiden tersebut, jenazah tiga korban dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Lampung untuk dilakukan otopsi. Berdasarkan hasil otopsi terhadap jenazah Lusiyanto, ditemukan lubang bekas peluru dari arah depan pada dada bagian kanan. Proyektil peluru ditemukan menembus hingga di rongga dada sebelah kiri.

Pada jenazah Petrus, terdapat lubang bekas peluru dari arah depan di mata kiri, sedangkan proyektil peluru ditemukan di bagian tempurung kepala. Sementara itu, di jenazah Ghalib, terdapat lubang bekas peluru pada sisi kiri di bibir yang menembus rongga mulut. Proyektil peluru ditemukan di tempurung kepala bagian belakang dan tenggorokan.

Garis polisi terpasang di lokasi penembakan tiga polisi di Kabupaten Way Kanan, Lampung, pada Selasa (18/3/2025)

Dua anggota TNI menyerahkan diri

Setelah kejadian tersebut, dua orang anggota TNI yang diduga terlibat, yakni Kopka Basar dan Peltu Lubis, menyerahkan diri. Keduanya merupakan anggota Pos Rayon Militer Negara Batin yang berada di wilayah Kodim Way Kanan.

Hingga Rabu (19/3/2025) kemarin, keduanya masih berstatus sebagai saksi dan belum ditetapkan menjadi tersangka. Mereka pun masih menjalani pemeriksaan intensif di Markas Komando Datasemen Polisi Militer (Denpom) II/3 Lampung.

Panglima Komando Daerah Militer II/Sriwijaya, Mayor Jenderal TNI Ujang Darwis, menyatakan, penetapan sebagai tersangka memerlukan bukti-bukti yang kuat dan harus memenuhi prosedur yang berlaku. Meski begitu, Ujang berjanji menindak tegas keduanya jika mereka terbukti bersalah.

Dalam kasus ini, polisi telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk warga yang berada di lokasi kejadian serta belasan anggota Polres Way Kanan dan Polsek Nagara Batin yang ikut dalam penggerebekan. Dari hasil pemeriksaan, empat orang polisi yang menjadi saksi mengaku melihat anggota TNI melakukan penembakan. Selain itu, seorang warga juga mengaku melihat anggota TNI tersebut membawa senjata laras panjang di lokasi kejadian.

Peta Penembakan Terhadap Polisi di Way Kanan, Lampung

Dalam proses penyelidikan, tim menemukan senjata laras panjang kaliber 5,56 milimeter di semak belukar yang berjarak 5-6 kilometer dari lokasi judi sabung ayam. Pihak berwenang dari TNI kini memeriksa secara mendalam untuk memastikan apakah senjata tersebut adalah milik salah satu anggota TNI yang diduga terlibat.

Dari lokasi kejadian, polisi juga mengumpulkan total 13 selongsong peluru yang berasal dari berbagai jenis, yaitu 8 butir kaliber 5,56 mm, 3 butir kaliber 7,62 mm, dan 2 butir kaliber 9 mm. Peluru-peluru ini biasa digunakan oleh aparat keamanan, baik TNI maupun kepolisian. Namun, asal-usul dan pemiliknya masih dalam tahap pengujian dan analisis lebih lanjut oleh tim penyidik.

Praktik lama

Aktivitas sabung ayam memiliki sejarah yang panjang. Di Sumatera, praktik judi sabung ayam tercatat setidaknya sejak abad XVIII. Hal ini dikisahkan oleh sejarawan Inggris William Marsden dalam bukunya yang berjudul The History of Sumatra.

Sebelum penggerebekan sabung ayam di Way Kanan yang berujung pada tragedi meninggalnya tiga orang polisi, sejumlah kasus sabung ayam pernah diungkap aparat. Salah satunya adalah penggerebekan oleh polisi terhadap dua arena judi sabung ayam di Kecamatan Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, pada November 2024.

Tim Unit 4 Subdirektorat IV/Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap 26 orang yang terlibat judi sabung ayam di Bintara, Kota Bekasi, Selasa (21/4/2020). Para petugas menggunakan alat pelindung diri mengantisipasi penularan Covid-19.

Sebelumnya, pada Mei 2023, juga dilakukan penggerebekan perjudian sabung ayam di Desa Bumiharjo, Kecamatan Batanghari, Lampung Timur. Kasus-kasus judi sabung ayam pun tak hanya ditemukan di Lampung, tetapi juga berbagai tempat lain.

Pada 2013, misalnya, sekitar 90 orang ditangkap saat asyik berjudi sabung ayam di kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Dari lokasi penangkapan, polisi menyita 23 ayam jago dan uang taruhan dengan total nilai Rp 5,3 juta.

Kegiatan judi sabung ayam ini ternyata rutin diselenggarakan setiap hari Sabtu di lokasi tersebut. Besaran taruhan bervariasi, antara Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per laga dan biaya masuk bagi penonton sebesar Rp 5.000 per orang.

Quote

Di Sumatera, praktik judi sabung ayam tercatat setidaknya sejak abad XVIII. Hal ini dikisahkan oleh sejarawan Inggris William Marsden dalam bukunya yang berjudul The History of Sumatra

Petugas membawa peti jenazah salah satu anggota polisi yang tewas tertembak, Selasa (18/3/2025). Pelepasan dilakukan di RS Bhayangkara Polda Lampung.

Di perbatasan Lampung dan Sumatera Selatan, pada tahun 2010, judi sabung ayam bahkan berujung pada bentrokan antarkampung. Insiden tersebut dipicu ketika seorang warga yang biasa menyabung ayam ditegur oleh warga desa tetangga.

Karena tidak terima, pelaku lalu membacok orang yang menegurnya tersebut. Pelaku pembacokan itu kemudian diamuk massa. Sesudahnya, warga saling serang menggunakan batu dan senjata tajam. Akibat peristiwa itu, dua warga tewas dan puluhan orang terluka.

Meski telah terbukti menimbulkan dampak negatif dan berkali-kali digerebek oleh aparat, aktivitas sabung ayam ternyata terus terjadi. Fenomana ini seharusnya ditangani dengan serius agar tak terus menimbulkan dampak buruk, bukan dimaklumi apalagi dibekingi.

Catatan: Ringkasan ini disusun dari sejumlah artikel yang telah terbit di Kompas.id. Artikel disusun dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif. Namun, sebelum diterbitkan, artikel melewati proses verifikasi dan penyuntingan oleh editor Kompas. Berikut sejumlah artikel yang menjadi sumber:


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari