Penumpang kapal laut memerlukan kepastian keandalan kapal dan jaminan keselamatan pelayarannya.
19 Sep 2026 07:00 WIB · Tajuk Rencana
DOK KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/1c0563f7a283b81d38774a49ab2c115e-cropped_image.jpg)
Ratusan orang menjadi korban tragedi terbaliknya KMP Virgo Transport 8 di Laut Jawa. Pertanggungjawaban atas kecelakaan laut itu diperlukan.
Sepanjang 2026 ini kita menyaksikan kecelakaan laut beruntun. Berdasarkan riset Litbang Kompas yang dipublikasikan Kompas.id 16 September 2026, pada periode Januari-Agustus 2026, sedikitnya 601 operasi pencarian dan pertolongan (SAR) digelar terkait kecelakaan kapal laut. Sebagaimana dikemukakan Kepala Basarnas Mohammad Syafii, kecelakaan laut tersebut menyebabkan 3.607 korban dengan 239 korban meninggal. Selain itu, masih ada 203 orang yang dinyatakan hilang.
Memasuki September 2026, terjadi lagi kecelakaan laut, yaitu terbaliknya Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 yang melayani rute Surabaya (Jawa Timur)-Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Kapal yang mengangkut 243 penumpang dan awak kapal itu terbalik di perairan Masalembu, Laut Jawa, Minggu (13/6/2026) dini hari. Hingga Jumat (18/9/2026), tim SAR telah mengevakuasi 114 penumpang dan awak kapal. Sebanyak 108 orang selamat dan 6 meninggal. Operasi SAR sekarang difokuskan pada 129 orang yang belum jelas nasibnya.
Kita berempati kepada keluarga yang menanti kabar dengan harap-harap cemas atas keluarganya yang belum ditemukan. Emosi yang muncul dari keluarga dapat kita maklumi. Kita berharap pemerintah pusat dan pemerintah daerah menunjukkan rasa empatinya kepada keluarga dan memberi kompensasi atas korban dan keluarganya.
Tak kurang dari Presiden Prabowo Subianto menanggapi kecelakaan laut tersebut. Pernyataan empati disampaikannya saat peresmian LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai, Jakarta, Rabu (16/9/2026). Presiden Prabowo menyampaikan belasungkawa dan doa bagi keluarga yang terdampak insiden tersebut. Presiden Prabowo mengatakan, pemerintah akan menyelidiki penyebab insiden tersebut sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat upaya mitigasi sekaligus meningkatkan keselamatan pelayaran.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyerahkan sepenuhnya investigasi kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Sambil menunggu hasil investigasi KNKT, Tim Investigasi Kompas yang dipublikasikan Harian Kompas (Kompas.id) 18 September 2026 menemukan fakta, KMP Virgo Transport 8 awalnya dirancang untuk pelayaran perairan dekat pantai di Jepang. Penggunaan KMP Virgo untuk mengarungi laut terbuka di rute Surabaya-Banjarmasin diduga menambah risiko kecelakaan.
Pelacakan digital Tim Investigasi Kompas menemukan, KMP Virgo adalah kapal bekas asal Jepang yang sebelumnya bernama Feri Kurushima. Sejak dibangun 1987, kapal jenis roll-on/roll-off itu digunakan melayani rute Kokura-Matsuyama yang berjarak sekitar 180 kilometer. Adapun KMP Virgo melayani rute Surabaya-Banjarmasin sejauh sekitar 490 kilometer. Temuan lain tak kalah mengejutkan, Feri Kurushima ternyata memiliki kembaran, yakni Feri Hayatomo 2. Feri Hayatomo 2 telah dicacah menjadi besi tua di Chittagong, Bangladesh, September 2024.
Temuan-temuan ini dapat melengkapi hasil investigasi resmi KNKT yang menjadi acuan kita. Hasil investigasi tersebut juga memastikan siapa yang mesti bertanggung jawab secara berjenjang sejak pengadaan kapal hingga terjadinya kecelakaan laut.
Belajar dari tragedi KMP Virgo Transport 8, kita juga mendorong pemerintah untuk menempatkan keselamatan pelayaran sebagai kemutlakan karena transportasi laut menjadi andalan masyarakat ketika moda transportasi udara mahal. Oleh karena itu, penumpang kapal laut memerlukan kepastian keandalan kapal dan jaminan keselamatan pelayarannya.
Penulis:
RedaksiEditor:
Albertus Subur Tjahjono, Andreas MaryotoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul