Transisi Artifisial, Rahasia Kebangkitan Manchester City

Bagaimana City bisa kembali ke persaingan gelar juara dengan pendekatan transisi artifisial? Guardiola menciptakan serangan balik tanpa harus merebut bola lawan.

10 Nov 2025 17:33 WIB · Olahraga

AP

Oleh Kelvin Hianusa

Manajer Manchester City Pep Guardiola menunjukkan dua sisi wajah dalam rentang beberapa bulan. Di awal musim, dia menegaskan bahwa timnya sedang dalam masa transisi dan pembangunan ulang. Namun, saat ini sang manajer mulai rajin mengirimkan perang psikologis dalam konteks perburuan gelar.

Seusai kemenangan 3-0 City atas Liverpool, Senin (10/11/2025), buktinya. Guardiola berkata, Liga Inggris tidak dimenangi di November. Dia seolah mengingatkan pemuncak klasemen Arsenal, perjalanan juara masih panjang. City yang terus berkembang setiap pekan siap menerkam dari belakang.

Quote

Kami merasa seperti telah kembali dalam banyak hal. Tim ini memiliki semangat yang baik. Kami punya energi yang hilang di musim lalu, entah kenapa.

Kepercayaan diri Guardiola muncul setelah sebelas pekan berlalu, terutama berkat kemenangan telak dan penampilan dominan atas tim juara bertahan di Stadion Etihad. City, yang sudah kalah tiga kali di awal musim, sekarang menempati peringkat kedua dan hanya terpaut empat poin dari Arsenal.

”Kami merasa seperti telah kembali dalam banyak hal. Tim ini memiliki semangat yang baik. Kami punya energi yang hilang di musim lalu, entah kenapa. Musim lalu, kami kehilangan pemain. Kami mencoba saling mendorong, tetapi tetap tidak mampu melakukannya,” tutur Guardiola.

Wajar jika Guardiola mulai percaya diri. Dicermati dari dua laga terakhir, versus Bournemouth dan Liverpool, City tampak memiliki senjata andalan baru musim ini. Senjata itu bukan individu pemain, melainkan sistem permainan yang membuat tim-tim lawan kebingungan.

Biasanya, momen transisi serangan balik didapatkan setelah salah satu tim bisa merebut bola dari tim lawan. Itu adalah cara organik menyerang balik. City menggunakan cara lain yang disebut transisi artifisial. Mereka menciptakan sendiri situasi transisi saat dalam penguasaan bola.

Penyerang sayap Manchester City Jeremy Doku (kanan) merayakan gol ke gawang Liverpool dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Etihad, Manchester Inggris, Minggu (9/11/2025). Doku bermain apik dalam pertandingan ke-100 bersama City.

Caranya, City mengundang tim lawan untuk menekan tinggi ke separuh lapangan mereka. Lalu, mereka menumpuk banyak pemain di lini tengah untuk menambah opsi umpan. Saat lawan fokus menjaga area tengah, City biasanya melakukan kombinasi umpan pendek cepat yang diakhiri umpan panjang.

Situasi transisi pun terjadi karena bola berpindah arah ke sisi lain atau langsung ke pertahanan lawan. Tim lawan tidak siap karena banyak pemain yang masih berada di separuh pertahanan City. Begitulah cara Phil Foden dan rekan-rekan menghukum Bournemouth maupun Liverpool.

Bukan tanpa alasan, Liverpool tidak berkembang dan mengalami kekalahan terbesar musim ini di Etihad. Padahal, Rabu lalu, ”Si Merah” baru saja membungkam tim raksasa Spanyol, Real Madrid, dengan mengandalkan tekanan super-tinggi nan agresif saat tanpa penguasaan bola.

Pelatih Liverpool Arne Slot berkata, keunggulan mereka dalam menekan hingga pertahanan lawan tidak berfungsi. Itu karena kekalahan di lini tengah. ”Kami selalu kekurangan satu atau dua pemain di lini tengah karena (Jeremy) Doku dan (Nico) O’Reilly memberikan banyak masalah,” ucapnya.

Doku dan O’Reilly yang bermain di sayap kiri City merupakan kartu truf Guardiola untuk menciptakan transisi artifisial. Mereka bergantian masuk ke area tengah untuk memberikan opsi. Mereka membantu para pemain gelandang, yaitu Nico Gonzalez, Bernardo Silva, Foden, dan Rayan Cherki.

Lihat saja gol pembuka yang diciptakan penyerang Erling Haaland. Rangkaian serangan gol itu dimulai dari pertahanan City. Gonzalez dikepung para pemain Liverpool saat membawa bola. Namun, Doku, Foden, dan Cherki memberikan opsi umpan dengan jarak 3-5 meter.

Awal mula rangkaian serangan Manchester City sebelum mencetak gol pembuka ke gawang Liverpool

Hasilnya, Gonzalez terbebas berkat umpan pendek satu-dua dengan Cherki. Lalu, dia memberikan umpan kepada bek sayap Matheus Nunes yang bergerak maju di sisi kanan. City sukses memindahkan bola ke separuh permainan lawan. Tidak lama berselang, Nunes mengumpan silang ke kotak penalti dan disambut sundulan Haaland ke tiang jauh.

Di gol ketiga City, transisi artifsial serupa kembali tercipta. Silva dan Savinho berupaya melepas tekanan dari sisi sayap kanan pertahanan. Gonzalez membuka ruang dan mendapatkan bola. Lagi-lagi, Gonzalez berperan penting layaknya quarterback di sepak bola Amerika dengan memindahkan serangan ke sisi kiri.

Bola diterima O’Reilly di sisi kiri. Pertahanan Liverpool tampak sepi karena banyak pemain mereka masih terjebak di sisi kanan lapangan lawan. O’Reilly kemudian mengumpan kepada Doku yang jadi eksekutor lewat tembakan jarak jauh. Senjata Liverpool dalam menekan tinggi berbalik jadi petaka.

Awal mula rangkaian serangan Manchester City saat mencetak gol ketiga ke gawang Liverpool.

Di laga versus Bournemouth, sepasang gol Haaland berasal dari transisi yang nyaris sama. Bedanya, City memanfaatkan jebakan offside lawan untuk memberikan umpan terobosan langsung. ”Kami bisa bermain dengan banyak cara saat ini. Itu bagus bagi kami, tetapi tidak untuk tim lawan. Mereka tidak tahu apa yang akan kami lakukan,” ujar Guardiola.

Tim-tim lawan City menjadi serba salah. Mereka akan terkena senjata transisi artifisial ketika menekan tinggi. Namun, jika memilih untuk bertahan dengan blok rendah, mereka harus menghadapi presensi ”Si Robot” Haaland di kotak penalti. Dua opsi itu sama-sama merugikan.

Adapun di musim-musim sebelumnya, City lebih mengandalkan gelandang jangkar Rodri sebagai penyambung serangan. Gelandang lain lebih banyak berfokus mencari posisi di sepertiga akhir lawan. Tujuannya adalah memukul mundur tekanan lawan. Pendekatan itu sangat berbeda dengan musim ini.

Guardiola tak terlalu terobsesi lagi dengan mengontrol permainan lewat penguasaan bola. Dia membangun serangan dari bawah untuk membuka ruang di depan, bukan sekadar menguasai permainan. Terbukti, catatan penguasaan bola City turun dari peringkat teratas musim lalu (61,6 persen) jadi urutan keempat di musim ini (56,8 persen).

Di balik kemunculan pendekatan baru itu, salah satu yang paling penting adalah peran Gonzalez. Pemain 23 tahun itu mulai menjadi sosok krusial untuk City di musim keduanya, mampu mengisi lubang yang ditinggalkan sang gelandang veteran Rodri.

Menariknya, seiring kembalinya Rodri dari cedera dalam waktu dekat, City akan punya dua gelandang jangkar kelas dunia sekaligus. Jadi, waspadalah para pesaing City sebab mereka telah kembali dan semakin berbahaya di musim ini. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul