Transjakarta melebarkan layanan Transjabodetabek rute PIK 2 ke Blok M mulai Kamis (22/5/2025).
22 Mei 2025 12:37 WIB · Metro
TANGERANG, KOMPAS — Bus-bus Transjakarta mulai melayani rute PIK 2 ke Blok M sejak Kamis (22/5/2025). Perluasan layanan ini untuk meningkatkan koneksi sekaligus mengikis kesan kawasan eksklusif.
Gubernur Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Banten Dimyati Natakusumah meresmikan perluasan layanan dengan nama Transjabodetabek itu di Halte Transjabodetabek PIK 2, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Kamis pagi. Sebanyak 20 bus akan hilir mudik melayani penumpang dengan 24 titik pemberhentian (11 halte di Jakarta dan 13 halte di Banten) sepanjang 72,8 kilometer.
Waktu tempuh diperkirakan mencapai 165 menit hingga 180 menit pada jam sibuk. Adapun tarifnya Rp 2.000 pada jam sibuk (pukul 05.00 WIB sampai pukul 07.00 WIB) dan Rp 3.500 di luar jam sibuk (setelah pukul 07.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB).
Salah satu warga PIK 2, Wawan (34), jadi mempunyai alternatif transportasi selain sepeda motor. Ia juga bisa menghemat tenaga. Sebab, dalam kondisi macet harus menempuh perjalanan lebih dari 2 jam untuk sampai ke pusat kota. ”Ongkosnya terjangkau juga, kan. Kalau naik angkutan online, lama-lama boncos,” katanya.
Sama halnya dengan Shella (27), pekerja di PIK 2. Rute baru ini jadi alternatif untuk pergi pulang dengan tarif yang ramah di kantong. ”Tidak perlu capek-capek di jalanan. Apalagi pas jalanan macet,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/22/572d3a18-561c-3518-bff0-c80bd92f384b_heic.jpg)
PIK 2 ke Blok M menyusul layanan serupa yang terlebih dulu melaju, yakni Blok M ke Alam Sutera dan Cawang ke Vida serta mnambah pilihan rute di kawasan yang sama, yaitu PIK ke Balai Kota dan Jabodetabek Residence Connexion PIK 2 dan Sedayu City Kelapa Gading.
Pramono yakin PIK 2 ke Blok M akan jadi salah satu trayek primadona. Sebab, pengelola kawasan itu mengeklaim jumlah wisatawan sampai April 2025 sudah mencapai 1,4 juta orang.
”Mobilitas ke PIK sangat tinggi. Maka, kami putuskan buka trayek ini, PIK 2 ke Blok M. Jadi, suatu hal baru supaya warga dari mana pun bisa melihat (PIK 2), salah satu masa depan daerah yang tertata,” ucap politikus PDI Perjuangan ini.
Keyakinan tersebut tambah kuat lantaran pengelola PIK 2 menyediakan empat layanan shuttle feeder PIK 2. Bus-bus pengumpan ini beroperasi mulai pukul 05.00 hingga pukul 21.00.
Di sisi lain, Pramono merujuk animo warga di dua trayek yang lebih dulu meluncur. Blok M ke Alam Sutera telah mengangkut hingga 4.500 penumpang per hari, terutama pada akhir pekan.
Cawang ke Vida mengekor. Rerata sudah 1.500 pengguna setiap hari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/22/434fb44d-c299-3d9b-ae62-3def587a30a9_heic.jpg)
Dimyati dalam kesempatan yang sama berharap Transjabodetabek menambah lagi rute ke wilayah lain di Banten. Jika memungkinkan, bisa terhubung ke pusat wilayah di Serang.
”Banten ini penyangga, kaki yang menguatkan Jakarta. Maka, konektivitas antara Banten dan Jakarta merupakan sebuah kesempurnaan agar kendaraan pribadi berkurang, beban jalan berkurang, dan kemacetan berkurang,” katanya.
Ia juga meminta warga untuk memanfaatkan layanan angkutan umum yang ekonomis tersebut. Warga bisa pergi pulang dari Banten ke Jakarta dan sebaliknya dengan biaya terjangkau.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/22/cc0c1c34-b618-39d2-9154-17ab9eacc782_heic.jpg)
Transjabodetabek merupakan salah satu perluasan layanan Transjakarta yang telah menjangkau 10 rute. Pada tahun 2025 ini, cakupan tersebut bertambah seiring Pemerintah Provinsi Jakarta mengusulkan enam rute baru, yaitu PIK 2-Pluit, PIK 2-Jembatan Baru, Kota Wisata-Cawang via Jatiasih, Alam Sutera-Blok M, Binong-Grogol, dan Jatijajar-Kampung Rambutan.
Usulan itu tak hanya soal perluasan. Akan tetapi, juga pemerataan layanan ke wilayah penyangga.
Studi Integrasi Transportasi Publik Jabodetabek pada tahun 2024 oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia dan UK Partnering for Accelerated Climate Transitions menunjukkan, pengembangan transportasi umum di Jabodetabek tidak merata. Sebab, tergantung pada prioritas dan kapasitas keuangan tiap-tiap daerah.
Tak heran, Jakarta melesat jauh meninggalkan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Jakarta punya Transjakarta dan mikrotrans atau kerap disebut Jaklingko yang cakupannya lebih dari 90 persen.
Warga juga punya moda pilihan lain, kereta rel listrik (KRL), MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan LRT Jabodebek. Sementara wilayah tetangga lebih banyak bertumpu pada KRL.
Selain itu, tingkat layanan, misalnya, perbedaan tarif transportasi umum antarwilayah turut membuat adanya rute perjalanan yang tidak menarik bagi masyarakat. Hal ini ditambah dengan tidak terpadunya titik transit karena wewenang parsial oleh tiap pemangku kepentingan dan tidak adanya kewajiban untuk berkoordinasi antardaerah.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto