Trump Bakar Kemarahan Palestina dengan Rencana Pengosongan Gaza

Bagi warga Palestina, setiap upaya memindahkan mereka dari Gaza akan membangkitkan kenangan sejarah kelam Nakba tahun 1948.

26 Jan 2025 18:32 WIB · Internasional

Oleh Irene Sarwindaningrum

WASHINGTON, MINGGU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan rencana mengosongkan Gaza dengan merelokasi warga Palestina dari sana. Ia ingin Mesir dan Jordania menerima warga Palestina yang dipindahkan itu.

Menurut Trump, rencana tersebut merupakan bagian dari upaya AS menciptakan perdamaian di Timur Tengah. Hal ini ia nyatakan dalam sesi tanya jawab selama 20 menit dengan wartawan di pesawat kepresidenan AS, Air Force One, Sabtu (25/1/2025) waktu setempat atau Minggu (26/1/2025) pagi.

Pernyataan Trump langsung disambut penolakan dan kecaman oleh kelompok-kelompok perjuangan Palestina di Jalur Gaza. Kelompok Jihad Islam menyebut usulan Trump sebagai ”kejahatan perang”.

Sambil menyatakan gagasan Trump sebagai ”hal yang dikecam keras”, Jihad Islam mengatakan, ”Proposal ini sejalan dengan kerangka kerja mendorong kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan dengan memaksa orang keluar dari tanah air mereka.”

Hamas juga menolak keras. ”Sama seperti yang telah dilakukan dengan menggagalkan semua upaya pengusiran paksa dan menempatkan tanah pengganti selama puluhan tahun, rakyat kami juga akan menggagalkan proyek semacam itu,” kata Bassem Naim, anggota Biro Politik Hamas.

Hamas fighters escort a Red Cross vehicle to collect Israeli hostages released after a ceasefire agreement between Israel and Hamas took effect, in Gaza City Sunday, Jan. 19, 2025. (AP Photo/Abed Hajjar)

Rencana Trump mencederai perjuangan rakyat Palestina. Selama ini, warga Palestina dan komunitas Arab sangat menentang relokasi warga Palestina dari Gaza.

Sikap mereka adalah menolak relokasi, dengan alasan apa pun. Sikap tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap pendudukan Israel.

Orangtua di Gaza akan mewariskan kunci rumah sebagai simbol bahwa keturunannya harus mempertahankan tanah mereka, bahkan jika rumah di atasnya sudah rata dengan tanah.

Pejabat dan warga Palestina juga menyematkan kunci sebagai simbol perjuangan itu. Bagi mereka, tanah itu merupakan tanah leluhur yang harus mereka pertahankan dan menjadi bagian penting dari identitas mereka.

Hal ini, salah satunya, diungkapkan Penasihat Presiden Palestina Mahmoud Sidqi al-Habbash dalam wawancara khusus dengan harian Kompas di Jakarta, 12 Agustus 2024.

Dalam pernyataannya, Sabtu, Trump menggambarkan Gaza sebagai situs penghancuran setelah perang Hamas-Israel. Karena itu, menurut dia, relokasi dan pembangunan perumahan untuk warga Palestina lebih baik dilakukan di tempat lain agar mereka dapat hidup dengan damai.

President Donald Trump speaks to reporters aboard Air Force One as he travels from Las Vegas to Miami on Saturday, Jan. 25, 2025. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

”Saat ini, tempat itu benar-benar seperti lokasi penghancuran, hampir semuanya dihancurkan dan orang-orang sekarat di sana,” kata Trump.

”Jadi, saya lebih suka terlibat dengan beberapa negara Arab dan membangun perumahan di lokasi lain tempat mereka mungkin dapat hidup dengan damai untuk perubahan,” ujar Trump menambahkan.

Trump mengatakan, ia telah berbicara dengan Raja Jordania Abdullah II tentang masalah tersebut. Pembicaraan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dijadwalkan berlangsung Minggu waktu setempat atau Senin waktu Indonesia.

”Anda berbicara tentang sekitar 1,5 juta orang, dan kita bersihkan saja seluruh tempat itu. Selama berabad-abad telah terjadi banyak konflik di tempat itu. Dan saya tidak tahu, sesuatu harus terjadi,” kata Trump.

Quote

Proposal ini sejalan dengan kerangka kerja mendorong kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan dengan memaksa orang keluar dari tanah air mereka. (Jihad Islam)

Trump memuji Jordania karena telah bersedia menerima pengungsi Palestina pada konflik-konflik sebelumnya.

”Saya mengatakan kepada Raja Jordania, saya ingin Anda menerima lebih banyak, karena saya sedang melihat seluruh Jalur Gaza sekarang, dan itu kacau balau. Benar-benar kacau,” ujar Trump.

Raja Jordania Abdullah II (kiri) berkunjung ke gudang Organisasi Amal Hasyimiyah Jordania di Amman, Jordania, 14 Januari 2025, untuk memeriksa persiapan konvoi bantuan ke-140 ke Gaza sejak perang 7 Oktober 2023.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saat ini Jordania menampung sekitar 2,3 juta pengungsi Palestina yang terdaftar.

Adapun Mesir sebelumnya telah memperingatkan bahwa pemindahan paksa warga Palestina dari Gaza ke gurun Sinai dapat membahayakan perjanjian damai yang ditandatangani Mesir dengan Israel pada tahun 1979.

Bangkitkan kenangan Nakba

Bagi warga Palestina, setiap upaya untuk memindahkan mereka dari Gaza akan membangkitkan kenangan sejarah kelam atas Nakba atau malapetaka. Nakba adalah pengusiran massal warga Palestina sejak pembentukan Israel tahun 1948.

Sebagian besar dari 2,4 juta penduduk di Gaza sekarang adalah pengungsi Palestina atau keturunan mereka.

Selama perang Israel-Hamas yang telah berlangsung selama 15 bulan terakhir, mereka harus mengungsi. Banyak dari mereka harus mengungsi berkali-kali di wilayah enklave Gaza akibat perang yang dimulai dengan serangan Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023.

A displaced Palestinian boy sits atop family belongings as he waits along the Salah al-Din road in Nuseirat to cross to the northern part of the Gaza Strip on January 26, 2025. Israel said on January 25 it would block the return of displaced Palestinians to their homes in northern Gaza until civilian woman hostage Arbel Yehud is released. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Trump mengatakan, pemindahan penduduk Gaza dapat dilakukan untuk sementara atau jangka panjang.

Israel telah membantah memiliki rencana untuk memaksa warga Gaza pindah. Namun, beberapa anggota parlemen dari sayap ekstrem kanan pemerintah Israel telah menyatakan secara terbuka mendukung gagasan warga Gaza meninggalkan wilayah Palestina secara massal.

”Ide untuk membantu mereka menemukan tempat lain guna memulai kehidupan yang lebih baik adalah ide yang bagus. Mereka akan mampu membangun kehidupan baru yang lebih baik di tempat lain,” kata Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich dalam sebuah pernyataan, Sabtu.

Sebelumnya, pemerintahan Joe Biden menentang pemindahan penduduk Gaza ke luar daerah kantong itu. Mereka menganjurkan warga Gaza kembali ke rumah mereka setelah tercapainya perdamaian dan solusi dua negara.

Properti di Gaza?

Setelah dilantik, Trump mengatakan bahwa Gaza benar-benar harus dibangun kembali dengan cara yang berbeda.

”Gaza menarik. Lokasinya fenomenal, di tepi laut. Cuaca terbaik, semuanya baik-baik. Rasanya, ada beberapa hal indah yang bisa dilakukan dengannya, ini sangat menarik,” kata Trump.

Perusahaan real estat milik Trump telah banyak mengembangkan properti di kawasan Timur Tengah, seperti di Dubai dan Riyadh.

Warga Gaza berjubel di sebuah area di Nuseirat dalam perjalanan menuju wilayah utara Jalur Gaza, Minggu (26/1/2025).

Pada bulan Oktober 2024, selama kampanye presidennya, Trump mengatakan bahwa Gaza berpotensi untuk dikembangkan menjadi lebih baik daripada Monako jika dibangun kembali dengan cara yang benar.

Pada Februari 2024, menantu Trump yang pernah bekerja di Gedung Putih, Jared Kushner, juga menyarankan agar Israel mengosongkan Gaza dari warga sipil untuk membuka potensi properti tepi laut.

Isu relokasi ke Indonesia

Wacana Trump untuk merelokasi warga Palestina dari Gaza sudah muncul sejak sebelum ia dilantik sebagai presiden AS. Bahkan, Indonesia sempat disebut tengah dibahas sebagai lokasi tujuan relokasi.

Dikutip dari media AS, NBC, 19 Januari 2025, seorang pejabat pemerintahan transisi Trump mengatakan, terdapat rencana relokasi sekitar 2 juta warga Palestina. Salah satu lokasi relokasi yang sudah dibahas adalah Indonesia.

”Pertanyaan tentang bagaimana membangun kembali Gaza masih belum terjawab dan juga ke mana sekitar 2 juta warga Palestina dapat direlokasi sementara ini. Indonesia, misalnya, adalah salah satu lokasi yang sedang dibahas untuk beberapa dari mereka,” kata pejabat transisi yang tak disebut identitasnya tersebut.

A young man warms himself in front of a bonfire as displaced Palestinians wait along the Salah al-Din road in Nuseirat to cross to the northern part of the Gaza Strip on January 26, 2025. Israel said on January 25 it would block the return of displaced Palestinians to their homes in northern Gaza until civilian woman hostage Arbel Yehud is released. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Terkait pemberitaan itu, Kementerian Luar Negeri, Selasa (21/1/2025), memberikan pernyataan resmi bahwa Pemerintah RI tidak pernah memperoleh informasi apa pun, dari siapa pun, ataupun rencana apa pun terkait relokasi sebagian dari 2 juta penduduk Gaza ke Indonesia sebagai salah satu bagian dari upaya rekonstruksi pascakonflik.

Indonesia tetap tegas dengan posisi bahwa segala upaya untuk memindahkan warga Gaza tidak dapat diterima. Sebab, upaya untuk mengurangi penduduk Gaza hanya akan mempertahankan pendudukan ilegal Israel atas wilayah Palestina dan sejalan dengan strategi yang lebih besar yang bertujuan untuk mengusir orang Palestina dari Gaza.

Menurut pernyataan tersebut, gencatan senjata di Gaza harus menjadi momentum untuk memulai dialog dan negosiasi guna mewujudkan solusi dua negara, sesuai hukum internasional dan parameter internasional yang telah disepakati.

Tembaki pengungsi pulang

Di Gaza, Israel memblokir para pengungsi Gaza di Koridor Netzarim di jalur pengungsi Palestina untuk pulang ke wilayah utara. Tank dan kendaraan lapis baja Israel dikerahkan menutup koridor tersebut.

Tentara Israel juga melepaskan tembakan saat rombongan pengungsi bergerak mendekat. Tembakan itu memicu panik sehingga rombongan pengungsi berdesakan dan beberapa terinjak-injak.

Petugas medis mengatakan, satu orang di kerumunan itu tewas dan dua lainnya terluka oleh tembakan yang diduga dilakukan Israel itu.

Militer Israel mengatakan, pasukannya hanya melepaskan tembakan peringatan di dekat rombongan pengungsi yang menunjukkan tanda-tanda ancaman. Mereka mengklaim tak sadar ada yang terkena.

Displaced Palestinians wait along the Salah al-Din road in Nuseirat to cross to the northern part of the Gaza Strip on January 26, 2025. Israel said on January 25 it would block the return of displaced Palestinians to their homes in northern Gaza until civilian woman hostage Arbel Yehud is released. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Pejabat Palestina mengatakan, sekitar 650.000 orang yang mengungsi sedang menunggu untuk kembali ke utara mulai hari Minggu. Mereka terhenti di dekat Koridor Netzarim.

Pemblokiran pengungsi itu terjadi setelah Arbel Yehud (29), salah satu sandera warga sipil Israel yang seharusnya ikut dibebaskan pada Sabtu, tak ditemukan dalam rombongan yang dibebaskan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan warga Palestina di Gaza tidak akan diizinkan untuk menyeberang kembali ke wilayah utara sampai masalah itu diselesaikan.

Seorang sumber Hamas mengatakan, hal itu terjadi karena masalah teknis. Yehud telah dikonfirmasi masih hidup dan akan dibebaskan dalam pertukaran sandera tahap ketiga yang direncanakan berlaku pada Sabtu pekan depan.

Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, mengatakan, warga Gaza tidak diizinkan mendekati Koridor Netzarim sampai ada pengumuman koridor itu dibuka. ”Instruksi ini akan tetap berlaku sampai pemberitahuan lebih lanjut dan sampai Hamas memenuhi komitmennya,” katanya.

Salah satu pengungsi Palestina, Rafiqa Subh, telah lama menunggu untuk kembali ke Beit Lahia. ”Kami ingin kembali meskipun rumah-rumah kami hancur. Kami sangat merindukan rumah-rumah kami,” ujarnya.

Quote

Kami ingin kembali meskipun rumah-rumah kami hancur.

Ribuan pengungsi berkumpul dengan barang-barang mereka di sepanjang jalan pantai. Mereka menolak kembali ke pengungsian. ”Saya tidak akan kembali ke tenda,” kata Zaki Kashef (26) yang menunggu di jalan pantai untuk kembali ke utara.

Selama setahun terakhir, ia tinggal di tenda pengungsian di Deir Al-Balah. ”Di mana para mediator? Mengapa mereka tidak bisa memaksa Israel untuk menghormati kesepakatan itu?” katanya saat Israel memblokir jalan pulang mereka.

Pemerintah Israel telah mengancam akan melanjutkan perang melawan Hamas di Gaza jika sandera yang tersisa tidak dibebaskan.

Empat perempuan tentara Israel (tengah) dikawal para petempur Hamas menuju kendaraan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) dalam pertukaran tawanan di Kota Gaza, Sabtu (25/1/2025).

Kirim bom ke Israel

Selain melontarkan gagasan pengosongan Gaza dari warga Palestina, Trump juga telah menjanjikan dukungan yang tak tergoyahkan untuk Israel, tanpa memaparkan rincian terkait kebijakan Timur Tengah-nya. Trump juga mengatakan bahwa ia telah mencabut larangan pengiriman bom seberat 2.000 pound (sekitar 1 ton) ke Israel.

Trump mengatakan mencabut larangan itu karena Israel telah membayar pembeliannya dan telah menunggu pengiriman. ”Mereka telah menunggunya untuk waktu yang lama. Karena mereka membelinya,” katanya.

Pemerintahan Joe Biden mencekal pengiriman bom itu di tengah besarnya tekanan terkait besarnya jumlah korban sipil atas serangan Israel di Gaza. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi