Baru sehari di Arab Saudi, Trump sudah mengumumkan banyak kejutan. Sanksi kepada Suriah dicabut, komitmen investasi 600 miliar dollar AS, dan penjualan senjata.
14 Mei 2025 12:30 WIB · Internasional
RIYADH, RABU — Atas desakan pemimpin Arab Saudi dan Turki, Donald Trump menemui orang yang pernah diburu aparat Amerika Serikat, Ahmed Al-Sharaa. Mereka membahas pencabutan sanksi Suriah dan pengakuan terhadap Israel.
Presiden AS itu menemui Al Sharaa, yang kini jadi Presiden Suriah, Rabu (14/5/2025), di Riyadh, Arab Saudi. Pertemuan itu rangkaian kegiatan dalam lawatan Trump ke Timur Tengah.
Bertahun-tahun lalu, tentara pendudukan AS di Irak menangkap dan menahan Al-Sharaa. Sebab, ia memimpin salah satu kelompok perlawanan terhadap pendudukan AS.
Lepas dari tahanan di Irak, Al-Sharaa bergabung dengan Al-Qaeda cabang Irak dan Suriah. Belakangan, kelompok itu diubah Al-Sharaa menjadi Hayat Tahrir al-Sham (HTS).
Sebagai pemimpin HTS, Al-Sharaa diburu AS dengan hadiah 10 juta dollar AS bagi yang bisa membantu penangkapannya. Desember 2024, setelah HTS menggulingkan Bashar al-Assad dari kursi Presiden Suriah, AS mencabut pengumuman perburuan Al-Sharaa.
Menurut Trump, pertemuan itu atas dorongan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Kecuali Erdogan yang ikut lewat telekonferensi video, tiga orang itu bertemu selama 33 menit di Riyadh. Dalam pertemuan itu, Trump meminta Suriah mengakui Israel.
Hasil lain, AS akan mencabut sanksi ke Suriah. "Itu tidak akan mudah, jadi itu memberi mereka peluang yang bagus dan kuat," kata Trump soal pencabutan sanksi.
Trump dijadwalkan bertemu pemimpin dan perwakilan dari enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk, yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Oman, Rabu (14/5/2025) di Riyadh. Setelah itu, ia akan melanjutkan perjalanan ke Qatar.
Berakhirnya sanksi AS akan menjadi dorongan besar bagi Suriah. Menurut Trump, sanksi itu sudah efektif, tetapi sekarang saatnya Suriah melangkah maju.
Pencabutan sanksi dari AS itu dimungkinkan karena undang-undang sanksi yang disahkan Kongres AS mencakup ketentuan yang memungkinkan presiden menangguhkannya. Itu jika presiden menganggapnya sesuai dengan kepentingan keamanan nasional AS. Dalam UU itu termasuk paket sanksi keras terhadap Suriah tahun 2019. Sebelum AS, Uni Eropa, Inggris, dan Kanada sudah terlebih dahulu melonggarkan sanksi atas Suriah.
Langkah Trump merupakan perubahan besar dalam kebijakan luar negeri AS. Sejak 1979, AS memandang Suriah sebagai negara pendukung terorisme. AS menjatuhkan sanksi kepada Suriah pada 2004 dan melanjutkannya setelah perang saudara di Suriah pecah pada 2011.
Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shibani di akun X menuliskan, langkah AS menandai awal baru dalam jalur rekonstruksi Suriah. Menghapus sanksi AS yang memutus hubungan Suriah dengan sistem keuangan global akan membuka jalan bagi keterlibatan yang lebih besar oleh organisasi-organisasi kemanusiaan yang bekerja di Suriah. Ini akan memudahkan investasi dan perdagangan asing di Suriah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/14/1379ce826948db4b29e85fe77d09dff2-wires_photo_4.jpg)
Langkah mengejutkan Trump diambil meskipun Israel masih sangat curiga terhadap pemerintahan Sharaa. Israel menganggap Sharaa sebagai seorang jihadis meski ia memutuskan hubungan dengan Al Qaeda pada 2016.
Sharaa sebelumnya dikenal memimpin Front Nusra atau Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang merupakan sayap resmi Al Qaeda di Suriah. HTS resmi dibubarkan pada Januari lalu. HTS masuk dalam daftar sanksi Dewan Keamanan PBB selama lebih dari 10 tahun. Akibat sanksi ini, Suriah menjadi sasaran pembekuan aset global dan embargo senjata.
Presiden Lebanon Joseph Aoun memuji langkah berani Trump. Peneliti senior di Center for a New American Security, Alex Zerden, menilai pencabutan sanksi itu akan mengurai simpul sanksi, kontrol ekspor, dan sebutan teroris yang menjadikan Suriah salah satu negara dengan pembatasan ekonomi paling ketat. Selain Suriah, ada Iran, Korea Utara, dan Kuba.
Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang juga mendorong negara-negara untuk mencabut sanksi terhadap Suriah, menyambut baik keputusan AS. Keringanan sanksi terhadap Suriah akan dapat membantu rekonstruksi dan membantu rakyat pulih dari konflik selama 10 tahun lebih. ”Selama itu pula, investasi minim,” kata juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric.
Terkait Suriah dan Iran, Trump bergerak ke arah yang membuatnya berselisih dengan Israel yang sejak lama didukungnya. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berulang kali memerintahkan serangan terhadap Suriah, menuntut demiliterisasi wilayah selatan Suriah, dan mendorong tindakan terhadap program nuklir Iran.
Pemerintahan Trump telah mengadakan empat putaran perundingan dengan Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir guna menghindari perang. Pada masa jabatan pertamanya (2017-2021), Trump menarik diri dari perjanjian nuklir dengan Iran (JCPOA).
Ia juga mengkritik tajam para pemimpin Iran. Ia mengatakan, mereka telah mencuri kekayaan rakyat untuk mendanai teror dan pertumpahan darah di luar negeri dan menyeret seluruh wilayah bersama mereka.
”Tetapi, saya di sini, hari ini, bukan hanya untuk mengecam kekacauan masa lalu para pemimpin Iran, melainkan untuk menawarkan mereka jalan baru, jalan yang jauh lebih baik menuju masa depan yang jauh lebih baik dan lebih penuh harapan,” kata Trump.
Hanya, kata Trump, jika perundingan dengan Iran gagal, ia tidak punya pilihan lain selain memberikan tekanan maksimum, termasuk menjatuhkan sanksi untuk membatasi semua ekspor minyak Iran. ”Dalam kasus Iran, saya tidak pernah percaya adanya musuh abadi,” kata Trump.
Selain isu Suriah dan Iran, lawatan Trump ke Arab Saudi berfokus pada kerja sama ekonomi. Arab Saudi dan AS seharian penuh menyegel perjanjian komersial bernilai miliaran dollar AS. Kesepakatan yang ditandatangani melibatkan energi, kecerdasan buatan (AI), persenjataan, dan teknologi.
Arab Saudi akan membeli senjata senilai 142 miliar dollar AS dan ini kesepakatan senjata terbesar yang pernah ada. Perusahaan Saudi, DataVolt, akan menggelontorkan 20 miliar dollar AS dalam proyek-proyek terkait AI di AS. Perusahaan-perusahaan teknologi, termasuk Google, akan berinvestasi di kedua negara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/14/f45f88d902a06ad86cbbc52ff73b7f1a-Trump_2.jpg)
Produsen cip AS, Nvidia, akan mengirimkan 18.000 cip ke Arab Saudi. Nvidia akan bermitra dengan perusahaan rintisan AI milik dana kekayaan negara Arab Saudi, Humain. Ribuan cip itu akan membantu proyek pusat data baru kecerdasan buatan yang sedang dikembangkan Arab Saudi.
Untuk memperkuat infrastruktur komputasi awan, Arab Saudi butuh bantuan investasi asing. ”AI, seperti listrik dan internet, merupakan infrastruktur penting bagi setiap negara,” kata pendiri Nvidia, Jensen Huang.
Menurut pernyataan di Forum Investasi Arab Saudi-AS di Riyadh, Selasa, cip Blackwell yang canggih akan digunakan di pusat data 500 megawatt di Arab Saudi. Nvidia yang bermarkas di California menjelaskan, dalam penerapan pertama akan menggunakan cip Blackwell GB300. Ini salah satu cip AI tercanggih Nvidia saat ini dan baru diluncurkan awal tahun 2025.
Trump berupaya memperkuat hubungan dengan Arab Saudi guna meningkatkan hubungan regional dengan Israel dan bertindak sebagai benteng melawan Iran. Khusus untuk bidang pertahanan, ada kerja sama pertahanan udara dan rudal, angkatan udara dan antariksa, serta keamanan dan komunikasi maritim.
Tidak jelas apakah kesepakatan itu mencakup pesawat jet Lockheed F-35. Jika kesepakatan lebih lanjut dicapai dalam beberapa bulan mendatang, Arab Saudi akan mengeluarkan total paket kerja sama bernilai 1 triliun dollar AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/ff4886a1-01ed-432b-87de-4984c040f0ad_jpg.jpg)
Arab Saudi adalah salah satu pelanggan terbesar senjata AS. Kedua negara telah mempertahankan hubungan yang kuat selama beberapa dekade berdasarkan pengaturan Arab Saudi mengirimkan minyak dan AS menyediakan keamanan.
Namun, hubungan menjadi tegang setelah pembunuhan wartawan Arab Saudi yang tinggal di AS, Jamal Khashoggi, oleh agen Saudi di Turki pada 2018. Intelijen AS menyimpulkan, Arab Saudi menyetujui operasi untuk menangkap atau membunuh Khashoggi. Hal ini dibantah Arab Saudi. Trump tidak menyinggung insiden tersebut selama berada di Arab Saudi. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari