WTO: Tarif AS Bisa Bikin Perdagangan Global Terkontraksi 1 Persen

Dunia tengah memasuki fase kritis gegara kebijakan tarif resiprokal AS.

05 Apr 2025 12:30 WIB · Ekonomi

Oleh Hendriyo Widi

JAKARTA, KOMPAS - Tarif resiprokal Amerika Serikat memicu berbagai respons lembaga dunia. Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO, misalnya, menyebut tarif AS bakal membuat volume perdagangan global pada 2025 terkontraksi 1 persen.

Sekretaris Jenderal WTO, Ngozi Okonjo-Iweala, mengatakan, WTO tengah memantau dan menganalisis dengan saksama kebijakan tarif AS. Banyak anggota WTO mempertanyakan kebijakan AS yang akan berdampak pada perekonomian dan sistem perdagangan global.

WTO memandang kebjakan tarif AS akan berimplikasi signifikan terhadap perdagangan global dan prospek pertumbuhan ekonomi global. Situasinya terus berkembang pesat setelah AS mengumumkan kebijakan tarif resiprokal.

"Kami menunjukkan kebijakan tarif itu ditambah dengan langkah-langkah yang diperkenalkan sejak awal tahun ini, dapat menyebabkan bolume perdagangan terkontraksi (tumbuh minus) sekitar 1 persen dari proyeksi sebelumnya," kata Okonjo-Iweala melalui keterangan resmi yang dikutip pada Sabtu (5/4/2025).

Aktivitas pemuatan peti kemas ke dalam kapal barang di Terminal peti kemas New Priok Container Terminal (NPCT) 1, Jakarta Utara, Selasa (17/1/2023). Menurut data Badan Pusat Statistik, total ekspor RI selama tahun 2022 mencapai 291,98 miliar dollar AS, sementara impornya 237,52 miliar dollar AS. Hal itu membuat neraca perdagangan RI tahun lalu surplus 54,46 miliar dollar AS. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 17-01-2023

Sebelumnya, WTO mencatat, volume perdagangan global pada 2024 tumbuh 2,7 persen secara tahunan. WTO juga memperkirakan volume perdagangan tersebut tumbuh 3 persen pada 2025.

Perkiraan pertumbuhan perdagangan global pada 2025 itu merupakan revisi dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,3 persen. Artinya, dengan munculnya tarif resiprokal yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada 2 April 2025, WTO berpotensi menurunkan kembali proyeksi pertumbuhan perdagangan dunia.

Okonjo-Iweala mengaku khawatir terhadap penurunan perdagangan global dan potensi eskalasi perang tarif. Sebab, tindakan saling balas tarif tinggi akan membuat perdagangan dunia turun semakin tajam.

Ia juga menyebutkan, masih banyak negara yang mematuhi ketentuan keadilan dan kewajaran tarif WTO, yakni most favoured nation (MSN). Namun lantaran kebijakan tarif AS dan balasan tarif dari negara-negara lain, penerapan tarif MSN diperkirakan bakal tergerus dari 80 persen menjadi 74 persen.

"Saya juga khawatir bakal ada pengalihan perdagangan yang signifikan. Anggota WTO harus bersatu menjaga penerapan tarif MSN dan mencegah ketegangan perdagangan semakin meluas," katanya.

Peresmian Ekspor Kopi Perdana melalui Ekosistem Industri Jasa Keuangan Sumsel Tahun 2025 melalui Pelabuhan Boom Baru, Palembang, Sumsel, Minggu (19/1/2025). Sebanyak 14 kontainer atau 277,2 ton kopi Sumsel yang senilai Rp 33,6 miliar diekspor ke Malaysia dan Australia. Geliat ekspor dalam empat bulan terakhir itu dianggap sebagai sinyal positif untuk melambungkan nama kopi Sumsel di pentas dunia.

Fase kritis

Sementara, pada 4 April 2025, Lembaga Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) menyatakan dunia tengah memasuki fase kritis. Kebijakan tarif AS tidak hanya mengancam pertumbuhan perdagangan, tetapi juga investasi dan kemajuan pembangunan, khususnya bagi negara-negara ekonomi yang paling rentan.

Sekretaris Jenderal UNCTAD, Rebeca Grynspan, menuturkan, hanya 10 dari hampir 200 mitra dagang AS yang menyumbang hampir 90 persen dari defisit perdagangan AS. Namun, kebijakan tarif AS juga turut menyasar negara-negara yang paling tidak berkembang dan negara-negara berkembang kepulauan kecil.

Quote

Kebijakan tarif AS tidak hanya mengancam pertumbuhan perdagangan, tetapi juga investasi dan kemajuan pembangunan, khususnya bagi negara-negara ekonomi yang paling rentan.

Padahal negara-negara tersebut masing-masing hanya bertanggung jawab atas 1,6 persen dan 0,4 persen dari defisit perdagangan AS. Negara-negara tersebut jelas tidak akan bisa menyeimbangkan defisit perdagangan dan menghasilkan pendapatan yang signifikan.

"Ingat, banyak negara berpendapatan rendah kini menghadapi 'badai dahsyat' berupa kondisi eksternal yang memburuk, tingkat utang yang tidak berkelanjutan, dan pertumbuhan domestik yang melambat," katanya melalui siaran pers.

Infografik riset Sepuluh Komoditas Ekspor Indonesia ke AS Tahun 2024

Grynspan menegaskan, perdagangan tidak boleh menjadi sumber ketidakstabilan lainnya. Perdagangan harus melayani pembangunan dan pertumbuhan global.

Bagi para pelaku bisnis dan pembuat kebijakan, ketidakpastian dan ketidakterdugaan dalam perdagangan dan investasi menjadi hambatan serius bagi pertumbuhan dan perencanaan.

Meskipun reformasi perdagangan memang dibutuhkan, Grynspan melanjutkan, dialog dan negosiasi tetap harus didahulukan. Ketidakseimbangan perdagangan, keuntungan yang terkonsentrasi, dan aturan yang sudah ketinggalan zaman harus ditangani tanpa mengorbankan pihak-pihak yang paling tidak bertanggung jawab.

Quote

Perdagangan tidak boleh menjadi sumber ketidakstabilan lainnya. Perdagangan harus melayani pembangunan dan pertumbuhan global.

"Ini saatnya untuk bekerja sama, bukan eskalasi ketegangan. Aturan perdagangan global harus berkembang sesuai tantangan zaman, tapi tetap harus melindungi yang paling rentan," katanya.

Oleh karena itu, UNCTAD menyerukan kepada para pembuat keputusan untuk segera mempertimbangkan kembali tarif yang dikenakan pada negara-negara yang rentan. Jika tetap dilanjutkan, tindakan saling berbalas tarif dapat menimbulkan penderitaan yang besar bagi jutaan orang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari