Presiden AS Donald Trump memanggil para pejabat keamanan AS secara mendadak. Sebagian menduga terkait serangan ke Iran.
23 Mei 2026 13:00 WIB · Internasional
AP Photo/Alex Brandon
WASHINGTON, SABTU — Di tengah gencatan senjata dan negosiasi yang masih diupayakan oleh Pakistan, Amerika Serikat bersiap kembali menyerang Iran. Demi memastikan persiapan itu, Presiden AS Donald Trump bahkan batal menghadiri pernikahan putranya, Donald Trump Jr, pada akhir pekan ini.
Media AS, CBS News, melaporkan, beberapa petinggi militer dan intelijen AS membatalkan rencana mereka untuk akhir pekan sebagai antisipasi kemungkinan serangan. Namun, hingga Jumat (22/5/2026) sore waktu Washington atau Sabtu (23/5/2026) WIB, belum ada keputusan akhir mengenai serangan lanjutan itu.
”Keadaan yang berkaitan dengan pemerintah membuat Presiden Trump tidak dapat menghadiri pernikahan putranya, Donald Trump Jr, akhir pekan ini. Presiden telah merencanakan untuk menghabiskan akhir pekan Memorial Day di properti golfnya di New Jersey, tetapi sekarang akan kembali ke Gedung Putih,” ujar sumber yang mengetahui perencanaan serangan itu.
Para pejabat pertahanan dan intelijen AS juga dilaporkan mulai memperbarui daftar penarikan kembali pasukan dan aset militer AS di luar negeri. Sebab, sejumlah pasukan yang ditempatkan di Timur Tengah dirotasi keluar dari kawasan tersebut. Hal ini bagian dari upaya untuk mengurangi jejak militer AS di kawasan itu di tengah kekhawatiran tentang serangan balasan Iran.
Sejak gencatan senjata 7 April lalu, AS dan Iran telah menahan diri untuk tidak menyerang dalam skala besar. Namun, sempat terjadi beberapa insiden penyerangan kapal di Selat Hormuz. Selat itu merupakan jalur distribusi 20 persen minyak dunia.
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, mengatakan, Trump telah memperjelas batasan-batasannya terhadap Iran. Trump mendesak agar Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan dilarang menyimpan uranium yang diperkaya.
”Presiden selalu mempertahankan semua opsi setiap saat. Tugas Pentagon (Departemen Pertahanan AS) adalah siap untuk melaksanakan keputusan apa pun yang dapat dibuat oleh Panglima Tertinggi (Presiden). Presiden Trump telah menjelaskan konsekuensi jika Iran gagal mencapai kesepakatan,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/df03a28d11de6bc3a4b00d6ec31bcb21-20260205_ANU_AFP_Instalasi_Nuklir_Iran_mumed.jpg)
Media AS lainnya, Axios, melaporkan, Trump menggelar pertemuan dengan tim keamanan nasional seniornya untuk membahas situasi perang dengan Iran. Pertemuan ini berlangsung saat Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir berada di Teheran untuk memediasi negosiasi AS-Iran.
”Trump serius mempertimbangkan untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran kecuali ada terobosan menit-menit akhir dalam negosiasi,” tulis laporan itu.
Seorang pejabat AS yang diberi pengarahan tentang upaya diplomatik itu menggambarkan negosiasi tersebut berjalan sangat sulit. Menurut dia, proposal perdamaian hanya berputar bolak-balik setiap hari tanpa banyak kemajuan.
Pejabat itu mengatakan, Trump rapat dengan Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Direktur CIA John Ratcliffe, Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles, dan beberapa pejabat lainnya. Trump diberi pengarahan tentang status negosiasi dan berbagai skenario jika mediasi gagal.
”Yang menarik, beberapa jam setelah pertemuan itu, Gedung Putih mengumumkan perubahan jadwal Trump untuk akhir pekan,” lanjut laporan tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/20/770d0404-da6e-4778-8a1a-6a1c56a95e52.jpg)
Trump telah berulang kali mengancam akan kembali menyerang Iran. Ia telah berencana melanjutkan serangan pada 19 Mei lalu. Namun, rencana itu dibatalkan atas permintaan negara sekutu AS di kawasan Teluk, yaitu Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/20/c811d40a-e63b-4500-a18d-51b4608b4923.jpg)
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan serangan lanjutan AS dan Israel ke negara itu dapat memperluas konflik di luar Timur Tengah. Iran juga mengancam akan meresponsnya dengan serangan yang lebih keras dari sebelumnya.
Media Iran, Tasnim, melaporkan, militer Iran sepenuhnya siap untuk menghadapi langkah-langkah permusuhan lanjutan dari AS dan Israel. ”Angkatan bersenjata Iran sepenuhnya memantau situasi dan telah menyiapkan skenario baru untuk menghadapi AS dan sekutunya jika musuh melakukan kebodohan dengan alasan apa pun,” tulis laporan itu.
Di tengah ancaman AS akan kembali menyerang Iran, Pakistan masih terus mengupayakan negosiasi. Selain Munir, Menteri Luar Negeri Pakistan Mohsin Naqvi juga telah berada di Teheran. Mereka bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Kehadiran Munir, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, tak berarti kesepakatan hampir tercapai. ”Fokus perundingan untuk mengakhiri perang. Perincian soal isu nuklir tak dibahas,” ujarnya.
Baqaei mengatakan, delegasi Qatar juga telah bertemu dengan Araghchi, Jumat. ”Dalam beberapa hari terakhir, banyak negara, baik regional maupun nonregional, telah coba membantu mengakhiri perang. Namun, Pakistan tetap menjadi mediator resmi,” ujarnya.
Munir berperan penting dalam negosiasi AS-Iran. Ia menyambut delegasi kedua negara saat perundingan di Islamabad, Pakistan, lebih dari sebulan lalu. Perundingan tidak langsung ini dilakukan dengan kedua negara saling bertukar proposal dan respons melalui Pakistan.
Qatar juga mengirim delegasi ke Teheran. Dosen pada Qatar University, Abdulla Banndar Al-Etaibi, menilai bahwa situasi amat genting sehingga dua negara penengah mengirim utusan ke Iran. Sejumlah hal belum ada kejelasan jawabannya.
”Apa yang terjadi pada Selat Hormuz? Apa batasan pengayaan (uranium oleh Iran)? Bagaimana deeskalasi diterapkan dan dijamin? Di sini Qatar berperan penting. Qatar tidak menggantikan Pakistan, tetapi mendukung dengan memperluas ruang kepercayaan dan mencegah jalur komunikasi tertutup,” katanya dikutip media Qatar, Al Jazeera.
Peneliti Middle East Institute, Jason Campbell, menyebut bahwa Trump telah berulang kali menyatakan perang akan segera berakhir. Pernyataan terbaru disampaikan pada Jumat di New York. Meski demikian, keraguan itu tetap ada.
Ia juga menyebut, AS lebih tertekan dibandingkan Iran soal pengakhiran perang. Iran telah bertahun-tahun didera rangkaian sanksi AS. ”Jadi, mereka masih sanggup menanggung tambahan,” katanya.
Sebaliknya, Trump dan pendukungnya memasuki tahap krusial pemilu AS. Kenaikan harga akibat serangan AS-Israel ke Iran menjadi pertimbangan pemilih. (AFP/AP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan