Teka-teki Penyebab Trump Batalkan Serangan ke Iran
Ada yang menyebut permintaan negara-negara Teluk jadi penyebab Trump batalkan serangan ke Iran. Ada juga yang menyebut soal peningkatan kekuatan Iran sebagai alasan.
WASHINGTON, SELASA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda rencananya untuk melanjutkan serangan ke Iran. Penyebab penundaan simpang siur. Sementara Iran telah mengirimkan usulan baru lewat Pakistan.
Trump mengungkap bahwa sebenarnya AS akan menyerang Iran pada Selasa (19/5/2026). ”Saya menundanya untuk sementara waktu, mudah-mudahan mungkin selamanya. Akan tetapi, mungkin untuk sementara waktu. Sebab, kami telah melakukan diskusi yang sangat besar dengan Iran, dan kita akan lihat apa hasilnya,” kata Trump pada Senin (18/5/2026) siang waktu Washington DC atau Selasa dini hari WIB.
Di media sosial, ia mengumumkan penundaan itu atas permintaan tetangga Iran. ”Saya telah diminta oleh Emir Qatar Tamim bin Hamad al-Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman al-Saud, dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed al-Nahyan untuk menunda rencana serangan militer kami terhadap Iran yang dijadwalkan besok,” tulis Trump di media sosial.
Dalam laporan The New York Times, ada alasan lain penundaan itu. Sumber NYT di militer dan Departemen Pertahanan AS menyebutkan mengatur ulang strateginya.
Iran juga memanfaatkan gencatan senjata sejak 7 April 2026 untuk menata ulang sebaran rudalnya. Lokasi peluncur dan gudang rudal dipendam lebih dalam ke bawah permukaan tanah.
Selama ini, gudang dan peluncur rudal Iran telah disimpan di bawah gunung granit. Bom dan rudal AS-Israel hampir mustahil menembus tempat penyimpanan itu.
Pengeboman AS-Israel pada Juni 2025 dan 28 Februari-6 April 2026 hanya merusak akses ke tempat penyimpanan. Sejak gencatan senjata, Iran memperbaiki lagi akses itu. Dampaknya, cadangan persenjataan Iran pulih.
Hal yang lebih mengkhawatirkan, Iran telah mempelajari pola rute pesawat-pesawat AS. Penembakan sejumlah jet tempur dan pesawat lain milik militer AS membuktikan kesuksesan Iran mempelajari pola itu.
Iran, menurut sumber NYT, bisa menduga taktik tempur udara AS. Hal itu memungkinkan Iran bisa bertahan lebih baik pada gelombang serangan baru AS-Israel.
Lalu, tidak kalah penting, serangan AS-Israel menewaskan tokoh-tokoh moderat dan berperan penting di Iran. Kini, tokoh yang tersisa cenderung berhaluan lebih keras.
Sumber NYT menyebutkan, pejabat dan perwira Iran kini yakin bisa melawan AS. Caranya termasuk menyerang pangkalan AS di kawasan dan menutup Selat Hormuz.
Peneliti Iran di German Institute for International and Security Affairs, Hamidreza Azizi, memaparkan bahwa Iran cenderung berhemat dan menahan diri sebelum gencatan senjata 7 April 2026. Alasan utamanya, kata Azizi kepada The New York Times, menjaga keberlangsungan pembalasan.
Namun, jika AS-Israel menyerang lagi, Iran berpeluang menyerang habis-habisan. Dari belasan seperti di dua putaran perang sebelumnya, Iran bisa menembakkan sampai ratusan rudal setiap hari bila perang kembali meletus. Iran masih memiliki puluhan ribu pesawat nirawak serang.
AS-Israel terbukti tak punya pemahaman pasti soal jumlah cadangan persenjataan Iran. Kerusakan jaringan peringatan dini dan pengintaian AS di kawasan akan menyulitkan pencegatan rudal dan pesawat nirawak Iran.
Perang kawasan hampir pasti tak terelakkan. ”Kami akan mengembalikan Emirat (Uni Emirat Arab/UEA) ke era menunggangi onta. Kami bisa melakukan itu. Kalau diperlukan, kami bisa menduduki Abu Dhabi,” kata Direktur Institut untuk Kebangkitan Kebijakan yang juga penasihat petinggi Iran, Mehdi Kharratiyan.
Teheran menuding UEA menjadi kaki tangan dan membantu AS-Israel menyerang Iran. UEA salah satu sasaran awal pembalasan Iran selepas AS-Israel menyerang. AS mengelola sejumlah pangkalan militer dan menempatkan aneka persenjataan serta ribuan tentara di UEA.
Kharratiyan juga mengatakan, blokade tidak akan berhenti di Selat Hormuz. Iran bisa memperluas blokade sampai ke Selat Bab-al-Mandab di antara Yaman dan Somalia.
Houthi, pemberontak Yaman yang dekat dengan Iran, telah membuktikan mampu memblokade Selat Bab-al-Mandab. Dunia telah merasakan dampak kala kedua selat itu diblokade dalam waktu terpisah. Jika diblokade dalam waktu bersamaan, dampaknya akan lebih buruk.
Perundingan
Trump menyinggung soal perundingan AS-Iran. Negosiasi itu telah diupayakan oleh Pakistan sejak lebih dari sebulan lalu. Namun, kedua pihak gagal mencapai kesepakatan.
Kini, menurut Trump, negosiasi serius sedang berlangsung. Bahkan, mungkin kesepakatan akan segera dibuat. Kesepakatan itu diyakini dapat diterima oleh AS dan negara-negara sekutunya di Teluk.
Namun, Trump tetap tidak mengurangi tuntutannya terhadap Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Hal itu pula yang melandasi AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu. ”Kesepakatan ini akan mencakup, yang terpenting, tidak ada senjata nuklir untuk Iran,” katanya.
Meski memerintahkan penundaan serangan, Trump tak menurunkan kesiapan pasukan AS. Pasukan tetap diminta siaga penuh sebagai antisipasi perintah diberikan sewaktu-waktu.
Iran dikabarkan telah mengirimkan proposal negosiasi terbaru melalui Pakistan. Namun, belum diketahui detail proposal tersebut. Selama bernegosiasi, AS dan Iran saling mengirimkan proposal lewat Pakistan yang berisi sejumlah syarat untuk mengakhiri perang.
”Tampaknya ada peluang yang sangat baik bahwa mereka dapat menyelesaikan sesuatu. Jika kita dapat melakukan itu tanpa membombardir mereka habis-habisan, saya akan sangat senang,” ucap Trump.
Perang di Iran telah berlangsung lebih dari 2,5 bulan. Perang telah menewaskan lebih dari 3.000 orang di Iran. Tak cuma menargetkan infrastruktur militer, serangan AS dan Israel juga menyasar fasilitas sipil, seperti sekolah, rumah ibadah, rumah sakit, kilang minyak, dan jembatan.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan, perhatian utama dalam negosiasi antara AS dan Iran adalah menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Namun, program nuklir Iran tetap menjadi isu sentral bagi negara-negara di kawasan.
Fidan menyebutkan, sebagian besar uranium yang diperkaya Iran yang berpotensi digunakan untuk senjata nuklir terkubur di bawah terowongan yang runtuh setelah diserang AS dan Israel. ”Saat ini, tidak ada situasi yang menimbulkan ancaman nyata. Namun, agar hal ini berlanjut, para pihak harus mencapai dan menyelesaikan negosiasi nuklir di antara mereka sendiri,” ujarnya.
Respons lebih keras
Panglima Komando Operasi Gabungan Artesh, Ali Abdollahi, menyatakan bahwa Artesh siap menembak jika AS melancarkan serangan lanjutan. Ia memperingatkan AS bahwa militer Iran telah lebih siap dan lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya. ”Setiap agresi dan invasi baru akan ditanggapi dengan cepat, tegas, kuat, dan luas,” katanya.
Artesh adalah angkatan bersenjata reguler Iran. Cabang lain militer Iran adalah Garda Revolusi (IRGC).
Juru Bicara Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Rezaei mengatakan, pihaknya memberikan respons yang lebih keras terhadap agresi apa pun terhadap negara itu. Iran juga siap menghadapi semua skenario dalam konflik tersebut. ”AS harus tunduk pada diplomasi dan persyaratan kami atau tunduk pada kekuatan rudal kami,” ujarnya, dilansir dari media Iran, IRNA.
Rezaei juga menegaskan Iran akan melanjutkan kendalinya di Selat Hormuz. Tindakan ini membuat Trump marah. Bahkan, Trump pernah mengajak sejumlah negara mengirimkan kapal perang untuk membuka blokade di selat itu. Namun, ajakan itu tidak digubris.
”Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke status sebelumnya, dan tidak ada kekuatan yang dapat membukanya kembali tanpa persetujuan kami,” ucap Rezaei.
Poin-poin dalam proposal terbaru Iran akan menentukan sikap Trump ke depan. Sejauh ini, ada dua tuntutan utama Trump yang selalu digaungkan, yaitu meminta Iran mengakhiri program nuklirnya dan segera membuka Selat Hormuz.
Media Iran, Tasnim, melaporkan, Iran mengajukan 14 poin dalam proposal terbarunya kepada AS yang diserahkan melalui Pakistan. Menurut sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran, proposal itu berfokus pada upaya mengakhiri perang dan langkah-langkah membangun kepercayaan oleh pihak AS.
”Iran, sesuai dengan praktik pertukaran pesan baru-baru ini, sekali lagi telah mengajukan teksnya dalam 14 poin melalui mediator Pakistan setelah melakukan perubahan,” tulis laporan itu. (REUTERS/AFP/AP)
WASHINGTON, SELASA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda rencananya untuk melanjutkan serangan ke Iran. Penyebab penundaan simpang siur. Sementara Iran telah mengirimkan usulan baru lewat Pakistan.
Trump mengungkap bahwa sebenarnya AS akan menyerang Iran pada Selasa (19/5/2026). ”Saya menundanya untuk sementara waktu, mudah-mudahan mungkin selamanya. Akan tetapi, mungkin untuk sementara waktu. Sebab, kami telah melakukan diskusi yang sangat besar dengan Iran, dan kita akan lihat apa hasilnya,” kata Trump pada Senin (18/5/2026) siang waktu Washington DC atau Selasa dini hari WIB.
Di media sosial, ia mengumumkan penundaan itu atas permintaan tetangga Iran. ”Saya telah diminta oleh Emir Qatar Tamim bin Hamad al-Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman al-Saud, dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed al-Nahyan untuk menunda rencana serangan militer kami terhadap Iran yang dijadwalkan besok,” tulis Trump di media sosial.
Serial Artikel
Antisipasi Serangan AS-Israel, Iran Latih Warga Pakai Senapan
Latihan penggunaan senjata digelar di berbagai lokasi di Iran. Ada juga siaran televisi soal materi latihan. Antisipasi serangan lanjutan AS-Israel.
Dalam laporan The New York Times, ada alasan lain penundaan itu. Sumber NYT di militer dan Departemen Pertahanan AS menyebutkan mengatur ulang strateginya.
Iran juga memanfaatkan gencatan senjata sejak 7 April 2026 untuk menata ulang sebaran rudalnya. Lokasi peluncur dan gudang rudal dipendam lebih dalam ke bawah permukaan tanah.
Selama ini, gudang dan peluncur rudal Iran telah disimpan di bawah gunung granit. Bom dan rudal AS-Israel hampir mustahil menembus tempat penyimpanan itu.
Pengeboman AS-Israel pada Juni 2025 dan 28 Februari-6 April 2026 hanya merusak akses ke tempat penyimpanan. Sejak gencatan senjata, Iran memperbaiki lagi akses itu. Dampaknya, cadangan persenjataan Iran pulih.
Hal yang lebih mengkhawatirkan, Iran telah mempelajari pola rute pesawat-pesawat AS. Penembakan sejumlah jet tempur dan pesawat lain milik militer AS membuktikan kesuksesan Iran mempelajari pola itu.
Iran, menurut sumber NYT, bisa menduga taktik tempur udara AS. Hal itu memungkinkan Iran bisa bertahan lebih baik pada gelombang serangan baru AS-Israel.
Lalu, tidak kalah penting, serangan AS-Israel menewaskan tokoh-tokoh moderat dan berperan penting di Iran. Kini, tokoh yang tersisa cenderung berhaluan lebih keras.
Sumber NYT menyebutkan, pejabat dan perwira Iran kini yakin bisa melawan AS. Caranya termasuk menyerang pangkalan AS di kawasan dan menutup Selat Hormuz.
Serial Artikel
E-3 Sentry, Radar Terbang AS yang Hancur oleh Iran
E-3 Sentry adalah pusat komando terbang yang mengelola pertempuran udara. Jumlahnya terbatas.
Peneliti Iran di German Institute for International and Security Affairs, Hamidreza Azizi, memaparkan bahwa Iran cenderung berhemat dan menahan diri sebelum gencatan senjata 7 April 2026. Alasan utamanya, kata Azizi kepada The New York Times, menjaga keberlangsungan pembalasan.
Namun, jika AS-Israel menyerang lagi, Iran berpeluang menyerang habis-habisan. Dari belasan seperti di dua putaran perang sebelumnya, Iran bisa menembakkan sampai ratusan rudal setiap hari bila perang kembali meletus. Iran masih memiliki puluhan ribu pesawat nirawak serang.
AS-Israel terbukti tak punya pemahaman pasti soal jumlah cadangan persenjataan Iran. Kerusakan jaringan peringatan dini dan pengintaian AS di kawasan akan menyulitkan pencegatan rudal dan pesawat nirawak Iran.
Perang kawasan hampir pasti tak terelakkan. ”Kami akan mengembalikan Emirat (Uni Emirat Arab/UEA) ke era menunggangi onta. Kami bisa melakukan itu. Kalau diperlukan, kami bisa menduduki Abu Dhabi,” kata Direktur Institut untuk Kebangkitan Kebijakan yang juga penasihat petinggi Iran, Mehdi Kharratiyan.
Teheran menuding UEA menjadi kaki tangan dan membantu AS-Israel menyerang Iran. UEA salah satu sasaran awal pembalasan Iran selepas AS-Israel menyerang. AS mengelola sejumlah pangkalan militer dan menempatkan aneka persenjataan serta ribuan tentara di UEA.
Kharratiyan juga mengatakan, blokade tidak akan berhenti di Selat Hormuz. Iran bisa memperluas blokade sampai ke Selat Bab-al-Mandab di antara Yaman dan Somalia.
Houthi, pemberontak Yaman yang dekat dengan Iran, telah membuktikan mampu memblokade Selat Bab-al-Mandab. Dunia telah merasakan dampak kala kedua selat itu diblokade dalam waktu terpisah. Jika diblokade dalam waktu bersamaan, dampaknya akan lebih buruk.
Serial Artikel
Houthi Kembali Serang Kapal Kargo di Laut Merah
Kapal berbendera Singapura yang dioperasikan Denmark, MV Maersk Hangzhou, diserang pemberontak Houthi di Yaman. Amerika Serikat mengklaim, kapal itu yang pertama diserang dari 1.200 kapal niaga yang melayari Laut Merah.
Trump menyinggung soal perundingan AS-Iran. Negosiasi itu telah diupayakan oleh Pakistan sejak lebih dari sebulan lalu. Namun, kedua pihak gagal mencapai kesepakatan.
Kini, menurut Trump, negosiasi serius sedang berlangsung. Bahkan, mungkin kesepakatan akan segera dibuat. Kesepakatan itu diyakini dapat diterima oleh AS dan negara-negara sekutunya di Teluk.
Namun, Trump tetap tidak mengurangi tuntutannya terhadap Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Hal itu pula yang melandasi AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu. ”Kesepakatan ini akan mencakup, yang terpenting, tidak ada senjata nuklir untuk Iran,” katanya.
Meski memerintahkan penundaan serangan, Trump tak menurunkan kesiapan pasukan AS. Pasukan tetap diminta siaga penuh sebagai antisipasi perintah diberikan sewaktu-waktu.
Iran dikabarkan telah mengirimkan proposal negosiasi terbaru melalui Pakistan. Namun, belum diketahui detail proposal tersebut. Selama bernegosiasi, AS dan Iran saling mengirimkan proposal lewat Pakistan yang berisi sejumlah syarat untuk mengakhiri perang.
”Tampaknya ada peluang yang sangat baik bahwa mereka dapat menyelesaikan sesuatu. Jika kita dapat melakukan itu tanpa membombardir mereka habis-habisan, saya akan sangat senang,” ucap Trump.
Perang di Iran telah berlangsung lebih dari 2,5 bulan. Perang telah menewaskan lebih dari 3.000 orang di Iran. Tak cuma menargetkan infrastruktur militer, serangan AS dan Israel juga menyasar fasilitas sipil, seperti sekolah, rumah ibadah, rumah sakit, kilang minyak, dan jembatan.
Serial Artikel
Serangan Brutal yang Meruntuhkan Hukum Humaniter Internasional
Kehancuran fasilitas sipil di Iran jadi potret kebrutalan serangan AS dan Israel. Hukum internasional ditabrak dengan keras. Dunia nyaris tak bisa berbuat apa-apa.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan, perhatian utama dalam negosiasi antara AS dan Iran adalah menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Namun, program nuklir Iran tetap menjadi isu sentral bagi negara-negara di kawasan.
Fidan menyebutkan, sebagian besar uranium yang diperkaya Iran yang berpotensi digunakan untuk senjata nuklir terkubur di bawah terowongan yang runtuh setelah diserang AS dan Israel. ”Saat ini, tidak ada situasi yang menimbulkan ancaman nyata. Namun, agar hal ini berlanjut, para pihak harus mencapai dan menyelesaikan negosiasi nuklir di antara mereka sendiri,” ujarnya.
Respons lebih keras
Panglima Komando Operasi Gabungan Artesh, Ali Abdollahi, menyatakan bahwa Artesh siap menembak jika AS melancarkan serangan lanjutan. Ia memperingatkan AS bahwa militer Iran telah lebih siap dan lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya. ”Setiap agresi dan invasi baru akan ditanggapi dengan cepat, tegas, kuat, dan luas,” katanya.
Artesh adalah angkatan bersenjata reguler Iran. Cabang lain militer Iran adalah Garda Revolusi (IRGC).
Juru Bicara Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Rezaei mengatakan, pihaknya memberikan respons yang lebih keras terhadap agresi apa pun terhadap negara itu. Iran juga siap menghadapi semua skenario dalam konflik tersebut. ”AS harus tunduk pada diplomasi dan persyaratan kami atau tunduk pada kekuatan rudal kami,” ujarnya, dilansir dari media Iran, IRNA.
Rezaei juga menegaskan Iran akan melanjutkan kendalinya di Selat Hormuz. Tindakan ini membuat Trump marah. Bahkan, Trump pernah mengajak sejumlah negara mengirimkan kapal perang untuk membuka blokade di selat itu. Namun, ajakan itu tidak digubris.
”Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke status sebelumnya, dan tidak ada kekuatan yang dapat membukanya kembali tanpa persetujuan kami,” ucap Rezaei.
Poin-poin dalam proposal terbaru Iran akan menentukan sikap Trump ke depan. Sejauh ini, ada dua tuntutan utama Trump yang selalu digaungkan, yaitu meminta Iran mengakhiri program nuklirnya dan segera membuka Selat Hormuz.
Media Iran, Tasnim, melaporkan, Iran mengajukan 14 poin dalam proposal terbarunya kepada AS yang diserahkan melalui Pakistan. Menurut sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran, proposal itu berfokus pada upaya mengakhiri perang dan langkah-langkah membangun kepercayaan oleh pihak AS.
”Iran, sesuai dengan praktik pertukaran pesan baru-baru ini, sekali lagi telah mengajukan teksnya dalam 14 poin melalui mediator Pakistan setelah melakukan perubahan,” tulis laporan itu. (REUTERS/AFP/AP)