Keseriusan Trump dalam memerangi imigran gelap diwujudkan dengan pembangunan pusat penahanan di Florida.
02 Jul 2025 10:10 WIB · Internasional
Presiden Amerika Serikat Donald Trump terlihat serius memperhatikan penjelasan Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem saat mengunjungi pusat penahanan imigrasi yang dikelilingi rawa penuh buaya di Florida Everglades, Selasa (1/7/2025) waktu setempat.
Sesekali Trump mengalihkan pandangan dari wajah Noem ke ruangan besar mirip aula yang dipenuhi deretan ranjang bersusun yang dikelilingi pagar anyaman besi.
Pusat penahanan baru di Florida yang dijuluki ”Alligator Alcatraz” akan menjadi tempat penahanan sekitar 3.000 migran dan dinilai sebagai langkah Trump berikutnya dalam tindakan memerangi imigrasi ilegal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/dab65336-1a2f-4329-b467-5acbaa6ef01a_jpg.jpg)
Tempat ini dianggap aman dan ideal sebagai pusat penahanan penjahat ”berbahaya” versi Trump karena terpencil, dikelilingi satwa liar dan satu-satunya jalan keluar adalah penerbangan satu arah.
”Tak lama lagi, fasilitas ini akan menangani para migran yang paling mengancam, beberapa orang paling kejam di planet ini,” kata Trump dalam pidato sambutannya. Ia juga mengatakan ingin melihat fasilitas serupa di banyak negara bagian.
Selama kunjungannya yang memakan waktu hampir tiga jam, Trump berkeliling mengunjungi fasilitas medis dan melihat ruangan penahanan ber-AC yang akan menampung para tahanan, lengkap dengan ruangan-ruangan yang dikelilingi pagar anyaman besi.
Pembangunan Alligator Alcatraz ini diharapkan bisa menyampaikan pesan kepada para tahanan dan seluruh dunia bahwa akibatnya akan sangat berat jika undang-undang imigrasi Amerika Serikat tidak dipatuhi.
Gubernur Florida Ron DeSantis, yang turut mendampingi Trump, menjelaskan, awalnya tempat ini diperkirakan akan bisa menampung 5.000 tahanan, tetapi akhirnya diputuskan hanya akan menampung sekitar 3.000 tahanan yang akan mulai berdatangan pada hari Rabu, sehari setelah diresmikan Trump.
Terletak 72 kilometer sebelah barat Miami dan memanfaatkan bekas Bandara Everglades yang tidak lagi berfungsi, pusat penahanan imigrasi ini dibangun hanya dalam waktu delapan hari. Selain dilengkapi lebih dari 200 kamera pemantau (CCTV) dan dikelilingi pagar berduri sepanjang 8.500 meter, pusat menahanan ini dijaga oleh 400 personel keamanan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/a1e8ab25-b34e-4fe7-8f99-60f00d9faf6f_jpg.jpg)
Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem, yang juga ikut dalam tur tersebut, mengatakan, imigran yang tiba di lokasi tersebut masih dapat memilih untuk ”deportasi mandiri” dan naik pesawat ke negara asal mereka daripada ditahan di sana. Ia juga mengklaim bahwa negara bagian lain tertarik membangun tempat serupa.
Tahanan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) umumnya ditahan karena memasuki negara tersebut secara ilegal atau melebihi masa berlaku visa. Mereka menunggu ICE untuk menaikkan mereka ke penerbangan atau bus berikutnya untuk pulang. Sebagian kecil dari mereka sedang memperjuangkan deportasinya di pengadilan imigrasi.
Upaya deportasi ini merupakan bagian dari kampanye yang menekankan citra keras terhadap imigrasi, termasuk penggerebekan di Los Angeles yang memicu protes terhadap lembaga ICE.
Hingga pertengahan Juni 2025, fasilitas penahanan ICE menahan lebih dari 56.000 imigran, jumlah terbanyak sejak 2019.
Kebijakan imigrasi yang keras telah lama menjadi inti dari citra politik Trump. Ia bahkan pernah mengisyaratkan bahwa pemerintahannya akan membuka kembali penjara Alcatraz, penjara di pulau yang terkenal di lepas pantai San Francisco untuk menahan penjahat berbahaya.
Trump juga banyak mendeportasi pelaku kriminal ke tempat penahanan di Teluk Guantanamo di Kuba dan penjara supermaksimum CECOT di El Savador.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/02/5420cb78-f3a5-4450-b0c5-2d38b66cecc3_jpg.jpg)
Ratusan pengunjuk rasa berkumpul di luar lokasi peresmian yang terletak di landasan udara terpencil tersebut. Mereka melambaikan spanduk yang menyerukan perlakuan manusiawi terhadap para migran serta perlindungan cagar alam yang luas, yang menjadi rumah bagi beberapa suku asli Amerika dan banyak spesies hewan yang terancam punah. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan