Trump-Putin akan bertemu pada Jumat di Alaska untuk membahas perang Ukraina. Sekutu Eropa dan Ukraina berharap kesepakatan gencatan senjata tercapai.
14 Agt 2025 10:49 WIB · Internasional
BERLIN, KAMIS — Menjelang pertemuan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam Presiden Rusia Vladimir Putin. Trump mengatakan, Rusia akan menghadapi ”konsekuensi yang sangat berat” jika Putin menolak mengakhiri perang di Ukraina setelah pertemuan.
Kantor berita Associated Press, Kamis (14/8/2025), melaporkan, ancaman Trump terlontar setelah ia bertemu secara virtual dengan para pemimpin Eropa, Rabu. Berdasarkan keterangan Gedung Putih, Trump dan Putin rencananya akan bertemu di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson di luar Anchorage, Alaska, pada Jumat (15/8/2025).
”Jika (pertemuan) yang pertama berjalan baik, kita akan melakukan yang kedua dengan cepat,” kata Trump, merujuk pertemuan berikutnya yang melibatkan Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Ukraina dan negara-negara sekutunya di Eropa berharap kesepakatan gencatan senjata tercapai pada pertemuan Trump-Putin. Zelenskyy dan para pemimpin Eropa ingin memastikan Ukraina dan sekutu-sekutunya didengar sebelum pertemuan Trump-Putin. Mereka khawatir, pertemuan itu dapat mengarah pada hasil yang menguntungkan Rusia.
Kekhawatiran tersebut beralasan. Saat mengumumkan rencana pertemuan dengan Putin akhir pekan lalu, Trump mengatakan, kesepakatan bisa saja melibatkan pertukaran wilayah. Menurut Trump, Ukraina harus menyerahkan sebagian wilayah yang dikuasai Rusia. Rusia juga harus menerima pertukaran wilayah meski belum jelas wilayah yang dimaksud.
Seusai pertemuan virtual, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan, pembicaraan berjalan konstruktif dan baik. ”Keputusan penting dapat dibuat di Alaska, tetapi kepentingan keamanan fundamental Eropa dan Ukraina harus dilindungi,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/09/0116500f-08e3-4d64-9454-b5190ad86697_jpg.jpg)
Merz menekankan, gencatan senjata harus dicapai di awal negosiasi. Menurut Merz, Trump pun memprioritaskan gencatan senjata dalam pertemuan dengan Putin.
Rusia melancarkan perang terbesar di Eropa sejak 1945 di Ukraina pada Februari 2022. Moskwa dituding menggunakan sektor energi Rusia untuk mengintimidasi Uni Eropa.
Eropa dan Ukraina khawatir, Putin akan mendapatkan konsesi yang menguntungkan dalam pertemuan dengan Trump. Mereka juga cemas Rusia akan menetapkan garis besar kesepakatan damai tanpa konsesi. Ketakutan utama banyak negara Eropa adalah Putin akan mengincar salah satu dari negara Eropa selanjutnya jika ia menang di Ukraina.
Presiden Perancis Emmanuel Macron turut mengatakan, Trump mengatakan dengan jelas bahwa AS ingin mencapai gencatan senjata dalam pertemuan dengan Putin. Zelenskyy juga berharap gencatan senjata akan menjadi pembahasan utama di Alaska meski ia meragukan itikad baik Putin dalam negosiasi itu.
”Putin jelas tidak menginginkan perdamaian,” kata Zelenskyy seusai pertemuan virtual.
”Putin sedang mencoba memberikan tekanan pada semua sektor di garis depan Ukraina dalam upaya untuk menunjukkan Rusia mampu menduduki seluruh Ukraina. Putin juga menggertak bahwa sanksi tidak penting baginya dan tidak efektif,” lanjut Zelenskyy.
Trump di Washington DC mengatakan, ia ingin melihat keseriusan Putin untuk mengakhiri perang yang memasuki tahun keempat. Trump menyebut pertemuan empat mata pada Jumat sebagai ”pertemuan uji coba”. Ia merasa dapat menilai niat Putin di situ.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/14/3ff38ee2-b99e-42fd-b9c1-688cbaf3e2da_jpg.jpg)
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Minggu, mengatakan yakin Trump memastikan Putin serius. ”Jika tidak, semuanya akan berhenti di situ. Jika dia serius, mulai Jumat dan seterusnya, prosesnya akan berlanjut. Ukraina terlibat, Eropa terlibat,” katanya.
Macron menambahkan, setelah pertemuan Trump-Putin, Trump selanjutnya akan mengupayakan pertemuan trilateral antara Trump, Putin, dan Zelenskyy. Macron berharap pertemuan dapat diadakan di Eropa, di negara netral yang diterima semua pihak.
Merz juga menegaskan, Ukraina harus duduk di meja perundingan segera setelah ada pertemuan lanjutan.
Menjelang pertemuan Trump-Putin, Zelenskyy, Selasa, mengatakan, Putin tetap menginginkan Ukraina menarik diri dari sisa 30 persen wilayah Donetsk yang masih dikuasainya. Hal itu dikatakan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
Zelenskyy menolak mentah-mentah tuntutan itu. Ia menegaskan kembali, Ukraina tidak akan menyerahkan wilayah apa pun yang dikuasainya. ”Hal itu tidak sesuai konstitusi dan hanya akan menjadi batu loncatan untuk invasi Rusia di masa mendatang,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan, diskusi diplomatik yang dipimpin AS fokus pada upaya mengakhiri perang dan belum membahas tuntutan utama Ukraina. Ukraina meminta jaminan keamanan untuk mencegah agresi Rusia di masa mendatang dan memastikan keterlibatan Eropa dalam negosiasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/14/08ad93cb-b41b-4b94-8c5e-291995fbab25_jpg.jpg)
Sementara, penetapan pangkalan militer di Alaska sebagai lokasi pertemuan dinilai banyak pihak sebagai ironi. Selama Perang Dingin antara Uni Soviet dan AS, pangkalan militer tersebut memainkan peran strategis dalam memantau dan menghalangi Uni Soviet.
Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson menampung sejumlah besar pesawat. Pangkalan militer itu juga mengawasi operasional berbagai situs radar peringatan dini yang bertujuan mendeteksi aktivitas militer Soviet dan kemungkinan peluncuran nuklir.
Sampai kini, Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson masih berperan. Meskipun sebagian besar perangkat keras militer telah dinonaktifkan, pangkalan masih menampung skuadron pesawat utama, termasuk jet tempur siluman F-22 Raptor. Pesawat-pesawat dari pangkalan tersebut masih mencegat pesawat Rusia yang secara rutin terbang ke wilayah udara AS.
Dalam sejarah, Alaska pernah menjadi bagian dari Tsar Rusia hingga tahun 1867. Alaska dikuasai Rusia mulai dari abad ke-18 hingga Tsar Alexander II menjualnya ke Amerika Serikat pada tahun 1867 seharga 7,2 juta dollar AS. Ketika diketahui mengandung sumber daya yang sangat besar, Rusia menganggapnya sebagai kesepakatan naif yang menimbulkan penyesalan.
Sam Greene dari King’s College London menulis di X, simbolisme Alaska sebagai lokasi pertemuan Trump-Putin tentang perang Ukraina ”mengerikan”. ”Seolah-olah dirancang untuk menunjukkan bahwa perbatasan dapat berubah, tanah dapat diperjualbelikan,” cuit Greene. (AP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan