OBITUARI

Try Sutrisno dan Perannya untuk Bulu Tangkis Indonesia

Try Sutrisno memiliki peran besar untuk bulu tangkis Indonesia, salah satunya saat menggagas program yang membuat Indonesia meraih dua emas Olimpiade Barcelona 1992.

02 Mar 2026 22:08 WIB · Olahraga

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO

Oleh Yulia Sapthiani

Mantan Wakil Presiden RI Try Sutrisno, yang wafat pada Senin (2/3/2026), tak hanya punya peran besar sebagai tokoh bangsa. Try Sutrisno juga memiliki sumbangsih tak ternilai untuk bulu tangkis Indonesia.

Wakil presiden pada periode 1993-1998 itu meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, dalam usia 90 tahun. Upacara pemakaman dilakukan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, dipimpin Presiden Prabowo Subianto.

Selain jabatan di bidang politik dan militer seperti wapres, Panglima ABRI, KSAD, dan posisi lainnya, sosok dengan pangkat jenderal TNI tersebut merupakan tokoh bulu tangkis. Try Sutrisno menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) dalam dua periode, yaitu 1985-1989 dan 1989-1993.

Prestasi tertinggi bulu tangkis Indonesia di bawah kepemimpinan Try Sutrisno adalah ketika bendera Merah Putih berkibar diiringi lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” di Olimpiade Barcelona 1992. Momen itu tak hanya terjadi sekali di Pavello de la Marbella, Barcelona, Spanyol, tetapi dua kali, dalam hari yang sama, Selasa, 4 Agustus 1992.

Sejak selesai semifinal, Indonesia memastikan mendapat medali emas ketika Alan Budikusuma mengalahkan Thomas Stuer-Lauridsen (Denmark). Kemenangan tersebut memastikan terjadinya final sesama pemain Indonesia di tunggal putra karena semifinal lainnya mempertemukan Ardy Bernadus Wiranata dan Hermawan Susanto.

Final akhirnya terjadi antara Alan dan Ardy yang dimenangi Alan. Dalam upacara pemberian medali bagi atlet tunggal putra, tiga bendera Merah Putih pun berkibar mengapit bendera Denmark.

Pemain bulu tangkis putri terbaik, Susi Susanti menjadi orang Indonesia yang mempersembahkan medali emas olimpiade bagi Ibu Pertiwi. Kompas/KARTONO RIYADI *** Local Caption *** Foto Susi Susanti menangis saat lagu Indonesia Raya berkumandang di Olimpiade Barcelona merupakan foto yang paling berkesan di hati almarhum Kartono Riyadi.

Namun, peraih emas pertama Indonesia di ajang Olimpiade adalah Susy Susanti. Dalam final tunggal putri, yang dimainkan lebih dulu, Susy mengalahkan Bang So-hyun (Korea Selatan).

Quote

Kalau tidak ada Pak Try, tidak akan ada pelatnas Cipayung.

Try Sutrisno menyaksikan langsung momen tersebut di tribune. ”Bisa menaikkan satu bendera saja sudah luar biasa. Ini kita sekaligus tiga bendera dalam satu upacara penghormatan pemenang,” kata Try Sutrisno.

”Meski terharu, saya tak menangis. Saya hanya ikut bangga, bendera Merah Putih bisa berkibar di Olimpiade,” lanjutnya, seperti ditulis dalam Kompas, 5 Agustus 1992.

Sehari sebelumnya, Kompas juga menulis bahwa Try Sutrisno menjadi bagian dari tim Indonesia yang menyambut gembira kemenangan Alan di semifinal. Try Sutrisno spontan melambaikan tangan kiri ke Alan dan kemudian mengepalkan tangan memberi selamat.

Keberhasilan meraih dua emas, dua perak, dan satu perunggu—yang membuat Indonesia menjadi juara umum di cabang bulu tangkis—merupakan hasil dari program pelatihan jangka panjang saat PBSI dipimpin Try Sutrisno.

Setelah menjadi cabang demonstrasi pada Olimpiade Muenchen 1972, bulu tangkis diresmikan sebagai cabang Olimpiade oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) pada 1985. Namun, sebelum menjadi cabang resmi yang memperebutkan medali di Barcelona 1992, bulu tangkis dipertandingkan sebagai cabang ekshibisi di Seoul 1988.

Wakil Presiden Try Sutrisno  dan BJ Habibie dalam sebuah pertemuan di Istana Negara.

Memimpin induk cabang olahraga dengan prestasi level dunia, Try Sutrisno membuat program persiapan menuju Barcelona 1992 sejak empat tahun sebelumnya. Dia dibantu teknokrat olahraga, MF Siregar, yang ditunjuk sebagai Ketua Bidang Pembinaan dan Proyek Olimpiade Barcelona 1992.

Ditulis dalam Kompas pada 2 Agustus 1988, pelatnas untuk Olimpiade Barcelona 1992 diikuti 44 atlet yang sebagian besar di antaranya atlet muda berusia 20 tahunan, termasuk Alan, Ardy, dan Susy. Salah satu program yang dilakukan adalah latihan bersama antara atlet pelatnas utama dan pratama yang biasanya terpisah.

Program tersebut dilakukan agar pemain senior dapat menularkan ilmu kepada adik-adiknya. Program jangka panjang tersebut akhirnya berbuah sejarah bagi olahraga Indonesia ketika meraih emas untuk pertama kalinya di arena Olimpiade.

Pelatnas Cipayung

Selain program Barcelona 1992, Try Sutrisno adalah sosok yang menggagas dibangunnya tempat latihan tim nasional di Cipayung, Jakarta. ”Kita sedang membuat suatu sarana pembinaan di dekat Taman Mini. Di sana ada ruangan untuk berlatih, gedung bulu tangkis, asrama, tempat untuk rapat-rapat, atau untuk klinik kepelatihan bagi pelatih dan wasit,” tuturnya saat diwawancara Kompas setelah Barcelona 1992.

Pusat pelatihan bernama Pusat Bulu Tangkis Indonesia (PBI) dengan luas 3,7 hektar itu memiliki gedung utama dengan 21 lapangan bulu tangkis yang dilengkapi tempat latihan fisik. Di sekitar gedung utama terdapat asrama untuk atlet dan pelatih, trek untuk latihan lari, serta fasilitas lain yang masih digunakan hingga saat ini.

”Kalau tidak ada Pak Try, tidak akan ada pelatnas Cipayung,” kata mantan atlet putri, Rosiana Tendean. Rosiana menjadi salah satu atlet angkatan pertama yang berlatih di pelatnas Cipayung bersama rekan-rekannya, seperti Susy dan Sarwendah.

Suasana latihan para pebulu tangkis di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, Rabu (26/11/2025). Para pebulu tangkis sibuk berlatih menjelang dimulainya final BWF Tour 2025 dan SEA Games 2025.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
26-11-2025

Dalam akun Instagram-nya, mantan atlet ganda putra, Candra Wijaya, menyebut, dia menjadi salah satu pemain pelatnas pratama yang berlatih saat Cipayung pertama kali diresmikan.

Candra juga mengunggah foto atlet bersama Try Sutrisno pada acara syukuran peresmian PBSI, 10 November 1992. Candra menyebut Try Sutrisno sebagai bapak bulu tangkis yang telah menjadi panutan bagi insan bulu tangkis Indonesia.

Rendah hati

”Try Sutrisno punya peran sangat besar untuk bulu tangkis Indonesia, tidak hanya di level nasional, tetapi juga di daerah. Di bawah kepemimpinan beliau, ada pelatda. Prestasi Indonesia yang menjuarai Piala Thomas pada masa Pak Soerjadi (Ketua Umum PBSI 1993-1997) dicapai berkat fondasi yang dibuat di zaman Pak Try,” tutur Rosiana.

Seperti dituturkan Rosiana, Indonesia menjuarai Piala Thomas lima kali beruntun (1994, 1996, 1998, 2000, dan 2002). Mereka yang memperkuat Indonesia saat itu, di antaranya Ardy, Hermawan, dan Rexy Mainaky, adalah atlet-atlet yang dijaring saat Try Sutrisno menjabat Ketua Umum PBSI.

”Hasil kepengurusan PBSI pada periode tertentu, kan, bergantung pula pada kepengurusan sebelumnya. PBSI kepengurusan Pak Try telah membuat fondasi kuat untuk kepengurusan berikutnya,” kata Rosiana.

Selain pengaruh besar untuk prestasi Indonesia, Rosiana mengingat Try Sutrisno sebagai sosok rendah hati. ”Meski beliau tentara, cara memimpinnya tidak kaku. Kami bahkan sering ditawari masakan buatan Ibu Try. Bapak sering bilang, pesen saja masakan ke ibu. Kami pun sering dikirimi masakan Ibu Try,” kata Rosiana.

Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno meninggal di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (2/3/2026) pagi. Berikut ini adalah sebagian penghargaan yang pernah beliau peroleh.

Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar