Sebagai juara bertahan Proliga, Jakarta Bhayangkara Presisi punya tugas berat agar gelar tak direbut tim lain. ”Final four” jadi tantangan awal mereka.
28 Mar 2025 19:02 WIB · Olahraga
Ada ungkapan, mempertahankan lebih berat ketimbang merebut. Hal itu berlaku pula dalam persaingan di kompetisi tertinggi bola voli Indonesia, Proliga. Sang juara bertahan, Jakarta Bhayangkara Presisi, akan mengemban tugas berat itu, tetapi mereka menatapnya dengan optimistis.
Pada musim lalu, pola pikir Bhayangkara Presisi ketika mengarungi Proliga adalah merebut gelar juara. Bhayangkara ingin merebutnya dari Jakarta LavAni yang menjadi juara pada dua edisi.
Bhayangkara sukses melaju ke final dan berhadapan langsung dengan LavAni. Mereka tak gentar dan akhirnya berhasil merebut trofi impian itu. Mereka sekaligus menjegal lawan menorehkan tiga kali juara beruntun alias hattrick.
Pola pikir berbeda diterapkan Bhayangkara Presisi pada Proliga 2025 seiring status mereka sebagai juara musim sebelumnya. Mereka mengarungi kompetisi dengan tekad mempertahankan trofi juara tersebut.
”Dengan status juara Proliga 2024, tentu tidak mudah menjalani musim ini. Apalagi di final four, kami pasti akan menghadapi laga berat dengan persaingan yang lebih ketat,” ucap Sekretaris Popsivo, Yudhi Hery Setiawan, Jumat (28/3/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/22/4ebba134-a066-408c-8422-842a118cc07a_jpg.jpg)
Final four atau babak empat besar menjadi langkah awal Bhayangkara Presisi untuk meniti jalan mempertahankan gelar juara. Seperti yang dikatakan Yudhi, jalannya tak akan mudah.
LavAni telah menjadi contoh bahwa mempertahankan gelar bukan perkara gampang. Pada Proliga 2022, musim debut mereka, LavAni berhasil keluar sebagai juara. Mereka mempertahankan gelar dari ”ancaman” Bhayangkara (ketika masih bergabung dengan Samator) yang menjadi lawan di final.
Trofi pun masih ada dalam dekapan mereka pada Proliga 2023. LavAni kembali mengalahkan Bhayangkara yang sudah menggunakan nama Jakarta Bhayangkara Presisi. Namun, satu musim setelahnya, mereka harus kehilangan gelar tersebut.
Meski demikian, Yudhi mengatakan, Bhayangkara Presisi optimistis dengan target mereka untuk mempertahankan gelar juara. ”Bahkan, kami ingin mengawinkan gelar antara tim putra dan tim putri,” ucapnya lagi.
Tim putri yang dimaksud Yudhi adalah Jakarta Popsivo Polwan. Tim yang sama-sama dimiliki Polri ini juga melaju ke babak final four. Mereka keluar sebagai juara fase reguler.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/28/c9d65db7-fe09-4987-9434-b3e5a6b8bdd4_png.png)
Adapun Bhayangkara Presisi finis sebagai peringkat kedua klasemen akhir fase reguler. Rendy Tamamilang dan kawan-kawan memenangi enam pertandingan dari total laga yang dijalani. Hasil ini lebih baik dibandingkan musim lalu ketika mereka hanya bisa finis keempat pada fase reguler dengan delapan kemenangan dari 12 laga.
Pada musim ini, tim yang berpartisipasi lebih sedikit, yakni hanya lima tim. Berbeda dengan musim lalu yang mencapai tujuh tim. Dari empat tim lawan, satu-satunya yang bisa mengalahkan Bhayangkara Presisi hanya LavAni dalam dua pertemuan.
Hal itu menunjukkan LavAni akan kembali menjadi salah satu pesaing berat Bhayangkara Presisi. Di sisi lain, situasi yang berbalik kini membuat LavAni akan lebih diuntungkan secara psikologis karena posisi mereka tengah berupaya mengejar, bukan mempertahankan seperti dua musim terakhir.
Rendy Tamamilang, yang musim lalu dinobatkan sebagai gelar pemain terbaik, pun mengakui bahwa kondisi mental berpengaruh pada penampilan tim. Rendy, yang berada dalam skuad Bhayangkara pada final Proliga 2023 dan 2022, mengaku bisa tampil lebih tenang pada final Proliga 2024. Dia tidak menggebu seperti pada final sebelumnya yang justru menjadi bumerang bagi tim.
”Kami dalam kondisi mental yang mengejar, bukan mempertahankan. Bebannya pasti berbeda antara mengejar gelar seperti kami dan mempertahankan gelar seperti Lavani,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/23/2c1f9984-37e5-454f-8561-e5143971f88d_jpg.jpg)
Meski begitu, Yudhi mengatakan, Bhayangkara Presisi akan fokus pada persiapan sendiri, alih-alih khawatir dengan performa lawan. Mereka meningkatkan kemampuan pemain lokal yang pada musim reguler cukup mendominasi dalam permainan tim.
Peran dominan pemain lokal, termasuk andalan timnas, Farhan Halim, membuat Bhayangkara Presisi juga seolah tak kesulitan kendati hanya diperkuat satu pemain asing, Sabar Kazemi (Iran). Padahal, pada Proliga 2025, setiap tim diperbolehkan memiliki dua pemain asing.
Menjelang final four, Bhayangkara bahkan memutuskan untuk melepas Kazemi. Berdasarkan aturan, setiap tim tidak hanya diperbolehkan memiliki dua pemain asing, tetapi juga diperbolehkan melakukan pergantian pemain asing hingga sebelum final four.
Dengan dilepasnya Sabar Kazemi, praktis Bhayangkara Presisi tak diperkuat pemain asing sama sekali. Yudhi mengatakan, pengganti Kazemi juga masih dalam tahap seleksi oleh manajemen.
Jakarta Bhayangkara Presisi akan kembali bertarung, tidak hanya menghadapi lawan di lapangan, tetapi juga beban ekspektasi sebagai juara bertahan. Jika mereka mampu mengubah tekanan menjadi semangat, bukan tak mungkin trofi itu bisa mereka pertahankan.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar Alexey