Tuntut Pembebasan Sandera Sipil, Israel Halangi Warga Gaza Kembali

Hamas telah membebaskan empat perempuan prajurit Israel yang disandera. Sebanyak 200 warga Palestina yang ditahan di penjara Israel juga dibebaskan.

25 Jan 2025 20:15 WIB · Internasional

Oleh Fransisca Romana Ninik W

TEL AVIV, SABTU — Israel menyatakan akan menghalangi pengungsi kembali ke rumah mereka di utara Jalur Gaza hingga seorang sandera sipil bernama Arbel Yehud dibebaskan. Pada Sabtu (25/1/2025), Hamas telah membebaskan empat prajurit perempuan yang ditukar dengan pembebasan 200 tahanan warga Palestina di penjara Israel.

”Israel tidak akan mengizinkan warga Gaza menuju bagian utara Jalur Gaza sampai pembebasan warga sipil, Arbel Yehud, yang seharusnya dibebaskan hari ini,” sebut pernyataan Kantor Perdana Menteri Israel.

Hanya beberapa menit setelah pernyataan itu, dua sumber Hamas mengatakan kepada kantor berita AFP, ”Yehud masih hidup dan sehat.” Sumber Hamas mengatakan, perempuan itu akan dibebaskan pada pertukaran tahap ketiga yang dijadwalkan pada 1 Februari.

Hamas telah menyerahkan empat prajurit Israel, yakni Karina Ariev (20), Daniela Gilboa (20), Naama Levy (20), dan Liri Albag (19). Keempatnya anggota unit pengawasan yang ditempatkan di dekat Gaza saat Hamas menyerang wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023.

TOPSHOT - Four Israeli hostages, (L-R) Naama Levy, Liri Albag, Daniella Gilboa and Karina Ariev, wave on a stage before Hamas fighters hand them over to a team from the Red Cross in Gaza City on January 25, 2025. Hamas militants handed over four Israeli women hostages to the Red Cross in a January 25 swap after parading them on a stage at a square in Gaza, an AFP journalist reported. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Keempat perempuan prajurit Israel itu tersenyum lebar saat mereka melambaikan tangan dan mengacungkan jempol dari atas panggung di Kota Gaza. Di sisi-sisi mereka berdiri anggota Hamas, sementara di hadapan mereka kerumunan orang menyaksikan. Mereka kemudian diserahkan kepada petugas dari Palang Merah yang menanti.

Seiring pembebasan mereka, ratusan orang di Tel Aviv, Israel yang menonton dari layar lebar berteriak girang. “Saya tidak bisa berkata-kata. Saya merinding melihatnya. Saya hanya ingin perang berakhir,” ujar Aviv Bercovich, salah satu hadirin.

Namun, tak lama setelah itu, Kantor PM Israel menyatakan, Hamas tidak memenuhi perjanjian pembebasan sandera yang disepakati. Mereka menyebut, seharusnya warga sipil turut serta dibebaskan.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi, juru bicara militer Israel, Laksamana Muda Daniel Hagari mengonformasi keempat sandera yang dibebaskan telah berada di tangan Israel dan menuju rumah masing-masing. Ia mengkritik tampilnya mereka di atas panggung di Gaza sebagai hal “sinis”.

Hagari juga mengatakan, Israel khawatir akan nasib dua sandera yang masih anak-anak, yakni Kfir dan Ariel Bibas, serta ibu mereka, Shiri.

Seorang perempuan prajurit lain yang masih disandera kemungkinan akan dibebaskan dalam pekan-pekan mendatang.

An armed man stands guard at a roadblock on Salah al-Din Street in Nuseirat on January 25, 2025. Israel said on January 25 it would block the return of displaced Palestinians to their homes in northern Gaza until civilian woman hostage Arbel Yehud is released. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Beberapa jam setelah pembebasan keempat sandera, Israel membebaskan 70 tahanan warga Palestina melalui Mesir, menurut laporan stasiun televisi milik Pemerintah Mesir, Qahera TV. Mesir merupakan salah satu mediator dalam perundingan antara Hamas dan Israel. Sementara media melaporkan, bus-bus yang membawa tahanan Palestina telah berangkat dari dua penjara Israel, yakni Penjara Ofer di wilayah pendudukan Tepi Barat dan Penjara Ktziot di Gurun Negev.

Di antara tahanan yang dibebaskan terdapat 121 orang yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, termasuk Mohammad Odeh (52) dan Wael Qassim (54) yang berasal dari Jerusalem Timur. Mereka dituduh ikut melancarkan serangkaian serangan mematikan oleh Hamas terhadap Israel.

“Ini besar sekali. Orang-orang lupa dengan perang, kerusakan, dan mereka bersukaria,” kata Radwan Abu Rawiya, warga Kota Gaza.

Menurut pihak berwenang Hamas, warga Gaza yang mengungsi bisa mulai kembali ke wilayah utara pada Minggu (26/1/2025). Warga dimungkinkan untuk bergerak antara wilayah utara dan selatan Gaza dengan berjalan kaki melalui jalan Rashid di pesisir.

Pertukaran tahanan ini merupakan bagian dari gencatan senjata Hamas-Israel tahap pertama yang berlaku mulai 19 Januari 2025. Pada pertukaran pertama, dibebaskan tiga sandera oleh Hamas dan 90 tahanan Palestina oleh Israel.

Sesuai kesepakatan, selama tahap pertama, Hamas akan membebaskan 33 sandera dengan pertukaran ratusan tahanan Palestina di penjara Israel. Israel menyatakan masih ada 94 sandera yang ditawan Hamas.

Sebelum tahap pertama selesai, kedua pihak harus merundingkan pertukaran berikutnya. Langkah itu disertai penarikan pasukan Israel dari Gaza.

Displace Palestinians who left the southern Gaza Strip where they had taken refuge, arrive with their belongings northwest of Nuseirat in the central part of the strip, at the nearest point possible to the Israeli-controlled Netzarim corridor, hoping to return to the north whenever possible, on January 24, 2025. (Photo by Bashar TALEB / AFP)

Gencatan senjata itu mengakhiri 15 bulan gempuran Israel di Gaza yang mengakibatkan sedikitnya 46.000 orang tewas. Meski disambut baik, banyak pihak menyangsikan gencatan senjata akan menuju pada perdamaian permanen di kawasan itu.

Hal ini karena Sejumlah kalangan di Pemerintah Israel merasa kesepakatan gencatan senjata adalah kemenangan bagi Hamas. Sayap garis keras pemerintah, termasuk Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, menuntut agar Israel melanjutkan serangan ke Gaza pada akhir tahap pertama gencatan senjata.

Gencatan senjata juga memungkinkan aliran besar bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza yang mengalami krisis kemanusiaan. Kesepakatan mensyaratkan masuknya 600 truk pengangkut bantuan setiap hari ke Gaza.

Meski bantuan mulai mengalir, warga Gaza masih menghadapi tantangan amat besar. Selain rapuhnya gencatan senjata, mereka mendapati tempat tinggalnya sudah luluh lantak.

“Kemungkinan antara 65 persen dan 70 persen bangunan di Gaza hancur total atau rusak berat,” kata Achim Steiner, Kepala Program Pembangunan PBB, kepada AFP di Davos, Swiss. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari