Ukraina Menyerang Balik di Kursk

Kursk adalah aset Ukraina untuk bernegosiasi dengan Rusia.

06 Jan 2025 10:15 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

KURSK, SENIN — Pasukan Ukraina kembali menyerang Kursk, Rusia bagian barat. Berbagai laporan mengatakan, pasukan Rusia dalam keadaan terdesak, tetapi terus berusaha membalas serangan dari Ukraina.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, serangan Ukraina itu terjadi pada Minggu (5/1/2025) pukul 09.00 waktu setempat. Ukraina menyerang dengan menggunakan 2 tank, 12 kendaraan lapis baja, 1 kendaraan perusak, dan sejumlah pasukan lintas udara.

Sejumlah bloger pro-Rusia menyebarkan foto-foto yang mereka bilang sebagai serangan tersebut ke media sosial Telegram. ”Pasukan Rusia terus berusaha menanggulangi serangan ini,” kata Rybar, seorang pembuat konten pro-Rusia.

Serangan itu ditujukan ke Desa Berdin yang terletak 15 kilometer dari Sudzha. Distrik Sudzha telah diduduki oleh pasukan Ukraina sejak 15 Agustus 2024. Rusia mengategorikan serangan Ukraina ini sebagai serangan balasan. Ukraina pertama kali menyerang Kursk secara tiba-tiba pada Agustus 2024. Akan tetapi, setelah itu, pasukan Ukraina lebih banyak mempertahankan diri dari serangan Rusia.

Awalnya, pasukan Ukraina mengklaim mereka menduduki 1.400 kilometer persegi wilayah Kursk. Pada November 2024, mereka mengubah klaim tersebut menjadi 800 kilometer persegi. Terkait dengan serangan kali ini, pihak Ukraina tidak memberi keterangan terperinci. Mereka hanya mengatakan pertempuran terjadi di Kursk.

Infografik Peta Pasukan Ukraina menerobos ke dalam Oblast Kursk pada 12 Agustus 2024

Yuri Podolyak, bloger pro-Rusia, mengatakan, pasukan Rusia kini membendung pasukan Ukraina. Mereka memblokir jalan utama di utara yang menuju ke ibu kota Kursk.

Sementara itu, di Ukraina, Kepala Pusat Antidisinformasi Andriy Kovalenko mengatakan, pasukan Ukraina menyerang dari berbagai sisi. Taktik ini membuat pasukan Rusia kerepotan.

Sebelumnya, pasukan Ukraina yang terdesak di Kursk ketika Rusia meningkatkan jumlah pasukan dan persenjataan di wilayah tersebut. Selain itu, Rusia juga memperoleh bantuan dari pasukan Korea Utara. Intelijen Amerika Serikat dan Korea Selatan memperkirakan ada 11.000 pasukan Korut yang dikirim berperang ke Kursk.

AS dan Korsel juga memperkirakan sebanyak 1.000 sampai dengan 3.000 tentara Korut telah tewas di Kursk. Sejumlah tentara Ukraina yang diwawancara koran Ukrayinska Pravda mengungkapkan, para tentara Korut berlari menyongsong wahana nirawak (drone), padahal wahana itu meluncurkan roket ataupun meledakkan diri di tengah-tengah mereka.

”Kami sendiri kaget melihat kejadian aneh itu. Mereka (pasukan Korut) bukannya menghindar, malah beramai-ramai berlari ke arah drone yang jelas-jelas akan membunuh mereka,” tutur seorang tentara Ukraina yang namanya dirahasiakan.

Korut dan Rusia belum ada yang berkomentar soal ini. Baik Moskwa maupun Pyongyang juga tidak pernah memberi keterangan resmi tentang pasukan Korut di Kursk yang terindikasi datang sejak Oktober 2024. Keberadaan mereka diketahui publik global melalui keterangan dari AS, Ukraina, dan Korsel.

This photo taken on September 11, 2024 and released from North Korea's official Korean Central News Agency (KCNA) via KNS on September 13, 2024 shows soldiers training at a base for the special operation armed forces of the Korean People's Army (KPA) at an undisclosed location in North Korea. (Photo by KCNA VIA KNS / AFP) / South Korea OUT / ---EDITORS NOTE--- RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO/KCNA VIA KNS" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS THIS PICTURE WAS MADE AVAILABLE BY A THIRD PARTY. AFP CAN NOT INDEPENDENTLY VERIFY THE AUTHENTICITY, LOCATION, DATE AND CONTENT OF THIS IMAGE /

Negosiasi

Pendudukan Kursk merupakan elemen penting bagi Ukraina. Di dalam taktik negosiasi gencatan senjata, kemampuan Ukraina menguasai Kursk membuat posisi mereka lebih kuat di meja perundingan.

Laporan berbagai lembaga, termasuk Institut Kajian Perang (ISW), mengatakan, per tahun 2024, kehadiran pasukan Rusia di Ukraina meningkat tujuh kali lipat dibandingkan dengan tahun 2023.

Baik Ukraina maupun Rusia sama-sama mendekati presiden terpilih AS, Donald Trump. Ia akan dilantik untuk menjadi kepala negara AS pada 20 Januari 2025. Trump selama berkampanye mengatakan sudah tidak mau mendukung Ukraina karena, menurut dia, menghabiskan anggaran Washington.

Foto yang dirilis Layanan Media Istana Kepresidenan Ukraina memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berjabat tangan dengan calon presiden Amerika Serikat Donald Trump usai bertemu di New York, Jumat (27/9/2024). This handout photograph released by the Ukrainian presidential press service on September 27, 2024 shows Ukrainian President Volodymyr Zelensky (L) and Republican presidential nominee former US President Donald Trump meeting on September 27, 2024 in New York. The meeting coincides with Zelensky's visit to New York for the United Nations General Assembly. (Photo by Handout / UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SERVICE / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SERVICE" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Trump juga sesumbar mengatakan dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sehingga bisa menyelesaikan perang Rusia-Ukraina dalam semalam. Rusia menginvasi Ukraina pada 22 Februari 2022 karena tidak mau Ukraina bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Rusia menduduki lima wilayah Ukraina, yakni Crimea, Zaprorizhia, Luhansk, Donetsk, dan Kharkiv. Perundingan selama ini gagal karena Rusia menolak mengembalikan kelima wilayah itu. Berhubung kini Ukraina menyandera Kursk diharapkan bisa ada pertukaran wilayah.

”Saya dan Trump akan membuat perjanjian yang menjamin keamanan di Eropa. Baru setelah itu bersama-sama kami akan berbicara dengan Rusia,” kata Presiden Volodymyr Zelenskyy dalam acara siniar di AS yang diasuh oleh Lex Friedman pada Minggu malam.

Zelenskyy mengakui Trump memiliki kekuatan untuk menekan Putin. Oleh sebab itu, langkah pertama ialah memastikan bahwa Trump berada di pihak Ukraina. Pada Kamis (9/1/2025) Zelenskyy akan ke Jerman menghadiri pertemuan dengan negara-negara pendukung Ukraina. Di sana ia akan meminta mereka menambah bantuan pertahanan udara.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin akan menghadiri pertemuan tersebut. Presiden AS Joe Biden berniat membantu Ukraina semaksimal mungkin sebelum pemerintahan beralih ke Trump per 20 Januari. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .