Indonesia U-17 semakin dekat menuju target lolos ke Piala Dunia U-17 2025. Taktik bertahan Nova Arianto berjalan sukses meredam serbuan Korea Selatan.
05 Apr 2025 00:52 WIB · Olahraga
JEDDAH, JUMAT — Pendekatan taktik nan efektif yang diterapkan Pelatih tim Indonesia U-17 Nova Arianto menjadi kunci kemenangan 1-0 Indonesia atas Korea Selatan pada gim pertama Grup C Piala Asia U-17 2025, Jumat (4/4/2025) malam, di Stadion Pangeran Abdullah al-Faisal, Jeddah, Arab Saudi. ”Garuda Muda” hanya berjarak tiga poin dari dua laga penyisihan tersisa menuju Piala Dunia U-17 2025. Selanjutnya, Indonesia U-17 akan menghadapi Yaman U-17, Senin (7/4/2025) malam WIB dan Afghanistan U-17, pada Jumat (11/4/2025) dini hari WIB.
Ini (hasil) gila. Saya tidak menyangka bisa menang atas Korsel. Tetapi, kami sudah menyiapkan diri untuk menghadapi laga ini selama dua bulan.
Gelandang tengah, Evandra Florasta, mencetak gol krusial yang mendekatkan Indonesia dengan memenuhi target ke ajang pentas dunia junior di Qatar, November mendatang. Ia mencetak gol melalui tembakan rebound dari eksekusi penaltinya yang gagal pada menit 90+2.
Dua tembakan yang diciptakan pemain asal Bhayangkara Presisi itu adalah catatan sepakan tepat sasaran Indonesia di laga itu. Selama dua babak pertarungan, Garuda Muda mampu menahan gempuran ”Pasukan Taegeuk”, julukan Korsel, yang mengkreasikan 16 tembakan.
”Ini (hasil) gila. Saya tidak menyangka bisa menang atas Korsel. Tetapi, kami sudah menyiapkan diri untuk menghadapi laga ini selama dua bulan,” ujar Evandra kepada AFC Media seusai laga.
Sementara itu, Indonesia hanya bisa melepaskan empat tembakan melalui skema serangan balik. Minimnya serangan Indonesia itu tidak lepas dari taktik bertahan yang diterapkan Nova, eks bek tengah timnas Indonesia periode awal 2000-an.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/05/ee89454847065a9726b5e907af760a7c-IMG_20250405_WA0002.jpg)
Tidak hanya mengumpulkan lima bek sejajar untuk menahan gempuran Korsel, koordinasi pertahanan Indonesia juga berjalan baik. Kiper Dafa Al Gasemi memimpin lini pertahanan dengan baik.
Dalam beberapa kesempatan, terutama dalam situasi bola di udara, Dafa selalu berteriak kepada rekan-rekannya. ”Duel, duel,” teriakan Dafa yang terdengar dalam mayoritas durasi pertandingan.
Di sisi lain, Nova juga mengatur dengan cermat posisi pemainnya. Ia mengarahkan pemainnya untuk agar tidak pernah lengah menjaga pergerakan pemain-pemain Korsel di sepertiga akhir zona pertahanan sendiri.
Unggul atas Korsel di gim pembuka Piala Asia U-17 2025 adalah kemenangan ketiga Indonesia dalam tujuh keikutsertaan di turnamen antarnegara Asia paling junior. Hasil positif itu tercipta pada tiga keikutsertaan terkini Garuda Muda di Piala Asia U-17, yakni edisi 2010, 2018, dan 2025.
Pada edisi 2010, Indonesia mengalahkan Tajikistan 4-1 pada gim kedua. Kemudian, Indonesia mengalahkan Iran 1-0 di laga perdana fase grup Malaysia 2018. Hasil itu membantu Garuda Muda yang kala itu diasuh Fakhri Husaini menembus babak perempat final.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/05/88dd5a86b070d07c0676cf727cd480cf-IMG_20250405_WA0001.jpg)
Sementara itu, Indonesia akhirnya bisa mengalahkan Korsel pada turnamen Piala Asia U-17. Pada tiga duel sebelumnya, Indonesia meraih satu imbang dan dua kali kalah.
Garuda Muda tumbang 1-7 pada 1988 dan 0-9 pada 2008. Indonesia sempat menahan Korsel 1-1 pada Uni Emirat 1990. Pada edisi 35 tahun silam itu, Indonesia menembus babak semifinal yang masih menjadi prestasi terbaik Indonesia di Piala Asia U-17.
Dengan kemenangan melawan Korsel di edisi 2025, maka Indonesia setidaknya perlu satu kemenangan lagi untuk mengunci posisi dua besar demi lolos ke perempat final. Melaju ke babak delapan besar berarti Indonesia lolos ke Piala Dunia U-17 2025.
Itu adalah prestasi anyar bagi Indonesia dengan lolos ke Piala Dunia U-17 melalui jalur kualifikasi. Sebelumnya, Indonesia tampil di Piala Dunia U-17 2023 sebagai jatah tim tuan rumah.
”Kemenangan atas Korsel meningkatkan kepercayaan diri tim. Kami yakin bisa menyapu bersih (dua laga tersisa di Grup C),” kata Evandra.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/05/04d18b36e4775e7e59259c729a2f5f5b-IMG_20250405_WA0000.jpg)
Indonesia menerapkan taktik bertahan total sejak sepak mula. Nova menerapkan formasi awal 3-4-3 yang berubah menjadi 5-4-1 ketika tidak menguasai bola.
Tiga bek tengah diisi Muhamad Al Gazani, Putu Panji, dan Mathew Baker. Fabio Azkairawan dan Daniel Afrido menempati pos bek sayap.
Di lini tengah, Garuda Muda mengandalkan duet Nasrul Alfaro dan Evandra Florasta. Adapun trisula baku tim U-17, yaitu Fadly Alberto, Mierza Fijatullah, dan Zahaby Gholy, tetap menjadi andalan pada laga pembuka di Arab Saudi 2025.
Namun, Fadly dan Gholy lebih sering berdiri sejajar dengan dua gelandang tengah dibanding bergerak dekat dengan Mierza. Hal itu disebabkan tekanan intens yang dilancarkan Korsel.
Pasukan Taegeuk sudah mengancam gawang Indonesia ketika pertandingan baru berjalan 50 detik. Gelandang Korsel, Oh Ha-ram, merupakan pemain pertama yang melepaskan tembakan di Stadion Pangeran Abdullah al-Faisal, Jeddah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/03/b529b155-a810-4fe5-9f5c-0f5571fd7dfc_jpg.jpg)
Pada paruh pertama, Korsel mencatatkan sembilan tembakan. Meski menekan dengan koleksi 65 persen penguasaan bola, akurasi tembakan Korsel buruk sehingga menguntungkan Indonesia. Mereka hanya menghasilkan dua tembakan sasaran yang bisa ditangkap dengan mudah oleh kiper Indonesia, Dafa.
Di sisi lain, Garuda Muda hanya menghasilkan satu tembakan pada babak pertama. Tembakan dihasilkan Gholy di menit kesembilan. Eksekusi pemain didikan Persija Jakarta itu melayang di atas mistar gawang Korsel.
Mierza sempat mendapatkan peluang emas di menit ke-14. Ia lolos jebakan offside Korsel dan berhadapan satu lawan satu dengan kiper Korsel, Park So-hun. Sayang, Mierza ragu-ragu ketika mampu menggiring bola memasuki kotak penalti Korsel sehingga bola bisa ditangkap Park sebelum Mierza melepaskan tembakan.
Terlepas dari pertahanan yang tampil apik, Garuda Muda bermain tidak baik dalam duel bola kedua atau second ball. Kondisi itu membantu Korsel bisa cepat memulihkan penguasaan bola setelah serangan mereka gagal akibat sapuan bek Indonesia.
Di babak kedua, kualitas serangan Korsel menurun. Dari tujuh tembakan setelah turun minum, mereka hanya menghasilkan satu tembakan tepat sasaran.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/23/1fb6ade9-3e2a-4c08-aba7-919119356b97_jpeg.jpg)
Daya serang Indonesia pun menurun setelah Gholy dan Mierza diganti pada babak kedua. Kondisi itu membuat Garuda Muda bertumpu pada aksi individu Fadly untuk memberikan ancaman di pertahanan Korsel.
”Kami bermain luar biasa, tetapi masih banyak yang harus kami benahi,” ucap Evandra yang telah menyumbang lima gol dalam sembilan laga bersama tim U-17.
Sementara itu, bek tengah sekaligus kapten Korsel, Koo Hyeo-bin, mengakui kondisi fisik timnya menurun drastis pada babak kedua. Situasi itu menyebabkan penurunan performa mereka.
”Kami juga harus membenahi komunikasi antarpemain di dalam pertandingan. Kami memiliki waktu dua hari untuk memperbaiki diri demi mengejar kemenangan di gim kedua (kontra Afghanistan),” kata Koo kepada AFC Media.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari