Untuk Liverpool, Memangnya Ekitike Lebih Baik dibandingkan Nunez?

Penyelesaian akhir selalu menjadi tanda tanya terbesar untuk Darwin Nunez selama di Liverpool. Calon penggantinya, Hugo Ekitike, terlihat punya masalah serupa.

19 Jul 2025 15:22 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Tidak ada pemain dalam sejarah Liga Inggris yang mengenai tiang gawang sebanyak empat kali dalam satu pertandingan. Sampai akhirnya Darwin Nunez hadir. Penyerang Liverpool itu terlalu sering tidak beruntung di depan gawang, sampai kompetensinya dipertanyakan.

Inkompetensi dan ketidakberuntungan terkadang dipisahkan oleh garis yang sangat tipis. Cara terbaik membedakan itu adalah waktu. Sekali mungkin kebetulan, tetapi tidak jika berkali-kali. Hal serupa bisa digunakan untuk menilai kualitas penyelesaian akhir Nunez selama tiga musim di Liverpool.

Nunez beberapa kali menciptakan gol spektakuler. Namun, dia terlalu sering melewatkan peluang mudah di depan gawang. Masalahnya, nilai gol tidak berubah karena lebih spektakuler. Setiap bola masuk ke gawang hanya dihitung satu gol. Dia terjebak dalam inkonsistensi.

Catatan statistik memperjelas kekurangan sang striker dalam penyelesaian akhir. Nunez hanya mencetak 25 gol dalam tiga musim terakhir. Padahal, dia mencatat nilai peluang hingga 33,7 xG (expected goals). Adapun produksi gol Nunez tidak pernah bisa melebihi angka xG di setiap musim.

Target utama seorang penyerang adalah mencetak gol. Jika dilihat dari performa Nunez, wajar saja Liverpool ingin melepasnya pada jendela transfer musim panas 2025. Pemain yang dibeli dari Benfica dengan harga 85 juta euro (Rp 1,61 triliun) itu sudah kehabisan waktu.

Pertanyaan selanjutnya, siapakah pengganti Nunez? Liverpool sempat mendekati penyerang bintang Newcastle United, Alexander Isak, tetapi ditolak. Alternatifnya adalah striker berbakat Eintracht Frankfurt Hugo Ekitike yang sedang diperebutkan banyak klub.

Aksi penyerang Liverpool Darwin Nunez saat berhadapan dengan kiper Newcastle United, Martin Dubravka, dalam pertandingan Liga Inggris antara Liverpool dan Newcastle United di Stadion Anfield, Liverpool, Selasa (2/1/2024) dini hari WIB. ***Newcastle's goalkeeper Martin Dubravka, left, makes a save in front of Liverpool's Darwin Nunez during the English Premier League soccer match between Liverpool and Newcastle, at Anfield stadium in Liverpool, England, Monday, Jan. 1, 2024. (AP Photo/Jon Super)

Masalahnya, Ekitike juga belum terbukti sebagai mesin gol yang konsisten. Sang pemain 23 tahun memang berhasil menyumbang 15 gol di Liga Jerman musim lalu. Namun, itu adalah pencapaian terbaiknya. Di musim sebelumnya, musim debut bersama Frankfurt, dia hanya mencetak empat gol.

Ekitike sering melewatkan peluang. Hal itu tecermin dalam defisit nilai xG dengan jumlah gol yang mencapai -6,6. Dia jauh dari proyeksi di atas kertas untuk mencetak setidaknya 21 gol. Adapun nilai defisit itu merupakan yang terburuk dari seluruh pemain di lima liga terbaik Eropa.

Jeruk baru

Lantas, jika belum pasti lebih baik, mengapa Nunez perlu digantikan oleh Ekitike? Jawaban dari pertanyaan itu sebenarnya sudah terpancar pada Februari lalu. Tepatnya dalam wawancara Pelatih Arne Slot seusai kemenangan Liverpool atas Manchester City.

Slot mengaku kecewa dengan etos kerja sang pemain tim nasional Uruguay. Itu yang membuat Nunez hanya duduk di bangku cadangan sepanjang laga. Bagi sang pelatih, gol bukan segalanya. Nunez bisa membantu banyak hal dari aspek lain, tetapi tidak dilakukan dengan maksimal.

”Saya menolongnya dengan mengatakan dia bisa melewatkan peluang. Namun, jika anda melewatkan peluang, anda harus bertarung untuk tim. Bukannya Darwin tidak melakukan itu sama sekali, hanya saja itu bukan dia yang biasanya. Sekali bisa diterima, tidak jika berkali-kali,” kata Slot.

Nunez, 26 tahun, sudah berada di titik terendah, baik dari sisi performa maupun motivasi. Dia tidak pernah mencapai potensi terbaik seperti yang diharapkan saat datang dari Benfica. Nunez semakin terpuruk di musim lalu saat hanya diberikan jumlah menit nyaris separuh dari musim 2023-24.

Di sisi lain, Ekitike menawarkan sesuatu yang lebih segar dan potensial dengan usia lebih muda tiga tahun dibandingkan Nunez. Dia datang sebagai salah satu prospek striker terbaik di Eropa saat ini. Ibarat jeruk, Nunez sudah kering diperas dan Ekitike masih baru.

Pemain Eintracht Frankfurt Hugo Ekitike merayakan golnya ke gawang Tottenham Hotspur pada laga pertama perempat final Liga Europa di Stadion Tottenham Hotspur, London, Inggris, Jumat (11/4/2025) dini hari. Laga itu berakhir imbang 1-1.

Belum lagi, atribut Ekitike jauh lebih lengkap ketimbang Nunez. Saat Nunez lebih banyak beroperasi di garis terakhir lawan, Ekitike lebih aktif untuk membantu ke lini tengah. Ekitike merupakan penyerang yang komplet, bisa menemukan dan menciptakan peluang, sering disandingkan dengan Isak.

Kelebihan itu bisa terlihat dalam statistik per 90 menit dari FBref. Ekitike unggul atas Nunez dalam nilai peluang, 0,76-0,46 xG, dan umpan kunci, 1,54-0,87 kali. Dribel progresif, upaya sukses menggiring bola minimal 9,1 meter (10 yards), juga diungguli oleh Ekitike 3,26-1,83 kali.

Ekitike dan Nunez memang bermain di liga yang berbeda. Catatan statistik itu bisa naik dan turun ketika kedua pemain berpindah liga. Namun, catatan tersebut tetap bisa sedikit gambaran betapa lengkap kemampuan Ekitike. Potensi mantan pemain timnas Perancis U-21 itu menjanjikan.

Ekitike meyakini, penyelesaian akhirnya akan membaik seiring waktu. ”Mereka bilang saya terlalu jauh dari posisi penyerang seharusnya. Saya sudah memperbaiki itu. Saya paham tekanan untuk selalu mencetak gol. Itu yang membuat saya lebih lugas dan selalu menghadap ke gawang lawan,” ujarnya.

Bagi Liverpool, Isak merupakan pilihan paling ideal karena sudah matang dan terbukti di Liga Inggris. Meskipun begitu, Ekitike sama sekali bukan pilihan yang buruk di tengah keterbatasan penyerang ”nomor 9” pada bursa kali ini. Pilihan alternatif itu layak dicoba. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra