Madueke Menyeberang ke Arsenal, ”Tangan Dingin” Arteta Diuji

Kehadiran Noni Madueke dari Chelsea bisa menjadi solusi atau justru memperburuk keadaan Arsenal. Semua tergantung dari bagaimana Mikel Arteta memoles sang pemain.

19 Jul 2025 08:14 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Ibarat pemain drum dari band metal yang masuk ke orkestra, seperti itulah gambaran kedatangan penyerang sayap Noni Madueke ke Arsenal. Madueke terkenal dengan gaya bermain meledak-ledak yang penuh spontanitas, saat skuad Arsenal terbiasa tampil dalam sistem yang terstruktur dan sangat rapi.

Setelah banyak ditentang para pendukung Arsenal, transfer Madueke dari Chelsea akhirnya resmi diumumkan pada Jumat (18/7/2025) malam WIB. Pemain tim nasional Inggris itu didatangkan Arsenal dengan paket nilai transfer yang berpotensi mencapai 52 juta poundsterling (Rp 1,13 triliun).

Madueke telah menandatangani kontrak selama lima tahun di Arsenal, sampai musim panas 2030. ”Saya orang yang sering mengikuti kata hati. Sejauh ini saya merasa sudah berjalan ke arah tepat. Saya sangat senang berada di sini,” katanya tentang pindah ke tim London lain.

Sayap 23 tahun itu sebenarnya bukan tipe pemain khas Arsenal di bawah Manajer Mikel Arteta. ”Si Meriam” selalu mengandalkan sistem kolektif. Mereka sangat sabar dan terstruktur dalam membongkar pertahanan lawan. Para pemain lebih pilih melewati lawan dengan umpan ketimbang dribel.

Madueke jauh berbeda. Saat ada kesempatan melewati lawan, dia tidak akan segan untuk mendribel bola. Kecepatan dan keterampilan dribel menjadi senjata terbaiknya. Dia bisa menciptakan peluang dengan kemampuan individu, seorang diri, dari kedua sisi sayap sekaligus.

Tanpa basa-basi, Madueke menjelaskan sendiri kelebihannya dalam wawancara pertama bersama tim media Arsenal. ”Saya hanya memikirkan satu hal ketika mendapatkan bola atau ruang, yaitu menggiring bola dan melewati lawan. Itu jelas kekuatan utama saya,” ujarnya.

Dari kiri : pemain timnas Inggris Noni Madueke, Declan Rice, Ezri Konsa, Conor Gallagher, Morgan Gibbs-White, Rico Lewis berlatih bersama di lapangan St George's Park, di Burton-on-Trent, Inggris, Rabu (4/9/2024). Inggris akan melawan Irlandia pada Liga Nasional Eropa, pada Sabtu (7/9/2024).

Arteta berkata, Madueke merupakan salah satu sayap paling bertalenta di Liga Inggris. Hal itu dibuktikan dengan catatan statistik sang pemain yang begitu cemerlang dalam aspek serangan. Madueke selalu memberikan percikan saat timnya terjebak dalam kebuntuan.

Menurut Opta, per 90 menit di Liga Inggris musim 2024-2025, Madueke tercatat sebagai pemain dengan tembakan terbanyak setelah menggiring bola (1,6 kali) dan sentuhan kedua terbanyak di kotak penalti lawan (8,8 kali). Di antara penyerang sayap, dia mencatat jumlah tembakan terbanyak (3,5 kali).

Statistik tersebut memperlihatkan bagaimana inisiatif dan keterlibatan sang pemain di lini serang. Berbagai catatan aspek itu melampaui beberapa sayap terbaik di liga, seperti Mohamed Salah dari Liverpool hingga Bukayo Saka yang akan menjadi rekannya di Arsenal.

Wajar jika Arteta memuji Madueke setinggi langit. ”Noni adalah pemain muda yang menarik dan tangguh, dengan performa dan statistiknya yang konsisten tinggi dalam beberapa musim terakhir. Di usia yang baru 23 tahun, dia sudah berpengalaman di level klub dan internasional,” kata Arteta.

Masih mentah

Problemnya, kontribusi Madueke terbilang rendah dengan statistik cemerlang seperti itu. Dia hanya menyumbang tujuh gol dan empat asis dari 35 pertandingan di liga musim lalu. Saka yang sempat absen tiga bulan akibat cedera saja bisa berkontribusi terhadap 16 gol Arsenal.

Madueke piawai menghasilkan peluang dan momentum serangan, tetapi tidak andal menyelesaikan itu. Permasalahan tersebut mengarah terhadap dua hal, pengambilan keputusan atau produk akhir yang buruk. Dilihat dari musim lalu, kedua faktor itu saling memengaruhi.

Madueke sering kali memaksa untuk menembak di tengah kepungan pemain lawan, seperti saat berhadapan dengan Liverpool pada Mei lalu. Dia juga beberapa kali mendapatkan peluang di depan gawang, tetapi tendangannya justru melebar ke samping gawang atau terlalu pelan.

Chelsea's Noni Madueke, right, controls the ball as Ipswich Town's Leif Davis looks on during the English Premier League soccer match between Ipswich Town and Chelsea at Portman Road stadium in Ipswich, England, Monday, Dec. 30, 2024. (AP Photo/Richard Pelham)

Kelemahan mantan pemain PSV Eindhoven itu menjadi pekerjaan rumah untuk Arteta. Sang manajer dikenal sebagai ahli dalam pengembangan pemain. Arteta sudah membuktikan, mampu menjadikan pemain bintang lebih baik dari sebelumnya. Gelandang timnas Inggris, Declan Rice, contohnya.

Rice menjadi gelandang ”nomor 8” yang lebih sering maju ke kotak penalti, dari sebelumnya gelandang bertahan ”nomor 6”. Hasilnya, Rice sudah menyumbang 16 gol dan 20 asis di Arsenal dalam dua musim. Jumlah itu melampaui sumbangannya di West Ham United selama delapan tahun.

Belajar dari pengalaman pahit musim lalu, Arsenal membutuhkan sosok berbeda seperti Madueke. Serangan mereka yang terlalu rapi sudah terbaca oleh lawan. Saka dan rekan-rekan selalu kerepotan saat menghadapi tim lebih lemah yang bertahan sangat dalam. Di momen seperti itu, mereka tidak punya pemain yang bisa mengusik kenyamanan lawan.

Madueke sangat bisa menjadi sosok pembeda di lini serang Arsenal. Namun, sebelum berbicara soal senjata alternatif, Arteta harus menyelesaikan dulu problem sang pemain. Jika tidak, Madueke dikhawatirkan hanya akan menjadi rumput liar di kebun bunga. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto