Surat wasiat Anas al-Sharif, jurnalis Al Jazeera yang tewas di Gaza.
12 Agt 2025 09:55 WIB · Internasional
Inilah wasiat dan pesan terakhirku.
Jika kata-kata ini sampai kepadamu, ketahuilah bahwa Israel telah berhasil membunuhku dan membungkam suaraku.
Pertama, semoga damai besertamu dan rahmat serta berkah Allah. Allah tahu aku telah mengerahkan segenap upaya dan kekuatanku untuk menjadi pendukung dan suara bagi rakyatku. Sejak aku membuka mataku terhadap kehidupan di lorong-lorong dan jalanan kamp pengungsi Jabalia.
Harapanku adalah Allah memperpanjang umurku agar aku dapat kembali bersama keluarga dan orang-orang terkasih ke kota asal kami, Asqalan (Al-Majdal) yang diduduki. Namun, kehendak Allah datang lebih dulu dan ketetapan-Nya adalah final.
Aku telah mengalami penderitaan dalam segala detailnya, merasakan penderitaan dan kehilangan berkali-kali. Namun, aku tak pernah ragu untuk menyampaikan kebenaran apa adanya, tanpa distorsi atau pemalsuan—agar Allah menjadi saksi bagi mereka yang tetap diam. Mereka yang diam dan menerima pembunuhan kami, yang mencekik napas kami, dan yang hatinya tak tergerak oleh sisa-sisa anak-anak dan perempuan kami yang berserakan. Mereka yang diam tanpa melakukan apa pun untuk menghentikan pembantaian yang telah dihadapi rakyat kami selama lebih dari satu setengah tahun.
Kupercayakan Palestina kepadamu—permata mahkota dunia Muslim, detak jantung setiap orang merdeka di dunia ini. Kupercayakan rakyatnya kepadamu, anak-anaknya yang terzalimi dan tak berdosa yang tak pernah punya waktu untuk bermimpi atau hidup aman dan damai. Tubuh mereka yang suci remuk di bawah ribuan ton bom dan rudal Israel, terkoyak dan berserakan di tembok-tembok. Kumohon jangan biarkan rantai membungkammu, atau batas-batas mengekangmu. Jadilah jembatan menuju pembebasan negeri dan rakyatnya, hingga mentari martabat dan kebebasan terbit di atas tanah air kita yang dicuri.
Kupercayakan kepadamu untuk merawat keluargaku. Kupercayakan kepadamu putriku tercinta, Sham, cahaya mataku, yang tak pernah kulihat tumbuh dewasa seperti yang kuimpikan. Kupercayakan kepadamu putraku tersayang, Salah, yang ingin kudukung dan dampingi sepanjang hidup hingga ia cukup kuat untuk memikul bebanku dan melanjutkan misi. Kupercayakan kepadamu ibuku tercinta, yang doa-doanya yang penuh berkah membawaku ke tempatku berada saat ini, yang doanya menjadi bentengku dan yang cahayanya membimbing jalanku.
Semoga Allah memberinya kekuatan dan membalasnya dengan pahala terbaik atas namaku. Aku juga mempercayakan kepadamu pendamping hidupku, istriku tercinta, Ummu Salah (Bayan), yang telah lama terpisah dariku akibat perang selama berhari-hari dan berbulan-bulan. Namun, ia tetap setia pada ikatan kami, seteguh batang pohon zaitun yang tak pernah goyah—sabar, tawakal kepada Allah, dan memikul tanggung jawab saat aku tiada—dengan segenap kekuatan dan imannya. Aku mohon kepadamu untuk berdiri di samping mereka, menjadi penopang mereka setelah Allah SWT.
Jika aku mati, aku mati dengan teguh di atas prinsip-prinsipku. Aku bersaksi di hadapan Allah bahwa aku ridha dengan takdir-Nya, yakin akan bertemu dengan-Nya, dan yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan abadi. Ya Allah, terimalah aku di antara para syuhada, ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, dan jadikanlah darahku cahaya yang menerangi jalan kebebasan bagi umatku dan keluargaku. Maafkanlah aku jika aku telah lalai, dan doakanlah aku dengan penuh belas kasihan, karena aku telah menepati janjiku dan tidak pernah mengubahnya atau mengkhianatinya.
Jangan lupakan Gaza…
Dan jangan lupakan aku dalam doa-doa tulus kalian untuk pengampunan dan penerimaan.
Anas Jamal al-Sharif
06.04.2025
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/12/d68729c0-27d4-4f51-8dc7-58b566a57c70_jpg.jpg)
Surat yang telah ditulis jurnalis Al Jazzera, Anas al-Sharif, pada bulan April 2025 itu ia titipkan kepada temannya, untuk dipublikasikan ketika dirinya meninggal. Dan pada hari Senin (11/8/2025), semua temannya mengunggahnya di media sosial masing-masing.
Sharif ditemukan tewas bersama enam jurnalis lain. Lima dari enam jurnalis yang tewas adalah staf Al Jazeera. Serangan Israel menewaskan mereka saat berkumpul di sebuah tenda di dekat pintu masuk Rumah Sakit Al-Shifa di kota Gaza.
Serangan itu terjadi kurang dari setahun setelah pejabat militer Israel pertama kali menuduh Sharif dan jurnalis Al Jazeera lainnya sebagai anggota kelompok militan Hamas dan Jihad Islam. Israel telah menargetkan jurnalis Sharif dengan menuduhnya sebagai pemimpin sel Hamas.
Dalam sebuah video tertanggal 24 Juli, juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, menyerang Al Jazeera dan menuduh Sharif sebagai bagian dari sayap militer Hamas. Sharif dan atasannya membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar. Serangan ini merusak pintu masuk gedung gawat darurat kompleks rumah sakit tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/12/1be7fe9d-2403-40d7-abb9-07aaf2249541_jpg.jpg)
Kecaman mengalir dari kantor hak asasi manusia PBB, Asosiasi Pers Asing, Komite Perlindungan Jurnalis, Institut Pers Internasional, dan Amnesty International. Al Jazeera menyebut serangan itu sebagai pembunuhan yang ditargetkan.
”Anas dan rekan-rekannya adalah salah satu suara terakhir yang tersisa dari Gaza, yang memberikan liputan langsung dan tanpa filter kepada dunia tentang realitas mengerikan yang dialami rakyatnya,” kata jaringan Qatar tersebut dalam sebuah pernyataan.
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) menyatakan pada hari Senin bahwa setidaknya 192 jurnalis telah tewas sejak perang Israel di Gaza dimulai. Perang antara Israel dan Hamas menimbulkan korban jurnalis paling banyak dari perang mana pun di seluruh dunia. Serangan hari Minggu ini menambah jumlah total jurnalis Al Jazeera yang tewas selama perang menjadi 11 orang, belum termasuk 8 jurnalis lepas, menurut data CPJ.
Irene Khan, pelapor khusus PBB untuk kebebasan berekspresi, 31 Juli 2025, mengatakan bahwa pembunuhan tersebut merupakan bagian dari strategi yang disengaja oleh Israel. Israel berusaha menekan kebenaran, menghalangi dokumentasi kejahatan internasional, dan mengubur segala kemungkinan akuntabilitas di masa depan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/12/fabea410-fc45-41cb-87c7-67101dd3dfb4_jpg.jpg)
Ratusan warga berbaur dengan jurnalis berkumpul di kompleks Rumah Sakit Al-Shifa. Para jurnalis mengenakan rompi antipeluru berwarna biru dengan tulisan ”Pers” di dada dan punggungnya. Beberapa di antara mereka juga mengenakan helm biru dengan tulisan yang sama. Mereka memberikan penghormatan terakhir kepada Anas al-Sharif dan wartawan lainnya.
Belasan jurnalis diiringi warga bergantian menggotong jenazah rekan mereka. Sebuah rompi biru bertuliskan ”Pers” diletakkan di atas mayat yang dibungkus kain kafan. Mereka memyusuri gang-gang sempit dan melewati reruntuhan menuju ke pemakaman.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/12/f5136f12-7a3e-4589-9f14-5f569d4fbc19_jpg.jpg)
”Anas al-Sharif dan rekan-rekannya telah menjadi mata dan suara bagi Gaza. Meskipun kelaparan dan kelelahan, mereka terus dengan berani melaporkan dari garis depan meskipun ada ancaman pembunuhan dan kesedihan yang mendalam,” ujar Amnesty International dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, seraya menambahkan bahwa harus ada investigasi independen dan imparsial atas pembunuhan jurnalis Palestina. (AP/AFP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan