Upacara di Sekolah Partai, Megawati Ingatkan Kader Tak Tergoda Kekuasaan

Absen di Istana, Megawati pimpin upacara HUT Ke- 80 RI di Sekolah Partai. Ia ingatkan adanya kolonialisme gaya baru yang menyusup dalam kebijakan hingga kebudayaan.

17 Agt 2025 11:35 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nikolaus Harbowo


JAKARTA, KOMPAS — Presiden ke-5 RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI-P, Megawati Soekarnoputri, mengingatkan kader partainya agar tidak tergoda kekuasaan. Seluruh kader partai berlambang banteng itu juga diminta untuk tidak mengkhianati rakyat, apalagi merasa lebih tinggi dari rakyat. Kader diharapkan pula tidak memanfaatkan partai untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk mendengar dan menyuarakan aspirasi rakyat.

Megawati Soekarnoputri tidak menghadiri upacara HUT Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, bersama Presiden Prabowo Subianto dan para pejabat tinggi negara. Ia memilih menggelar upacara bersama pengurus PDI-P dan ratusan kader.

Mengenakan pakaian berwarna merah, Megawati memimpin upacara HUT Ke-80 Kemerdekaan RI di Sekolah Partai Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (17/8/2025) pagi. Megawati datang didampingi putranya yang juga Ketua DPP PDI-P, M Prananda Prabowo.

Upacara peringatan kemerdekaan itu, antara lain, diikuti para pengurus DPP PDI-P hingga pengurus DPD PDI-P DKI Jakarta serta DPC PDI-P seluruh Jakarta. Hadir pula sebagai peserta upacara para pimpinan anggota satuan tugas (satgas) serta pimpinan badan dan sayap partai.

Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri berfoto bersama petugas paskibraka dalam upacara hari ulang tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan RI di Sekolah Partai Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Minggu (17/8/2025) pagi.

Dalam amanatnya, Megawati menegaskan, kader PDI-P harus menjaga semangat perjuangan para pendiri bangsa agar tidak padam oleh kepentingan pribadi atau golongan.

”Maka saya tegaskan, tugas kita sebagai kader PDI Perjuangan adalah menjaga api kemerdekaan agar tetap menyala, tidak pernah padam oleh dorongan kepentingan pribadi maupun golongan, tidak goyah oleh godaan kekuasaan, dan tidak tunduk pada politik yang mengkhianati rakyatnya sendiri,” katanya.

Ia menambahkan, momentum 80 tahun kemerdekaan harus bisa mempertegas semangat gotong royong di tubuh PDI-P. ”Saya tidak mau mendengar ada kader yang merasa dirinya lebih tinggi dari rakyat, apalagi yang memanfaatkan partai untuk kepentingan pribadi. Ingat, kita ini hanya alat perjuangan, bukan tujuan perjuangan itu sendiri,” katanya.

Lima perintah Megawati

Dalam kesempatan yang sama, Megawati membacakan lima perintah kepada seluruh kader PDI-P. Pertama, menjadikan Pancasila sebagai bintang penuntun dalam setiap kebijakan, bukan sekadar hiasan pidato. Kedua, memperkuat disiplin organisasi, ideologi, teori, gerakan, dan tindakan.

”Tanpa disiplin, partai akan rapuh dan mudah diombang-ambingkan kepentingan,” katanya.

Ketiga, turun ke rakyat bukan hanya untuk meminta suara, melainkan juga mendengarkan dan membantu memecahkan masalah. Keempat, melawan segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan dan pengkhianatan terhadap konstitusi. Kelima, menjadikan api proklamasi sebagai semangat perjuangan yang tak padam.

”Jalankan lima perintah tersebut dengan semangat gotong royong penuh kedisiplinan dan soliditas yang tinggi. Dengannya, partai semakin kokoh, mandiri, dan mampu menghadapi berbagai tantangan dan ujian sejarah. Terus lakukan perbaikan dengan selalu mawas diri, hingga PDI Perjuangan pantas disebut sebagai sebagai partai pelopor,” ujar Megawati.

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri (kedua kiri) berjalan didampingi oleh Ketua DPP PDIP Bidang Ekonomi Kreatif, M. Prananda Prabowo (kanan) seusai persidangan hari kedua Kongres ke-6 PDI Perjuangan di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Badung, Bali, Sabtu (2/8/2025). Hari kedua Kongres ke-6 PDI Perjuangan beragendakan pemaparan laporan hasil sidang komisi politik, program, dan organisasi kepada sidang pleno kongres. ANTARA FOTO/Monang Sinaga/MRH/foc.

Megawati juga mengingatkan pesan Bung Karno bahwa perjuangan generasi penerus lebih sulit karena harus berhadapan dengan bangsanya sendiri, bukan lagi penjajah asing.

”Tantangan kita sekarang bukan lagi kolonialisme fisik, melainkan kolonialisme gaya baru, yang menyusup dalam kebijakan, dalam ekonomi, bahkan dalam budaya kita,” ucapnya.

Di akhir amanatnya, ia berharap, peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI bukan sekadar perayaan, melainkan juga momen untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan. ”Kemerdekaan yang kita nikmati ini bukanlah hadiah. Ia adalah hasil cucuran darah, keringat, dan air mata para pendiri bangsa, para pejuang, dan para syuhada kemerdekaan yang mengorbankan segalanya demi merah putih agar berkibar di langit Nusantara,” ujar Megawati dengan suara terbata-bata sembari menangis.

Quote

Tantangan kita sekarang bukan lagi kolonialisme fisik, melainkan kolonialisme gaya baru, yang menyusup dalam kebijakan, dalam ekonomi, bahkan dalam budaya kita.

Menurut dia, kemerdekaan bukanlah titik akhir dari perjuangan bangsa Indonesia. Kemerdekaan adalah ”jembatan emas” bagi kesejahteraan rakyat atau kesengsaraan rakyat. Ini sebagaimana dikatakan Bung Karno dalam karyanya, Mencapai Indonesia Merdeka, tahun 1933. Karena itu, ia menekankan pentingnya memastikan bangsa berjalan di jalan yang membawa keselamatan rakyat.

”Pilihan jalan itu ada di tangan kita semua, dan tanggung jawab kita adalah memastikan bangsa Indonesia melangkah di jalan keselamatan dan kesejahteraan rakyat Indonesia,” ujarnya.

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri membuat gestur salam Pancasila seusai persidangan hari kedua Kongres ke-6 PDI Perjuangan di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Badung, Bali, Sabtu (2/8/2025). Hari kedua Kongres ke-6 PDI Perjuangan beragendakan pemaparan laporan hasil sidang komisi politik, program, dan organisasi kepada sidang pleno kongres. ANTARA FOTO/Monang Sinaga/MRH/foc.

Megawati juga menyinggung tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, mulai dari kemiskinan, kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, krisis pangan global, intervensi kekuatan asing, hingga rapuhnya etika dalam penyelenggaraan negara.

”PDI Perjuangan harus menjadi garda terdepan di dalam menghadapi tantangan ini. Jangan sekali-kali kita menjadi partai yang hanya ikut arus. Jangan hanya berani bicara saat kampanye, tetapi diam ketika rakyat menderita. Kita adalah partai ideologis, partainya rakyat Marhaen, partai yang memegang teguh ajaran Bung Karno,” ucapnya.

Ingin bersama kader

Sementara itu, secara terpisah, Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto menambahkan, Megawati ingin merayakan momen peringatan kemerdekaan bersama para kader dari tingkat pengurus partai hingga satgas PDI-P.

Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Kesekretariatan PDI-P Yoseph Aryo Adhi Dharmo menjelaskan, para peserta upacara terdiri dari pengurus inti (ketua, sekretaris, dan bendahara) DPD dan PDC PDI-P DKI Jakarta, ketua, sekretaris dan bendahara badan/sayap yang berada dalam naungan PDI-P dan satgas PDI-P.

Ia menambahkan, selepas upacara 17 Agustus, kegiatan akan dilanjutkan dengan sejumlah perlombaan khas 17-an, di antaranya lomba balap karung, makan kerupuk, dan panjat pinang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikolaus Harbowo
 | 

Editor:

Anita Yossihara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto