Buku ”Tanah Air Kita” adalah cermin pemikiran progresif seorang tokoh pribumi Eropa yang mencintai negeri ini sebagai tanah airnya sendiri.
08 Jul 2025 07:00 WIB · Klinik Foto
Sejak awal kehadiran teknologi fotografi di Indonesia, karya fotografi selain digunakan untuk dokumentasi juga alat promosi. Karya visual dianggap lebih mudah dipahami dan diterima sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Imaji yang tersaji di lembaran kertas foto mempunyai daya tarik yang lebih gampang diterima mata manusia untuk menyerap pesan yang disampaikan. Oleh karena itu, sejak zaman Hindia Belanda, foto sudah menjadi alat kampanye dan promosi bagi pemerintah kolonial untuk mengabarkan kemajuan wilayah koloninya.
Kesadaran itulah yang mendorong Niels Alexander Douwes Dekker untuk menyusun buku tentang keberagaman alam, budaya, dan kehidupan masyarakat di Nusantara. Buku yang diberi judul Tanah Air Kita ini merupakan buku berisi kumpulan fofo yang diambil dari berbagai pelosok Nusantara. NA Douwes Dekker seorang fotografer profesional, seniman, pembuat film, penulis esai, dan spesialis hubungan masyarakat. Foto-foto tersebut merupakan koleksi pribadinya dan didapatkan saat ia menjabat Kepala Dinas Informasi Visual Hindia Belanda.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/07/a9e84bf1-3c65-4644-8d75-bbe4f535a6c1_jpg.jpg)
Setelah Indonesia merdeka tahun 1945 yang disusul masa perang kemerdekaan, kekacauan terjadi di banyak wilayah. Salah satu dampaknya adalah banyak kantor yang dianggap sebagai simbol kolonial Belanda yang dihancurkan dan pegawainya ditangkap. Puncak kekacauan politik di Indonesia terjadi tahun 1949 atau sesudah terjadinya agresi militer Belanda ke-2.
Menyadari itu, NA Douwes Dekker memutuskan mengirim semua dokumen yang berhasil dikumpulkannya kepada rekannya, Anne Schiller, di Amerika Serikat. Koleksi ini terdiri atas lebih dari delapan ribu foto, banyak di antaranya masih berupa film negatif, manuskrip yang belum diterbitkan, salinan buletin dan rilis berita, dan materi terkait termasuk laporan polisi, komando pasukan, serta berbagai korespondensi. Termasuk foto dan dokumen tentang adat istiadat dan ritual adat istiadat semua dikumpulkan dalam beberapa karung dan kotak tanpa keterangan atau pemilahan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/07/97f61d3f-77bd-424f-9d7e-654fbb0edb20_jpg.jpg)
Dalam suratnya kepada Anne Schiller mengenai sejarah koleksi fotonya, Douwes Dekker menggambarkan suasana ketika Kantor Layanan Informasi Visual ditutup pada akhir perang, dan nasib yang menanti sebagian besar foto. Ia mengambil ribuan foto dan membuat pengaturan untuk mengambil puluhan ribu foto lagi. Perang Pasifik dan kekacauan revolusi menghancurkan sisa-sisa koleksi resmi dan pribadi.
”Akhir tahun 1949 ditandai dengan kegugupan yang meningkat menjadi kepanikan karena takut bahwa kaum nasionalis akan menganiaya sesama orang Indonesia yang telah bekerja sama dengan Belanda. Hal ini menyebabkan tindakan umum untuk menghapus semua jejak yang mungkin dapat dianggap sebagai kompromi. Personel saya yang berasal dari Indonesia dan Indo-Tiongkok memberi tahu saya bahwa mereka ingin membuang materi bergambar dengan cara membakarnya. Saya terpaksa menerima kotak-kotak berisi materi yang tidak disortir dan sebagian besar tidak diberi judul sebagai barang pribadi,” katanya.
Buku Tanah Air Kita diterbitkan tak lama setelah kekacauan politik mereda di awal tahun 1950-an. Sebagian besar foto yang muncul di buku diambil oleh NA Douwes Dekker sendiri dan anggota stafnya saat di Dinas Informasi Visual Hindia Belanda. Keunikan dari buku ini adalah adanya upaya membangun identitas baru Indonesia setelah melewati masa kemerdekaan dan agresi militer. Sejak awal buku ini tidak ditujukan untuk menjadi referensi ilmiah, ensiklopedi, ataupun laporan jurnalistik mengenai Indonesia. Buku ini hanya ditujukan untuk mendapatkan kesan di hati pembacanya.
Dalam penyusunan buku tersebut, Douwes Dekker tidak menampilkan foto-foto Indonesia pada masa agresi militer. Padahal, buku tersebut diterbitkan tepat beberapa tahun setelah agresi militer di Indonesia usai. Keputusan Douwes Dekker untuk tidak menyertakan episode tersebut adalah upayanya untuk tetap netral di antara dua faksi yang berbeda.
Tanah Air Kita bukan sekadar buku pelajaran geografi atau sejarah. Ia adalah cermin pemikiran progresif seorang tokoh pribumi Eropa yang mencintai negeri ini sebagai tanah airnya sendiri. Douwes Dekker mengajak pembacanya untuk mengenal lebih dalam wilayah Nusantara, kekayaan alamnya, ragam manusianya, serta potensi besar yang kerap terkubur oleh penjajahan.
Buku ini penting karena ditulis dengan semangat kebangsaan yang kuat di masa ketika kata ”Indonesia” masih asing di telinga banyak orang. Ia menyebut negeri ini sebagai ”tanah air kita”—sebuah pernyataan politik sekaligus pengakuan batin.
Menurut dia, belum ada buku yang berisi tentang visual Indonesia secara menyeluruh. Dengan berakhirnya masa kegaduhan revolusi dan kesalahpahaman, ia ingin mengenalkan Indonesia sebagai negara baru kepada dunia dengan kumpulan visual.
Foto-foto yang ditampilkan dalam buku ini menunjukkan kekuatan visual yang diambil dengan teknik fotografi yang mumpuni. Kualitas foto serta cetakannya sangat baik. Meskipun buku tersebut diterbitkan awal tahun 1950-an, hingga kini gambar-gambarnya masih terlihat halus dan tidak memudar. Pengambilan sudut pandang foto juga beragam. Pemotretan aerial yang kemungkinan dilakukan melalui pesawat terbang bisa menggambarkan keindahan dan kemegahan bentang alam Indonesia.
Sebagai seorang keturunan Belanda, sikap Niels Alexander Douwes Dekker yang begitu mencintai Indonesia kemungkinan terbentuk dari didikan di keluarganya. Dalam artikel yang dipublikasikan Universitas Cornell, Amerika Serikat, ia disebutkan sebagai cucu sepupu dari Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dekker (1820-1887) yang menulis buku Max Havelaar, novel klasik tentang kehidupan di masa kolonial Hindia Belanda.
NA Douwes Dekker yang lahir tahun 1911 merupakan anak dari pasangan Guido Maximilian Gustaaf Douwes Dekker dan Ida Jacoba Andina Monod de Froideville. Ayahnya merupakan sudara sepupu tokoh pergerakan nasional Ernest Francois Eugene Douwes Dekker yang dikenal juga dengan nama Danudirdja Setiabudi (1879-1950).
NA Douwes Dekker lahir di Batavia pada 26 Mei 1911. Ia memulai pendidikannya di Bandung dan kemudian belajar arsitektur di Delft dan Den Haag, Belanda. Ia memiliki minat khusus dalam mendokumentasikan kehidupan keagamaan masyarakat Hindia Belanda sehubungan dengan esai fotografinya tentang ritual kematian. Hampir 260 foto dalam koleksi yang disimpan adalah tentang praktik pemakaman masyarakat Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan pulau-pulau lain. Beberapa foto diambil sendiri. Namun, banyak juga yang diproduksi di bawah arahannya oleh anggota staf kantornya dan oleh orang lain yang memiliki minat yang sama terhadap budaya lokal. Gambar-gambar ini merupakan catatan yang bernilai secara antropologis tentang perayaan keagamaan adat dan sebagaimana yang dilakukan pada tahun 1940-an. Arsip fotonya menyediakan sumber data yang kaya untuk riset perubahan dalam bentuk ritual.
Douwes Dekker memilih tinggal di Amerika Serikat dan meninggal di sana tahun 1993. Semua arsip dan karyanya disumbangkan ke Perpustakaan Universitas Cornell.
Perpustakaan Universitas Cornell memperoleh koleksi tersebut dari Niels Alexander Douwes Dekker pada tahun 1973. Keputusannya untuk tidak menyertakan foto-foto kekacauan politik tidak diragukan lagi karena kepekaan politiknya yang kemudian membuatnya memilih Cornell sebagai tempat penyimpanan koleksinya. Dalam upaya untuk meningkatkan akses peneliti, penataan dasar koleksi dilakukan oleh anggota staf Manuskrip dan Arsip Universitas Cornell selama tahun akademik 1987-1988. Item-item tersebut disusun secara sistematis berdasarkan penataan geografis dan topik berdasarkan yang digunakan oleh NA Douwes Dekker dalam buku Tanah Air Kita. Tak bisa dibayangkan seandainya ia tak berhasil menyelamatkan arsip-arsip berharga itu saat revolusi kemerdekaan Indonesia.
Penulis:
Iwan SetiyawanEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul