Upaya Penyelamatan Ribuan Artefak di Gaza

Bertaruh nyawa menyelamatkan artefak demi sejarah dunia dan sejarah Palestina.

18 Sep 2025 08:08 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Sembilan jam negosiasi sengit dengan militer Israel. Pencarian mendadak untuk menemukan truk di Jalur Gaza yang hancur, di mana bahan bakar sangat langka. Enam jam pengepakan yang menegangkan, menumpuk kardus dengan hati-hati di atas truk bak terbuka. Itulah potret usaha para pekerja bantuan saat melaksanakan misi penyelamatan ribuan artefak tak ternilai dari gudang Gaza, sebelum bangunan itu diratakan.

Gudang tersebut berisi artefak dari penggalian selama lebih dari 25 tahun. Di dalamnya terdapat benda-benda dari biara Bizantium abad ke-4 yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Beberapa bukti tertua kekristenan di Gaza juga tersimpan rapi di tempat itu.

Militer Israel mengatakan bahwa bangunan tersebut merupakan tempat instalasi intelijen Hamas dan berencana untuk menghancurkannya. Ini termasuk bagian dari perluasan operasi militer mereka di Kota Gaza.

Pekerja mengemas benda-benda arkeologi dari sebuah bangunan yang akan dihancurkan dalam serangan Israel di Kota Gaza, Jalur Gaza, pada hari Kamis (11/9/2025).

COGAT, badan pertahanan Israel yang bertanggung jawab atas bantuan kemanusiaan, memberi tahu tentang rencana pembongkaran tersebut pada Rabu (10/9/2025) pagi lalu. Kevin Charbel, koordinator lapangan darurat untuk Premiere Urgence Internationale, menghabiskan sembilan jam bernegosiasi sengit dengan militer Israel.

Ia berusaha mendapatkan penundaan agar para pekerja dapat memindahkan artefak ke lokasi yang lebih aman. Namun, selain militer Israel, suasana kota Gaza yang kacau juga menyulitkan mendapatkan truk untuk mengangkut artefak dalam waktu singkat.

Pemandangan saat ribuan warga Palestina melarikan diri di sepanjang jalan pesisir menuju Gaza selatan, Rabu (17/9/2025).
Warga Palestina mencari kayu untuk dijual atau digunakan untuk memasak di tengah reruntuhan bangunan yang semula tempat menyimpan artefak di Kota Gaza, Minggu (14/9/2025).
Foto ini dirilis Premiere Urgence Internationale (UPI). Pekerja mengemas benda-benda arkeologi dari sebuah bangunan yang akan dihancurkan dalam serangan Israel di Kota Gaza, Jalur Gaza, pada Kamis (11/9/2025).
Artefak arkeologi dikemas untuk dipindahkan ke tempat yang aman menjelang serangan Israel di Kota Gaza, Kamis (11/9/2025).

Puluhan situs arkeologi kuno ditemukan di Gaza, termasuk kuil, biara, istana, gereja, masjid, dan mosaik. Banyak di antaranya telah hilang akibat perluasan kota dan penjarahan. UNESCO sedang berjuang untuk melestarikan beberapa situs yang tersisa.

Beberapa situs berusia 6.000 tahun, ketika Gaza menjadi pusat rute perdagangan antara Mesir dan Syam, dan kemunculan masyarakat perkotaan mulai mengubah desa-desa pertanian. Artefak yang diselamatkan minggu ini meliputi kendi keramik, mosaik, koin, plesteran yang dicat, serta sisa-sisa manusia dan hewan. Selain itu, juga terdapat barang-barang yang digali dari Biara Saint Hilarion, komunitas monastik Kristen tertua yang diketahui di Timur Tengah, menurut UNESCO.

Barang-barang arkeologi setelah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman dan ditempat yang dirahasiakan, Rabu (11/9/2025).

Berpacu dengan waktu

Tepat sebelum matahari terbit, Kamis (11/9/2025), para pekerja bergegas mengisi lima truk bak terbuka dengan artefak-artefak rapuh sebanyak mungkin dalam waktu enam jam. Artefak-artefak tersebut, yang telah disimpan dan didokumentasikan dengan cermat di gudang, dengan tergesa-gesa dikemas dalam kotak-kotak kardus.  Sementara tembikar berusia hampir 2.000 tahun tergeletak di tanah berpasir.

Pengangkutan artefak tua seperti itu biasanya membutuhkan persiapan yang intensif dan ketentuan khusus untuk melindungi benda-benda rapuh. Namun, itu tidak mungkin dilakukan dalam kasus ini. Militer Israel tidak mengizinkan penggunaan truk kontainer tertutup sehingga artefak-artefak tersebut rentan terhadap bahaya tambahan. 

Warga Palestina melarikan diri dari Gaza utara menuju selatan ketika Israel mengumumkan operasi yang diperluas di Kota Gaza, Selasa (16/9/2025).
Asap membubung ke udara setelah serangan militer Israel di Jalur Gaza, seperti yang terlihat dari Israel selatan, Selasa (16/9/2025).
Bangunan-bangunan yang dihancurkan selama operasi darat dan udara Israel di Jalur Gaza utara saat matahari terbenam, Selasa (16/9/2025).
Warga Palestina lari mencari tempat berlindung saat serangan udara Israel di gedung bertingkat tinggi di Kota Gaza, Jumat (5/9/2025).
Warga Palestina melarikan diri dari Kota Gaza dengan berjalan kaki dan kendaraan, membawa barang-barang mereka di sepanjang jalan pesisir menuju Gaza selatan, Rabu (17/9/2025).

Beberapa barang pecah dalam perjalanan dan yang lainnya terpaksa ditinggalkan. Israel menghancurkan bangunan tersebut pada hari Minggu, dan mengklaim Hamas telah menempatkan pos-pos pengamatan dan infrastruktur pengumpulan intelijen di dalamnya.

Selama seminggu terakhir, Israel terus menghancurkan bangunan tinggi di Kota Gaza. Warga sipil diminta untuk mengungsi sesaat sebelum dilancarkan serangan darat yang dimulai hari Selasa pagi. Seiring meluasnya operasi darat Israel, artefak-artefak tersebut disimpan di lokasi berbeda di Kota Gaza. Namun, artefak-artefak tersebut berada di luar ruangan, terpapar cuaca, dan tetap berada dalam bahaya besar seiring meningkatnya serangan.

UNESCO mengatakan, Israel telah merusak sedikitnya 110 situs budaya di Jalur Gaza, termasuk 13 situs keagamaan, 77 bangunan bersejarah atau bernilai seni, 1 museum, dan 7 situs arkeologi, sejak dimulainya perang pada Oktober 2023. 

Warga Palestina memeriksa puing-puing sebuah bangunan tempat ribuan artefak yang dihancurkan dalam serangan militer Israel di Kota Gaza, Minggu (14/9/2025).

Upaya ini mempertaruhkan banyak nyawa karena bekerja di bawah ancaman pengeboman. Namun, demi benda-benda bersejarah yang bahkan tidak bernyawa, para pekerja terus memindahkan artefak yang menurut mereka penting untuk sejarah dunia dan sejarah Palestina. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Yuniadhi Agung
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto