Salah satu SPPG di Pati, Jateng, tutup sementara seusai didemo para orangtua karena dinilai menyalurkan MBG Ramadhan tidak layak. Mereka menyalurkan jeruk busuk.
01 Mar 2026 18:43 WIB · Kesehatan
DOK WARGA
SEMARANG, KOMPAS — Salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berhenti beroperasi seusai didemo para orangtua pada Jumat (27/2/2026). Demo muncul sebagai protes karena menu makanan bergizi gratis Ramadhan yang disalurkan SPPG dinilai tak layak.
Demontrasi tersebut bermula ketika para orangtua mendapati anak-anaknya membawa pulang paket MBG kering selama Ramadhan yang dinilai tidak layak. Awalnya, para orangtua protes ke pihak sekolah.
Meski sudah hampir setiap hari protes, perbaikan dinilai tak kunjung dilakukan. Puncaknya, pada Kamis (26/2/2026), para orangtua marah setelah anak-anak mereka menerima MBG yang di dalamnya terdapat jeruk busuk.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/f3aa1c1ac262ef122bf42a817ab63afe-WhatsApp_Image_2026_02_27_at_00.54.53.jpeg)
Para orangtua juga marah karena harga paket MBG yang diterima anak-anak mereka diduga tidak sesuai dengan harga yang ditetapkan. Untuk MBG yang diterima pada Kamis, misalnya, satu buah jeruk, satu bungkus roti, dan empat butir telur puyuh disebut totalnya menurut harga pasaran sekitar Rp 5.000. Padahal, Badan Gizi Nasional telah menetapkan harga paket MBG Ramadhan sebesar Rp 8.000-Rp 10.000.
”Kami itu melakukan perhitungan berdasarkan harga di pasaran, rata-rata MBG yang didapatkan anak-anak kami itu cuma Rp 5.000. Lalu, yang Rp 3.000 lagi ke mana? Kami meminta penjelasan SPPG soal ini,” kata Muhammad Ali Sobbri (31), salah satu orangtua siswa, saat dihubungi, Minggu (1/3/2026).
Ali yang saat demonstrasi berperan sebagai koordinator lapangan mengatakan, pihaknya juga meminta agar ahli gizi dari SPPG Tlogowungu 1 turut dihadirkan untuk menemui massa pada Jumat. Kendati demikian, pihak SPPG disebut Ali mengaku ahli gizi sedang tidak di tempat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/94b458548a6398735838ab356a3a9e43-WhatsApp_Image_2026_02_27_at_00.56.48.jpeg)
Para orangtua, disebut Ali, kecewa karena tidak bisa bertemu dengan ahli gizi dari SPPG tersebut. Padahal, para orangtua disebut memiliki banyak pertanyaan yang hendak diajukan kepada ahli gizi di SPPG itu, misalnya mengenai nilai gizi untuk setiap MBG yang diperoleh anaknya hingga menggali mengapa jeruk yang dalam kondisi busuk diberikan ke anak-anak mereka.
”Kami menuntut SPPG melakukan perbaikan. Kalau tidak ada perbaikan ke depannya, lebih baik dibubarkan saja. Kasihan anak-anak,” ucapnya.
Dihubungi secara terpisah, Sekretaris II Satuan Tugas MBG Kabupaten Pati Enny Pratiwi menuturkan, pihaknya sudah mengetahui demonstrasi yang dilakukan para orangtua di SPPG Tlogowungu 1 tersebut. Dalam kegiatan itu, kata Enny, para orangtua juga sempat diajak beraudiensi dengan pihak SPPG.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/25/20642bb4da38fb1360e300fc4c7a5987-20260225DRA014.JPG)
”Dari pihak SPPG mengakui mereka bersalah dan akan menjadikan ini sebagai bahan evaluasi. Pihak SPPG juga mengatakan secara lisan kepada Satgas MBG Kabupaten Pati bahwa mereka mau berhenti operasional sekitar satu pekan untuk melakukan evaluasi-evaluasi,” ujar Enny.
Tak hanya terkait demonstrasi para orangtua di Kecamatan Tlogowungu, Satgas MBG Kabupaten Pati juga disebut Enny turut memantau peristiwa pengembalian seluruh paket MBG yang disalurkan ke SMP Negeri 1 Tayu pada Jumat oleh pihak sekolah.
Berdasarkan laporan yang diterima Enny, pihak sekolah mengembalikan MBG itu setelah banyak mendapatkan protes dari para orangtua mengenai kualitas MBG yang disalurkan. Para orangtua protes karena MBG yang diterima anaknya basi dan busuk. Sebagian juga menilai, kandungan gizi dalam MBG yang diterima anak-anak mereka tidak sesuai.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/29/766b0b0723f89b96792cb102d1d6af2e-20250929_OPINI_Reformulasi_Kebijakan_MBG.jpg)
Pada Jumat, SMPN 1 Tayu disebut mendapatkan dua jenis paket MBG untuk dua hari bagi 900 siswa mereka. Paket satu berisi ketan kukus, jeruk, dan kurma. Adapun paket dua berisi belimbing, roti, jeruk, dan kacang. Ketan kukus yang diterima disebut dalam kondisi kurang baik.
Menurut Enny, Satgas MBG Kabupaten Pati sudah berulang kali melakukan pembinaan kepada kepala-kepala SPPG di wilayahnya, termasuk kepada Satgas MBG di tingkat kecamatan. Salah satu yang menjadi penekanan dalam sosialisasi dan edukasi itu terkait dengan penyajian dan penyaluran MBG yang memenuhi standar keamanan pangan.
”Kami juga sudah menyampaikan keluhan-keluhan masyarakat yang di media sosial, yang begitu banyak itu. Kemudian, dari ketua harian Satgas MBG itu juga sudah menyampaikan supaya ada evaluasi dan perbaikan,” kata Enny.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/26/b4232fb4e2f05ef575e5206263b53f0b-FAK_8491.jpg)
Sebelumnya, Sekretaris Tim Percepatan MBG Jateng AR Hanung Triyono mengatakan, pelaksanaan program MBG selama Ramadhan berpedoman pada Surat Edaran Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 3 Tahun 2026. Dalam edaran tersebut diatur terkait bentuk makanan selama Ramadhan.
”Disebutkan paket makanan kemasan sehat MBG adalah makanan siap makan yang diproduksi dan dilakukan pengemasan di SPPG, menggunakan totebag dan dikemas oleh SPPG. Dengan tetap menerapkan SOP keamanan pangan, yakni pengecekan masa kedaluwarsa dan perizinan produk seperti Pangan Industri Rumah Tangga/PIRT, dan kaidah pemenuhan gizi seimbang,” ujar Hanung.
Hanung mengatakan, dalam SE itu juga disebutkan arahan untuk tidak menyajikan makanan kemasan seperti ultra-processed food sebagai menu utama. Menu yang direkomendasikan sesuai dengan SE tersebut misalnya telur asin, abon, dendeng kering, buah, atau makanan khas lokal lainnya, serta kurma.
Adapun Wakil Gubernur sekaligus Ketua Tim Percepatan MBG Jateng Taj Yasin Maimoen mengaku bakal mencatat keluhan masyarakat terkait menu MBG Ramadhan di wilayahnya dan menyampaikannya ke Badan Gizi Nasional. Menurut dia, sudah ada satuan tugas khusus yang ditugaskan untuk melakukan audit terhadap SPPG yang melanggar.
Yasin menyebut, apabila kedapatan melanggar, sanksi yang diberlakukan kepada SPPG bisa sampai pada tahap penutupan. ”Maka, saya berharap untuk SPPG-SPPG ditertibkan, diedukasi betul, cara pengemasannya, cara pengirimannya dan sebagainya. Saya mengimbau kepada masyarakat juga, terkait SPPG di bulan Ramadhan kita atur lagi deh,” katanya.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto