Persaingan panjat tebing disiplin ”speed” atau kecepatan kian sengit. Catatan waktu 5 detik sekian saja tidak cukup untuk bisa melaju jauh di Piala Dunia.
26 Apr 2025 11:14 WIB · Olahraga
Veddriq Leonardo tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Kendati catatan waktu pada pemanjatan kedua lebih baik, 5,165 detik, Veddriq berteriak arghh dengan raut wajah tak puas saat turun dari dinding panjat. Veddriq mencatatkan waktu 5,201 detik pada pemanjatan pertama.
Momen itu terjadi saat babak kualifikasi seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 di Wujiang, China, Jumat (26/4/2025). Veddriq wajar kecewa dan tak puas. Selain jauh dari rekor personal terbaiknya, 4,75 detik, catatan waktu pada babak kualifikasi itu rentan membuat langkahnya terhenti.
Setelah total 52 atlet selesai melakukan dua kali pemanjatan, barulah diketahui bahwa Veddriq benar-benar tidak bisa melanjutkan perjalanan di Piala Dunia pertamanya tahun ini. Veddriq finis pada peringkat ke-17 dengan bekal waktu terbaik 5,165 detik. Dia terpaut hanya 0,003 detik dari penghuni batas terakhir lolos putaran final, yakni Shi Zechuan (China) di peringkat ke-16 dengan waktu terbaik 5,162 detik.
Veddriq memang tidak tampil dalam kondisi terbaiknya. Dua pekan sebelum berangkat ke Wujiang, peraih medali emas Olimpiade Paris 2024 ini terpaksa tidak latihan di dinding panjat speed karena masih pemulihan cedera jari tangan kiri. Dia bahkan sempat menunjukkan jari tangannya yang bengkak.
Pekan lalu, Veddriq sudah berlatih ringan di dinding panjat speed meski belum pulih sepenuhnya. Pemanjat asal Pontianak, Kalimantan Barat, ini pun belum mencapai performa terbaiknya. ”Memang kalau cedera di jari cukup vital, karena jari, kan, salah satu alat tempur di panjat tebing,” ucap Veddriq.
Namun, yang mengejutkan dari hasil babak kualifikasi itu adalah waktu 5 detik saja tak cukup untuk mengantar pemanjat putra lolos putaran final. Hal itu menunjukkan bahwa catatan waktu pemanjat kian mengecil, membuat persaingan semakin ketat.
Veddriq sudah menduganya. Kata Veddriq, setelah Olimpiade Paris 2024, para atlet dari negara lain pasti tidak tinggal diam. Mereka akan berusaha mengejar pencapaian Veddriq, yakni dengan terus menajamkan catatan waktu.
”Setelah Olimpiade, kita seperti sudah membuka dan melihat potensi-potensi atlet yang bakal jadi topnya di Piala Dunia. Mungkin ada beberapa nama-nama baru juga,” ucap Veddriq.
”Yang pasti, habis Olimpiade kemarin, orang bakal mengejar. Bakal meningkatkan kemampuannya. Dan memang saya lihat dari media sosial, mereka memang luar biasa serius mempersiapkannya,” tuturnya lagi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/24/2890f4e00aef07637b3d95b7987053cb-DSC04537_3.jpg)
Salah satu pemanjat yang aktif membagikan kegiatan atau persiapannya menuju Piala Dunia di media sosial adalah Samuel Watson (Amerika Serikat). Watson merupakan pemegang rekor dunia panjat tebing dengan waktu 4,74 detik.
Di akun Instagram-nya, Watson mengunggah video ketika dia berhasil finis dalam waktu 4,6 detik saat latihan. Dia bahkan menyatakan akan memecahkan rekor dunia lagi di Wujiang.
”Jadi, kalau kami, minimal menangkap dulu atmosfer tandingannya karena sudah lama tidak merasakannya di ajang internasional. Ini sambil kita meraba-raba bagaimana persaingan tahun ini. Baru setelah itu kami lihat hasilnya dan kami evaluasi,” ucap Veddriq.
Pada babak kualifikasi, Watson tidak berhasil memecahkan rekor dunia lagi. Namun, Watson memuncaki daftar peringkat kualifikasi dengan catatan waktu terbaik 4,76 detik. Disusul pemanjat China, Long Jianguo, dengan 4,874 detik, lalu atlet Indonesia, Kiromal Katibin, dengan 4,964 detik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/24/fb0a49e9-41d7-4e22-9248-f9e86b3c0273_jpg.jpg)
Sebagian besar pemanjat, seperti Veddriq, mampu finis dalam waktu 5 detik sekian. Namun, itu tidak cukup untuk melaju ke putaran final Piala Dunia mengingat ada juga beberapa atlet yang bisa memanjat di bawah 5 detik. Mereka adalah penghuni lima besar peringkat kualifikasi. Selain itu, banyak pula pemanjat yang mendekati 5 detik, seperti 5,05 detik, 5,09 detik, dan seterusnya.
Di seri yang sama tahun lalu, catatan waktu terbaik Veddriq juga sebenarnya tidak terlalu bagus. Dia mencatatkan waktu 5,14 detik dan menempati peringkat ke-7. Namun, jika finis pada waktu yang sama di Wujiang tahun ini, peringkat Veddriq akan merosot ke posisi ke-15.
Persaingan yang kian sengit juga diutarakan Kiromal. Dulu, kata Kiromal, membayangkan memanjat di bawah 5 detik saja sulit. Apalagi, dengan 5,25 detik, Kiromal sudah memecahkan rekor dunia di seri di Salt Lake City, Amerika Serikat, 2021. Dia adalah pemanjat tebing putra pertama Indonesia yang memecahkan rekor dunia.
Pada ajang yang sama, Veddriq memecahkan rekor dunia Kiromal dengan 5,20 detik. Setelah itu, nama mereka bergantian ada dalam daftar pemegang rekor dunia. Pada seri Piala Dunia 2022 di Villars, Swiss, Kiromal menjadi pemanjat pertama di dunia yang finis dalam waktu 5 detik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/06/01/pan01_1622552339.jpg)
Setahun berselang, di seri Piala Dunia 2023, Seoul, Korea Selatan, giliran Veddriq jadi manusia pertama yang bisa menaklukkan dinding panjat dalam waktu di bawah 5 detik, tepatnya 4,98 detik. Veddriq menajamkannya pada ajang yang sama menjadi 4,90 detik.
Kini, persaingan level dunia semakin sengit dengan catatan waktu yang semakin menajam. Pemanjat harus bisa mencatatkan waktu di bawah 5 detik jika ingin terus melaju ke babak selanjutnya atau bahkan meraih podium.
Selepas Veddriq menajamkan waktu menjadi 4,90 detik, Samuel Watson masuk ke dalam daftar pencetak rekor dunia dengan memecahkan rekor dua kali lewat catatan waktu 4,85 detik dan 4,79 detik di Wujiang tahun lalu. Watson menajamkannya lagi pada tahun yang sama menjadi 4,75 detik.
”Saya lihat, pemanjat dari negara lain juga sudah bisa menajamkan sampai 4,6 detik. Mungkin di Wujiang ini bakal jadi ’perang’ antara siapa yang paling konsisten,” ujar Kiromal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/13/71b57648-4ff1-4dda-b58d-92760742b6cf_jpeg.jpg)
Kendati demikian, Veddriq ataupun Kiromal sama-sama optimistis bisa terus menajamkan catatan waktu mereka. Kedua pemanjat ini bahkan mengutarakan tekad untuk kembali merebut ”takhta” rekor dunia. Itu target besar mereka tahun ini.
Dalam waktu empat tahun sejak rekor dunia pertama Kiromal dan Veddriq, panjat tebing telah melesat. Para atlet terus menajamkan catatan waktu mereka, membuat finis di bawah 5 detik seperti sebuah keharusan. Panjat tebing kini tampaknya bukan sekadar lomba menaklukkan dinding panjat, melainkan perlombaan melesat melampaui batas kemampuan manusia itu sendiri.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari