Raih medali emas dan pecah rekor pribadi, hari yang sempurna untuk Antasyafi Robby Al Hilmi di seri Piala Dunia Panjat Tebing 2026 Guiyang, China.
12 Sep 2026 06:30 WIB · Olahraga
WORLD CLIMBING/KAZUSHIGE NAKAJIMA
Waktu yang ditunggu-tunggu Antasyafi Robby Al Hilmi itu akhirnya tiba. Pemanjat tebing Indonesia disiplin speed itu datang, berlomba, dan menang. Emas pertama setelah SEA Games Thailand 2026 dan perdana di seri Piala Dunia itu berhasil digenggam lewat performa gemilang serta melalui proses panjang.
Betapa terkejutnya Robby melihat angka di penghitung waktu. Warnanya hijau, angkanya 4,65 detik. Hijau menandakan waktu tercepat, 4,65 detik berarti rekor pribadi Robby.
Sambil turun dari dinding panjat, Robby berteriak. Ia begitu gembira dengan hasil final speed individu seri Piala Dunia 2026 Guiyang, China, Jumat (11/9/2026) itu. Sebab, penghitung waktu menunjukkan bahwa ia juaranya.
April lalu, saking menggebunya di latihan, Robby berkali-kali terpeleset di dinding panjat. Berkali-kali pula, Robby gagal menyelesaikan pemanjatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/09/12/9e82184f-82b7-45fd-9370-eba4b227ee64.jpeg)
Saya sudah kalah tiga kali (di final). Jadi, saya ingin memberikan yang terbaik ketika tampil di Guiyang.
Pelatih tim panjat tebing Indonesia disiplin speed, Pandu Galar Asmoro, sampai mengingatkan bahwa musuh terbesar Robby bukanlah pemanjat lain. Musuh Robby adalah dirinya sendiri.
Tak lama setelah momen itu, Robby tampak mampu menguasai diri ketika tampil di Asian Beach Games 2026. Ia bahkan menembus final, selangkah untuk kembali meraih emas di ajang internasional setelah SEA Games Thailand 2025.
Namun, Robby mengulang kesalahan di Kejuaraan Asia, yakni melakukan kesalahan start (false start). Alhasil, pencapaian terbaiknya adalah peringkat kedua.
Posisi itu diraihnya lagi di dua seri Piala Dunia 2026, yakni Chamonix dan Madrid. Kabar baiknya, pemanjat berusia 19 tahun ini lebih mampu mengontrol diri.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/09/12/e731aa4a-4720-44cc-81cf-53186244d698_jpg.jpg)
Butuh lima bulan agar perubahan itu berbuah hasil. Robby tak lagi nyaris meraih medali emas. Ia betulan pulang dengan prestasi tertinggi, medali emas pertamanya di seri Piala Dunia yang diikuti sejak 2025.
”Saya sudah kalah tiga kali (di final). Jadi, saya ingin memberikan yang terbaik ketika tampil di Guiyang,” kata Robby ketika ditanya motivasinya.
Meski begitu, Robby sebenarnya tak menyangka bisa menang. Peraih emas Kejuaraan Asia Remaja 2024 ini malah terkejut ketika tahu bahwa pemenang perlombaan adalah dirinya.
Perlombaan seri Guiyang dihelat dengan format empat jalur. Artinya, empat pemanjat beradu kecepatan dalam sekali pemanjatan.
Sejak babak perdelapan final, Robby selalu menjadi pemanjat tercepat di antara tiga rivalnya. Performa konsisten itu mengantarkan ke final dan memecahkan rekor pribadi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/09/12/74fdfed8-bd72-4046-9182-e5cb51a64466_jpg.jpg)
Pada partai final, perlombaan sempat terlihat seimbang. Baru ketika mendekati puncak, Robby unggul dan menjaga keunggulan itu hingga menyentuh tombol finis.
Dengan 4,65 detik, Robby lebih cepat dari pemanjat tuan rumah, Yongzhi Ling, yang finis dalam waktu 4,75 detik. Sementara itu, pemanjat tuan rumah lainnya, Shouhong Chu finis 4,80 detik, disusul Ryo Omasa (Jepang) dengan 4,99 detik.
Pemegang rekor dunia, Yicheng Zhao (China), terhenti pada babak perempat final karena ”hanya” finis 4,92 detik. Begitu juga dengan peraih perunggu Olimpiade Paris 2024, Samuel Watson (Amerika Serikat), yang finis 7,08 detik.
Dengan kemenangan di Guiyang, Robby bertengger di peringkat satu dunia speed perseorangan putra seri Piala Dunia 2026. Ia mengumpulkan skor 2.864.
Walakin, Robby enggan berpuas diri. ”Masih banyak yang harus ditingkatkan, khususnya teknik. Saya menyadari banyak kekurangan di sana,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/22/5394df96-bd30-4c83-a11a-07e87ba551ca.jpg)
Pemanjat putra Indonesia lainnya, Raharjati Nursamsa, mampu menembus semifinal. Namun, Raharjati kalah cepat dari Chu dan Ling saat memperebutkan tiket ke final.
Pada sektor putri, Rajiah Sallsabillah terhenti di semifinal setelah kalah cepat dari Lijuan Deng (China) dan Hanareum Sung (Korea Selatan). Sementara itu, Berthdigna Devi Surya dan Kadek Adi Asih lebih dulu tersingkir pada perempat final.
Pelatih tim speed, Galar Pandu, mengatakan, pencapaian Robby sudah sesuai dengan catatan waktu di latihan. Meski begitu, Robby masih harus meningkatkan waktu reaksi dan menjaga konsistensi.
”Setelah beberapa kali perak, kali ini emas, Alhamdulillah. Catatan waktu sudah sesuai latihan. Saya berharap Robby bisa memecahkan rekor tidak hanya saat ini, tetapi terus mengulanginya lagi,” kata Galar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/22/7a7b816e-6e57-4111-be6c-a5924c090796.jpg)
Indonesia hanya mengirim lima atlet ke Guiyang. Selain untuk mematangkan persiapan Asian Games Aichi-Nagoya untuk Berthdigna, ajang seri Piala Dunia tersebut juga diikuti guna menjaga performa para atlet lainnya.
Perjuangan masih berlanjut. Pada Sabtu dan Minggu (12-13/9/2026), Robby dan kawan-kawan akan berlomba lagi untuk nomor estafet putra, putri, dan campuran. Namun, Robby setidaknya sudah mengawalinya dengan hasil menggembirakan.
Robby datang, berlomba, dan menang (veni, vidi, vici). Lalu, ulangi lagi?
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase